
Sejak hari itu Yudha penuh dengan semangat berjuang untuk meyakinkan Safa dan membulatkan tekat jika Safa harus jadi miliknya.
Namun kebalikan dengan Safa yang entah kenapa kini berubah cuek pada Yudha dan safa seolah menghindari berdekatan dengan Yudha. Yudha pun di buat meradang karenanya. Selalu saja ada alasan Safa saat Yudha menjemputnya dan mengantar Safa kuliah.
Seperti pagi ini setelah memasak dan menyelesaikan tugasnya sebagai asisten Yudha, Safa buru buru pergi sebelum Yudha terbangun dari tidurnya. Namun Safa salah karna sudah mengira Yudha masih tidur dan belum bangun.
Yudha sengaja tidak keluar kamar menunggu Safa datang dan mengerjakan tugasnya. Yudha terus memantau Safa melalui cctv yang ia pasang dan di hubungkan langsung ke laptop dan ponselnya.
Yudha pov
Akhir akhir ini aku merasa aneh dan merasa kalau dedek selalu menjaga jarak denganku. Jarak antara kami berdua serasa semakin menjauh membentang.
Sejak aku mengutarakan keinginanku untuk menikahinya dan meminta restu pada orang tuanya, Safa sangat susah untuk aku hubungi. Pesan dan panggilanku selalu tak ia jawab, terkadang ia jawab tapi bicara seperlunya dan langsung menutup telfonnya.
Kenapa??? Kenapa kamu jadi begini dek, saat pagi kamu datang biasanya selalu membangunkanku atau memencet bel kamar hotel karna merasa tidak sopan, kini kamu malah dengan sengaja diam diam datang dan masuk mengerjakan semua rutinitas tugas pagimu dan setelah selesai kamu pergi begitu saja hanya meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan Selamat pagi Mas Yudha, semua tugas pagi ku sudah selesai, Safa berangkat dulu, selamat makan..
Hanya itu yang ia selalu Safa lakukan dan pesan yang ia tinggalkan di meja makan setiap pagi.
Awalnya aku tidak merasa apa apa dan keanehan apapun, aku hanya berfikir jika Safa mungkin sedang terburu buru saja saat itu. Namun aku salah mengira, ternyata itu terus terulang setiap pagi, dan aku mulai menyimpulkan jika Safa sengaja begitu untuk menghindari ku.
Aku mulai tidak tenang, aku pun terus memantau cctv agar bisa melihat kedatangan Safa dan kegiatan pagi seperti biasanya, aku tidak mau sampai kecolongan lagi.
Dan benar Safa datang mengendap endap seperti memastikan ada atau tidaknya seseorang, dia memasak namun matanya selalu melirik ke arah pintu kamarku.
Saat Safa selesai dan hendak pergi aku dengan cepat mengunci pintu depan lewat aplikasi di ponsel dan pintu terkunci otomatis dan hanya aku yang bisa membuka kuncinya. Safa terlihat kebingungan saat menekan password pintu namun tak bisa terbuka. Dia mulai panik, sebenarnya aku tidak tega melihat raut paniknya. Tapi aku harus bisa berbicara langsung dengan Safa, aku tidak mau dia menjauhiku, dan membatasi interaksi langsung denganku.
" Dekk, " Ku panggil dia dan terlihat dia seperti kaget mendengar suaraku. Dia pun membalik badan dengan sedikit kikuk.
" Mmas Yudha sudah bangun. " Ucapnya terbata.
" Udah sejak subuh Mas bangun. "
Dia sepertinya kaget mendengar jika aku sudah bangun dari subuh.
" Ya sudah itu sarapannya sudah siap, jadi Safa mau berangkat kuliah dulu. "
" Mas anterin, "
" Nggak, " Jawabnya cepat.
" Uhm maksud aku, aku udah janjian sama temen mau ke toko buku dulu, iya ke toko buku. "
Aku tahu dia berkata bohong mencari alasan karna dilihat dari nada bicaranya seperti terbata seraya berfikir.
" Sini temani Mas sarapan dulu. "
" Nggak bisa Mas, aku buru buru, dan tolong bukain pintunya ini nggak bisa di buka. "
" Kalau Mas nggak mau.? Kamu kenapa sih dek ngehindarin Mas terus, salah Mas apa ngomong, jangan ngehindar gini. "
" Mm mas Yudha ngomong apa sih Safa nggak ngerti. " Ucapnya sambil memalingkan muka. Emosiku sedikit mencuat tapi sebisa mungkin aku menahannya.
