
Di tempat lain....
" Apa!!! Kenapa bisa kalian ceroboh sampai ketahuan hah!!! " Bentak Nana di sambungan telfon.
" Kita juga nggak tahu kenapa bisa tuh cowok masuk gitu aja. Padahal udah kita pastiin kalau nggak ada yang lihat waktu kita bawa cewek itu. " ucap Jeki seraya menahan nyeri dibibirnya yang robek.
" Bodoh!!! kalian aja yang nggak becus.! "
" Ehh lo nggak usah nyalahin kita ya. Kita berdua sampai babak belur gini sama tuh cowok dan sekarang lo bilang kita nggak becus. "
" Terus gimana hasil foto kalian. "
" Nggak sempetlah buat mikir tuh foto, orang kita langsung dihajar tanpa aba aba gimana mau mikir buat tuh foto. Masih mending kita berhasil kabur, kalau enggak udah mampus kita sama tuh orang. "
" Kalian kira kira tahu nggak siapa tuh cowok. "
" Lumayan sih tuh cowok tampangnya, apalagi beladirinya, dan kayaknya itu orang nggak asing deh, "
" Sekarang kalian sembunyi dulu. Jangan sampai ada yang tahu posisi kalian sampai keadaan aman. "
" Ya. "
tutt tutt tutt
Panggilan terputus, Nana terlihat cemas dan sekarang dirinya mondar mandir didalam kamarnya sambil menggigit kuku jari tangannya.
.
Naura yang baru masuk kamar adiknya pun dibuat heran dengan kelakuan sang adik.
" Kamu kenapa kelihatan cemas gitu sih dek. "
" Kakk, mereka udah gagal dan ketahuan. "ucap Nana panik.
" Kok bisa? kata kamu tadi udah beres gimana sih. "
" Tadi emang lancar kak sampai tiba tiba ada cowok nyelametin cewek kampung itu. "
" Terus gimana dong, tapi fotonya udah berhasil mereka ambilkan dek. "
" Iya udah berhasil ambil fotonya, tapi masalahnya kameraku itu kemungkinan ketinggal di tempat mereka membawa Safa. "
" Ya udah sekarang kita ambil aja, kakak udah nggak sabar lihat si Yudha jijik sama cewek kampung itu. " Naura menyeringai licik, berbeda dengan Nana yang terlihat panik dan takut jika kakaknya tahu tempat untuk melancarkan aksinya itu adalah rumah pemberian sang papa pasti akan sangat murka.
.
Naura terlihat sangat semangat lalu melihat adiknya yang masih diam saja langsung menarik tangan Nana.
" Ayo dek cepetan. "
.
Nana hanya bisa pasrah jika nanti rumah kakaknya terlihat berantakan dan menerima amukan kakaknya.
.
Dan kini mereka dalam perjalanan menuju tempat yang Naura sperti tidak asing dengan jalan yang mereka lalui.
Nana hanya diam dengan wajah gugupnya.
.
Dan saat tepat berada didepan rumah milik Naura terpasang police line di pagar rumah itu. Mata Naura langsung terbelalak melihat rumahnya di beri police line. Begitu juga Nana , ia semakin panik dan gugup.
" Lho apa apaan ini. Kenapaku ada garis polisinya. "
Melihat adiknya yang tak seperti biasanya Naura dengan kemarahannya langsung membentak adiknya.
" Dek!!! Apa tempat yang kamu jadikan buat ngerjain cewek kampung itu rumah kakak ini.?? " Mata Naura tajam menatap Nana, Nana masih bungkam dan tubuhnya gemetaran, mulutnya seakan kelu tak bisa menjawab pertanyaan dari Naura. Naura menjadi tambah geram karna sepertinya benar apa yang ia pikirkan.
" NANA JAWAB KAKAK!!!!, " Teriak Naura dengan emosi tinggi.
Nana yang pertama kali di bentak dan diteriaki kakaknya dengan sangat keras hanya bisa memejamkan mata ketakutan, bukan hanya takut dengan kakaknya namun juga papanya yang pasti polisi akan segera melacak dalang kasus Safa.
.
Dengan gemetar Nana mencoba menatap dan bicara dengan kakaknya.
" Kakak... ma.. maafin Nana kak... " ucap Nana terbata.
" Kamu..!!. akhhh sekarang kita harus gimana coba, apalagi sekarang polisi turun tangan. Mereka pasti langsung bisa nangkep kamu.!!. gak gak bukan cuma kamu tapi kakak juga pasti ikut terseret karna itu rumah kakak. Dan kamu pasti tahu gimana marahnya papa dek!!. "
Naura terlihat sangat frustasi saat ini, ia tak mau sampai masuk penjara karna kesalahan dan kecerobohan adiknya. Dan amukan papanya jika sampai membuat nama keluarga tercoreng dan malu karenanya.
" Sekarang kita harus gimana kakk,, Nana takut.. Nana gak mau masuk penjara kakk. " rengek Nana.
.
Naura hanya diam tak menjawab, ia sama takut dan paniknya seperti adiknya, namun ia harus cepat berpikir dan segera bertindak sebelum polisi datang menangkap mereka berdua.
" Kakakkkkk.... "
" Diem dek!!! kakak baru mikir ini. "
Setelah lama berpikir akhirnya Naura memutuskan untuk pergi kabur keluar kota yang paling jauh berharap polisi tak bisa menemukannya.
" Kita pergi keluar kota, kalau bisa kota yang paling jauh dari sini. dan suruh orang suruhan kamu buat ikut sembunyi. "
" Tapi papa gimana kak.. "
" Udah yang penting kita kabur dulu sekarang. "
Tanpa pikir panjang kini Nana dan juga Naura langsung pulang untuk mengambil baju juga tas dan juga uang untuk bekal mereka selama pelarian, tanpa tahu ada kejutan menanti dirumah mereka. Kejutan yang langsung diberikan oleh Yudha.
.
.
.
Maaf lama up'nya kepala lagi nggak bisa diajak kompromi.. 🙏🙏🙏🙏