
" Bro ayo kita nongki di tempat biasa."
" Nggak bisa, gue lagi ada urusan."
" Urusan apa orang dari tadi Lo cuma ngejogrok disini bae. Ayolah bro ."
" Berisik lo kayak cewek tau nggak." seketika mata lelaki itu memicing melihat seseorang tengah jalan menuju parkiran, ia pun segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan teman teman nya.
" Udah ah gue cabut dulu."
" Hei bro, mau kemana lo,, bro... ahh elah tu anak napa jadi berubah aneh gitu sih."
" Iya bener banget tuh anak mulai agak pendiem sekarang, kagak seperti dulu yang selalu bikin onar di kampus."
" Tauk lah, udah lah kita cabut aja."
.
Di dalam mobil lelaki itu terus memfokuskan pandangan ke gerbang kampus menunggu seseorang melewati gerbang itu. Dan tak lama orang yang di tunggunya pun melintas ia segera mengikuti diam diam dari belakang.
Lelaki di dalam mobil itu terus mengikuti seraya tersenyum geli sendiri dengan apa yang sedang dirinya lakukan saat ini.
Ahhh gila ini, bener bener sudah gila gue, ngapain gue ngikutin dia begini, udah kayak penguntit aja gue. Nggak nggak.... gue bukan penguntit, haha hahhh, gue kenapa sih jadi laki aneh gini kalau berhadapan sama tuh anak., ehhh kenapa tuh anak berhenti... kok turun mau kemana tuh .gumamnya.
Pandangan matanya terus tertuju pada seseorang yang sepertinya hendak menolong orang.
Itu ngapain nyamperin preman segala sih, nggak tahu itu bahaya apa., gumamnya kembali.
Lelaki dalam mobil terus saja memperhatikan, hingga tersenyum melihat kejadian di depannya.
Salut gue, bener bener cewek impian, udah cantik, baik pula, suka menolong dan nggak pandang siapa yang ia tolong..ehh tunggu...
Kedua mata lelaki itu melebar saat melihat sesuatu yang bahaya akan terjadi pada orang itu. Dengan cepat ia segera keluar mobil dan berlari, untung jarak mobil dan kejadian didepan matanya tidak terlalu jauh sehingga ia bisa sampai tempat waktu dan segera menepis pisau yang akan menghunus sasarannya.
Namun naas tangannya sedikit tergores akibat menangkis pisau yang sangat tajam itu. Ia tidak mempedulikan tangan nya yang tergores yang ia syukuri pisau itu tidak mengenai sasarannya.
Bugh bugh brukkk klontanggg
" akhhhh bangsat siapa lu!!"
" Cari mampus lo."
Bugh bugh bugh
Seketika orang yang akan menjadi sasaran pun menoleh dan ia sangatlah terkejut dengan apa yang sudah terjadi.
" Astagfirullah.. " serunya saat melihat pisau yang terpental tak jauh dari dirinya berdiri. Ia segera mengambil pisau itu dan membuangnya ke lubang kecil yang seperti lubang drainase.
Lelaki itu terlihat memukuli preman itu tanpa ampun, ia juga tidak mempedulikan luka di tangannya. Entah kenapa hatinya marah saat melihat ada orang yang akan melukai cewek yang ia ikuti sejak tadi.
Hingga si preman sudah babak belur ditangannya dan ambruk tak bertenaga juga kesakitan.
" Sudah cukup, cukup... Bapak ini bisa meninggal kalau kamu pukul terus. Lagian dia lebih tua dari kamu nggak seharusnya kamu buat babak belur." Ucap cewek itu menghentikan aksi pukulnya.
" Lo lebih khawatir sama preman kampung ini dari pada nyawa lo sendiri yang hampir dia renggut gitu aja.???! wahhh bener bener luar biasa..,,, pergi lo dari sini dan jangan pernah lagi muncul atau gue akan buat lo menyesal karna udah berani muncul lagi."
Preman itu pun bangkit dengan perlahan dengan segala kesakitannya dan segera pergi takut akan ancaman lelaki itu.
" Kamu nggak apa apa.?"
" Seperti yang lo lihat."ucapnya cuek namun ada rasa senang cewek itu menanyakan keadaan nya, berlebihan memang terdengarnya.
Safa berbalik menatap Ibu paruh baya itu dan sang anak yang seumuran dengan keponakannya.
" Trimakasih neng udah mau nolong Saya dan anak Saya, saya janji akan mengembalikan uang yang eneng keluarkan untuk preman tadi, saya benar benar berterimakasih tapi tidak seharusnya eneng membayar utang kami neng, yang bahkan tidak mengenal kami." ucap Ibu itu.
