
.
Setelah sekian jam mencari tahu juga memeriksa cctv di area jalan sekitaran kantor akhirnya Sekertaris Jo memberi kabar pada atasannya Yudha.
tokk tokk tokk
" Permisi Pak."
" Gimana Jo, kamu udah tahu dimana Safa berada.?? gimana keadaannya, Safa baik baik saja kan?" serobot Yudha.
" Di cctv terlihat Mobil yang membawa Mbak Safa mengarah ke sebuah Resto Pak, namun saat pergi mobil itu hanya seorang lelaki muda saja yang mengendarainya tanpa terlihat Mbak Safa bersamanya. Dan setelah beberapa saat Mbak Safa terlihat keluar dari resto dengan seorang wanita yang sepertinya terlihat cukup akrab." terang Sekretaris Jo panjang lebar.
.
Yudha tampak mendengarkan keterangan Jo dengan sangat serius, namun ia juga terlihat bingung siapa orang yang sedang bersama Istri tercintanya. Karna setahunya di Bandung Safa tidak punya kedekatan dengan seseorang, juga tidak punya krabat.
" Ya Tuhan Dek, kamu dimana..." gumam Yudha sangat frustasi.
.
Sedangkan yang dicari cari masih asyik menyantap makanannya penuh semangat dan sangat lahap, tanpa menghiraukan wanita di depan nya geleng geleng kepala heran memperhatikan setiap gerakan makan Safa.
" Ya ampun Nduk, kamu nggak makan brapa hari sampe gitu banget makan nya, itu makanannya nggak akan lari jadi pelan pelan makannya. Nanti keselek lhoh." ucap Maulida.
" Hehe ini enak banget mbak, seger lagi kuahnya. Mbak Ida beneran nggak mau.?" jawab Safa.
" Liatin kamu makan Mbak udah kuenyang banget Nduk, terus itu kamu Gustiiii.... apa nggak ngilu tuh gigi." Maulida bergidik ngilu juga ngeri.
.
Bagaimana tidak ngilu jika Safa makan semangkuk soto yang diberi perasan jeruk nipis yang cukup banyak.
" Hehe kan ini yang ngerasain bukan Aku mbak, yang minta juga bukan aku."
" Nggak ngerasain gimana,?! Terus ini mulut siapa hadehhhh..." ucap Maulida seraya mencapit mulut Safa.
" Ponakan mbaklah."
" Hah.??? Maksudnya,?"
Butuh beberapa detik untuk Maulida mencerna ucapan Safa, dan detik berikutnya Maulida histeris juga merasa bahagia saat mengerti ucapan Safa.
" Ya Allah nduk kamu hamillllll......??"
Safa hanya tersenyum dan mengangguk. Maulida menghambur memeluk erat Safa serta mengucapkan selamat juga beribu ribu kata syukur atas kehamilan Safa.
" Ya Allah nduk selamat ya sayang... Alhamdulillah Gusti Allah memberi amanahnya buat kamu. Kamu harus menjaganya baik baik keponakan Mbak dan Masmu ini." ucap Maulida sambil mengusap lembut perut Safa yang masih rata.
.
Dalam hati, Maulida sangat bersyukur dan bahagia mendengar kabar baik ini, Namun jauh dalam lubuk hatinya Maulida juga sangat sedih jika mengingat janin nya yang telah tiada saat usia tiga bulan.
.
Walau ia dan suaminya sedih dan kecewa akan tetapi mereka tidak harus selalu bersedih dan terlalu larut akan kehilangan buah hati mereka. Ia dan Suaminya percaya dan yakin jika rezeki tidak akan kemana, mereka akan terus berusaha dan berikhtiar berdoa memohon segera diberikan kembali amanah si buah hati.
.
" Tapi nduk nanti kamu kelelahan, inget kalau kamu lagi hamil ponakan Mbak."
" Aaaaaa Mbakkkk, tapi aku pengen jalan jalan., ehhh ralat, PONAKAN Mbak Ida. Baby pengen diajak jalan jalan sama Budhe nya. Ya kan Dek, kamu pengen jalan jalan sama Budhe ya." Rayu Safa dengan jurus andalannya.
" Kamu itu pinter banget ngerayunya (sambil menjewer lembut kuping Safa) jangan jadiin PONAKAN Mbak alesan ya."ucap Maulida gemas.
Safa hanya tertawa renyah dengan perlakuan Maulida.
" Ya udah ayo, tapi kalau capek HARUS ISTIRAHAT oke.!?"
" Siap Bu komandan." ucap Safa semangat dan hormat layaknya prajurit pada kaptennya.
.
Hingga tak terasa malam menjelang, Maulida dan Safa akhirnya mengakhiri acara jalan jalannya. Dan saat Maulida hendak mengantarkan Safa pulang kerumah Yudha Safa menolak dengan alasan masih ingin menghabiskan waktu bersama Maulida selagi masih berada di Bandung.
" Udah puas jalannya sekarang kita pulang,. Kamu tinggal dimana nduk, mbak anter."
Mendengar kata pulang Safa kembali murung. Sungguh dirinya belum mau bertemu dengan Yudha suaminya setelah kejadian yang ia lihat.
" Uhm mbak, kalau aku ikut Mbak Ida dulu gimana, aku masih pengen sama Mbak Ida, masih kangen tahu."ucap manja Safa.
" Ehhhh, terus suami kamu gimana,? Mbak juga besok sibuk wara wiri ketemu klien nduk, Mbak nggak mungkin ngajak kamu sana sini dengan keadaan kamu yang lagi hamil muda sayang."
.
Maulida mencoba memberi pengertian Safa agar tidak membahayakan kehamilannya karna masih sangat rentan diusianya yang masih sangat muda. Jika Safa ikut dengan kesibukannya pasti akan sangat lelah dan itu tidak baik untuk kandungannya.
.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Safa, hanya raut wajah sendu yang Maulida lihat. Dan melihat itu Maulida berfikir itu karna hormon kehamilan yang mudah naik turun, perasaan mudah jadi sangat sensitif, dan karna tidak ingin membuat calon mamud ini bersedih dan berimbas pada si janin karna itu juga tidak baik akhirnya.
.
Dengan menghembuskan nafas panjang akhirnya Maulida pun mengiyakan keinginan Safa karna rasa sayangnya yang sangat besar. Namun Maulida ingin Safa meminta ijin terlebih dahulu pada suaminya agar tidak khawatir akan istrinya.
" Ya udah boleh ikut Mbak, tapi kamu harus ijin suami dulu boleh apa enggaknya."
Dengan senang hati dan sumringah Safa mengiyakan.
" Yeeeee asikkkk, oke aku minta ijin, tapi nanti, hp aku mati habis baterai. hehe." tentu saja itu hanya alasan Safa, karna yang sebenarnya ponselnya memang sengaja ia matikan biar tidak terlacak oleh Yudha, dan Maulida percaya saja dengan jawaban Safa.
Maaf mbak aku udah bohong. Aku masih belum ingin pulang dan bertemu Mas Yudha. Aku juga nggak mungkin cerita alasannya sama Mbak Ida. Maaf Mas Yudha, aku butuh waktu buat menenangkan diri dan hati. Batin Safa.
.
.
.