" Duduk dulu, Mas mau ngomong. "
" Lain kali aja Mas, Sa... " Sebelum dia banyak bicara aku sudah menarik tangannya agar duduk di sofa.
" Mas Yudha kenapa sih. Aku mau berangkat kuliah Mas. "
" Kamu yang kenapa. Setiap hari kamu selalu menghindar dari aku. Saat aku pergi ke rumah kamu selalu saja pergi dengan banyak alasan. Saat aku jemput kamu kuliah kamu juga selalu pergi entah kemana. Dan aku tahu kamu sengaja kan menghindar. Kamu kenapa? Bicara sama aku apa salah aku. Jangan menghindar begini. "
Tak ku duga dia malah menangis terisak. Apa aku sudah keterlaluan? Apa kata kataku terdengar kasar? Aku bingung dan saat hendak ku ulurkan tanganku untuk menghapus air matanya yang menetes di pipi ia menghindar.
" Maaf dek, maaf udah buat kamu menangis. Mas nggak bermaksud. "
" Nggak Mas, Mas Yudha nggak salah. Aku yang harusnya minta maaf sama Mas Yudha. "
" Sudah, kamu nggak perlu minta maaf, nggak ada yang harus di maafkan. " Yudha pun menarik Safa ke dekapannya, namun isak tangis Safa malah semakin menjadi.
" Ssshhh kamu kenapa malah semakin kenceng sih nangisnya. Ada apa.? "
" Mas, boleh Safa bicara serius. "
" Ada apa. "
Hening
Safa melepas dekapan Yudha lalu menatapnya serius.
" Safa mau berhenti jadi asisten pribadi Mas Yudha boleh."
" Lhoh kenapa? Apa kerjaannya terlalu berat? "
" Bukan itu. Maaf Mas, lebih baik kita menjaga jarak, Tolong Mas Yudha lupain aku. Jauhin aku Mas, maaf Safa nggak bisa terima cinta Mas Yudha, lebih baik kita sperti dulu, Mas Yudha tetap kakak aku. "
Deg
Saat Safa bilang kata kata itu hatiku seperti diremas, sakit tapi tak berdarah, sangat sakit sekali. Perempuan yang selama ini mengisi hatiku menyuruhku untuk melupakan dirinya. Nggak bisa, aku nggak terima.
" Nggak dek!! Mas nggak mau jauh dari kamu, Mas nggak bisa lakuin itu. Mas bisa hancur dek tanpa kamu. Tolong kamu jangan seperti ini. Kenapa kamu begini? Apa kurangnya aku ? "
" Mas Yudha nggak kurang suatu apapun. Aku.. Aku yang banyak kekurangan. Aku sadar diri Mas, kalau aku nggak mungkin bisa sama kamu, Mas Yudha terlalu tinggi untuk aku gapai. Ada benteng besar diantara kita. Dan juga aku nggak mau sampai buat sedih Bapak sama Ibu kalau nanti orang tua Mas Yudha tidak merestui Mas. Aku nggak pantes buat Mas Yudha."
" Kamu nggak usah perlu pikirin masalah perbedaan antara kita. Dimata Tuhan kita sama dekk. Kamu juga nggak perlu pikirin orang tua aku. Yang penting Bapak Ibu kamu merestui kita. Itu yang paling penting. "
" AKU NGGAK PEDULI... aku enggak peduli, yang terpenting buat aku itu KAMU..,cuma kamu yang aku mau. Pantas tidaknya kamu buat aku itu cuma aku yang nentuin. Bukan orang tua aku atau kamu. . Sudahlah nggak usah bahas pantes apa enggaknya kamu buat aku, nggak usah bahas perbedaan antara kita, nggak usah bahas orang tua aku lagi. Terserah kamu mau jauhin aku atau jaga jarak dari aku, aku nggak peduli. Satu yang pasti harus kamu tahu, KALAU AKU NGGAK AKAN MENYERAH UNTUK KAMU,, UNTUK HUBUNGAN KITA DAN UNTUK SEMUA.. INGAT ITU.. dan satu lagi kamu akan tetap jadi asisten aku sampai habis kontrak. "
Aku penuh dengan emosi di hati beranjak pergi meninggalkan Safa yang terisak di ruang tamu. Aku masuk ke kamar dan ku banting pintu kamar itu. Dan ku dengar dari kamar isakan Safa yang semakin kencang.
