
Di malam gelap tak berbintang
Disini hatiku sunyi
Kukepal jari tangan ini
Menyesal aku sendiri
Kau yang kukagumi
Dan kau yang aku sayangi
Seakan lepas dari sisiku
Pergi dan takkan kembali
Walaupun kita saling cinta
Derajad kita berbeda
Disana jurang memisahkan
Tak mungkin hidup bersama
Memanglah nasibku
Jadi orang yang tak punya
Slalu tersisih dan terhina
Mengapa cinta begini
Mengapa cinta kita terjadi
Dosakah bila kujalin cinta suci ini
Biarlah kupendam rindu ini
Biarlah kusimpan cinta ini
Kalau memang berakhir sampai disini
Demi untukmu bahagia
Aku rela segalanya
Biarkanlah kumenangis
Tangisan pilu perpisahan ini
Safa________
" Nduk.... "
Safa yang mendengar suara lembut Ibunya pun terburu buru mengusap air matanya yang sempat menetes tadi dan berusaha senyum senatural mungkin.
" Dalem Bu, ada apa.? "
Ibu Safa melangkah mendekat lalu duduk di samping Safa, membelai lembut rambut Safa yang tak tertutup jilbab karna hanya di rumah dan tidak ada orang lain selain keluarganya sendiri.
" Ihh Ibu nakutin Safa aja, enggak kok, Safa nggak ngelamun, cuma dengerin musik ini. "
" Kamu itu gak bisa bohong sama Ibu nduk, Kamu habis nangis lagi kan. " Ya,, selama ini Ibu Safa selalu tahu jika Safa tiap malam melamun sendirian dan terkadang menitikkan air mata diam diam.
Namun Ibu lebih memilih diam dan tidak menegurnya, karena walau bagaimana pun Ibu sangat tahu bagaimana hati dan perasaan anaknya itu. Ibu tahu Safa tidak pernah menyukai seseorang bahkan sampai menyayangi dan mencintainya sampai sedalam ini. Ibu merasa akan sangat egois jika sampai menghalangi cinta anaknya, namun di hati yang paling dalam ada tersimpan rasa takut jika suatu saat nanti apa yang menjadi kekhawatirannya dan ketakutannya itu menjadi kenyataan paling menyedihkan dan pahit yang akan anaknya terima.
Sungguh hati Ibu mana yang tidak akan sedih dan hancur jika melihat anak yang di kasih dan di sayangi sepenuh hati itu terluka dan tersakiti.
" Menangislah nduk, keluarkan air matamu, biar dadamu gak sesek. Ibu tahu kamu gak mau buat Bapak sama Ibu sedih dan kecewa nantinya, tapi Ibu ikhlas kalau itu buat kebahagiaan kamu, sambutlah cintamu itu nduk, Ibu tahu kamu sudah lama memendam rasa sama Mas Yud mu itu, Ibu ikhlas dan Ibu bahagia kalau kamu bahagia,. Tidak seperti ini yang terus bersedih. Bapak Ibu mendukung kamu sepenuh hati nduk. "
" Tapi Bu... " Ucap Safa tersendat oleh isak tangisnya.
" Sudah sudah, kita selalu panjatkan doa aja meminta pada yang Kuasa agar semoga kedepannya kalian di beri kemudahan, kelancaran diberi jalan yang terbaik untuk hubungan kalian kedepannya. "
" Terimakasih Bu, terimakasih atas semua doa doa ibu. "
" Tidak perlu berterimakasih nduk, memang sudah seharusnya kami sebagai orang tua harus terus dan selalu mendoakan yang terbaik dan untuk kebahagiaan anak anaknya. Ibu juga percaya sama nak Yudha kalau dia pasti bisa menjaga dan juga membahagiakan kamu. "
Ibu dan anak itu pun saling berpelukan erat, saling mengasihi dan menyayangi, Safa juga merasa sangat bahagia juga senang saat mendengar ucapan Ibu yang mendukung dan menerima hubungannya dengan Yudha yang dulu sempat tak diterima oleh Ibunya itu. Mereka larut akan suasana sampai tidak menyadari oleh sosok lelaki yang tengah memperhatikan dari jarak dekat dan tersenyum hangat.
" Ekhem... Aku gak di ajak pelukan iki, ben kaya teletubies gitu. " Canda Heru.
" Hiks hiks, opo sih Mas, " Seru Safa dengan sisa isaknya tapi tetap merentangkan tangan yang satunya untuk menyambut pelukan dari Heru. Heru pun langsung ikut menghambur memeluk sang Ibu juga sang adik dan tangannya pun mengacak gemas rambut halus nan hitam milik Safa.
" Udah gede masih aja suka mewek, gak malu tuh sama kemampuan kamu yang bisa menaklukan hati Mas bro Yud. Kamu tahu, Mas pernah pergi sama Mas bro keliling Jogja kan, lha pas kita lagi jalan mata cewek cewek pada tertarik sama dia, ehh tapi pas Mas lihat muka sama ekspresinya, beuhhhh jutek, dingin, datar banget. Koyo es batu dek, tapi anehnya tuh para wadon gak ngaruh dek, tetep aja pada kesemsem. "
" Emang... Mas Yud itu ramah sama orang tertentu aja Mas, "
" Iya termasuk kamu, ehh tapi kalau sama kamu gak cuma ramah, mungkin kepelet kena semar mendemnya kamu. "
" Enak aja, emang aku makanan apa semar mendem. "
" Ehh salah semar mesem, hihi. "
" Sembarang.!! Ibuuuuuk Mas Her tuh musrik. "
Hahahaha
Ibu Safa dan Heru pun tergelak mendengar rengekkan Safa. Namun Heru juga ikut bahagia melihat adiknya akhirnya mau menerima Yudha kembali, Heru yakin akan kesungguhan Yudha dan keseriusan Yudha jika Yudha memang bisa membahagiakan juga menjaga adiknya itu.
" Oh ya Bu, buat acara pernikahan minggu depan apa masih ada yang kurang atau gimana.? "
" Sudah beres semua, kamu sudah tenang saja. "
" Iyo Mas, sampean tinggal terima beres, cukup banyak istirahat biar pas acara hari H nya enggak reyot, alias loyo, alias capek. Nah nanti biar bisa cepet ngasih aku tambahan keponakan. hehe. "
" Kamu itu ya.... " Dengan gemas Heru mengacak rambut Safa juga menarik hidung Safa.
" Sudah ayo mlebu, uwes wengi. Istirahat kalian kan besok masih berangkat kerja sebelum cuti. "
" Injeh Bu. " Ucap Safa dan Heru kompak.
.
.
.