
Sepanjang jalan safa merutuki yudha yang seperti mencari cari kesempatan di tengah keadaan yang ia alami saat ini. Yudha yang sebenarnya tidak terlalu lemas hanya lelah saja merasa senang bisa memeluk safa seperti ini. Berbeda dari safa yang raut mukanya merah padam rasa malu bercampur kesal dan juga jantung berdebar cepat, yudha malah terlihat senyum bahagia sepanjang jalan namun tak terlihat karna tertutup helm.
" Mas yudha pegangannya jangan erat erat banget dong, aku gak bisa nafas ini. "
Yudha pun sedikit melonggarkan tangannya yang sedari tadi memeluk erat safa seolah tak ingin terlepas.
Hehe aku lupa kalau tubuh kamu sekarang kecil , beda sama kamu waktu kecil yang sedikit gempal, hihi...
Setelah menempuh waktu dua puluh menit sebelum memasuki jalan kampung safa membelokkan motornya ke apotek untuk membelikan obat untuk yudha. Setelah motor berhenti sempurna safa mematikan mesin motor dan segera turun.
" Aku beliin obat dulu mas, sekalian biar nanti gak usah keluar lagi. "
" Ya udah ini uangnya kamu ambil sendiri. " ucap yudha seraya menyerahkan dompetnya.
" Ya tapi ini lepas dulu tangannya,,, gimana aku bisa turun kalau kaya gini. "
" Ohh hehe lupa, "
Yudha melepas pelukannya tetapi ia tidak turun dari motor. Safa pun meraih dompet yudha dan segera masuk ke dalam apotek.
Safa menyapa petugas apotek dan membeli obat untuk demam dengan dosis yang aman. Dan saat ia membuka dompet yudha, safa dibuat tertegun melihat isinya,. Bukan uang yang membuat safa tertegun melainkan sebuah foto gadis yang tengah tersenyum manis dengan lesung pipi, yang tak lain adalah foto safa sendiri.
Safa memperhatikan foto dirinya dengan seksama. Kapan foto itu diambil?? Dan karna alasan apa yudha menyimpan foto safa di dalam dompetnya??
Kenapa mas yudha punya fotoku ?? Dan ini kapan dia mengambilnya, untuk apa coba dia nyimpen fotoku gini. Mending aku ambil aja dari pada ntar ada gula gula ,, ehh guna guna datang.,, hihh seremm. Batin safa.
Dengan cepat safa mengambil fotonya dan ia simpan di dalam tas ranselnya. Safa segera keluar menghampiri yudha yang masih setia bertengger di atas motornya.
" Udah nih obatnya nanti langsung di minum aja kalau udah sampai rumah. Itu pun kalau ada makanan yang bisa dimakan. "
" Ya udah ayo kamu bonceng aja. "
" Huhh nopo mboten ket wau masssssss,,,,, "
Dan seperti biasa safa langsung mendapat cubitan di hidungnya.
Awwww
" Ihh seneng banget sih sama hidungku. " seru safa yang sangat kesal.
" NGGAK, "
" Udah ayo naik. "
Yudha melajukan motornya ke rumah safa yang sudah tidak terlalu jauh jaraknya. Safa heran,, kenapa bosnya itu tau arah jalan ke rumahnya. Padahal setau safa dia tidak pernah memberi tahu jalan ke rumahnya, atau mungkin mas heru pikirnya.
Motor berjalan memasuki halaman luas rumah safa dan yudha pun mematikan mesin motornya dan segera turun menyusul safa yang sudah turun dengan tergesa gesa.
" Assalammu'allaikum, " ucap safa di ambang pintu.
" Wa'allaikumsallam, " jawab wanita paruh baya yang merupakan ibu dari safa sendiri.
Safa berjalan menghampiri sang ibu dan membisikkan sesuatu.
" Buk bapak teng pundi? (dimana) " tanya safa.
" Bapakmu lagi ngopi neng mburi ( di belakang). " jawab ibu safa.
" Buk ,, iku teng njawi enten bos e safa , piyambake pengen ngertos griyo niki. ( itu di luar ada bos nya safa, orangnya ingin tahu rumah ini.) " jelas safa yang takut takut.
Dan karna orang rumah yang sudah tahu karna sudah di beri tahu heru pun hanya mengikuti alur saja dan tidak memberi tahu safa sesuai keinginan dari yudha sendiri.
" Yowes, suruh masuk . "
Hahh ibuk nggak salah ini. Duhh nanti gimana sama bapak., ahhh biarin ajalah.
Safa pun mempersilahkan yudha masuk dan lagi lagi safa di buat ternganga dengan sikap ibunya juga yudha yang sudah seperti kenal sangat lama. Ibu safa pun masuk kembali ke dalam, dan safa juga pamit pada yudha kalau ia ingin masuk ke kamarnya dulu.
Saat safa melewati dapur ia melihat bermacam hidangan, seolah rumah akan kedatangan tamu. Siapa yang akan datang bertamu ? apa teman bapak ? pikirnya. Safa pun melanjutkan langkahnya memasuki kamar.
Saat safa keluar kamar terdengar sayup sayup orang tengah berbincang bincang dan sesekali terdengar tawa juga dari arah ruang tamu.
" Faa buatin minum ini tamunya. " ucap bapak safa setengah berteriak.
" Ya pak. "
Dan sesaat safa keluar dengan membawa nampan berisi minum teh manis hangat andalan safa. Yang di sambut dengan mata berbinar dari yudha. Anehhh dapet minum teh aja udah seneng banget.