
Kini hari bahagia yang dinantikan pun datang, hari dimana Heru melepas masa lajangnya dan berganti status sebagai seorang suami.
Acara akad pun sudah selesai dan sepasang pengantin telah sah menjadi sepasang suami istri. Heru dan Indah selesai menandatangani buku nikahnya.
Kini acara pesta resepsi dilanjutkan dikediaman Heru yang sudah didekorasi sesuai adat jawa yang terlihat simple namun elegan. Seluruh tamu undangan juga sudah hadir untuk menikmati pesta serta mengucapkan selamat pada pengantin.
Safa tersenyum melihat kebahagiaan semua yang ada didepannya, namun senyuman itu mengandung kesedihan yang hanya Safa saja yang tahu.
" Selamat ya Mas Her, Mbak, semoga samawa, langgeng sampai maut memisahkan. Juga cepat beri aku keponakan yang lucu. " Heru memeluk adiknya erat. Ia masih merasa bersalah dengan apa yang sudah menimpa adiknya itu.
" Makasih ya Dek doanya, dan maafkan Mas . " Heru menitikkan air mata namun dengan cepat ia menghapusnya.
" Heii,, kenapa minta maaf?? gak ada yang perlu dimaafkan, Mas Her jangan sedih gitu dong, nanti aku ikut sedih, ini hari bahagia Mas dan mbak yang sudah lama kalian nantikan. Jadi jangan bersedih hanya karna aku. " Safa berusaha tersenyum lebar.
" Heii kakak ipar, selamat ya atas pernikahannya, semoga langgeng sampai kakek nenek. Dan aku udah nyiapin hadiah spesial buat kakak iparku ini. " Yudha menyela untuk mencairkan suasana yang haru itu.
" Hehe Mas bro, makasih ya, makasih juga atas semua bantuan dan sponsornya ini. Jadi pesta berjalan sangat meriah seperti ini. "
" Sama sama, kita kan keluarga jadi harus saling bantu. Iya kan sayang. " ucap Yudha seraya merangkul mesra Safa. Safa yang dirangkul menjadi malu karna dilihat banyak orang.
" Heh lepas!!! bukan muhrim main rangkul aja. Sah dulu baru terserah kamu mau rangkul atau apa. Sini nduk dekat Mas, bahaya kalau kamu dekat dia. " Ucap Yono sambil melepas tangan Yudha yang merangkul Safa, dan menarik Safa untuk berdiri dibelakangnya.
Heru, dan lainnya yang melihat hanya bisa tertawa, sedangkan Yudha sudah menekuk wajahnya karna keposessivan kakak sepupu Safa.
" Kan saya sama Safa udah bertunangan Mas, jadi nggak pa pa dong rangkulan. " sungut Yudha.
" Baru juga tunangan belum ada ijab kobul sah, jadi tetap nggak boleh. "kekeh Yono tak mau kalah.
Safa tertawa ceria melihat perdebatan kecil antara Yono dan Yudha.
" Udah udah Mas, kamu itu seneng banget usil sama tunangan adek kamu sendiri." ucap Maulida istri Yono tercinta.
" Tuh Mas dengerin istrinya," seru Yudha merasa ada yang membelanya.
" Sayanggg,,,,, aku tuh enggak usil. Aku hanya memperingati yang katanya tunangan adikku tersayang ini agar nanti tidak kebablasan, supaya dia tuh cepat meresmikan hubungannya,. "
" Mas... asal tahu saja, saya itu udah siap lahir batin untuk mengucapkan kalimat ijab kobul. Bahkan saya sudah menyiapkan semuanya untuk calon istri saya ini. Namun saya menghargai Safa yang merasa belum siap. "Yudha menatap Safa lembut dan dalam penuh cinta.
Safa hanya tersenyum mendengar ucapan Yudha. Mereka asik mengobrol sampai tidak melihat jika antrian untuk bersalaman dengan pengantin sudah mengular panjang.
" Sudah ngobrolnya lanjut nanti, nggak lihat tuh antriannya panjang banget, kasian tamu yang lainnya, ayo cepat turun. " seru Maulida menyadarkan Yudha dan yang lainnya untuk melihat keadaan.
