
Satu jam sudah Safa berada di bawah kendali Yudha suaminya. Yudha benar benar memberikan hukuman untuk Safa yang mana membuat Safa kini lemas tak bertenaga. Selama satu jam pula Moza menolak beberapa tamu yang datang ingin bertemu dengan Boss nya itu, dirinya merasa heran namun tak cukup nyali untuk bertanya. Dan untuk Jo,?? jangan ditanya lagi, semua pekerjaan Yudha dilimpahkan pada nya semua.
.
Yudha tersenyum cerah melihat Safa yang untuk bangun saja ia tidak mampu. Yudha pun mendudukan dirinya disisi Safa yang tengah memasang wajah kesal. Bagaimana tidak kesal jika dirinya dikerjai habis habisan oleh suaminya itu.
Yudha membelai lembut kepala Safa.
" Istirahat dulu saja, Mas keluar dulu sebentar." ucapnya lembut dan tak lupa kecupan hangat di kening Safa sebelum berlalu keluar.
" Hem." jawab Safa dengan memejamkan matanya untuk tidur sebentar mengumpulkan seluruh tenaganya yang sudah hilang direnggut paksa oleh suaminya.
Yudha melangkah menuju pantry di dalam ruangannya, memanaskan sedikit air untuk membuat segelas susu coklat kesukaan sang istri. Tak butuh waktu lama segelas susu coklat hangat sudah jadi dan langsung Yudha berikan untuk Safa di dalam ruang istirahat pribadinya.
.
Saat sudah di dalam ternyata Yudha melihat Safa tertidur pulas, Yudha pun mencoba untuk membangunkannya untuk segera meminum susu yang ia buat karna tidak akan enak jika sudah dingin, juga untuk tenaganya agar segera full lagi.
" Sayang, bangun dulu, udah Aku buatin susu coklat kesukaanmu nih. Nanti kalau dingin jadi eneg kamunya."
" Uhmm, bantuin duduk, "
" Haha manja banget sih."
" Aku nggak manja ya... siapa yang udah buat aku kayak gini."
" Hehe iya, ya udah ini minum dulu." Yudha membantu Safa duduk hingga meminumkan susu Safa sampai habis.
" Udah sekarang tidur lagi nggak papa, Aku tinggal kerja dulu ya Dek." Cup satu kecupan Yudha berikan lagi di bibir Safa menyapu sisa susu yang ada disudut bibir Safa.
" Uhmm enak manis."ucapnya dengan senyum mengembang meninggalkan Safa yang menatapnya malas.
.
tok tok
" Masuk."
" Permisi Pak, lima belas menit lagi anda ada meeting bersama para ketua divisi." ucap sekretaris Jo memberi tahu jadwal Yudha.
" Oke, persiapkan semuanya. Sepuluh menit lagi aku akan ke ruang meeting."
" Baik Pak. permisi."
Jo pergi keluar melaksanakan tugas yang di titahkan Yudha, sedangkan Yudha memeriksa cctv yang ada di dalam ruangan pribadinya yang tersambung langsung di laptopnya.
Yudha melihat Safa yang masih tidur pulas, ia pun mencoba berpamitan pada istrinya itu agar tidak mencarinya jika ia terbangun nanti.
Yudha masuk lalu duduk di pinggir ranjang sambil berbisik.
" Dek, Aku tinggal meeting sebentar ya."
Tak ada respon dari Safa yang berarti istrinya sangat pulas hingga tak terusik sedikit pun oleh suaranya. Yudha pun menulis memo dan ia letakkan dibawah ponsel miliknya yang ia letakkan di atas meja samping ranjang. Setelah itu Yudha mencium kening Safa dan berlalu keluar meninggalkan ruangannya.
.
Yudha berhenti tepat di depan meja Moza dan berpesan untuk menjaga Safa selama ia tinggal meeting.
" Moza, saya tinggal pergi meeting tolong jaga Safa dia sedang istirahat di dalam."
Moza yang mendengar pun merasa heran dan bertanya tanya ada apa hubungan antara Boss nya itu dengan Safa.? Yudha yang mengerti dari raut muka Moza pun berkata.
