Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Eps. 147


***Maafkan saya jika sangat lama up'nya, karna saya sudah mulai aktif kerja lagi jadi tidak sempat untuk menulis cerita Soalnya kalau udah pulang kerja dan capek banget belum lagi masih mengurus rumah Juga dua Bocil aku yang masih butuh perhatian banget, juga belum misua yang sama sama kerja pasti capek dan juga butuh perhatian dari istri, jadi nggak bisa mikir buat betimajinasi ngarang ceritanya.,πŸ™πŸ™πŸ™sekali maaf dan mohon perhatiannya nggeh.😊😊


.


.


πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–***


.


Tiga hari sudah Safa di rumah Jogja, dan tiga hari juga Yudha uring-uringan di Bandung lebih tepatnya di kantor, dan yang terkena imbasnya adalah sekretarisnya Jo yang selalu Serba Salah.


Sudah berpuluh pesan bahkan ratusan pesan dikirimkan yang berisi rengekan Yudha yang meminta Safa untuk Cepat segera pulang ke Bandung, bahkan setiap detik setiap menit dan setiap jam Yudha akan selalu mengiriminya pesan juga menelponnya dan yang selalu ditanyakan dan dikatakan hanya satu cepat pulang dan kapan pulang.


Benar-benar Yudha tidak bisa jauh dari Safa istri tercintanya apalagi kalau sampai Safa pergi dari sisinya dan meninggalkannya bisa bisa Yudha mati.


.


Sudah tiga hari pula Sherly dan Boy adiknya dekat dengan keluarga Safa di Jogja terutama dengan Ibu Safa. Ya, tanpa di sangka sangka ternyata almarhum Mama Sherly adalah sahabat waktu remaja Ibu Safa. Rumah keluarga Mama Sherly masih satu kawasan dengan rumah Safa hanya saja berbeda padukuhan, Sungguh rahasia takdir yang sangat mengejutkan.


Sherly dan Boy di tengah keluarga Safa dapat merasakan kehangatan sebuah keluarga terlebih mereka juga bisa merasakan hangatnya dekapan dan kasih sayang sosok Mama yang mereka dapat dari Ibu Safa.


Terlebih Boy yang tidak pernah merasakan kasih sayang juga dekapan hangat dari sang Mama yang telah meninggalkannya saat melahirkan dirinya kedunia, menjadikan ia sangat manja dengan Ibu Safa.


Ibu Safa pun tidak keberatan bahkan merasa sangat senang dianggap Mama sendiri oleh anak anak dari almarhum sahabat baiknya. Ibu Safa sudah menganggap Boy dan Sherly seperti anak kandungnya sendiri.


Bagaimana dengan keluarga Safa yang lain,??? Tentu Semua keluarga Safa tidak merasa keberatan sama sekali, mereka senang mendapat keluarga baru, apa lagi sosok Sherly dan Boy yang berparas cantik dan tampan membuat Dona adik Safa bisa menyombongkan dirinya pada teman teman kampungnya yang julid dan suka membully dirinya.


Bagaimana dengan Safa sendiri,??? Dirinya di buat kalang kabut saat Sherly dan Boy meminta ijin untuk menginap di rumahnya. Safa harus menyembunyikan rapat rapat tentang pernikahan nya dengan Yudha, juga foto foto kebersamaan keluarga ini dengan Yudha.


Jelas apa yang di lakukan oleh Safa membuat seluruh keluarga bingung dan bertanya tanya. Namun entah apa yang di katakan oleh Safa sehingga semuanya pun hanya menurut mengikuti kemauan Safa dan tidak ada yang membahas nama Yudha saat Sherly dan Boy di rumah itu.


Dan kini tiba saat nya hari dimana Safa pulang ke Bandung, ingin segera memberitahukan kabar bahagia untuk Yudha suami tercinta.


Safa kini tengah bersiap siap mengemasi barang barangnya juga oleh oleh untuk orang orang di Bandung.


" Nduk,"


" Ya Bu,?"


