
Safa mengerjap ngerjapkan kedua matanya, ia merasa sedikit pusing di kepalanya, dan juga ia merasa nyeri di punggung tangan kirinya, saat dilihat ternyata tertancap jarum infus disana.
.
Safa melihat sekelilingnya, sepi tak ada orang satu pun disitu.
Aku dimana ? Ini tempat apa dan kamar siapa? Akhh kepalaku ssshhh pusing sekali.
.
Safa melihat pintu terbuka dari luar dan muncullah Dhian membawa nampan berisi makanan dan segelas teh hangat. Ada gurat kekesalan bercampur kesedihan di mata Dhian.
Udah bangun Fa ? Ini makan sama minum dulu biar kondisimu cepet pulih.
Aku dimana mbak,? Apa yang terjadi denganku, kenapa mesti di infus segala.
Kamu tadi pingsan Fa, terus kita bawa kamu kesini, untung ada dokter yang siap menolong. Kamu sih di bilang suruh makan atau minum nggak mau malah berjemur di siang bolong, jadi pingsan kan kamu.
Kepalaku pusing mbak,
Makanya ini makan dulu terus minum obatnya.
Tiba tiba ingatan Safa kembali saat Yudha tenggelam ke laut.
Mbak!!! Mas Yudha... Mas Yudha ... ssshhh kepalaku sakit..
Udah kamu jangan mikir itu dulu, biar Rizky yang urus itu dan sekarang yang paling penting kamu sehat dulu ngerti!!
Tapi mbak... Mas Yudha pasti ketemu kan ?? Di..dia pasti selamat kan mbak...
Iya dia baik baik saja!!! Sekarang yang penting kamu pikir dulu diri kamu ini..
Dhian meninggikan suaranya namun tak bermaksud membentak.
Safa tak mendengarkan ucapan Dhian sahabatnya namun malah menangis terisak kembali.
Hiks hiks... Mas Yudhaaaaaa
Maaf Fa, aku nggak bermaksud bentak kamu, tapi tolonglah untuk kali ini kamu pikirkan kondisi kamu. Kalau kamu sakit dan lemah gimana mau cari Yudha. Sekarang kamu makan dulu minum obat lalu mandi pakai air anget biar badan kamu seger, nggak kucel macam sekarang., seloroh Dhian yang membuat Safa diam mencerna ucapan Dhian.
.
Memang benar saat ini badannya terasa sangat lengket dan bau tak sedap sebab udah seharian tidak menyentuh air membersihkan diri. Dan juga benar dirinya harus sehat dan kuat jika ingin mencari Yudha.
.
Safa pun segera makan walau tidak berselera namun ia tetap memaksa mengisi perutnya yang kosong, Setelah makan dan minum obat Safa di bantu Dhian untuk berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Karna tangannya yang masih terpasang infus Safa pun sedikit kesusahan.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika Safa keluar dari kamar. Ia bergegas menghampiri Rizky yang terlihat sedang menghubungi seseorang.
.
Mas Rizky...
Rizky terkesiap mendengar suara Safa dari belakangnya. Rizky segera memutuskan panggilannya lalu beralih menatap Safa.
Iya Fa ada apa.? Sejak kapan kamu berdiri disitu.?
Ucap Rizky gugup semoga Safa tidak mendengar obrolannya di telfon tadi.
Baru saja Mas, .kenapa Mas Rizky gugup begitu., apa terjadi sesuatu sama Mas Yudha? Apa Mas Yudha sudah ketemu.?
Eh????
Rizky yang di tanyai pertanyaan itu pun merasa sangat lega dan segera mengubah ekspresinya menjadi sesedih mungkin.
Maaf Fa kalau aku akan beri kamu syok terapi sedikit. Gumam Rizky dalam hati.
Maaf Fa....
Ucap Rizky menggantung.
Ada Mas ? Kenapa Mas Rizky nggak lanjutin omongan..
Yudha....
Mas Yudha kenapa Mas,??? Mas Rizky kalau ngomong yang jelas dong Mas jangan di putus putus gitu!!! Ada apa sama Mas Yudha!!!
Yudha tidak bisa ditemukan Fa. Penyelam hanya nemuin potongan baju Yudha yang udah kekoyak.
Rizky mengucapkannya dengan sangat pelan dan dibuat sesedih mungkin. Dan Rizky berhasil, tubuh Safa seketika ambruk lemas dilantai, tiang infusnya pun ikut jatuh tertarik tangan Safa.
Safa......
Rizky segera memghampiri Safa dan membenarkan infusnya. Ia sedikit menopang bahu Safa agar tetap dalam keadaan tegak.
Mas Yudha....
Ucap lirih Safa, nada suara yang mengandung kesedihan yang teramat dalam...
Kamu yang sabar Fa...
Nggak.. nggak mungkin Mas Yudha ninggalin aku.. Mas Yudha cuma sedang marah aja sama aku atas sikapku ini terus dia sembunyi dari aku.
.
Tiba tiba seseorang masuk membawa sobekan baju yang Safa sangat mengenal baju itu, baju yang di pakai oleh Yudha tadi.,
.
Safa menjadi histeris dan memanggil manggil nama Yudha.
Tidakkkkkkkkkkk... huhuhu tidakkkkk hiks hiks ... Mas Yudhaaaaa..... hiks hiks jangan tinggalin aku Massss,,,huhuhu Mas Yudha....
