
.
" Ehm..."
Prok prok prok prok
Safa dan Sherly serempak menoleh ke arah sumber suara deheman serta tepuk tangan itu. Sherly tersenyum sedangkan Safa berdiri dari duduk nya lalu menunduk memberi hormat pada dua lelaki paruh baya itu.
" Waow... amazing, suara yang sangat merdu sekali." Ucap lelaki paruh baya yang mengenakan kacamata membingkai mata tajam nya.
Safa yang di puji pun hanya tersenyum menunduk.
" Ehh ada Om Permana disini ternyata."
" Iya Sher Om sedang ada sedikit urusan dengan Papa kamu. ( melihat mata Sherly ) Heiii kenapa mata kamu sembab begitu cantik,?"
" Ohh ini hehe, Sherly cuma kebawa suasana saja dengan lagu yang di bawakan oleh Safa Om, Sherly hanya ingat almarhum Mama Sherly." Sherly tersenyum pedih lalu berjalan menghampiri sang Papa dan menghambur di pelukan Papa nya yang juga ikut menitikan air mata saat mendengarkan Safa bernyanyi.
" Ssstt sudah jangan menangis sayang."
" Maaf Pa, tadi Sherly hanya keingat Mama lalu Sherly meminta Safa untuk menyanyikan sebuah lagu untuk almarhum Mama pakai piano Mama."
Safa yang melihat kondisi mengharukan itu pun menjadi tidak enak hati sendiri sebab lagu yang ia mainkan membuat ayah dan anak itu menitikan air mata.
" Maaf jika saya sudah lancang Pak." ucap Safa takut takut.
" Tidak apa nak, kamu tidak salah. Memang suara dan lagu yang kamu nyanyikan sangat mengena di hati kami. Terutama Sherly." Ucap Papa Sherly seraya mengusap punggung anaknya sambil tersenyum.
.
Setelah berbincang sedikit Papa Sherly mengantar Pak Pramana ke depan untuk pulang. Sherly dan Safa terlihat asik berbincang dan sesekali bercanda sembari memasak di dapur.
.
Papa Sherly yang melihat anak perempuan nya terlihat bahagia akan kehadiran sosok gadis manis yang kini sedang asik di dapur itu pun ikut bahagia. Karena sejak kepergian sang istri Mama dari Sherly, anak gadis nya itu sering bersedih dan tidak seceria saat ini.
" Haii girls, seperti nya asik sekali di dapur nya. Terus kenapa ini di dapur hanya ada kalian berdua, kemana semua pelayan humm.??"
" Ehh Papa, iya Sherly udah menyuruh mereka semua pergi ke paviliun belakang karna hari ini Sherly ingin memasak berdua sama Safa sekalian Sherly belajar, hehe."
" Waow... baru kali ini Papa lihat anak gadis Papa ini belajar masak. Apa karna ada teman baru kamu ini jadi kamu ingin belajar masak di dapur girls??"
" Hehe iya salah satu nya itu Pa, Sherly dari dulu ingin sekali masak bersama sama gini sama adik atau Mama, tapi sayang adik Sherly terlahir cowok dan bahkan sifat nya itu sangat menyebalkan Pa. Beda sama Safa. Udah sekarang Papa tunggu aja sampai kita selesai masak oke."
" Baiklah... Papa akan tunggu sambil menyelesaikan pekerjaan Papa. Masak yang enak oke."
" Siap Papa."
.
Satu jam sudah Safa selesai memasak berbagai masakan di bantu Sherly yang masih baru belajar. Ada Soto khas asal tanah kelahiran Safa, sambal dan lauk pauk sederhana pelengkap Soto dan juga hidangan pencuci mulut.
.
Aroma masakan Safa menguar hingga ke ruangan kerja Papa Sherly yang mana membuat sang empunya keluar untuk melihat asal bau yang membuat perut lapar itu.
" Bau apa ini girls, perut Papa menjadi protes minta di isi karna mencium aroma ini. Seperti bau rempah."
" Sini Pa, Papa duduk dulu biar kami sajikan buat Papa."
.
Sherly menyajikan semangkuk soto daging lengkap dengan lauknya serta sambal karna memang Papa Sherly sangat suka makanan pedas, apalagi jika itu masakan dari tangan almarhum istrinya.
.
Safa yang memasak itu pun menjadi gugup saat Papa Sherly mulai menyicipi masakan nya. Nampak suapan pertama Papa Sherly terlihat diam namun raut wajahnya menampakkan lain, seakan teringat sesuatu.
" Gimana Pa,? "
Papa Sherly langsung menatap anak perempuan nya itu dengan senyum menawan.
" Kamu yang memasak ini sayang ?"
" Bukan Pa, itu yang masak Safa hehe, Sherly hanya bantu bantu sedikit dan selebih nya Safa yang buat."
Dengan senyum Papa Sherly menatap Safa yang mana membuat yang di tatap menjadi kikuk.
" Kamu pintar memasak nak. ( beralih menatap Sherly ) Dan rasa masakan ini mengingatkan Papa sama masakan Mama kamu sayang. Rasa yang hampir sama persis dengan masakan buatan mama kamu saat pertama kali mama memasak untuk Papa dulu. Saat itu mama kamu merindukan kampung halaman nya karna ketika Papa dan Mama menikah langsung memutuskan untuk terbang ke China karna pekerjaan Papa yang tidak bisa ditinggal lama. Lalu Mama kamu memasak makanan ini untuk pertama kali buat Papa sekaligus untuk mengobati rasa rindu nya akan kampung halaman nya di tanah jawa."
