Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Flashback pertunangan


Flashback


Setelah mendapat dukungan sepenuhnya oleh sang Ibu Safa pun memantapkan hati untuk memperjuangkan hati dan cintanya.


.


Pagi pagi sekali Safa sudah pergi belanja sayuran segar di pasar tradisional sebelum dirinya berangkat kerja, kerja memasak sarapan untuk si boss pemilik hatinya. Safa ingin memasak sarapan spesial untuk Yudha dan memberikan keputusannya itu.


.


Setelah sampai di Hotel tempat tinggal Yudha, Safa bergegas memasak makanan kesukaan Yudha. Harum masakan yang Safa masak menguar ke seluruh penjuru ruangan yang ada di hunian Yudha, dan itu sukses mengusik tidur lelap Yudha yang saat itu tengah sangat kelelahan karna semalaman ia tidak tidur dan memilih lembur kerja sampai dini hari baru ia selesai dengan pekerjaannya.


.


" Bau apa ini, baunya enak sekali. Jam berapa sih ini. " Gumam Yudha dengan mata masih terpejam dan tangannya mencoba meraih jam digital di meja samping tempat tidur.


.


" Masih jam enam kurang tapi sudah ada bau masakan? Apa dedek udah datang ya.? " Yudha bergegas turun dari tempat tidur dan melangkah menuju ruang kerjanya yang langsung terhubung dengan kamarnya melalui pintu penghubung yang ada di kamarnya.


.


Yudha menyalakan laptopnya dan melihat cctv yang ada di dapurnya. Nampak Safa yang sedang memasak namun ada yang berbeda hari ini. Hari ini Safa nampak terlihat sedang bahagia, terlihat Safa memasak dengan bersenandung ria. Melihat Safa tersenyum bahagia membuat Yudha ikut tersenyum juga.


.


Yudha pun memutuskan untuk segera mandi membersihkan diri dan bersiap siap untuk berangkat ke kantor walau badannya masih terasa lelah dan mengantuk namun ia paksakan untuk tetap bergegas.


.


Setelah selesai bersiap Yudha melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan. Yudha masih memasang wajah cueknya karna masih ada sedikit rasa kesal pada Safa sebab keputusan yang diambil Safa waktu memilih untuk menjauh dari Yudha.


.


Safa yang melihat kedatangan Yudha pun tersenyum manis dan itu membuat jantung Yudha berdetak cepat.


.


Ehh ada apa ini, kenapa dedek tersenyum manis gitu, ahhh membuat jantungku tak terkendali. Hahhh aku frustasiiii.... Ingin aku peluk erat saat ini juga tapi itu juga tidak mungkin.


" Mas Yudha sudah bangun, sarapan dulu Mas, aku masak sup ayam sama sambal tomat kesukaan Mas Yudha. "


" Hem. " Yudha hanya menjawab dengan deheman dan itu membuat Safa menghembuskan nafas panjang menyadari kekesalan Yudha terhadap keputusannya.


Yudha bergegas sarapan untuk mempersingkat waktunya untuk bersama Safa. Ia tidak mau Safa menyadari jika saat ini dirinya telah salah tingkah.


.


Setelah selesai sarapan Yudha buru buru pergi hendak menuju sofa ruang tamu untuk memakai sepatunya yang sudah di siapkan Safa. Namun saat ia hendak buru buru memalingkan tubuhnya karna salah tingkah jari kakinya pun tak sengaja terantuk sudut kaki meja hingga itu menimbulkan rasa nyeri yang amat sangat karna benturan yang agak keras dan sedikit mengeluarkan darah karna sudut kaki mejanya sedikit runcing.


Dugh


Akhh shit...


Yudha meringis kesakitan, rasa nyeri yang menjalar ke tubuhnya dan dirinya yang sedikit membungkuk pun menjadikan tubuhnya limbung dan hampir terjatuh jika Safa tak menahan tubuh tinggi Yudha.


" Mas Yudha... Enggak apa apa kan.? Sini duduk dulu. " Safa menarik kursi yang ada di dekatnya dengan kakinya lalu memapah tubuh Yudha untuk duduk.


" Awwww nyeri banget. "


" Sebentar Mas aku ambil kotak obat sama kompresan dulu. "


Safa pergi ke dapur mengambil wadah untuk di isi air hangat lalu beranjak untuk mengambil kotak obat.


