
Pagi pukul 06.30 WIB ,Kabupaten Sleman.
"Safaaaaaa,,,gusti allah anak prawanku ket mau digugah kok ra tangi-tangi yo! nek telat mbuh lho ya,potong gajimu."(safaaaaaa,,,gusti allah anak prawanku dari tadi dibangunin kok nggak bangun-bangun ya! kalau telat tau lho ya,potong gajimu). seru ibu safa setengah berteriak.
[maaf ya ada bhs.jawanya karna memang latarnya aku ambil didaerah DIY jadi biar klop crita tokoh sama tempatnya]
Hampir setiap bangun pagi Ibu safa berteriak jika anak perawannya susah dibangunin. Kalau tidak begitu safa akan telat bangun dan berimbas pada kerjanya jika telat maka gajinya akan dipotong, entahlh itu sudah jadi prosedur tempat safa bekerja, terima tidak terima itulah konsekuensi kerja ikut orang.
"Hooaaammm,,jam piro to??"(jam brapa sih).gumam safa,matanya masih terpejam ia langsung duduk dari tidurnya sambil tangannya mencoba meraih Hp dimeja untuk melihat jam.
" Ya allah aku kawanen..matek telat aku!!"(ya allah aku kesiangan..mati telat aku).seru safa sambil meletakkan kembali Hpnya dan berlari keluar kamar melewati dapur sebelum akhirnya keluar rumah dan masuk ke dalam kamar mandi. Tapi sebelum pintu tertutup safa keluar lagi untuk meraih handuk yang berada dijemuran.
Byuurrr jebyurrr suara air dalam kamar mandi safa. "aaaaa ademmmme berrrrrr huh huh huh haaaa"(dinginnya).seru safa saat dinginnya air menyentuh kulitnya.
10 menit kemudian safa kelar mandi dan masuk ke dalam rumah dengan handuk yang melilit ditubuhnya dari atas dada sampai lututnya.Ia berhenti didapur untuk menyruput teh manis hangat yang sudah ibu safa buatkan dan diletakkan dimeja dapur.
"makane to nduk nek alarm'e muni ki gek tangi, ora malah alarm dipateni awakmu bali merem mneh. Padahal alarm'e suarane buanterr tapi kok tetep ora kodal"(makanya nak kalau alarmnya bunyi tu cepat bangun, bukannya alarm dimatiin dirimu kembali tidur lagi .Padahal alarmnya suaranya keras sekali tapi kok tetap nggak ngaruh).Tegas ibu safa.
Safa hanya nyengir dan berlalu masuk kedalam kamarnya untuk memakai baju seragam kerjanya. Setelah memakai seragam kerjanya safa memoles wajahnya dengan sdikit pelembab dan bedak tipis-tipis dan tdk lupa lip balm dan sdikit lipstik.
Ia tidak mau repot pakai make up yang tebal dan mencolok, karna safa suka dengan make up yang natural ,walaupun oleh tempatnya bekerja diharuskan untuk memake up wajah yang tebal ,karna safa bekerja sebagai pramusaji dituntut dengan panampilan yang rapi dan menarik tapi tetap sopan.
Safa memanglah tidak secantik gadis luaran sana ,tampang dan body yang pas-pas'an jauh dari kata menarik. Walau ia tidak cantik tapi safa cukup manis dan imut karna mempunyai lesung pipit dipipinya ,alisnya cukup tebal nan rapi dan juga bulu mata yang lentik, cukup manis dan imutkan .
Setelah cukup dengan polesan wajahnya safa lanjut dengan hijabnya. Hijab segiempat warna hitam yang simple tapi tetap cantik dipadukan dengan pin berbentuk hati warna merah senada dengan warna seragam kerjanya. Dan terakhir tidak lupa parfum dan body lotion secukupnya. Setelah dirasa puas dengan penampilannya safa mengambil tas ransel kecil miliknya dan juga tidak lupa Hp.
Safa bergegas keluar kamar untuk menghampiri keluarganya yang sudah berkumpul didapur untuk sarapan pagi.
