Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Kantor


Sesampainya di kantor Yudha dan Safa turun di depan lobby, walau tadi sebelumnya terjadi perdebatan kecil antara mereka berdua karena Safa meminta untuk diturunkan sebelum pintu masuk halaman kantor, dan Yudha tetap bersikeras untuk turun bersama di depan lobby ,namun akhirnya tetap Yudha yang memenangkan perdebatan itu.


.


Yudha turun dengan gaya coolnya, berbeda dengan Safa yang enggan untuk turun namun akhirnya ia tetap turun juga karna Yudha membukakan pintu disamping Safa agar istrinya segera turun. Tapi apa yang terjadi Safa malah membuka pintu yang satunya dan segera turun lewat pintu yang ia buka sendiri. Yudha pun menatap datar Safa yang di balas cengiran oleh istrinya itu. Yudha mengarahkan jari telunjuknya ke arah Safa, dan segera menutup pintu mobil yang ia buka dengan kesalnya.


.


Yudha mengisyaratkan agar Safa mendekat padanya, dan Safa pun hanya bisa pasrah sebelum suaminya itu membuka mulut untuk bersuara yang jelas pasti akan panjang urusannya nanti.


" Apa maksudnya tadi.?!" tanya Yudha lirih.


" Hehe Mas jangan diperpanjang lagi ya, kita udah dikantor ini nggak enak dilihat sama semua orang."bisik Safa sambil melihat sekitarnya ada beberapa karyawan Yudha yang berseliweran untuk masuk ke dalam kantor dan tatapan penuh tanya karyawan mengarah ke arah mereka berdua.


" Aku nggak peduli Safa.!"ucap dingin Yudha.


" Ohh ayolah Masssss, kita bahas di dalam oke." bujuk Safa memelas karna tahu suaminya itu sedang marah saat ini.


Hahhh, matilah aku kalau singa sudah marah susah buat naklukinnya...


Tanpa banyak kata Yudha berlalu masuk ke dalam di ikuti oleh Safa di belakangnya. Dan ya, Safa baru pertama kali menginjakkan kakinya di kantor sang suami dimana ternyata banyak karyawan wanita yang mengagumi bahkan menyukai dan menaruh minat dengan sosok Yudha suaminya yang juga Dirut perusahaan ini.


.


Namun apa ini, suaminya pun tak menyapa balik mereka yang menyapa dirinya, bahkan untuk menatap balik pun tidak, Yudha melenggang saja mengacuhkan semua. Safa membuntuti Yudha hingga masuk ke dalam lift khusus untuk petinggi kantor. Di dalam lift hanya ada Safa dan Yudha, hening tak ada suara, hanya suara dentingan lift dan hembusan nafas mereka berdua.


Aduhhh aku harus gimana ini... Ahh punya suami kok suka banget marah karna hal sepele, untung cinta.


.


Pintu lift terbuka dilantai tempat ruangan Yudha berada. Yudha segera keluar meninggalkan Safa yang sudah menatap takut dengan amarah suaminya itu. Terlihat ada meja yang disitu berdiri sosok wanita cantik dengan senyum yang ramah dan ternyata juga sudah ada sekertaris Jo menyapa kedatangan boss nya namun tak digubris, Yudha membuka pintu ruangannya dan masuk begitu saja di ikuti oleh sang sekertaris Jo.


.


Safa berhenti tepat di meja wanita cantik itu berada dan memperkenalkan dirinya.


" Selamat pagi Mbak, perkenalkan saya Safa asisten Pak Yudha."ucap Safa ramah seraya menjulurkan tangannya dan disambut ramah pula dengan wanita itu, wanita yang sepertinya seumuran dengan Yudha.


" Selamat pagi juga, perkenalkan saya Moza sekretaris kedua Pak Yudha setelah Jo. " balasnya ramah dengan senyum yang menawan.


" Oh gitu, salam kenal ya mbak, sa..." belum sempat Safa selesai bicara sudah terputus oleh dering telfon yang ada di meja Moza.


" Sebentar ya Safa."


" Halo Pak."


"....." wajah Moza berubah pias saat mengangkat telfon itu


" Ii...iya Pak baik." telfon ditutup.


" Safa kamu dipanggil Pak Yudha masuk, kelihatannya dia lagi marah banget. Kamu hati hati ya didalam."


Safa terkekeh lucu mendengar ucapan Moza yang menyuruhnya berhati hati.


" Hihi iya Mbak tenang saja, semoga aku keluar dengan keadaan selamat ya."canda Safa.