Semua pun turun dan melanjutkan langkahnya untuk menikmati hidangan yang tersedia. Yono dan istri berpisah tempat duduk dengan Safa dan Yudha. Yudha selalu mengekor dibelakang Safa.
" Dek.. "
" Ya Mas ada apa? "
" Ambilin dong makannya. "
" Iya ini aku ambilin, Mas mau makan apa aja.? "
Melihat hidangan yang tersedia begitu menggugah selera Yudha.
" Aku mau itu yang ada hati ayamnya apa namanya. "
" Sambal goreng hati sama apa lagi? "
" Apa ya dek Mas bingung, kelihatannya enak semua. Hehe. "
" Ya udah biar aku aja yang pilihin buat Mas Yudha. " Yudha mengangguk senang dan Safa segera mengisi piring milik Yudha dengan nasi, sambal goreng hati, acar segar dan rendang daging sapi yang sudah dibentuk menjadi bola bola daging, dan juga tak lupa kerupuk.
" Ini Mas, segini dulu ya nanti kalau mau tambah tinggal aku ambilin lagi."
" Iya, terimakasih sayang. " ucap Yudha dengan senyuman manisnya.
" Iya sama sama, udah Mas duduk duluan sana, aku mau ambil makan juga. "
Safa dan Yudha pun duduk berbaur dengan keluarga yang lainnya, mereka makan sambil bersenda gurau. Tak jarang Yudha meminta suapan dari Safa karna makanan di piring yang Safa ambil berbeda dengan piring miliknya.
" Heiii, kalian ini berasa dunia milik berdua ya, kita disini ngontrak gitu. Mesranya melebihi pengantin yang asli lho. Tuh lihat pengantinnya aja nggak semesra kalian. "ucap salah satu sepupu Safa.
" Iya tuh, mana kalian itu membuat yang lain iri tahu..... " ucap yang lainnya.
" Safa beruntung ya dapet calon suami guanteng banget. Eh Mas Yudha punya saudara atau teman yang gantengnya sama nggak sih, kalau punya boleh dong kenalin kita yang masih jomblo ini. "
Hahaha
mereka semua menikmati makan dengan kebersamaan seperti itu yang terbilang sangat langka terjadi karna rumah yang berbeda beda provinsi. Mereka semua makan sambil menikmati iringan lagu yang dinyanyikan oleh biduan dan band yang mengiringinya.
Yen awan tansah kelingan,
Kalau siang selalu teringat
Yen Wengi kegowo ngimpi,
Kalau malam terbawa mimpi
Sliramu angreridu ati..
Dirimu membuat rindu hati
Lintang-lintang lan rembulan,
Bintang-bintang dan bulan
Rungokno suaraning ati,
Dengarlah suara di hati
Aku sing nandang kasmaran..
Aku yang sedang jatuh cinta
Sayang sayang, sing tak sayang
Sayang sayang, yang ku sayang
Kangen…kangen, kangene atiku
Kangen.. kangen, kangenya hatiku
Endahe wengi iki, aku tansah kelingan
Indahnya malam ini, aku masih ingat
Nyawang sliramu, lan sesandhingan
Melihat dirimu, dan bersandingan
Tresnane atiku mung kanggo sliramu
Cintaku hanya untuk dirimu
reff :
Lintang-lintang lan rembulan,
Bintang-bintang dan bulan
Rungokno suaraning ati,
Dengarlah suara dihati
Aku sing nandang kasmaran..
Aku yang sedang kasmaran
Suara sang penyanyi mengalun merdu ditelingan para tamu, mereka yang tahu arti dan maksud dari lagunya pun sangat menikmati bahkan ikut bernyanyi, namun bagi Yudha yang tidak mengerti sama sekali hanya bisa acuh.
Safa berdiri dari duduknya dan melangkah naik ke atas panggung untuk mempersembahkan sebuah lagu untuk kakaknya yang sedang berbahagia menjadi pengantin.