" Benarkah Pa,??? Wahhh bisa kebetulan sekali. Safa kamu the best." Ucap Sherly dengan mengacungkan dua jempol nya.
" Terimakasih Mbak, terimakasih Pak sudah menyukai masakan saya."
" Baiklah Om."
.
Mereka bertiga pun akhirnya menyantap makanan sambil berbincang santai. Hingga seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah mewah itu dibuat penasaran karena baru kali ini mendengar suara gelak tawa yang renyah terdengar di rumah itu.
" Hahaha benar itu nak Safa,? Haha hebat kamu, kecil kecil cabe rawit juga kamu bisa ngalahin anak lelaki Om."
" Bener banget itu Pa, emang anak Papa yang satu itu harus di kasih pelajaran biar nggak buat ulah terus." Sambung Sherly.
" Hehe maaf ya Om kalau Safa udah berantem sama anak Om."
" Kamu tidak salah nak, malah Om senang anak Om yang nakal itu bisa mendapat pelajaran dari kamu."
Boy yang mendengar namanya di bicarakan pun menjadi penasaran kenapa nama nya di sebut sebut bahkan menjadi bahan tawa.
" Ada apa ini,? Kenapa kalian ngetawain aku.?" Tanya Boy yang belum menyadari keberadaan Safa.
" Nah itu dia anak nakal Papa yang sayang nya juga adik nakal aku." Seloroh Sherly.
Boy jalan mendekat ke meja makan dan ia baru menyadari sosok yang selama ini selalu membuat jantung nya mendadak rewel.
" Safa ?!! " seru Boy.
Safa hanya tersenyum ramah melihat keterkejutan Boy. Namun senyum yang Safa tampilkan membuat jantung Boy kembali rewel.
" Napa Boy,? Nggak usah kaget gitu kali." seru Sherly membuyarkan lamunan Boy.
" Apa an sih kak, siapa juga yang kaget." Boy pun duduk di sebelah Papa nya.
" Sini Boy duduk makan dulu, kamu bakal nagih sama makanan ini."
" Emang koki rumah masak apa an sampai Papa bilang gitu."
" Nggak usah banyak tanya makanlah dulu "
Sherly dengan telaten mengambilkan makan untuk adik nya dan meletakkan dihadapan Boy. Boy merasa aneh dengan makanan di depan nya itu, aroma rempah berpadu aroma jeruk nipis, dan juga isi dari mangkuk di depan nya itu seperti makanan yang campur aduk, ada nasi, irisan daging, mie, daun bawang, hanya itu yang ia tahu sedangkan yang lain serasa asing baginya.
.
Karna selama ini dirinya hanya makan masakan china, juga western. Tak pernah sekali pun dirumahnya itu tersaji masakan indonesia tanah kelahiran mendiang Mama nya. Jika makan di luar pun ia lebih suka resto chinese atau western.
.
Dengan ragu Boy menyicip dahulu makanan di depan nya itu. Lidah nya mencecap rasa makanan itu, bingung untuk menjabarkan bagaimana rasanya hanya satu kata yang bisa ia ungkapkan.
" Enak Pa." Ucap Boy lalu makan dengan sangat lahap bahkan sampai meminta Sherly untuk menambah lagi.
Sherly dan Papa nya juga Safa di buat geli melihat makan Boy yang lahap.
" Uhm enak banget ya Boy.?"tanya Sherly heran melihat adiknya baru kali ini makan dengan sangat lahap.
" Iya kak, rasanya segar. Koki pilihan Papa emang nggak salah."
" Enak aja koki yang masak, ini masakan Safa tahu.!"seru Sherly yang langsung membuat Boy tersedak kuah.
Uhukk uhukk
Boy tersedak dan segera menyambar gelas berisi air putih di depan nya hingga tandas.
" Pelan pelan dong makan nya, jadi tersedak kan. Atau apa saking enak nya jadi kamu sampai tersedak.???" tanya Sherly.
" Ekhemm, biasa aja rasanya, aku tersedak karna sambal ini sangat pedas kak." elak Boy karna malu juga gengsi.
" Hilih.. ngeles aja kamu Boy."
" Apa an sih kak aku beneran, udah ahh, aku nggak selera makan lagi. Boy ke atas dulu Pa." Karna tidak tahan dengan rasa malunya Boy memilih melarikan diri ke kamar nya.
" Iya, selamat istirahat Boy. ( melirik ke arah mangkuk bekas makan Boy ) humm anak itu bilang nggak selera tapi mangkuk bekas makan nya aja bersih nggak bersisa gitu. " Papa Boy tersenyum geli melihat tingkah anak nya itu.
" Nggak cuma mangkuk Pa, tuh kuah di panci aja bersih kok."
Papa dan anak itu pun tergelak sedangkan Safa hanya tersenyum menanggapi.
.
.
.
🙏🙏🙏🙏🙏Maaf ya pembaca CBK kalau lama up nya, dikarenakan ada suatu hal yang tidak di inginkan melanda saya juga keluarga jadi lama tidak bisa meng up cerita. Hampir satu bulan ini ada saja yang terjadi. Jadi mohon maaf dan pengertian nya nggeh, karna dunia nyata tak selalu lancar dan berjalan mulus layaknya jalan tol yang tak selalu lancar pasti juga mengalami kemacetan.😅😅😁😁