Safa berjalan kedepan pintu ruangan Yudha hendak membuka namun sudah terbuka dari dalam duluan yang ternyata si Jo yang membukanya.


" Karna saya harus menyelesaikan tugas dari Pak Yudha di ruangan saya sendiri. Permisi nona." Jo membungkuk sopan sebelum berlalu.


Safa pun mengedikkan bahu dan segera masuk ke dalam ruangan Yudha. Tiba didalam Safa terkagum kagum melihat ruangan kerja suaminya. Ruangan yang begitu luas dengan segala ornamen yang lelaki banget berwarna perpaduan antara coklat susu dengan abu abu.Terdapat Sofa besar untuk menerima tamu, kaca jendela yang besar hingga bisa langsung terlihat pemandangan luar kantor, juga ada dua pintu yang entah apa yang ada di dalamnya.


Safa yang masih melihat sekitarnya tanpa memperhatikan seseorang yang sedang menatapnya tajam seperti hendak menerkamnya. Hingga terdengar suara yang menyadarkannya.


" Sudah puas melihatnya."ucapnya dingin.


" Ehh kaget aku, Mas Yudha ngagetin deh."sungut Safa namun langsung menutup mulutnya.


" Ehh Pak Yudha maksutnya maaf." cicit Safa.


Yudha yang mendengarnya pun mendekat ke arah istrinya itu. Safa langsung menciut saat ditatap tajam oleh suaminya. Yudha terus mendekat ke Safa dan Safa pun memundurkan langkahnya hingga ia terduduk di sofa dan langsung di kunci Yudha oleh kedua lengannya yang menekan sandaran sofa kanan kiri tubuh Safa.


" Mm..mas maaf, .. iya iya aku salah udah nggak nurut sama suami. Iya aku udah berdosa iya. Udah buat Mas kesal sama istri Mas ini. Maaf Mas..." cerocos Safa yang mana membuat Yudha yang tadinya sangat marah kini menahan senyumnya karna ia harus memberi pelajaran pada istrinya yang ngeyel ini.


" Kenapa kamu tadi nggak turun dari pintu yang Aku buka. mau ngelawan suami iya."


" bukan itu maksud aku Mas, aku cuma nggak mau nanti semua karyawan Mas Yudha melihat dan berpikir macam-macam, apalagi sampai curiga dengan hubungan kita."


" Siapa yang berani berpikir macam-macam tentang kamu akan langsung aku pecat dia. jadi kamu tenang aja."


" Nah itu yang nggak aku sukai dari Mas Yudha. mereka itu nggak salah, mereka hanya berfikir apa yang mereka lihat. jadi tolong Mengertilah Mas."


" Enggak... aku enggak ngerti sama pemikiran kamu. Mau sampai kapan kamu seperti ini."


" sampai kita mendapat restu dari orang tua Mas Yudha."


" terserahlah. lakuin apa yang kamu mau dan yang kamu inginkan,"


" Mas Yudha jangan marah dong, ini juga buat kebaikan kita. aku mohon mengertilah." ucap Safa dengan sendu, matanya sudah berkaca kaca melihat suaminya marah, sungguh Safa tidak bisa melihat suaminya marah padanya.


Yudha yang melihat istrinya bersedih pun menjadi tidak tega. namun Yudha tetap Duduk diam di samping Safa tanpa berbicara sedikitpun, bobol sudah pertahanan Safa, dirinya menghambur memeluk tubuh suaminya dari samping sambil menangis terisak.


" Mas tolong jangan diam saja. maafin aku ini semua juga untuk kebaikan kita kedepannya. Kalau Mas Yudha enggak mendukung aku Terus siapa yang mau mendukung aku."


Yudha yang tidak tahan mendengar isak tangis Safa langsung membalas pelukan istrinya. Ia mencium kening istrinya lalu turun ke mata, hidung, pipi dan berlabuh di bibir.


" Maafkan Aku udah buat kamu nangis."


Safa hanya mengangguk dalam pelukan Yudha.


" Tapi kamu juga harus dihukum udah berani menentang perintah Mas."


Belum Safa mengucapkan protes bibirnya sudah dibungkam oleh bibir suaminya, dan sekali angkat tubuh Safa melayang dalam gendongan Yudha tanpa melepas pagutannya. Yudha meraih remot lalu menekannya dan terdengar suara klik dari arah pintu.


Tangan Yudha membuka salah satu pintu yang ada di dalam ruangannya lalu masuk dan menutup kembali pintu itu menggunakan kakinya.


.


.


.