Dhian yang mendengar teriakan Safa segera menghampiri. Dhian pun menatap tajam Rizky mengisyaratkan apa lagi ini.
.
Mampus gue... ampun itu ngeri banget tatapan bebeb.. ahhh Tuhan selamatkan aku dari ceetah betina ini.... ehhh kalau dia ceetah betina gue jadi ceetah jantan dong, tapi gue kan cuma panda imut., ahh tauklah, napa gue jadi ngelantur gini...batin Rizky.
.
Kamu yang sabar ya Fa, kita akan berusaha dengan sangat keras untuk menemukan Yudha kok.
Ini salah aku... semua ini salah aku.. hiks hiks
Tidak Fa, kamu jangan menyalahkan diri kamu begini. Sekarang kamu duduk tenang disini kita akan kembali mencari Yudha, oke.
.
Safa hanya mengangguk pasrah. Rizky pun segera keluar yang sebenarnya menghindari semprotan dari Dhian. Namun Dhian tak akan membiarkan Rizky pergi begitu saja. Dhian pun segera mengejar Rizky setelah memastikan Safa baik baik saja saat di tinggal.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam namun Safa tak kunjung mendapat kabar, Rizky dan Dhian entah kemana mereka, Safa pun menguatkan tekat dan mencoba melangkahkan kakinya keluar untuk pergi ke pantai walau kakinya terasa sangat lemah tak bertenaga, siapa tahu ia bisa menemukan Yudha walau itu nanti hanya sekedar jasadnya saja.
.
Safa berjalan dengan langkah sangat pelan, dan saat sudah berada di luar resort tubuhnya limbung karna kakinya yang masih sangat lemas tak kuat untuk berjalan lebih jauh, padahal bibir pantai masih sedikit jauh.
.
Safa pun memutuskan untuk merehatkan kakinya terlebih dahulu sebelum melanjutkan langkahnya kembali. Suasana sangat hening, hanya terdengar sayup sayup suara live musik dari kafe yang berjarak tak jauh dari tempatnya duduk dan pendar cahaya lampu yang menyinari tubuh Safa.
.
Oh, begini rasanya kehilangan dirimu, kekasih
Tak pernah 'ku bayangkan sakitnya akan seperti ini
Kau telah pergi dari hidupku
Oh, mengapakah kau tinggalkan aku seperti ini?
Saat aku masih berharap
Cinta ini masih bertahan untuk kita
Oh, mengapakah kau membawa semua kenangan indah bersama kita dulu?
Kini berakhir untuk selamanya
Oh, begini rasanya kehilangan dirimu, kekasih
Tak pernah 'ku bayangkan sakitnya akan seperti ini
Kau telah pergi dari sisiku
Hu-whoa... uh...
Mungkin bersama
(Kenyataan ini telah memisahkan kita) Uh, telah memisahkan kita
Biarkan cinta ini jadi kenangan indah untukku, oh
Oh, mengapakah kau tinggalkan aku seperti ini?
Saat aku masih berharap
Cinta ini masih bertahan untuk selamanya
Oh, mengapakah kau membawa semua kenangan indah bersama kita dulu?
Kini berakhir, oh, oh
Harus berakhir, oh-uh
Kini berakhir untuk selamanya, oh
Terdengar suara lagu dari kafe itu, walau hanya samar namun terdengar jelas di telinga Safa yang membuat dirinya menjadi menangis, meraung begitu pilu saat mendengar lagu yang dinyanyikan penyanyi kafe itu.
Haaaaaaaaaa hiks hiks... Mas Yudhaaaaaa... hiks hiks, jangan tinggalin aku Massssss...huhuhu Ya Allah kembalikan Mas Yudha padaku, aku berjanji tidak akan bersikap yang menyakitinya lagi... hiks hiks..haaaaaa
.
Cukup lama Safa menangis disitu hingga tak terasa malam semakin larut. Safa memutuskan untuk melangkahkan kakinya lagi menuju pantai berharap mendapat keajaiban dari uang Kuasa.
.
Saat sudah berada didekat pantai Safa seperti melihat siluet seseorang yang sangat ia kenal dan ia cari sedari siang.
Mas Yudha... itu Mas Yudha kan..
Safa mencoba mendekati siluet tubuh itu tetapi kakinya tiba tiba tersandung dan ia pun terjatuh, dan saat pandangan matanya menatap ke arah keberadaan siluet itu berada sudah menghilang.
.
Safa mengedarkan pandangannya mencari cari sosok siluet itu, namun nihil ia tidak mendapatinya lagi.
Hiks hiks,, apa tadi hanya hayalanku saja Mas... hiks hiks Mas Yudha... kamu dimana Masss.. huhuhu
.
Safa terduduk lemas di atas pasir pantai, tempat Safa berada kini sangat gelap gulita. Tak ada cahaya lampu, hanya pendar sinar rembulan yang terlihat samar menerangi kawasan pantai itu. Safa pun juga tidak memperhatikan sekitarnya, kedua matanya menatap lurus ke arah laut lepas. Bulir air mata yang memenuhi matanya membuat pandangan matanya tak begitu jelas dan terlihat buram.
Namun lagi lagi ia mendengar seperti dentingan suara piano. Namun suara piano itu sangat jelas terdengar di telinga Safa. Safa tak mengindahkan suara piano itu matanya masih menatap lurus ke laut lepas. Karna percuma Safa tidak bisa melihat di kegelapan malam itu.
Namun.......
.
.
.
To be continue..😁😁😁