Sebenarnya aku tidak sampai hati membuat Safa menangis, ingin ku peluk erat tubuh mungil itu dan menenangkan hatinya bahwa semua akan baik baik saja. Namun emosi masih memenuhi hati dan pikiranku jadi ku putuskan untuk meredamnya dengan meninggalkan Safa untuk memikirkan ucapanku lagi.
______
______
Setelah peristiwa itu kini Safa dan Yudha menjadi seolah orang yang baru kenal dan menjalani profesionalitas kerja antara atasan dan bawahan. Bertegur sapa hanya sekenanya. Namun diam diam Yudha tetap memperhatikan Safa dan selalu berkirim kabar dengan Heru dan juga orang tua Safa di belakang Safa. Yudha selalu memantau kegiatan Safa di rumah, kantor maupun di kampus.
______
Di Kampus.
" Ya halo Mas, "
" Dia sedang apa sekarang? "
" Safa lagi di perpus Mas, dan dia kelihatan sedang fokus soalnya mau ada ujian nanti. "
" Oke trimakasih, tolong kasih kabar terus ya, dan tolong jagain dia. "
" Siap Mas, "
Telfon dimatikan.
Ya selama di kampus Yudha selalu meminta Alifah untuk melapor apapun kegiatan Safa selama di kampus.
" Heii,, serius amat neng. "
" Iya lah emang kamu, yang suka main main. Inget ntar ujian dari Mrs. Adrina kalau sampai nggak bisa tau rasa kamu. "
" Ihh aku udah belajar kali tadi malem. "
Safa dan Alifah pun terlihat asik belajar sambil ngobrol hingga yang tak di inginkan pun terjadi.
" Hai "
Alifah menatap tajam lelaki itu, sedangkan Safa terlihat cuek tak ingin menanggapi sapaan itu.
" Ngapain kamu, pergi sana jauh jauh. "
" Aku nggak ngomong sama kamu. Aku cuma mau nyapa Safa. " Tanpa di persilahkan duduk lelaki itu duduk di hadapan Safa yang masih asik membaca.
" Tapi Safa nggak mau ngomong sama kamu. "
" Udah yuk Fah pergi, nggak enak ganggu yang di perpus kalau berisik disini. "
" Ayo, aku juga muak sama kuman satu ini. Nempel mulu buat penyakit aja. "
" Eh jaga mulut kamu ya. " Ketus lelaki itu.
Safa menarik tangan Alifah untuk pergi dari situ karna merasa tidak enak membuat keributan. Namun lelaki itu pun juga ikut keluar mengikuti langkah Safa.
" Safa tunggu, "
" Apa lagi sih Put, aku nggak mau ya nanti pacar kamu marah marah ngamuk nggak jelas lagi sama aku. "
" Aku cuma pengen ngomong aja sama kamu, aku pengen ngobrol. "
" Udah ya Putra, aku males kalau buat ngeladenin kamu sama pacar gila kamu itu. "
" APA MAKSUD KAMU.! " Suara menggelegar yang datang tiba tiba membuat Safa dan Alifah sangat malas untuk meladeninya.
" Siapa yang kamu maksud pacar gila hah.. Dasar cewek nggak tahu diri. " Hardik Nana pacar Putra.
" Hei!!! Siapa yang disini yang nggak tahu diri. Safa apa KAMU!. Dasar cewek penggoda. Pacar orang di embat. "
" Tutup mulutmu, dasar cewek kampungan. " Bentak Nana.
" Kamu itu yang harusnya tutup mulut. "Balas Alifah.
" Udah udah Fah, ayo kita pergi, nggak guna ngladenin mereka. " Safa menarik tangan Alifah yang masih tersulut emosi.
" Safa tunggu. " Panggil Putra.
" Kamu apa an sih yank, ngapain kamu panggil dia, mau balik lagi sama dia. "
" Ahhh udahlah capek ngomong sama kamu. " Putra pergi meninggalkan Nana begitu saja dan tidak mempedulikan Nana yang meneriaki namanya.
Awas kamu Safa, aku bakal kasih kamu pelajaran karna sudah berani sama aku.
.
.