
Brakkk
B*******!!!!! jangan sentuh Safa!!!! Teriak Putra dengan sangat keras, emosinya meledak saat melihat tubuh Safa hanya tertutup selimut sedangkan pakaiannya berserakan di atas sisi tempat tidur yang lengang.
.
Tanpa babibu Putra dengan segenap emosinya yang meluap luap menghantam dua lelaki yang ada didalam. Pukulan demi pukulan diterima dua lelaki yang tampak tidak siap menerima pukulan Putra yang membabi buta. Putra yang menguasai taekwondo pun dengan mudah mengalahkan dengan telak dua lelaki b***** itu.
.
Hingga salah satu dari lelaki yang di hajar Putra menyemburkan darah segar dari mulutnya dan mengenai selimut yang menutupi Safa.
.
Jeki yang melihat temannya terkapar setengah sadar dan babak belur pun menyeret tubuh Edo agar segera bergegas lari dari tempat itu tanpa pikir panjang tentang pekerjaannya. Mereka melupakan tujuannya juga barang bukti yang entah terjatuh dimana kamera itu mereka tak peduli, bahkan pakaian Edo pun tertinggal hingga ia lari dan pergi dengan mobil hanya memakai celana boxer yang masih melekat. Yang mereka pikir hanya keselamatan mereka sendiri karna takut akan mati konyol di tangan Putra. Padahal mereka belum tahu apa yang akan terjadi pada mereka nanti.
.
Setelah kepergian dua lelaki brengsek itu Putra terlihat panik dan khawatir pada kondisi Safa. Ia bingung harus berbuat apa, namun secercah harapan muncul saat melihat ponsel Safa yang tergelatak di atas meja lalu mengambilnya dan mencoba untuk menghidupkannya karna Putra ingin menghubungi seseorang yang ada di dalam kontak Safa.
.
Saat ia sibuk mencoba menghubungi seseorang terlihat Safa sedikit mengerjapkan mata dan tersadar dari pengaruh obat bius yang di terimanya.
.
Putra belum menyadari jika Safa telah sadar namun belum sepenuhnya. Safa yang sudah membuka mata sepenuhnya pun merasakan kepalanya yang sedikit pusing, dan saat ia melihat pakaian yang berserakan di depannya ia seperti tidak asing dengan pakaian itu, ya ia juga memiliki pakaian seperti itu.
.
Dan saat matanya teralih oleh sesuatu yang berwarna merah di depannya Safa mengernyitkan keningnya dan ketika tangannya mengusap keningnya ia baru tersadar jika kepalanya sudah tak terbalut hijab. Dan seketika itu ia menyadari jika pakaian yang berserakan itu pakaian miliknya, tangannya meraba tubuhnya yang di balik selimut ternyata sudah polos tak terbungkus.
.
Dan saat matanya menangkap sosok lelaki di ambang pintu yang posisinya membelakangi dirinya pun membuat Safa teriak histeris dan menangis kencang.
.
Tidaaakkkkkkkkkk..... hiks hiks tidak mungkinn....
.
Putra yang mendengar teriakan Safa pun segera menoleh dan berjalan menghampirinya namun langkahnya terhenti saat Safa semakin histeris dan menyuruhnya untuk tidak mendekat. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri.
.
" Safa kamu sudah sadar. " Tanya Putra panik.
" Berhenti!!! jangan mendekat.!!! brengsek kamu.!!! Apa salahku sama kamu hah!!!! " Teriak Safa disela tangisannya.
" Safa kamu salah paham, ini nggak seperti yang kamu lihat dan pikirkan. "
" Pergi kamu, PERGIIII!!!!!! Aaaaaaaa.... hiks hiks,, ibuuuuu. " Teriak histeris Safa.
Putra memilih keluar dan menutup pintunya agar Safa tidak tambah tertekan dan menjadi histeris lagi. Putra pun menghubungi sahabat dekat Safa.
.
Begitu sambungan terhubung dan diangkat oleh orang yang ada diseberang Putra langsung menjauhkan ponsel Safa karna telinganya berdengung mendengar suara itu.
" Ha... "
" SAFAAAAA kamu dimana sih, jangan buat khawatir semua orang ya!!! "teriaknya sebelum Putra mengeluarkan suara.
