
Disini, di tempat ini, tempat yang begitu asing untuk seorang Yudha. Tempat yang penuh sesak dengan puluhan manusia dan juga berbagai macam barang juga berbagai macam bau. Yudha mengamati keadaan sekitarnya dengan seksama. Ia ragu untuk turun dari atas motornya. Apalagi dengan tatapan para wanita itu, mau tua atau muda semua menatap diri yudha dari atas sampai bawah seakan akan menelanjangi dirinya. Juga tatapan para lelaki seakan mengintimidasinya. Dan yang lebih menyebalkan lagi bagi yudha adalah safa yang terlihat cuek tidak peduli dengan semua tatapan itu.
Safa turun lebih dulu dari atas motor dan menunggu yudha yang masih diam mematung di atas motornya.
" Mas yudha mau nunggu disini ? "
" Nggak ada tempat lain buat beli baju apa selain disini. "
" Nggak ada mas yudha.... udah ayo buruan,. Aku tinggal nih. " ucap safa yang sudah tak sabar karna menunggu yudha yang tak lekas turun dari motor.
" Tunggu, ini motornya parkir dimana? "
" Tuh minta tolong sama bapak parkir aja tuh. "
Yudha pun akhirnya turun juga dari atas motornya. Dari pada nanti keburu safa ngambek terus dia di tinggal sendiri ihh gak bisa bayanginnya pikirnya.
Yudha yang merasa risih karna di tatap para wanita tangan langsung merangkul erat pundak safa yang membuat safa heran dengan tingkah yudha.
" Apaan sih mas rangkul rangkul. Malu tau. "
" Udah kamu diam aja, nggak liat apa tatapan mereka ke aku. "
" Ya itu salah mas yudha sendiri. "
" Lho kok jadi salah aku sih. "
" Ya salah mas yudha punya muka ganteng gitu., Panteslah mereka pada ngliatin mas yudha gitu. , mereka senang bisa cuci mata di pasar. " ucap safa sambil terkikik.
" Emang aku apaan.,, mana ini pasar rame banget gini lagi. "
" Ya iyalah rame namanya juga pasar tradisional, mau yang sepi.?? "
" Mana ? "
" Kuburan. "
awwww
" Sakit mas yudha ihhh., suka banget sih nyubit pipi. " Safa yang kesal pun melepas rangkulan yudha dan mempercepat langkah kakinya meninggalkan yudha yang tengah kebingungan karna saking banyaknya orang yang berdesak desakkan ingin lewat.
Ehhh main ninggal aja tuh bocah, duh ini gimana lagi mau lewat jalannya sempit banget gak bisa lewat. Batin yudha.
awasss awasss jarang panas ( air panas )
met amet, ora mandek dalan ayo ndang mlaku. ( misi permisi, jangan berhenti jalan ayo cepat jalan.) Begitulah kira kira riuhnya pasar tradiaional yang terkenal dengan orang yang berdesak desakan ada yang berhenti jalan karna membeli sesuatu barang ada pula yang mengantri juga ada yang ingin buru buru berjalan.
Yudha yang bingung hanya diam sambil celingukan mencari cari safa yang memiliki tubuh mungi itu. Sangat sulit untuk mencari karna saking banyaknya manusia hingga tiba tiba tangannya tertarik dengan kuat oleh seseorang. Yudha melihat tangannya yang di genggam erat oleh tangan kecil milik seorang gadis. Awalnya yudha ingin menarik kembali tangannya yang di genggam itu tetapi niat itu ia urungkan dan kemudian ia tersenyum saat mengetahui tangan itu milik siapa.
Ya itu tangan safa yang sudah menariknya dari kerumunan. Sebenarnya tadi safa sudah berjalan jauh dari tempat yudha ia tinggalkan. Dan saat safa menoleh ke belakang ternyata yudha tidak ada mengikutinya di belakang. Safa pun dengan segera berbalik arah menuju tempat dimana ia meninggalkan yudha.
Dan benar saja seperti dugaannya yudha masih diam di tempat tanpa bergerak sedikit pun. Safa menembus kerumunan kemudian ia menggenggam erat tangan yudha lalu menariknya dari kerumunan orang orang.
" Ngrepotin banget sih nih orang. Maunya menghemat waktu malah jadi nambah waktu lama. "gerutu safa.
