Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Rumah sakit II


Di dalam kamar ruang rawat inap VIP terlelap seorang pasien karna obat penenang, dan seorang lagi yang tak henti hentinya memandangi wajah orang yang terlelap itu, namun saat mata itu kembali terbuka maka hanya ada teriakan dan tangisan yang menyayat hati yang mendengarnya.


.


Sungguh hati Yudha sangat sakit saat melihat keadaan Safa sekarang ini, tak ada senyuman hangat, tak ada tawa riangnya, juga keceriaan yang selalu ia tebar dimana pun dia berada. Yang ada sekarang hanya kesedihan, kepedihan, dan tangisan pilu.


.


Walau sekarang semua pelaku termasuk otak dari kejahatan itu sudah mendapat hukumannya namun bagi Yudha itu belumlah seberapa dari pada akibat yang ditimbulkannya dari kejahatan itu. Sungguh tangan Yudha teramat sangat gatal ingin rasanya menghajar dan mencekik orang orang ****** itu hingga tak bisa lagi melihat dunia dengan bebas.


.


Yudha terus menggenggam erat tangan Safa yang bebas tak tertancap jarum infus, ia genggam erat juga terus menciumi tangan Safa dan ia tempelkan telapak tangan kecil itu ke pipinya. Tak henti hentinya Yudha mengucapkan kata maaf pada Safa yang mungkin tak dapat mendengar kata kata yang terucap dari mulut Yudha. Hingga pintu kamar terbuka dari luar dan berhamburlah keluarga inti Safa juga Rizky yang kebetulan baru sampai di rumah sakit dan bersama sama jalan ke ruang inap Safa.


.


Ibu Safa yang melihat kondisi anaknya langsung berhambur memeluk tubuh Safa yang belum sadarkan diri karna pengaruh obat.


" Sebenarnya apa yang terjadi sama Safa ? " tanya Ibu Safa ditengah isak tangisnya.


" Yudha akan cerita pada semua yang ada disini, mari bu, pak kita bicara di sofa. "


Yudha pun menceritakan runtutan kejadian secara detail, dan reaksi keluarga Safa pun tak kalah syok dengan apa yang Yudha alami. Ibu langsung menangis tersedu sedu dipelukan Bapak Safa, Heru dan Dona juga begitu terpukul dengan apa yang telah menimpa saudara mereka. Yang lebih menyedihkan lagi kejadian ini bertepatan dengan acara hajatan yang akan mulai digelar esok hari.


" Ya Allah.... Kenapa ini menimpa anak hamba ya allah... apa salah anak hamba??? apa dosa kami???, huhuhu. " isak tangis Ibu Safa.


" Istigfar bu, kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk anak kita. Semoga Safa di beri kekuatan . "saut Bapak.


" Harusnya tadi aku mengantar adek saja, karna aku adek jadi begini. ini salahku. " Heru tersedu menahan isak tangisnya.


" Tidak Her, ini bukan salah kamu, andai aku tidak terlambat menyelamatkan dedek, pasti dedek nggak akan sampai seperti ini. " Sesal Yudha yang masih merasa bersalah.


" Sudah, sudah, ini bukan salah siapa siapa,. Ini memang sudah takdir dari yang maha kuasa, kita tidak bisa menghindar maupun merubahnya. Sudah kehendakNya untuk Safa begini kita tidak bisa apa apa, kita berdoa saja untuk kepulihan kondisi Safa. " nasehat bijak Bapak.


.


Tak berselang pintu di ketuk dan masuklah Alifah dan Putra, mereka menyalami semua keluarga Safa, Putra pun juga menyalami Yudha walau ada rasa sedikit canggung untuk Putra menyalami orang yang pernah mengalami kejadian tidak mengenakan dengan dirinya.


.


Yudha pun memberitahukan pada semua jika Putra saksi utama juga orang pertama yang sudah membantu menolong Safa. Ibu pun dengan berat hati menanyakan sesuatu yang sangat tidak enak untuk ditanyakan juga memalukan.


" Nak Putra, ibu mau tanya, apa kamu melihat semua yang terjadi pada Safa?? apa kamu melihat mereka menyentuh Safa ? "


Putra pun menjawab dengan sangat kikuk karna dirinya sudah melihat tubuh atas Safa walau tidak full namun Putra masih bisa melihat bahu Safa yang terpampang jelas tanpa tertutup kain.


