
Kini tinggal mereka bertiga yang ada di taman itu, suasana begitu tegang yang Safa rasakan, namun tidak dengan Yudha yang terlihat santai.
Wahhh kaya di persidangan saja ini aku, tegang banget, itu muka Mas Yon juga kenapa berubah serius banget begitu sih... baru kali ini aku lihat Mas Yon dingin banget gitu. Batin Safa.
" Nduk tolong kamu buatkan kopi Mas Yon ya. "
" Siap Mas. "
Safa pergi melaksanakan titah Kakaknya. Kini Yono menatap tajam Yudha yang terlihat santai.
" Kamu suka sama Safa . "
" Iya Mas, sudah sejak lama saya suka sama dedek. "
" Kamu serius sama ucapan kamu. "
" Saya serius Mas, dan saya tidak pernah main main dengan hati saya. Sudah sangat lama saya menantikan saat ini. "
" Tapi orang tua Safa tidak setuju dengan hubungan kalian. "
" Apa?? "
" Ya,.. orang tua Safa menentang dan meminta Safa untuk tidak dekat sama kamu. Apa kamu tidak tahu. Itu kenapa alasan Safa menghindari kamu selama ini. "
" Tapi kenapa?? Apa salah dan kekurangan saya.? "
" Kamu tidak salah, hanya kekuranganmu terlahir dari orang kaya. "
" Tapi kenapa? saya juga tidak minta untuk terlahir dari orang kaya. Saya tulus sama Safa. Dan saya tidak pernah mempermasalahkan status orang. "
" Kamu harus tahu kalau orang tua Safa tidak pernah mau berhubungan dengan yang namanya orang kaya selain keluarga sendiri. "
" Kalau masalah itu saya bisa melepas status saya saat ini. Saya akan tinggalkan semuanya demi bisa bersama Safa. "
" Kalau kamu tinggalkan semua mau kamu kasih makan apa adik kesayangan saya hah...! batu! "
" Saya punya usaha sendiri yang saya rintis dengan sahabat saya tanpa embel embel dari keluarga saya. Dan itu cukup buat membahagiakan Safa. "
" Kamu pikir kebahagiaan bersumber dari uang. Bukan hanya uang saja. Tapi juga dari perlakuan kita sendiri juga keluarga. Jika kamu sama Safa apa keluarga kamu bisa menerima adik saya dengan tangan terbuka? tidak kan ??"
" Tapi saya sungguh sungguh dengan perasaan saya Mas. Dan saya akan tetap mempertahankan Safa apapun rintangannya. Dan saya tidak akan pernah melepaskan Safa. "
" Safa hanya lulusan SMA, tapi dia gadis yang pintar. Namun karna keadaan dia tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi. Saya tidak mau jika adik kesayangan saya nanti di pandang rendah sama keluarga kamu. "
" Saya janji apapun yang terjadi saya tidak akan membiarkan Safa dihina walau itu keluarga saya sendiri. "
Safa datang membawa segelas kopi pesanan kakaknya itu. Dan itu menghentikan percakapan antara keduanya.
" Ini Mas Kopinya, maaf lama soalnya tadi kebetulan stok kopinya habis jadi harus beli dulu. "
" Iya nggak papa, enak sekali kopi buatan kamu. Sangat pas manisnya. pinter banget sih adik bayi Mas ini. " puji Yono.
" Apa sih Mas, aku udah gede lho. masa di panggil bayi terus sih. " rajuk Safa.
" Hehe bagi Mas kamu tetap seperti dulu. tidak pernah berubah, begitupun kasih sayang Mas ke kamu nduk. "
Safa tersenyum haru mendengar penuturan Yono. Safa juga merasa jika kasih sayang kakak sepupunya itu sangatlah besar. Di peluknya sang kakak dan itu membuat Yudha sedikit cemburu. Entah kenapa Yudha susah menempatkan rasa cemburunya itu.
