Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Setelah sekian lama


Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari pun berganti bulan.


Tak terasa kini Safa sudah masuk kuliah setelah sekian lama ia lulus dari SMA baru tahun ini Safa memasuki bangku kuliah. Dua bulan sudah Safa merasakan bagaimana mengenyam bangku kuliah, merasakan menjadi seorang mahasiswi di sebuah salah satu perguruan tinggi negri di Jogja.


Safa menjalaninya penuh dengan semangat dan keseriusan. Ia tidak mau jika sampai Yono kakak sepupunya yang dengan senang hati membiayai dirinya. Yono pun tak membatasi uang yang ia transfer ke rekening Safa, malah uang yang diberikan ke adiknya itu lebih dari cukup.


Safa sendiri tak enak hati karna merasa merepotkan kakak sepupunya itu, dan Safa juga menjadi rikuh pada istri Yono. Namun Yono tetap tidak mau Safa menolak apa yang telah diberikannya, dan Mbak Maulida istri Yono pun juga tidak mempermasalahkannya dan malah mendukung apa pun yang di lakukan Yono pada Safa karna juga sudah menganggap Safa adiknya sendiri. Tak ada rasa cemburu atau iri terhadap perlakuan istimewa Yono pada Safa. Karna Yono pun juga memperlakukan istrinya sangat istimewa.


Dan Yudha... Apa kabar dengan Yudha ?? Yudha baik baik saja. Dia rela bolak balik Jogja Bandung selama satu bulan hanya untuk bisa dekat dengan Safa juga menjadi guru bimbel untuk Safa saat Safa mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas kuliahnya.


Dan setelah kerja keras juga usahanya negosiasi yang panjang dengan Papanya kini Yudha bisa sedikit lega karna sekarang ia memimpin cabang perusahaan properti milik keluarganya yang ada di Jogja.


Yudha selalu menyempatkan diri untuk mengantar juga menjemput Safa kuliah. Safa tetap menjadi asisten pribadi Yudha yang mengurus segala keperluannya. Dan Safa tetap menjalankan tugas kuliahnya juga pekerjaannya sebagai asisten dengan sangat baik dan tanpa kendala karna Yudha mempermudah pekerjaan Safa agar Safa tidak kelelahan karenanya.


Seperti pagi ini seperti biasa, pagi pagi sekali Safa sudah membersihkan diri dan bersiap siap menjalankan pekerjaannya sebagai asisten. Setelah berpamitan pada orang tuanya Safa segera melajukan motornya menuju Hotel dimana Yudha tinggal.


Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat kerjanya karna Safa terbiasa melajukan motornya dengan cepat. Safa memakirkan motornya lalu segera memasuki hotel dan naik lift menuju kamar Yudha yang ada di lantai paling atas hotel itu.


Safa segera membunyikan bell saat telah sampai di depan pintu kamar Yudha. Yudha yang masih kelelahan karna baru saja datang dari bandung dengan enggan beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan untuk membuka pintu nya.


Tanpa melihat layar untuk melihat siapa yang datang Yudha membuka pintu.


Ceklek


" Dedek... Kenapa nggak langsung masuk aja sih? Kan kamu juga hafal passwordnya. "


" Hehe kan enggak sopan Mas kalau main masuk tempat orang. "


" Kamu nih pinter banget kalau ngejawab omongan ya. . Oh ya kamu tahu dari mana kalau Mas udah balik. "


" Hehe dari Mas Rizky. Aku semalem tanya kapan Mas Yudha pulang, terus di jawab kalau Mas Yudha berangkat jam malam gitu. "


" Kenapa nggak tanya Mas langsung sih, napa musti tanya Rizky. " Rajuk Yudha pada Safa karna tidak mau bertanya langsung padanya kapan pulang tapi malah tanya pada Rizky. Jujur dari kemarin Yudha sangat menanti pesan dari Safa namun tak ada satu pun pesan masuk dari Safa di ponselnya.


Safa pun hanya menjawabnya dengan cengiran manisnya yang membuat rasa kesal Yudha lenyap seketika. Safa berjalan menuju dapur namun langkahnya terhenti saat sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.


Safa pun membeku di tempat karna terkejut.


" Mas kangen tahu dek, hampir seminggu nggak lihat kamu, dan cuma denger suara kamu aja, mau video call nanti malah tambah nggak kuat nahan kangennya. Itu pun karna Mas dulu yang hubungin kamu atau kirim pesan ke kamu. Coba kalau nggak Mas duluan kamu pasti nggak mau kan. " Ucapnya dengan masih memeluk Safa dari belakang dan menyenderkan dagunya di pucuk kepala Safa.


" Mmmas lepas, aa..aku nggak bisa napas. " Ya karna Safa sampai menahan nafas karna saking terkejutnya dengan tindakan Yudha yang memeluknya erat dari belakang.