.


Safa dengan telaten membersihkan sedikit darah yang keluar lalu mengompresnya agar nanti tidak bengkak dan sedikit mengurangi rasa nyerinya. Yudha yang mendapat perhatian Safa pun tersenyum sangat senang sekali, tangannya terulur untuk mengusap kepala Safa namun terhenti dan mengambang di udara saat menyadari jika ia masih berpura pura kesal dengan Safa.


Lalu dengan mengubah ekspresi dinginnya Yudha berucap...


" Udah biar aku sendiri aja, kamu nggak usah peduliin ini. Awas. " Sungguh berat saat Yudha mengatakan itu.


" Sebentar... Ini tinggal kasih plester aja kok. "


" Aku bisa sendiri. " Yudha mencoba meraih plester yang ada di tangan Safa namun dengan cepat Safa menjauhkannya sebelum tangan Yudha menjangkaunya.


" Udah biar Safa bantu. Kemarin kan Mas Yudha udah bantu Safa dan sering bantu Safa, sekarang Safa ganti ingin membantu Mas Yudha. "


" Aku enggak butuh bantuan kamu, aku bisa sendiri."


" Mas Yudha kesakitan gini terus aku suruh diem aja begitu. "


" Apa peduli kamu. Aku sakit atau enggak apa peduli kamu dek. Bahkan perasaan aku pun kamu enggak peduli kan.? Kamu lebih memilih menyerah, menjauhi aku dari pada menjaga perasaan aku, peduli sama perasaan aku. Asal kamu tahu, aku itu tulus sama kamu, sayang dan cinta sama kamu. Kamu satu satunya cewek yang udah memenuhi hati dan pikiran aku. Cuma kamu satu satunya harta yang paling berharga buat aku. Aku enggak peduli sama yang lain. Mau yang lain suka atau enggak, walau dunia pun enggak merestui kita, aku enggak pernah pernah peduli. Harta, tahta, kasta atau apalah itu, itu semua enggak berarti buat aku. Hanya kamu, cuma kamu yang paling berarti buat hidup aku. Apa gunanya harta melimpah tanpa kamu disisi aku. Dan kemarin kamu tiba tiba memutuskan keputusan sepihak yang sangat menyakiti hati ini dek. Setelah sekian lama aku berusaha untuk bisa sama kamu tapi kamu..... Ahhh sudahlah, buat apa aku ngomong panjang lebar sama orang yang nggak punya perasaan. Nggak ada gunanya. " Ucap Yudha panjang lebar mengeluarkan semua kekesalannya walau sebenarnya ia tidak tega melihat Safa bersedih apalagi hingga terisak namun ia ingin Safa bisa mengerti apa yang dirasakan Yudha saat Safa mengatakan keputusan yang sangat membuat Yudha sedih dan kecewa.


.


Safa pun terisak tanpa bisa berkata kata mendengar semua ucapan Yudha, hanya gumaman kata maaf yang mampu terucap, namun itu tak membuat Yudha terus luluh. Yudha beranjak dari duduknya karna jika semakin lama ia berhadapan dengan Safa semakin dirinya tidak tahan untuk merengkuh Safa dalam dekapannya, memeluknya erat, menyalurkan rasa cinta kasih sayang yang teramat tulus dan dalam.


.


Saat Yudha sudah berdiri membelakangi Safa, Yudha memejamkan matanya erat mencoba tak peduli dengan isakan Safa yang sangat mengiris hatinya. Kaki Yudha melangkah namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan mungil nan lentik melingkar erat di pinggangnya.


.


Yudha menarik nafas dalam dalam mencoba meredam gelora yang ada di dadanya.


" Mas... maafin Safa. " ucap lirih Safa yang disertai dengan isakan.


Yudha masih tak bergeming, ia masih diam menunggu kata yang akan terucap dari mulut Safa.


" Maaf... apakah.. hiks hiks.. apakah masih ada kesempatan buat Safa memperbaiki semua.. "


" Apa maksud kamu.. "


" Hiks hiks.. Safa.. hiks.. Safa mau menjadi pendamping Mas Yudha.. Tolong Jangan diamkan Safa lagi.. jangan cuekin Safa.. Safa... "


Cup


Safa tak bisa meneruskan ucapannya karna terhalang oleh bibir Yudha yang tanpa aba aba dan tanpa babibu langsung mendarat tepat di bibir Safa, membungkam rapat hingga Safa tak dapat mengeluarkan suara dan berkata kata lagi.