" Jangan berfikir macam macam, Safa itu adik kesayangan saya. Jadi lakukan apa perintah saya." ucap Yudha walau berat hati dan tak ingin namun ia hanya mengikuti kemauan istrinya itu agar tidak ada yang tahu hubungan yang sebenarnya antara mereka berdua.
" Ohh baik Pak, laksanakan."jawab Moza patuh.
.
.
Di luar ruangan nampak wanita paruh baya yang masih cantik di usianya baru saja keluar dari dalam lift. Ia berjalan dengan anggunnya menghampiri meja Moza.
" Selamat siang Moza,"sapanya ramah.
" Selamat siang Nyonya besar," jawab Moza.
" Apakah Yudha ada ?"
" Oh Pak Yudha sedang rapat dengan kepala divisi Nyonya beberapa saat yang lalu. "
" Oh ya sudah biar saya tunggu di ruangannya saja."
" Silahkan Nyonya, di dalam juga ada adik Pak Yudha kok."
" Apa??? Adik?? "tanya nya bingung, sejak kapan ia melahirkan adik Yudha. Atau apa ada saudara yang datang? Tapi siapa.? sedangkan keluarga besarnya tidak ada yang di bandung. Juga merasa tidak punya keponakan.
" Oh baiklah, saya masuk dulu ya Za." Wanita paruh baya itu dengan rasa penasaran yang begitu besar melangkahkan kakinya memasuki ruangan Yudha.
Dan saat wanita itu masuk ke dalam bertepatan saat Safa keluar dari dalam ruangan pribadi Yudha. Wanita paruh baya itu terperangah dengan dahi yang berkerut saat melihat seorang gadis berjilbab keluar dari ruang pribadi anaknya tengah membawa plastik hitam besar dengan posisi membelakanginya.
Dan saat Safa berbalik badan ia di kejutkan dengan seseorang yang tengah menatap heran dan penuh selidik pada dirinya. Hingga plastik ditangannya terlepas begitu saja saking kagetnya.
" Astagfirullah...."
brukk
" Eehh maaf maaf, se..selamat siang Bu." ucap gugup Safa melihat wanita itu seraya mengambil kembali plastik yang sempat jatuh.
" Selamat siang juga, . kamu siapa.? kenapa kamu bisa keluar dari ruangan pribadi anak saya. dan apa itu yang kamu bawa.?"ucapnya lembut namun tegas dan penuh selidik.
" Aaah perkenalkan saya Safa Bu asisten Pak Yudha, dan ya saya baru saja membersihkan ruang pribadi Pak Yudha dan ini sprai kotor yang hendak saya laundry." jawab Safa setelah ia bisa mengontrol kegugupan nya.
" Ohh begitu, . perkenalkan saya Mama nya Yudha. "ucapnya ramah.
*Deg
Ya allah ini Mama nya Mas Yudha, cantik sekali...pantas saja Mas Yudha ganteng gitu. Ehh aduhh aku harus bagaimana ini??? tenang Safa tenang... kamu pasti bisa*...batin Safa.
" Heiii,...kok melamun sih. Oh iya kata Moza di disini ada adik Yudha. Dimana dan siapa.? perasaan Yudha tidak memiliki saudara."
" Hah.. . adik.?? Tapi tidak ada seorang pun disini Bu selain saya sendiri. Mungkin Mbak Moza keliru."
" Sebentar sebentar, . Moza! masuk kamu."panggilnya di ambang pintu.
Moza pun masuk ke dalam memenuhi panggilan Nyonya besar.
" Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu."
" Kamu tadi bilang ada adik Yudha di dalam, siapa yang kamu maksud."
" Ii..Iya no..nona Safa ini bukannya adik Pak Yudha.? Tadi Pak Yudha bilang seperti itu Nyonya." jawab Moza takut takut.
" Hufff baiklah kamu boleh keluar."
" Baik Nyonya permisi."
Kini Mama Yudha menatap dalam Safa, mencoba menerka apa maksud semua ini. Mama Yudha melangkah duduk di sofa dan menyuruh Safa untuk duduk di depannya.
.
.