" Heh bebek! bisa nggak sih nggak pake teriak. "
" Ehh siapa ini, mana Safa, kamu nyolong hp Safa ya. Pantes Safa nggak bisa dihubungi dari tadi. "
" Bebek lo bisa diem dulu nggak sih. Nyerocos aja. Mending kamu segera kesini deh, alamatnya gue kirim. tolong lo cepetan si Safa histeris gue nggak bisa nenanginnya. "
" Apa!!! emang Safa kenapa,? dan dari suara kamu??? PUTRA!!! Kamu apain Safa hah!! brengsek kamu. "
" Lo nggak usah banyak tanya ntar gue kasih tahu lo di sini. Mending lo cepetan kesini karna gue harus buru buru. "
" Ka..."
Tutt tutt tutt..
Brengsek si siput ini main matiin aja.. Ahh tadi dia bilang buat buru buru kesana Safa histeris.. Ya Tuhan ada apa sama Safa??? aku harus kesana cepet cepet.. nah ini alamatnya udah dikirim. Gumam Alifah.
.
Yudha meminta Rizky untuk melacak ponsel Safa namun karena ponselnya mati jadi tidak bisa di lacak. Yudha semakin khawatir dan frustasi karena merasa ada yang tidak beres.
.
Tak berselang lama Yudha mendapat telfon dari sahabat Safa.
" Halo Fah "
" Halo Mas Yudha... saya udah dapat kabar Safa ada dimana, dan sekarang saya mau kesana. "
" Tolong kamu kirimkan alamatnya sekarang! "ucap Yudha galak karna merasa frustasi dan juga sedikit lega Safa telah di ketahui keberadaannya.
" Ii...iiya Mas. " huhh galak bener ni orang, cuma sama Safa ni orang jadi selembut kapas. gerutu Alifah.
.
Alifah sudah sampai di tempat yang alamatnya di kirim oleh Putra dan dia melihat motor milik Putra yang terparkir di depan sebuah rumah. Alifah pun memfoto rumah beserta alamatnya dan segera ia kirim pada Yudha.
.
Alifah masuk dan langsung bersitatap oleh Putra. Alifah menatap Putra dengan sangat tajam.
" Dimana Safa!!, kenapa dia bisa sampai disini. "
Putra pun menceritakan semua kejadian yang di alami oleh Safa yang membuatnya sampai histeris. Alifah yang mendengar cerita Putra sampai menutup mulutnya karna syok dengan musibah yang dialami sahabatnya itu. Putra pun meminta Alifah untuk menenangkan Safa yang masih syok dan histeris didalam kamar yang di tutupnya rapat karna tubuh Safa yang tak memakai pakaian.
.
Sedangkan Putra pergi mencari dua lelaki yang kabur tadi untuk diseretnya kedalam penjara. Alifah buru buru masuk ke dalam kamar dimana Safa berada, tangis Alifah pecah ketika melihat kondisi sahabatnya itu yang terlihat sangat memprihatinkan.
.
Alifah menghambur memeluk erat tubuh Safa yang masih terguncang.
" Safa... "
" Aa..alifah... hiks hiks, aku kotor Fah, hiks hiks.. "
" Ssssttt udah kamu tenang dulu ya, sekarang aku bantu pakai baju kamu. " ucap Alifah menenangkan Safa di sela tangis mereka berdua. Alifah yang melihat noda darah pun memejamkan erat matanya karna mengira itu darah milik Safa. Pantas Safa hancur seperti ini. Dan Alifah pun mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang akan meluap karna ucapan Putra tadi. Ya, Alifah tahu ini perbuatan siapa dari penjelasan Putra tadi.
.
Setelah Safa sudah berpakaian rapi dengan di bantu Alifah kini tengah duduk dan keduanya pun berpelukan erat, Alifah mencoba menguatkan Safa dan meyakinkan Safa jika semua akan baik baik saja.
.
Tak berselang lama terdengar suara motor Yudha yang sudah berada di depan rumah itu. Yudha masuk tergesa gesa tak peduli itu rumah siapa. Matanya yang tajam mengawasi setiap ruangan dan ia mendengar suara tangisan dua perempuan yang sangat ia kenal.
.
Yudha langsung merangsek masuk ke dalam kamar asal suara tangisan itu. Yudha masih bingung dengan apa yang terjadi, ia pun berjalan mendekat.
" Dedek?? ada apa ini.? "
Safa yang mendengar suara Yudha tangisnya semakin meraung seperti merasakan kesakitan yang mendalam.
" Mas haaaaaaa hiks hiks, Masssssss hiks hiks, aku kotor Mas, aaku..... "
tangis Safa terhenti bebarengan dengan Safa yang kehilangan kesadarannya.
" SAFA!!!! Bangun sayang.!!!! "
.
.
.
Alifah
.
.
.