" Trimakasih Mas udah menyayangi Safa . "
" Heh tidak ada kata terimakasih antara kakak dan adik oke. "
Safa mengangguk dan tersenyum manis. Ia merasa beruntung di kelilingi keluarga yang sangat hangat dan saling menyayangi.
" Kamu kuliah ya nduk, "
" Udah kamu tidak usah pikirin yang lain. Kamu cukup fokus sama kuliah kamu aja. Kamu cari universitas terbaik disana. Setelah dapat kamu kasih tahu Mas. Biar nanti soal administrasi Mas yang tanggung oke. Kamu mengerti. "
" Maaf kalau saya menyela. Soal administrasi serahkan pada saya saja. Biar saya yang selesaikan. "
" Kamu pikir saya nggak bisa biayain kuliah Safa.! "
" Maaf bukan itu maksud saya. "
" Sudahlah.. soal biaya urusan saya,itu sudah tugas seorang kakak. Tugas kamu hanya memastikan Safa belajar dengan baik, agar Safa bisa lulus dengan nilai terbaik dan membanggakan. Kamu juga harus menjaga Safa baik baik, mau itu hati dan perasaan, jiwa raga maupun lahir dan batin. PAHAM KAMU.!! "
" Baik Mas, itu memang tugas saya. "
" Saya pegang kata katamu. Jika kamu gagal kamu akan berhadapan sama saya. "
" Udah udah Mas Yon. kenapa jadi galak gitu sih. Udah sana masuk istirahat, pasti lelah kan. Kasian Mbak Maulida juga udah nunggu Mas. "
" Sok tahu kamu nduk. " Yono pun mengacak kerudung Safa.
" Hehe tahulah. Udah sana masuk dan kasih aku keponakan yang lucu lucu. hihi. "
" Hehh udah mulai berani nakal ya kamu ya. " Yono menarik gemas hidung Safa lalu beranjak masuk.
" Kamu juga cepatan istirahat, jangan tidur terlalu malam. "
" Iya, Safa antar Mas Yudha ke rumah Pakdhe dulu lalu tidur. "
Setelah Yono masuk Safa mengajak Yudha untuk beristirahat di rumah Pamannya yang jaraknya tak jauh dari rumah besar itu. Sepanjang jalan Yudha menggandeng tangan Safa. Dan itu membuat Safa salah tingkah.
.
.
Pagi harinya setelah sarapan bersama sama seluruh keluarga besar Safa pamit pulang terlebih dahulu karna harus segera bekerja dan adiknya Dona juga harus masuk sekolah kembali. Heru pun juga ikut pulang namun ia naik motor bersama Indah.
Setelah berpamitan pada orang tuanya yang masih harus tinggal lebih lama lagi, Safa lanjut berpamitan pada seluruh keluarga besarnya.
" Hati hati di jalan ya nduk. Bilang sama temennya buat pelan pelan saja bawa mobilnya. "
" Iya buk, ya sudah Safa pamit ya.. "
" Assalammu'allaikum semua. "
Yudha, Rizky, dan Dhian pun juga ikut berpamitan lalu berjalan bersama Safa dan Dona menuju mobil Rizky.
Dona duduk di bangku belakang bersama tas dan barang bawaan lainnya. Sedangkan di bangku tengah Safa dan Yudha. Sebenarnya tadi Dhian yang ingin duduk bersama Safa, namun Yudha menyerobot masuk dan Dhian mau tidak mau duduk di depan bersama Rizky walau hatinya merasa kesal namun Dhian memilih diam karna tidak mau dan juga malas berdebat dengan Yudha yang pada akhirnya Yudha lah yang akan jadi pemenangnya.
Selama perjalanan para gadis memilih memejamkan mata karna masih merasa ngantuk, sedangkan para lelaki tetap terjaga. Rizky fokus mengemudi seraya mendengarkan musik, sedangkan Yudha sibuk memandang wajah Safa yang kini tidur lelap bersender di bahunya.
.
.
.
😍😍😍😍😍😍😍😍😍
💗💗💗💗💗💗💗💗💗