" Tapi Mas kangen banget dek. "


" Iya Safa tahu tapi lepas ini tangannya. "


Yudha pun dengan enggan melepas tangannya yang melingkar di badan Safa. Safa dengan segera membalik badan dan menuntun Yudha masuk ke kamarnya dan meminta Yudha untuk istirahat dulu selagi Safa menjalankan pekerjaannya sebagai asisten untuk memasak sarapan Yudha juga menyiapkan segala keperluan Yudha. Karna Safa tahu jika Yudha sangatlah membutuhkan waktu istirahat yang cukup melihat dari raut wajahnya yang terlihat sayu dan lelah.


Yudha pun hanya menurut karna sejujurnya ia sangatlah lelah dan sedikit mengantuk. Dan juga Yudha sangat senang akan perhatian Safa yang menyuruhnya untuk istirahat.


Setelah Safa memastikan Yudha istirahat dengan benar, ia lalu menuju dapur untuk memasak makanan untuk sarapan. Dibukanya pintu lemari pendingin untuk melihat bahan apa saja yang tersedia.


Setelah selesai semua pekerjaan memasak juga bersih bersih Safa segera membangunkan Yudha untuk segera sarapan mumpung masih hangat. Safa pergi ke kamar Yudha dan melihat Yudha masih tidur.



Ya allah Mas Yudha tidur aja kelihatan ganteng banget. Nggak nyangka anak yang selama ini aku rindukan telah berubah menjadi lelaki yang sangat tampan. Tapi perasaan waktu kecil dulu nggak seputih ini deh. Gumam Safa sambil senyum senyum.


" Mas Yudha... Mas bangun Mas, sarapan dulu. "


" Ehmmmm. "


" Masih ngantuk ya? Yaudah kalau gitu Safa pamit dulu ya. "


Mendengar ucapan Safa yang akan pergi Yudha buru buru membuka matanya.


" Aku mau berangkat kuliah dulu. "


" Kamu masuk jam pagi?. Kenapa nggak ngasih tahu sih. Tunggu dulu Mas mau mandi, tolong siapin bajunya ya. "


Yudha bergegas setengah berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat membersihkan diri, sedangkan Safa menyiapkan baju yang akan di kenakan Yudha.


Safa menunggu di sofa depan tv sambil membaca buku pelajaran. Tak berapa lama Yudha pun keluar kamar dan menuju meja makan, saat sampai di sana ia tak mendapati Safa ia pun memanggil.


" Dek..??? " setengah teriak.


" Ya Mas. "


Yudha melihat meja makan hanya tersedia sepiring nasi goreng dan 2 gelas minum serta beberapa lembar roti gandum.



" Kok cuma ini.? Kamu udah sarapan ? "


" Persediaan di dapur cuma tinggal itu aja. Beras dan lainnya udah pada habis. "


" Kamu udah sarapan ? "


" Aku mah gampang Mas nanti sarapan di kampus aja. "


" Sini duduk, kita sarapan bareng. Mau masuk kuliah pagi mana sempet kamu sarapan di kantin dek.. "


" Udah Mas Yudha aja yang makan nanti nggak kenyang lho. "


Tanpa menjawab Yudha menatap tajam Safa yang menandakan ia tidak mau penolakan. Safa yang mengerti arti tatapan Yudha hanya menghela nafas pasrah, karna percuma juga ia tidak akan menang mendebat Yudha dan itu juga hanya akan membuang waktu.


Safa duduk di kursi yang sudah ditarik Yudha mendekat pada kursinya. Dan lagi lagi Safa hanya bisa pasrah saat Yudha menyuapinya dengan satu sendok yang sama ia makan karna entah kemana sendok sendok yang biasa tersedia di lemari penyimpanan piring lenyap tak bersisa dan hanya tinggal satu yang di pakai saat ini.



" Mas Yudha ngapain lihat Safa gitu banget sih. "


" Kamu cantik. Kamu pulang jam berapa? Nanti Mas jemput sekalian belanja buat dapur. "


" Apa an sih Mas Yudha. Agak siang sih Mas, "


" Ya udah nanti kabari Mas kalau udah selesai.. Udah ayo Mas anter sekarang. "


" Mas Yudha nggak capek ? Aku berangkat sendiri aja Mas, aku bawa motor kok. "


" Mas nggak capek kalau sama kamu. Udah ayo nanti kamu telat lagi. "


Yudha pun turun dengan menggandeng tangan Safa sepanjang jalan menuju motor yang terparkir.



" Mas Yudha ganti motor ? kok sekarang berubah jadi item. "


" Yang merah lagi perawatan, jadi ini pakai punya Rizky. "


Safa hanya ber oh ria mendengar penuturan Yudha. Dan mereka pun berangkat ke kampus Safa dimana akan membuat semua teman kampus Safa dan juga para mahasiswa berdecak kagum serta iri melihat Safa.


.


.


.