" Uhmm saat saya datang mungkin diwaktu yang pas sebelum mereka menyentuh Safa. Karna waktu itu saya melihat mereka seperti baru selesai mengambil foto dan hendak melakukan hal lebih buruk lagi pada Safa, tapi keburu saya datang dan menghajar mereka semua. Jadi saya pikir jika Safa masih suci. " walau ada sedikit keraguan namun ia yakin jika para ******** itu belum melakukan yang lebih dari mengambil foto.


" Tapi waktu itu aku melihat noda darah di selimut, dan kemungkinan Safa juga melihatnya jadi ia langsung histeris. " Alifah yang merasa melihat darah waktu itu pun ikut angkat bicara juga karna ingin memastikan kondisi yang membuat sahabatnya sampai seperti ini.


Keluarga yang mendengar pun sampai menutup mulut mereka yang ternganga terkejut mendengar ucapan Safa, dan langsung semua mata tertuju pada Putra seolah meminta kejelasan mengenai apa yang dilihat Alifah.


" Iya darah, " ucap Alifah.


" Ohh itu darah si brengsek yang nyembur waktu kena pukul." jelas Putra saat teringat.


" Kamu yakin Put!? "


" Sangat yakin, lhah bukannya kamu yang bantu Safa pakai baju! kan kamu bisa lihat di tempat tidur ada darah apa nggak?! "


" Aku lupa, hehe kan tempat tidurnya ketutup selimut jadi nggak kelihat . "


" Sudah, sudah cukup, yang terpenting sekarang kita bantu Safa buat melewati ini semua. Jangan ada yang membahas ini jika didepan Safa kalau bukan Safa sendiri yang cerita atau tanya. Takutnya nanti bisa membuat Safa kembali histeris lagi. " Ucap Yudha menyela omongan Putra dan Alifah.


" Benar kata Yudha, sebaiknya sekarang kita menghibur dan membuat Safa melupakan musibah yang menimpanya. " Ucap Bapak.


Semuanya pun mengangguk setuju dan keheningan pun kembali terjadi. Ibu Safa beralih mendekat ke brankar anaknya yang masih betah dengan lelapnya. Sedangkan yang lain duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Safa terbaring.


" Bangun nduk... Jangan buat Ibu kuatir. hiks.. "


" Sudah Buk, kita harus tabah dan sabar, kita harus selalu semangati anak kita biar tidak terpuruk. Kalau kita sendiri gak kuat terus siapa yang akan menguatkan Safa.? " ucap Bapak yang sudah berdiri disebelah Ibu duduk.


.


Waktu terus berlalu hingga tak terasa kini petangnya malam telah datang, namun belum ada tanda tanda dari Safa untuk bangun dari lelapnya. Diruangan rawat Safa hanya tersisa kedua orang tua Safa dan kerabat Ibu Safa yang belum lama datang. Sedangkan Heru, Putra, dan Alifah sudah pulang dari sebelum magrib tadi.


" Bapak, Ibu sama yang lainnya lebih baik pulang saja dan istirahat dirumah. Biar Yudha yang jagain dedek disini. Apalagi besok pasti banyak yang harus diurus kan. "


" Tapi Ibu gak mau ninggalin Safa, ibu mau disini. "


" Yudha bener Bu, lebih baik kita pulang dulu. Toh juga jam besuk sepertinya sudah habis takutnya nanti diusir satpam, jadi sebelum diusir lebih baik kita pulang sekarang. "


" Tapi Pak... "


" Ibu tenang saja, nanti jika Safa siuman Yudha pasti akan langsung kabari Bapak dan Ibu. Kasian Heru dirumah pasti kebingungan jika Bapak dan Ibu tidak dirumah. " ucap Yudha mencoba memberi pengertian pada Ibu Safa.


Ibu Safa menghembuskan nafas panjang sebelum berucap...


" Baiklah kalau begitu, Ibu juga tidak bisa mengesampingkan Heru juga, nak Yudha, Ibu titip Safa ya, segera kabari rumah jika Safa sudah siuman. Ibu percayakan Safa sama kamu. "


" Iya Bu pasti, dedek udah tanggung jawab Yudha sebagai calon suaminya. " ucap Yudha mantap.


Setelah mempercayakan anaknya pada Yudha, orang tua Safa pun pergi meninggalkan ruang rawat yang hanya ada Yudha yang setia menemani dan menjaga Safa.


.


.


.


Maaf semuaπŸ™πŸ™lama up'nya,, akhir" ini nggak tahu kenapa badan lemes sakit semua rasanya ngilu seluruh badan, tenggorokan agak kurang nyaman juga, jadi satu episode ini nulisnya nyampe hampir 4 hari apa ya kalau nggak salah.. bener" buntu ini pikiran karna ngerasain badan yang butuh servis juga rehat... sekali lagi maaf πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™