.


Kaget? Pasti,, Safa pun tak menyadari kapan tubuh Yudha berbalik dan langsung membungkam bibirnya dengan ciuman dadakan dari Yudha itu.


Hanya kecupan, dua bibir yang menempel, tak ada ******* yang bergairah dan penuh nafsu, hanya kecupan penuh kasih sayang dan cinta.


.


Bukannya berhenti menangis tetapi Safa malah semakin mengeraskan suara tangisnya, membuat Yudha kelabakan bingung dan segera melepas penyatuan bibir itu.


Huaaaaaaa


" Ehh, kok malah tambah keras nangisnya, Mas sudah maafin kamu dek,, udah nagisnya, Mas minta maaf udah buat kamu nangis yah. "


Huaaaaaaa


" Huaaaa hiks hiks.. Mas Yudha jahat. "


" Iya Mas jahat, Mas minta maaf ya. "


" Hiks hiks.. Mas Yudha jahat... hiks hiks ii.. itu ciuman pertama aku,, huaaaaa.... "


Yudha yang mendengar ucapan Safa menjadi tertawa geli tapi juga senang karna dirinya menjadi yang pertama buat Safa.


" Hehe Mas kira apa, maaf udah nyuri ciuman pertama kamu, berarti Mas yang pertama dong. "


" Haaaaa.... hemmph. "


Yudha kembali mencium bibir Safa.


Mata Safa terbelalak saat Yudha kembali menempelkan bibirnya ke bibir miliknya. Safa mendorong tubuh tinggi Yudha agar menjauh darinya, lalu menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


" Mas Yudha.!!! "


" Hehe habis kamu nggak mau diem, ya udah Mas cium lagi aja jadi yang kedua kalinya. "


" Mas Yudha ihh nyuri kesempatan banget, aku nggak mau dicium cium gini apalagi dibibir. Nggak boleh tahu, kita nggak ada ikatan yang memperbolehkan ciuman bibir. "sungut Safa.


" Hehe iya maaf, enggak lagi deh. Tapi... kalau peluk boleh kan?? hanya peluk enggak lebih. " Ucap Yudha sambil merentangkan kedua tangannya agar Safa menghambur dalam pelukannya.


Safa awalnya diam lalu dia berjalan menghambur dalam pelukan Yudha dan membalas pelukan Yudha. Yudha tersenyum senang akhirnya hubungannya dengan Safa kembali baik.


" Jadi kamu tadi mau ngomong apa.? Kamu mau jadi pendamping Mas? Kamu serius kan dek. "


Safa menganggukkan kepala dan tersenyum seraya berkata..


" Iya Mas, Safa mau nerima ajakan Mas Yudha. "


" Ajakan??? Emang Mas ngajak kamu kemana? " canda Yudha.


" Ihhhh ya udah Safa tarik lagi nih kata kata Safa. "


" Ehhh jangan dong... Mas bisa gila kalau kamu menjauh dari Mas lagi.. "


" Biarin aja gila tinggal masukin RSJ. "balas Safa, Yudha yang mendengar candaan Safa pun dengan gemas menggelitiki Safa dan membuat Safa terpekik keras lalu tertawa riang.


" Nihh rasain kamu ya, geli geli deh biar ngompol sekalian. " Yudha terus menggelitik Safa hingga Safa menyerah.


" Hahaha udah Mas.... aduh perutku sakit.. hahaha. udah Mas udah, aku nyerah... "


" Cium dulu baru Mas berhenti. "


" Ihhh nggak mau.... "


" Ya udah kalau nggak mau nih, biar ngompolll. "


" Hahaha iya Mas tapi lepas dulu. "


Setelah Yudha melepas gelitikannya Safa menangkup wajah Yudha dan...


Cup


Satu kecupan Safa berikan di kening Yudha dengan lembut dan penuh sayang. Semburat kebahagiaan tercipta di wajah tampan Yudha. Yudha kembali memeluk Safa yang telah melepas tangkupan tangannya di wajahnya.


" Terimakasih, Mas bahagia banget dek. " Ucap Yudha dengan memejamkan matanya menikmati setiap detik kebahagiannya.