" Awakmu tenan karep balek saiki.? Bapak Ibu ijeh kangen Nduk karo awakmu.( Kamu bener mau pulang sekarang? Bapak Ibu masih kangen nak sama kamu.)" ucap Ibu sambil membantu Safa memasukkan oleh oleh ke dalam tas.


" Apa lagi kamu pergi berdua sama calon cucu Ibu. Ibu risau Nduk, mending nak Yudha suruh jemput ke jogja saja. Ibu nggak tenang biarkan kamu pulang ke Bandung sendiri." lanjut Ibu.


Safa menggenggam tangan Ibu serta memberikan usapan lembut di punggung tangan Ibu.


" Ibu tenang aja, Safa bisa jaga diri baik baik, juga akan menjaga calon cucu Ibu ini. Dan juga Safa nggak sendiri kok, kebetulan Mas Rizky juga mau pulang ke Bandung, jadi barengan nanti." ucap Safa sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Ya, sejak keanehan yang dialami Safa, juga permintaan permintaan Safa yang membuat seluruh keluarga dibuat geleng kepala, Ibu memberikan alat kehamilan milik istri Heru yang tidak terpakai pada Safa.


Dan hasilnya mengejutkan juga sangat membuat seluruh keluarga bahagia. Safa positif hamil, namun saat di ajak Ibu memeriksakan kandungan Safa menolak karna ingin memeriksakannya di Bandung saja bersama sang suami.


" Tapi kandungan kamu belum di periksa Nduk, Ibu takut nanti kenapa napa di jalan."


" Ya sudah kalau kamu bersikeras, kamu memang anak ngeyel, tapi kok Ibu sayang ya."


" Aaaaa Ibuuuu." Safa menghambur memeluk erat Ibunya.


" Mbakkkkkkk.... Di cari Mas Rizky." teriak Dona dari ruang tamu.


" Issshhh Adekmu tuh bener bener kok, cuma sini situ aja pake teriak."


" Hahaha anaknya siapa.?"


" Sayangnya anak Ibu, tapi sama Bapakmu juga."


Safa dan Ibu pun tertawa geli dan setelahnya keluar kamar Safa. Dan benar ternyata Rizky sudah datang dan juga Dhian yang tengah berbincang dengan Bapak Safa juga Bapak Dhian.


" Lhoh Dhi, kamu mau kemana,? "


" Iki toh Mbakyu biasa, Calon nya mau pulang Bandung Dhian nggak bisa jauh jauh jadi ngikut dia."


" Apaan sih Bapak... Ini juga kan mau nya Bapak sama Ibu yang nyuruh aku buat kerja sama Rizky. Kenapa jadi aku."


Rizky yang mendengar hanya tersenyum manis saat Dhian menjadi ledekan.


" Hahaha kalau yang dikatakan Bapakmu bener juga nggak apa kan Dhi. Toh disana juga kamu bisa jagain Safa sama calon cucu Ibu."


" Calon cucu,??? " ucap Dhian dan Rizky serentak.


" Iya, kamu harus jadi bulek yang baik buat ponakanmu nanti."


" Jadi Safa kamu????"


" Iya Mbak, Mas, tapi ini masih rahasia ya, jangan kasih tahu Mas Yudha dulu, mau buat kejutan."


" Siap.. Aku janji bakal jagain Safa dan juga ponakanku yang masih dalam perut ini."


" Nak Rizky titip anak anak Ibu juga calon cucu Ibu ya. Tolong jaga semuanya."


" Iya Bu, tanpa Ibu minta Rizky akan jaga mereka semua. Safa sudah seperti adek Rizky sendiri juga calon keponakan yang masih di dalam perut, tak lupa calon Istri Rizky yang galak ini akan Rizky jaga sepenuh hati."


" Apa.!!!!"


" Hahahaha."


Setelah drama perpisahan dengan kedua keluarga Safa juga Dhian, juga sederet petuah dan nasihat mereka bertiga berangkat menuju bandara siang itu. Dan kepulangan mereka ke Bandung tanpa sepengetahuan Yudha.


.


.


.