Selamat siang semua.. para tamu undangan yang saya hormati juga seluruh keluarga dan sahabat sahabat saya yang saya sayangi, juga kedua pengantin yang sedang berbahagia, maaf jika menganggu semuanya, pertama tama terimakasih untuk semua yang sudah berkenan datang untuk memberikan doanya pada kakak saya yang kini telah sah menyandang status sebagai suami. Dan untuk Mbak In, selamat datang di keluarga kami. Ekhemmm,. Mas pianis boleh saya pinjam pianonya sebentar untuk mempersembahkan lagu buat kakak saya tersayang.
Setelah duduk di depan piano Safa memulai untuk memainkan sebuah lagu...
All those days watching from the windows
Hari-hari itu, saat menatap dari jendela
All those years outside looking in
Tahun-tahun itu, saat dari luar melihat ke dalam
Waktu itu, saat sama sekali tak tahu
Just how blind I've been
Betapa butanya diriku
Now I'm here blinking in the starlight
Kini aku di sini berkedip dalam cahaya bintang
Now I'm here suddenly I see
Kini aku di sini, tiba-tiba kulihat
Standing here it's all so clear
Berdiri di sini, segalanya begitu jelas
I'm where I'm meant to be
Aku berada di tempat seharusnya
And at last I see the light
Dan akhirnya kulihat cahaya
And it's like the fog has lifted
Dan seakan kabut tlah pergi
And at last I see the light
Dan akhirnya kulihat cahaya
And it's like the sky is new
Dan seakan langitnya baru
And it's warm and real and bright
Dan terasa hangat dan nyata dan cerah
And the world has somehow shifted
Dan dunia entah bagaimana tlah berubah
All at once everything looks different
Tiba-tiba, segalanya tampak berbeda
Now that I see you
Karena aku melihatmu
Safa menyanyi dengan penuh penghayatan, tanpa ia sadari Yudha sudah berjalan mendekat ke Safa sambil memegang mic, dan saat Safa hendak melanjutkan lagunya Yudha menyela dan itu membuat Safa terkejut sekaligus senang ada yang menemaninya bernyanyi. Kini giliran Yudha yang melanjutkan lagunya.
[Yudha]
All those days chasing down a daydream
Hari-hari itu, saat mengejam mimpi
All those years living in a blur
Tahun-tahun itu, saat hidup dalam kekaburan
All that time never truly seeing
Waktu itu, tak pernah benar-benar melihat
Things, the way they were
Segala sesuatu seperti adanya
Now she's here shining in the starlight
Kini dia di sini bersinar dalam cahaya bintang
Now she's here suddenly I know
Kini dia di sini, tiba-tiba kutahu
If she's here it's crystal clear
Jika dia di sini, jelas sekali
I'm where I'm meant to go
Aku berada di tempatku seharusnya
[Safa dan Yudha]
And at last I see the light
Dan akhirnya kulihat cahaya
[Yudha]
And it's like the fog has lifted
Dan seakan kabut tlah pergi
[Safa dan Yudha]
And at last I see the light
Dan akhirnya kulihat cahaya
[Safa]
And it's like the sky is new
Dan seakan langitnya baru
[Safa dan Yudha]
And it's warm and real and bright
Dan terasa hangat dan nyata dan cerah
And the world has somehow shifted
Dan dunia entah bagaimana tlah berubah
All at once everything looks different
Tiba-tiba, segalanya tampak berbeda
Now that I see you
Karena aku melihatmu
Now that I see you
Karena aku melihatmu
Gemuruh tepuk tangan menggema di pernikahan Heru, Semua orang yang mendengar Safa dan Yudha bernyanyi bersama dibuat takjub oleh suara dan keserasian mereka dalam membawakan lagu. Sungguh sangat romantis, sebenarnya Yudha juga ingin menunjukkan jika dirinya juga bisa bernyanyi bersama Safa dengan sangat romantis seperti yang dulu ia lihat bagaimana romantisnya Safa dan Yono saat bernyanyi bersama. Ya katakanlah Yudha sangat iri dan cemburu waktu itu, dan sekarang ia puas bisa melakukannya dengan Safa, perempuan yang sangat ia cintai dan juga sayangi sepenuh hati.
.
Aaaaaa mereka romantis bangetttttt
Iya mereka serasi juga, ceweknya cantik dan cowoknya ganteng...
Aaaaa jadi pengen kaya mereka...
Aku iriiii
Aku juga
.
.
.