Yudha yang mendengar gerutuan safa lalu menarik tangan safa yang menggandeng tangannya hingga safa tersentak dan jatuh ke dada bidang yudha yang ada di belakangnya. Yudha lalu mengalungkan lengannya di leher safa sambil berbisik.
" Yang udah bikin lama itu kamu, siapa suruh main ninggal gitu aja. "
" Ya lah ya lah aku yang salah... udah puas. , ayo cepetan keburu siang emang nggak kerja apa. "
" Aku libur semua kerjaan udah aku serahin ke rizky. "
" Ya lah bos emang berkuasa. "
Safa hanya pasrah saat tangan yudha tak lepas dari pundaknya. Mereka terus berjalan hingga berhenti di salah satu kios yang menjual baju yang merupakan tetangga desa safa.
" Ehh kowe to nduk, karo sopo iku? pacare yo. " ( ehh kamu to nduk*anak perempuan*, sama siapa itu? pacarnya ya.) "
" Ehh sanes budhe, niki sederek , enggeh sederek saking semarang. " ( bukan budhe, ini saudara, iya saudara dari semarang.) "
Yudha yang tak mengerti jawa pun hanya diam mencoba menelaah kata yang kiranya ia tau, dari kata pacar, sama semarang. Ahhh apa sih yang mereka bicarakan, kenapa nggak pakai bahasa indonesia aja yang dia bisa ngerti pikirnya.
" Ngomong apa sih dek ? "
" Nggak ngomong apa apa,. Oh ya budhe coba lihat baju yang itu. " tunjuk safa pada baju yang di gantung di atas yang menurutnya pas di badan yudha.
" Mau yang ini nduk? "
Sang penjual menyerahkan baju itu pada safa dan langsung di berikan pada yudha untuk di tempelkan di badannya mengukur pas tidaknya baju itu.
" Sama celana santai budhe. "
" Celana santai yang gimana? mau yang kolor apa yang gimana., "
" Coba lihat yang kolor sama yang training budhe. "
Setelah mendapat baju safa segera menyuruh yudha untuk segera membayar, tetapi yudha masih bingung saat akan mengatakan ingin beli celana dalam miliknya. Yudha pun berbisik di telinga safa.
" Dek celana dalamnya belum, "
" Oh ya budhe hampir lupa., Celana dalam budhe. Uhmm mungkin ukuran XL deh . "
" Hafal banget nduk, "
" Hehe, sampun budhe. Berapa semua budhe. "
" Dua ratus pas, udah tak potong untung itu. "
" Hehe makasih budhe, "
Mereka pun pergi meninggalkan kios pakaian dan berpindah di kios jajanan pasar. Ada berbagai banyak macam jajanan yang membuat yudha mengernyit bingung karna yang hadapannya jajanan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, serta bentuknya yang tidak jelas menurut yudha.
Safa membeli jajanan tradisional seperti tiwul, klepon, bubur biji salak dan macam macam. Setelah beli jajanan safa beralih membeli keperluan memasak titipan ibunya. Akhirnya tas belanjaan safa yang tadi kosong kini sudah terisi penuh oleh barang belanjaan.
Yudha mengambil alih tas belanjaan dari tangan kecil safa dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menggandeng tangan safa. Mereka berjalan hendak keluar dari pasar namun terhenti saat ada suara seseorang yang memanggilnya.
" Safaaa. "
" Ya ada apa. " saut safa dengan malas pada orang yang menghentikan langkahnya.
" Uhmm itu di sebelahmu siapa,? Kakakmu ya ?"
" Emang kenapa nanya nanya, bukannya kamu gak suka sama aku ya., napa sekarang sok akrab. "
Yudha yang mengerti keadaan safa menahan kesal pun segera menarik tangan safa untuk melanjutkan jalannya tanpa mendengar jawaban dari orang itu.
" Udah mukanya jangan di tekuk gitu dong. "
" Aku tuh sebel aja sama dia mas, dari aku pindah di jogja sampai sekarang dia tu suka cari gara gara sama aku. "
Yudha pun hanya tersenyum lalu mengangkat tubuh safa dengan sekali angkatan dan mendudukkannya di atas motor. Muka safa yang tadinya kesal berubah menjadi tegang. Dan itu membuat yudha jadi tersenyum geli.
Gampang banget sih ngerubah raut mukanya., hehe jadi gemes banget deh.
.
.
.