
.
.
Tiga hari sudah mereka habiskan waktu di villa milik Yudha. Dan kini mereka sudah beraktifitas seperti biasa, juga Safa yang tengah libur dari perkuliahannya kini lebih banyak waktu membantu Yudha di kantor, lebih tepatnya melaksanakan tanggung jawabnya sebagai asisten pribadi Yudha yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan kantor Yudha karna Yudha yang tak ingin jauh dari istri tercinta nya.
.
Kedua nya bersikap profesional, namun jika hanya ada mereka berdua saja jangan tanyakan lagi bagaimana sikap Yudha pada istri tercinta nya itu Yudha akan selalu bermanja dengan Safa, itu juga yang membuat diri Safa ketar ketir takut jika ada yang melihatnya karna ada di lingkungan kantor.
.
Seperti saat ini yang tiba tiba saja Tuan Besar datang ke kantor untuk mengecek kemajuan perusahaan. Safa pun menjadi kalang kabut dan sangat tegang karna sekretaris Jo memberitahunya mendadak saat Tuan Besar sudah menginjakkan kaki di lobby perusahaan.
.
Berbeda dengan Safa, Yudha lebih terlihat acuh dan tenang dan tetap memasang wajah tak bersahabatnya ketika sang Papa datang.
Aduhhh aku kudu piye iki... Ahhh sekretaris Jo sih kasih tahu nya mendadak banget, orang udah di lobby baru kasih tahu. Mas Yudha juga tenang tenang aja malah nyibukin diri buat memeriksa berkas berkas, nggak tahu apa kalau istrinya lagi cemas. Batin Safa.
.
Safa pun pergi ke pantry yang masih ada di dalam ruangan Yudha untuk sekedar menetralkan dirinya.
.
Tok tokk tokkk
" Masuk."
" Pak Yudha, Tuan Besar sudah tiba."
" Hem."
Sosok lelaki paruh baya itu pun masuk dan langsung mendudukkan diri di sofa.
" Untuk apa Papa datang."
" Kamu ini, apa salah Papa datang ke perusahaan Papa sendiri. Bagaimana kemajuan perusahaan kita." Tanya nya basa basi.
" Baik."
" Udah begitu saja,?"
" Papa tidak usah basa basi, Papa kan bisa cek sendiri grafik perkembangan di tab Papa ."
" Kamu to the point sekali sama Papa."
" Mending Papa langsung saja ke inti dari kedatangan Papa kesini."
" Baiklah, nanti malam pulanglah ke rumah untuk makan malam bersama keluarga Om Doni."
" Aku tidak janji."
Safa pun datang dengan membawa nampan berisi secangkir kopi untuk Papa Yudha.
" Maaf permisi, minum nya Tuan."
Papa Yudha yang melihat Safa sedikit berfikir, seperti pernah melihatnya.
" Dia is.."
" Saya Safa asisten Pak Yudha Tuan. Dan anda pernah melihat saya ketika di rumah Mbak Sherly."
belum Yudha selesai bicara sudah di potong cepat oleh Safa. Yudha pun melotot ke arah Safa yang hanya di balas senyum manis Safa.
" Ohh ya saya ingat, kamu teman Sherly. Sudah lama kamu jadi asisten Yudha.?"
Yudha hendak menjawab namun lagi lagi Safa selalu mendahului nya dan memberi kode Yudha untuk tetap diam. Yudha pun mendengus kesal dan menyimak apa saja yang akan ditanyakan oleh Papa nya.
" Saya sudah setahun lebih bekerja dengan Pak Yudha Tuan."
" Setahun lebih.???"
" Dia asisten aku sejak aku ada di jogja." Jawab Yudha cepat nan tegas.
Papa Yudha menyeringai dan Yudha bisa menangkap maksud dari raut wajah sang Papa itu
" Ohh begitu, jadi kamu tahu siapa wanita yang..."
" Cukup Pa.!! Aku mohon untuk Papa segera tinggalkan kantor Yudha."
" Hehh, kamu lupa siapa pemilik perusahaan ini."
" Papa yang keluar atau aku yang keluar." Tegas Yudha.
" Baiklah, Papa keluar, jangan lupa untuk nanti malam." Papa Yudha pun keluar dengan menahan rasa kesal.
Setelah kepergian Papa Yudha Safa baru dapat bernafas lega.
" Kamu kenapa tadi menyela terus sih Dek.!"
" Terus Mas Yudha mau bilang kalau aku istri siri Mas Yudha gitu. Mas kan tahu kita belum dapat restu dan Papa Mas Yudha juga tidak menyetujui Mas Yudha sama aku, kalau Papa Mas Yudha tahu sekarang yang ada dia bakal langsung nggak suka Mas... biarkan Papa Mas Yudha mengenalku lebih dulu, biar Papa Mas Yudha menilaiku lebih dulu aku itu layak untuk Mas Yudha atau enggak. Biar Papa Mas bisa melihat dari sisi positifnya dari diri aku walau aku banyak negatifnya."
Yudha langsung menutup mulut Safa dengan telunjuknya lalu mendekapnya erat.
" Sssstttt, kamu tidak ada nilai negatifnya sama sekali bagiku sayang. Jadi jangan pernah berkata itu lagi."
" Ya itu bagi kamu Mas, kamu suami aku. Tidak dengan orang lain, maka dari itu biar aku tunjukkin diri aku kalau aku memang layak untuk Mas Yudha di mata keluarga Mas Yudha ya."
" Baiklah, , oh ya sekarang kita harus mengantar Rizky dan Dhian pulang ke Jogja."
" Lhoh kok cepat banget sih di Bandungnya."
" Iya karna Rizky harus menyelesaikan pekerjaannya disana sebelum dia kembali untuk jadi wakil aku disini."
" Apa,?? jadi Mas Rizky bakal kerja di kantor ini.? Terus yang handle kantor di Jogja siapa.?"
" Iya sayang, Rizky nanti akan menyerahkan tanggung jawab kantor Jogja sama Putra. Dia sudah cukup mampu untuk diandalkan."
" Okelah kalau gitu, ayok.."
.
.
.