
Tidakkah kau tahu
Alasanku berada disini adalah dirimu
Dengan tatapan dingin aku tak dapat
berkata-kata
Hanya memandangmu dalam
kesendirian
Meskipun dasar hatiku merasakan
sakit seperti ini
Meskipun ujung tanganku gemetar
seperti ini
Aku hanya memikirkanmu
Orang yang kurindukan sampai aku
merasa gila
Satu kata darimu yang ingin kudengar
sampai gila
Aku mencintaimu, aku mencintaimu,
dimanakah dirimu?
Orang yang kurindukan sudah melekat di dalam hatiku
Aku ingin menjagamu selamanya
Aku harus bagaimana?
Meskipun begitu aku tetap
merindukanmu
Aku tak dapat melupakanmu
Katakanlah padaku bahwa kau
menjagaku
Tidak seharusnya kau menghapus
bersih tentangku
Karena kau adalah segalanya bagiku
Aku mencintaimu, aku mencintaimu,
Dirimulah orang yang kurindukan
sudah melekat di dalam hatiku,
Ingin selamanya menjagamu
Aku mencintaimu, aku mencintaimu
Yudha._____________
Yudha yang tengah berada di atas panggung tadi terus memperhatikan Safa dan akhirnya matanya pun melihat peristiwa tadi yang membuatnya segera turun dari panggung dan menghampiri Safa, Yudha yang berjalan dan masih menatap Safa melihat seringai jahat dari Nana saat Safa hendak pergi pun bergegas mempercepat laju kakinya, dan benar saja Nana sengaja menjegal kaki Safa hingga Safa terhuyung dan dengan gerak cepat Yudha menangkap tubuh Safa sebelum Safa benar benar jatuh.
.
Saat tiba di depan pintu ruangan pribadinya Yudha meminta Safa untuk menekan password dan membuka pintu ruangan itu.
" Mau sampai kapan kamu nunduk gitu, bukain pintunya tanganku nggak bisa. "Pinta Yudha.
" Hah... " Safa menegakkan kepalanya dan melihat sekeliling yang terlihat sepi.
Yudha mengedikkan dagunya memberi tanda agar Safa segera membuka pintunya.
" Ini passwordnya apa? "
" Tanggal lahir kamu. " Ucap Yudha datar.
Safa terperangah mendengar ucapan Yudha. Dan sepersekian detik tangannya pun tergerak untuk menekan password pintu itu menurut tanggal lahirnya.
Dan . . Klik pintu terbuka otomatis.
Yudha membawa Safa masuk kedalam dan mendudukan Safa di ranjang besar dan lebar, alih alih mendudukkan Safa di sofa yang ada di dalam sana. Pikir Yudha akan lebih nyaman jika Safa istirahat di kasur dari pada di sofa mengingat kakinya yang tengah terkilir.
" Lhoh Mas aku duduk di sofa aja. "
" Udah diem, kamu akan lebih nyaman kalau duduk disini, kamu juga bisa rebahan, kalau di sofa kamu nggak akan nyaman. "
Safa hanya diam dan menurut dari pada mendebatnya lalu membuat Yudha kembali tambah marah. Yudha mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di dalam lemari kecil sebelah tempat tidurnya.
Ia mengambil salep pereda nyeri lalu membalurkannya di pergelangan kaki Safa yang sakit, untuk saat ini belum terlihat memar namun kemungkinan besok baru akan terlihat.
" Udah kamu istirahat dulu disini, aku keluar dulu, setelah acara selesai aku akan segera kembali. Ngerti. "Tegas Yudha yang membuat Safa langsung menganggukkan kepala patuh.
Saat Yudha hendak mencapai pintu langkahnya terhenti saat mendengar suara Safa memanggilnya lirih.
" Mas Yudha... "
" Hemm, " Jawab Yudha tanpa menolehkan wajahnya dari pintu.
" Terimakasih. "
Tanpa menjawab Yudha hanya tersenyum mendengar ucapan terimakasih Safa dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti sesaat tadi.
Safa yang melihat Yudha pergi tanpa menjawab ucapan terimakasih darinya pun hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu pasti kenapa sikap Yudha menjadi dingin padanya dan itulah yang harus ia hadapi kini karna keputusannya untuk menjaga jarak dengan Yudha.
Yudha yang sedang berjalan kembali ke ballroom tempat acaranya tadi menghentikan langkahnya saat melihat Rizky yang tengah kewalahan meredakan emosi kekasihnya. Yudha pun segera menghampiri mereka bertiga.
" Beib udah dong, malu ini jadi tontonan banyak orang. " Ucap Rizky mencoba menarik tubuh Dhian yang siap menghajar perempuan dihadapannya.
" Nggak!! " Bentak Dhian pada Rizky yang terus mencoba menarik tubuhnya menjauh.
" Aku nggak akan biarin ini cewek nggak tahu diri buat nyakitin sahabat aku lagi. " Seru Dhian.
" Enak aja bilang aku nggak tahu diri. Temen kamu yang kampungan itu yang nggak tahu diri. "
Plakkk....
Nana memegang pipinya yang panas karna tamparan yang sangat keras dari Dhian. Saat di dalam acara tadi Dhian sudah menahan sekuat tenaga untuk tidak melabrak Nana di hadapan semua orang karna tidak mau membuat kerusuhan di tengah acara orang lain. Dhian pun menyeret Nana keluar dari tempat itu dan kini di loby hotel ini mereka berada.
.
.
_____
.