" Safa juga bahagia Mas, " Safa pun juga memejamkan matanya, mereka berpelukan sangat lama, seolah tak mau terlepas dan kebahagiaan yang saat ini dirasakan akan hilang jika pelukan itu terlepas.


.


Namun kebiasaan buruk Safa tidak pernah hilang, jika ia merasa nyaman dengan pelukan seseorang dan saat pelukan ia memejamkan mata dengan intensitas juga durasi yang lama maka ia akan tiba tiba terlelap begitu saja dalam pelukan orang itu.


.


Terlebih tadi ia bangun sangat pagi pagi buta sekali, menjadikan pelukan itu seperti kenyamanan penghantar tidur. Setelah sekian menit Yudha yang merasa Safa tidak bergerak sama sekali lalu mengusap punggung Safa.


" Dek.... " Tak ada sahutan dari Safa tetapi malah mendengar suara nafas Safa yang teratur menandakan jika gadis yang ada di pelukannya ini sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


Yudha tertawa geli dan menggelengkan kepala saat mengingat kebiasaan buruk namun lucu gadisnya ini.


" Ya ampun dek. .hihi.. kebiasaanmu ini nggak pernah hilang ya. Untung yang meluk Mas, coba kalau orang lain selain Mas atau keluarga kamu. "


.


Yudha pun menggendong tubuh mungil Safa membawanya ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuh Safa di ranjang besarnya.


Di baringkannya Safa pelan pelan agar tak mengusik tidurnya lalu di pandanginya wajah cantik nan manis Safa yang terlihat damai dalam tidurnya dan membelainya lembut lalu ia daratkan satu kecupan lembut di kening Safa dan tersenyum bahagia sebelum ia beranjak keluar untuk menghubungi seseorang.


" Halo assalammua'allaikum Pak. "


" Wa'allaikumsallam nak Yudha ada apa. "


" Begini Pak..... " Yudha pun menjelaskan dan meminta ijin pada semuanya tentang niatnya dan apa yang terjadi barusan pada Pak Endro selaku orang tua Safa.


" Ya kalau memang itu yang terbaik Bapak sama Ibu hanya bisa mendukung serta merestui kalian saja. "


" Iya Pak, dan maaf kalau Yudha bicaranya lewat telfon karna Yudha sedang bersama Safa dan Yudha ingin memberi kejutan untuk Safa. "


" Ya sudah kalau begitu, Bapak tunggu di rumah ya. "


" Iya Pak, nanti Rizky akan ke rumah guna mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau begitu Yudha akhiri ya Pak. *Assalammu'allaikum. "


" Wa'allaikumsallam*. "


Setelah itu Yudha menghubungi Rizky dan memberitahu semua rencananya dan meminta bantuannya untuk mempersiapkan semuanya dengan segera di hari ini juga.


.


Yudha kembali ke dalam kamarnya lalu mengambil kotak kecil berbalut beludru berwarna merah yang ada di laci meja kerjanya. Di pandanginya benda itu lalu dibukanya kotak itu, terlihat sepasang cincin yang sangat cantik nan indah. Senyumnya terukir di wajah tampannya, lalu di simpannya kembali kotak itu pada tempatnya semula dan kakinya melangkah mendekat ke tempat tidur dimana Safa berbaring.


.


Yudha mendudukan tubuhnya di lantai sebelah tempat tidur, di genggamnya erat tangan mungil Safa lalu ia kecup. Yudha merebahkan kepalanya di bantal bersebelahan dengan kepala Safa, lalu matanya ikut terpejam kala rasa kantuknya melanda. Sambil menunggu Safa bangun Yudha pun ikut tidur agar nanti ia tak terlalu ngantuk juga lelah saat acara yang ia siapkan.


.


.


________


________


Hahh 2000 kata, entah itu menarik atau enggak, bagus atau enggak ceritanya tapi itu yang ada di fikiran aku, ini pun ngetik sama mikirnya aku sambil ngerjain pekerjaan rumah, ngurus 2 bocilku yang uhhhh super duper aktif buanget, . dan entah itu menyusun kata per katanya aku bingung udah pas apa belum., and well.. semoga aja semuanya suka.. TERIMAKASIH... 🙏🙏🙏😁😁😁😁


.