
Aku dan mas yudha menghampiri mbak dhi juga mas rizky yang tengah berteduh di emperan lapak penjual yang tengah tutup kiosnya itu. Aku melihat muka mbak dhi yang masam dan muka mas rizky yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya itu pun aku bisa menyimpulkan jika terjadi sesuatu pasti.
Aku meminta mas yudha segera menurunkanku agar aku tak begitu malu pada mbak dhi juga mas rizky karna mas yudha menggendongku, seperti anak kecil saja aku digendong terus. Tapi entah kenapa si keras kepala ini tak mau menurunkan aku dari gendongannya dan Mas yudha juga tak mengeluh sedikit pun.
" Mas yudha turunin aku. "
" Nanti kalau udah nyampe tempat penjual baju. Ini masih sedikit jauh dek. "
Jauh apaan, orang juga tinggal berapa meter aja di bilang jauh. Ini orang juga kenapa dari tadi panggil dek terus sih, makin lama makin aneh dan sedikit lebay deh.
" Mas turunin aku, aku malu sama mbak dhi juga mas rizky ihh. "
" Ngapain malu, orang kamu juga lagi sakit kan karna jatuh tadi. Udah Kamu diem aja. "
Huhh emang susah ngomong sama mas yudha bos paling menyebalkan ini. Hingga tak terasa kami sudah berada di depan mbak dhi juga mas rizky. mbak dhi menatapku kawatir, sedang mas rizky menatapku dengan gelengan kepala.
" Awakmu nopo fa ? " tanya mbak dhi.
" Hehe aku kepleset mbak, dalane lunyu. " jawabku.
" Walahhh tibo meneh awakmu,?? gek ayo tuku klambi sek, awakmu teles klebes ndak selak masuk angin awakmu. ( walah jatuh lagi dirimu? cepet ayo beli baju dulu, badanmu basah kuyup nanti keburu masuk angin dirimu.) "
" Ayo mbak,. mas yudha turunin aku bisa jalan kok. "
Mas yudha bukannya menjawabku dia malah melangkahkan kaki menyusuri kios kios yang sudah tutup karna hujan deras tadi, diikuti mbak dhi juga mas rizky di belakangku. Kami terus melangkah mencari kios baju yang masih buka dan syukurlah masih ada kios yang hampir tutup karna sepi pembeli akibat hujan.
Dan akhirnya mas yudha menurunkanku saat sudah sampai di kios baju. Aku di bantu mbak dhi mencari baju, dan mas yudha mencari baju dengan mas rizky.
Ku lihat wajah mbak dhi tidak berubah sejak tadi aku jadi tergelitik ingin sekali bertanya.
" Mbakk. "
" Ehmm. "
" Napa tu muka di tekuk bae. "
" Nohhh joko gemblung , nyebai banget fa, gawe emosi jiwa tingkat tinggi. "
( tuhh jaka gemblung, nyebelin banget fa, buat emosi jiwa tingkat tinggi.)
" Lha gimana sih, dia baik lho mbak. "
" Baik sih baik tapi tetep aja fa buat emosi aku. Udahlah males aku bahas dia., gak penting juga. "
Ku lihat mbak dhi yang mulai merengut kesal pun aku milih diam dari pada nanti tambah kesel. Aku sudah menemukan baju yang pas buat aku dan langsung hendak membayar tapi kata si penjual sudah di bayar. Aku Tahu siapa yang sudah membayarnya. Ya sudah aku memutuskan untuk langsung berganti pakaian saja di toilet terdekat.
" Mas yudha demam ya. " ku pegang keningnya yang memang sedikit hangat.
" Udah kamu cepetan ganti baju dulu, terus kita pulang. "
Aku pun mengangguk dan lekas masuk dalam toilet bergegas ganti baju. Saat aku keluar toilet ternyata mas yudha masih menungguku di luar.
" Ayo mas kita pulang, muka mas yudha udah pucet banget. "
Dia pun hanya mengangguk pelan dan kami segera berjalan menghampiri mbak dhi dan mas rizky yang sudah menunggu kami. Sebelum sampai di parkiran mobil ku lihat warung makan yang menjual bakso. Aku mengajak mas yudha serta dua orang yang saling diam itu mampir makan bakso untuk sekedar sedikit menghangatkan tubuh. Awalnya mereka menolak dan hanya mas rizky yang mau. Tapi aku tetap kekeh memaksa mas yudha untuk makan yang berkuah panas agar tubuhnya sedikit hangat.
Dan akhirnya kami semua masuk ke dalam warung bakso, aku segera menghampiri penjual dan memesan 4 porsi mangkuk bakso dan 4 gelas jeruk hangat.
Tak lama pesanan kami datang dan semua menyantap segera bakso masing masing, tapi kulihat mas yudha yang dengan malas menyuap baksonya, aku pun dengan gemas meraih mangkuknya juga sendok yang ia pegang dan segera menyuapkan ke depan mulut mas yudha. Entah dorongan dari mana aku melakukan itu, dan mas yudha terlihat senang saat aku menyuapinya suap demi suap hingga tandas satu porsi bakso itu.
Setelah selesai menyuapi mas yudha aku segera menghabiskan makananku yang sudah agak dingin. Tak terhitung lama semangkuk sudah habis dan masuk dalam perutku. Seusai makan kami melanjutkan menuju parkiran mobil.
Dan saat sampai terjadi lagi dan lagi perdebatan antara mbak dhi juga mas rizky. Mereka meributkan soal pulang.
" Kamu ikut kami aja pulangnya. Ini mendung gelap banget nanti kamu kehujanan sepanjang jalan. "
" Nggakk trimakasih, saya bisa pulang sendiri. "
" Iyo mbak., mending barengan aja. "
" Aku bawa motor fa. Terus motorku piye. "
" Ohh iyo ya., "
" Kamu tenang aja nanti motormu biar di ambil orang proyek dan di antar ke tempat kerja safa., jadi kamu bisa mengambilnya di sana. "
" Makasih,, fa aku duluan ya ati ati pulangnya. " Mbak dhi tetap kekeh, dia memang keras kepala karna sifatnya yang tidak mau merepotkan orang lain. Tetapi ia tak segan untuk di repotkan. Di balik keras kepalanya tetapi hatinya begitu lembut dengan orang tertentu.
" Dasar cewek batu., Bro kamu bisa nyetir sendiri kan., gue mau pulang bareng sama tuh cewek batu karang. Dan kamu safa, tolong jaga yudha. , kalau ada apa apa langsung hubungi gue oke. "
Mas rizky bergegas mengejar mbak dhian yang udah sedikit jauh dari posisi kami saat ini. Wahhh pasti itu bakal perang lagi deh. Aku dan mas yudha kompak menggelengkan kepala melihat keduanya yang sudah menjauh. Semoga mereka berjodoh.
.
.
.
Maaf jika ada salah dalam penulisannya dan juga ceritanya yang membosankan. Saya ngetik sambil nahan ngantuk banget. mata tinggal setengah watt tapi harus mikir buat cerita. semoga tidak mengecewakan pembaca🙏🙏🙏