"sarapan sek faa arepo meng sithik."(sarapan dulu faa walau cuma dikit).Ujar ibu safa.
"mboten buk selak telat,safa pamet nggeh buk."(tidak buk keburu telat, safa pamit ya buk).jawab safa terburu buru.
"nggeh pak." Safa segera menghabiskan segelas susu yang diberikan bapak safa.
eerrrggghh sendawa keluar dari
mulut safa "alhamdulillah."
Setelah itu safa meraih tangan kanan bapak dan mencium tangannya bergantian dengan ibuknya ,safa juga mencium tangannya. Setelah itu safa pamit kepada kedua orang tuanya.
"Safa menyang riyen nggeh pak, buk. Assalammu'allaikum."(safa berangkat dulu ya pak, buk).ujar safa. Saat safa hendak melangkahkan kaki, mas heru keluar kamar dan menyapa safa.
"Menyang isuk to faa ? terke ora ?."(berangkat pagi faa ? diantar nggak ?).tanya mas heru.
"ora mas ,ngenteni mas heru siap siap lek dipotong gajiku."(nggak mas ,nunggu mas heru siap siap keburu dipotong gajiku).jawab safa dengan muka cemberut seraya mengeluarkan motornya. Mas heru hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sedikit cerita soal keluarga safa yang hidup dengan penuh kesederhanaan.
Bapak safa bernama Pak Endro Sugianto bekerja disalah satu instansi pemerintah dikota Semarang profesi jadi Satpol PP disana .Ibu safa panggil saja bu harningsih ,beliau buruh setrika dirumah tetangga sekitar. Safa mempunyai 2 kakak laki laki, kakak yang pertama namanya Adi Sulistyo usia 30 thn ia pekerja srabutan dan sudah menikah dan memiliki seorang istri bernama arum usia 27 thn dan seorang anak bernama aliska usia 5 thn.
Kakak keduanya bernama Heru Hermawan usia 26 thn bekerja disalah satu resto didaerah kota Jogja dan merangkap profesi jadi driver ojol dan ia masih single.
Anak no 3 Safa sendiri, Safa Auliah cewek periang, aktif pekerja keras, dan sedikit agak jail. usianya baru menginjak usia 21 thn.
Dan terakhir adiknya paling bontot namanya Dona Riztya baru saja menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama di salah satu skolah swasta di daerah kota Sleman. Dari semua kakak kakaknya usia Dona terpaut paling jauh, karena Dona sendiri lahir di jogja .Sedangkan smua keluarga kelahiran asli kota Semarang.
Dulu keluarga safa tinggal dikota Semarang, dan karna suatu alasan keluarga safa pun pindah ke kota jogja saat usia safa masih kecil kelas 2 sekolah dasar.
Dulu saat masih tinggal di kota semarang safa adalah gadis yang sangat manja .Maklumlah karna itu belum ada adiknya, safa masih anak yg paling kecil dulu. Dan dulu ibunya safa juga punya sebuah toko peralatan rumah tangga yang lumayan komplit di salah satu pasar tradisional di semarang .Jadi apa yang diminta safa bisa terpenuhi dan kondisi rumah safa pun cukup brada .Dan kondisi keluarganya kini berbanding jauh dari dulu saat di semarang .Karna saat kluarga safa akan pindah bapak safa tertipu oleh temannya .Jadi uang hasil dari menjual toko ibunya raip dibawa pergi oleh teman bapak safa ,uang semula untuk modal usaha di jogja hilang entah kemana .Keluarga safa hanya bisa mengikhlaskan mungkin itu belum rezekinya .
Keluarga safa di jogja tinggal dirumah peninggalan kakek buyut dari ibunya safa .Dan dari sejak tinggal di jogjalah safa diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk bisa menerima apapun keadaan rumahnya nanti .Dari apapun yang tersedia dirumah jogja harus diterima dengan lapang dada, walau tidak seperti dirumah semarang dulu. Sampai safa beranjak dewasa safa tumbuh dengan penuh kesederhanaan .Walaupun begitu safa dewasa tak pernah mengeluh akan kehidupannya. Semua ia jalani dengan penuh semangat dan pantang menyerah .