" Ibu saya tulus ikhlas membantu Ibu, saya tidak tega melihat anak manis ini menangis karna akan dipisahkan paksa sama Ibu. Saya juga punya keponakan yang seusia anak Ibu jadi bisa bayangkan jika itu keponakan saya. Ibu tidak usah khawatir untuk mengembalikan uang yang saya keluarkan. "
" Sudah tidak mengapa Bu. Oh ya ibu mau kemana sama anak manis ini.?" tanya Safa saat melihat Ibu itu membawa tas yang sepertinya berisi baju.
" Ibu juga nggak tahu neng. "
" Ibu punya saudara yang ada disini.? biar saya antar."
" Saya tidak punya saudara neng disini."
Safa sangat iba melihat Ibu anak itu hingga terlintaslah ide untuk membawanya pulang agar ia tak kesepian dirumah besar itu jika di tinggal pergi kerja Yudha.
" Begini saja, gimana kalau ibu ikut saya pulang aja ya.. kasihan anak Ibu."
" Tapi neng...."
" Udah Ibu nggak boleh nolak, adek manis... kamu mau kan tinggal sama Aku.? jadi temen aku dirumah.?"
Mata anak kecil itu terlihat berbinar mendengar ucapan Safa yang mengajaknya tinggal bersamanya. Cici mengangguk cepat hingga membuat poni anak kecil itu bergerak gerak lucu.
" Cici mau tante cantik."
" Sipppp.., tunggu ya bentar lagi taksinya datang. Kamu pulang dulu sama Ibu dan tunggu dirumah tante ya. nanti tante susul."
" Baik." Safa sangat gemas dengan anak kecil itu dan mengacak rambut anak itu yang mana membuat anak kecil itu terkikik lucu.
Semua perlakuan Safa tak lepas dari pandangan lelaki yang sedari tadi menatapnya dalam.
sudah cantik, baik hati lagi, bahkan hatinya pun sangat lembut . .Batinnya.
Tak berapa lama taksi pesanan Safa datang dan menyuruh Ibu anak itu untuk kerumahnya terlebih dahulu dan ia akan menyusul di belakang. Anak kecil itu terlihat sangat antusias saat akan naik mobil karna ini kali pertamanya ia naik mobil bagus pikirnya.
Setelah Ibu anak itu pergi Safa kembali menatap lelaki yang sudah menolongnya.
" Terimakasih ya, aku nggak nyangka kalau kamu ternyata masih punya hati buat menolong orang." ucap Safa dengan tawa kecilnya.
" Kalau gue nggak punya hati mana gue bisa hidup.!" dengus lelaki itu.
Safa tertawa kecil mendengar ucapan lelaki yang ada di depannya itu, mata Safa tak sengaja melihat darah yang menetes dari tangan lelaki itu pun segera mengeluarkan botol air miliknya dan plester pembalut luka yang selalu ia bawa di dalam tasnya.
" Tangan kamu terluka, sini aku obati dulu."
Safa menarik tangan lelaki itu dan membasuh luka nya dengan air guna membersihkan darah sebelum ia balutkan plester untuk menutup luka.
Lelaki itu mematung mendapat perhatian kecil dari Safa yang memang sudah seharusnya Safa lakukan karna rasa terimakasih sudah menolong dirinya.
Lelaki itu menatap dalam Safa yang sedang menunduk membalut lukanya. Jantungnya pun kembali berdebar dengan kencang saat berada sangat dekat dengan Safa, hingga ia tidak melihat tangan Safa yang sudah selesai membalut luka nya.
Safa memasukkan kembali barang nya ke dalam tas dan kembali menatap lelaki itu yang mana membuat lelaki itu gelagapan dan salah tingkah saat matanya bertemu dengan mata bening milik Safa.
Lelaki itu membuang muka namun matanya terus melirik Safa dengan jantung yang berdebar.
" Terimakasih ya udah mau menolong,... Boy." Setelah mengucapkan itu Safa segera pergi menyusul mobil yang membawa Ibu anak tadi dan tidak lagi menatap kebelakang.
Boy yang mendengar ucapan terimakasih dari Safa pun seketika membuat dirinya terduduk seraya memegang dadanya yang bertambah berdebar lebih kencang.
Bahkan suara Safa yang lembut terus terngiang di telinga nya. Padahal Safa biasa saja mengucapkannya namun penuh ketulusan.
Cihhh gue bener bener udah jatuh dalam pesonanya., baru ini gue merasakan rasa yang seperti ini. ,.gumamnya seraya tersenyum senyum sendiri.
.
.
.