
......
Yudha yang merasa tangan kanan nya di genggam pun terkejut dan segera menoleh, siapa yang sudah berani memegang tangan nya dan mengganggu ketenangan nya juga menambah emosi jiwa.
.
Namun saat kedua mata Yudha menatap seseorang itu dan mengetahui siapa yang telah menggenggam tangan nya pun menjadi sangat lega juga senang. Tanpa menunggu lama Yudha langsung menarik Safa ke dalam pelukan nya.
.
Mendekap erat wanita tercinta nya mencari ketenangan dari aroma tubuh sang istri. Seakan dengan pelukan itu bisa menjadi peredam dan ketenangan batin nya yang tengah dilanda emosi dan amarah.
.
Safa membalas pelukan Yudha, mengusap lembut punggung suaminya memberikan ketenangan juga kekuatan batin.
Apa yang membuatmu marah dan emosi seperti ini Mas, apa yang sudah di bicarakan oleh Papa Mas Yudha pada mu Mas. Apa ini menyangkut hubungan kita,? Ataukah hal lain nya. Batin Safa.
.
" Mas Yudha...."ucap Safa yang masih bertahan dengan posisi nya.
" Sebentar Dek, biarkan Aku memeluk kamu sekarang." pinta Yudha lirih.
" Baiklah."ucap Safa lembut.
Cukup lama Yudha memeluk Safa meluapkan kesedihan juga amarah nya. Nafas Yudha yang tadi nya memburu karna emosi kini berangsur kembali normal.
.
Yudha melepas pelukan nya dan kini beralih menatap sendu Safa. Safa mengulurkan tangan nya untuk mengusap lembut pipi Yudha.
.
" Mas Yudha kenapa hum,? Apa yang membuat Mas Yudha marah juga sedih seperti tadi. Untung Jo segera memberi tahu aku." Tanya Safa dengan lembut penuh perhatian.
" Aku tidak kenapa napa sayang, hanya masalah kerjaan saja." Dusta Yudha.
" Mas Yudha yakin,?? Bilang sama aku pekerjaan apa yang membuatmu marah seperti tadi? Mungkin aku bisa bantu.?"
" Iya Sayang, cukup kamu selalu ada disisi aku itu udah sangat membantu Mas."
Safa cukup mengerti dengan yang di ucapkan oleh Yudha, dan ia pun tidak bertanya apa apa lagi yang nanti malah akan menambah pikiran Suaminya.
" Mas nggak ngantor lagi,?" tanya Safa.
" Mas lagi nggak mood kerja Dek," jawab Yudha.
" Ide bagus itu sayang, ayo ikut Mas. Ehh kamu kesini pake apa,?"tanya Yudha cepat.
" Hehe aku ke sini pake motor Mas Yudha."jawab Safa cengengesan.
" Apa.??!! Kamu ini ya, udah di bilangin jangan bawa motor itu kegedean buat kamu Sayang..... nanti kalau kamu kenapa napa di jalan gimana."seru Yudha penuh kecemasan.
" Eitsss... kan Mas Yudha udah kasih ijin kan tadi ihh dasar, masih muda udah pikun."
" Ehhh apa kamu bilang.??? "
" Ehh hehe enggak ngomong apa apa. Udah ayo pergi sekarang nanti keburu kesorean lagi."
" Pinter kamu ya kalau mengalihkan pembicaraan."
" Hehe istri siapa dulu, Mas Yudha gitu."
" Ya udah ayo, (melepas jas yang melekat di badan nya dan memberikan nya pada Safa, lalu menggulung lengan kemeja nya hingga ke siku) ini bawain jas aku, ribet kalau naik motor pake jas."
" Ya udah sini, tapi nanti kalau Mas Yudha kedinginan kena angin gimana,? ntar masuk angin lagi."
" Kan ada kamu istri aku yang ngerawat. Sudah ayo keburu kemaleman nanti sampai sana."
" Emang kita mau kemana Mas,?"
" Nanti kamu juga tahu. Dan pasti nya kamu bakal suka. Motor nya kamu parkir sebelah mana sayang."
" Sebelah timur Mas."
.
Yudha dan Safa pun pergi meninggalkan taman dan Yudha melajukan motor nya dengan kecepatan sedikit tinggi. Ingin rasa nya Safa protes namun ia memilih diam dan memeluk erat tubuh Yudha, melingkarkan kedua tangan nya di perut Yudha sambil memejamkan kedua matanya dengan kepala menyender di bahu Yudha.
.
Yudha yang merasa di peluk erat oleh Safa pun baru tersadar jika istri nya itu pasti tengah ketakutan karna ia melajukan motor nya dengan kecepatan agak tinggi.
.
Yudha tanpa mengurangi kecepatan pun mengusap lembut tangan Safa yang memeluknya erat seolah memberi tahu untuk tenang saja dan percaya bahwa mereka akan baik baik saja.
.
.