
Malam berganti pagi, sinar mentari pagi yang cerah menembus kaca jendela besar yang masih tertutup oleh gorden hingga sinarnya tak langsung menyeruak masuk dan mengganggu lelap orang orang yang ada didalam.
.
Yudha masih setia dengan tidurnya karna semalaman ia tak memejamkan matanya karna takut jika Safa terbangun akan seperti yang sudah sudah. Yudha tertidur pulas ketika waktu menunjukkan pukul 3 dini hari.
.
Sedangkan Safa kini sudah membuka matanya walau dengan susah payah untuk dibuka karna menangis semalaman sekarang matanya pun menjadi bengkak.
.
Safa merasakan tangannya ada yang menggenggam erat, ia pun menolehkan pandangannya ke arah tangan yang ternyata itu tangan Yudha yang masih terlelap di ranjang samping yang menyatu dengan ranjangnya.
.
Safa tersenyum pedih hingga meneteskan kembali air matanya ketika menatap dalam Yudha. Ada rasa menyesal mengingat saat musibah yang ia alami kemarin. Ia menyesal karna tidak hati hati dalam menjaga dirinya sendiri hingga lelaki lain dengan mudahnya menyentuh juga melihat keseluruhan tubuh polosnya yang ia sangat jaga untuk suaminya kelak.
.
Maaf Mas,, aku sudah gagal melindungi tubuhku sendiri.. aku sudah nggak pantas buat kamu.. tubuhku sudah dikotori oleh tangan lelaki lain.. maafkan aku.. lebih baik kamu cari perempuan yang pantas buat kamu Mas.. Batin Safa dalam isak yang tertahan.
.
Safa melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia ingin ke kamar mandi namun ia merasa tubuhnya masih lemas tapi ia harus tetap berusaha untuk bisa bangkit sendiri. Mulai menurunkan kedua kakinya dan mengumpulkan segenap kekuatannya untuk dapat berdiri dan melangkahkan kakinya sendiri.
.
Safa sudah berdiri tegak dan sekarang ia harus coba melangkahkan kakinya perlahan. Selangkah, dua langkah, tiga langkah masih aman walau tertatih tatih dan berpegangan pada tembok. Namun jarak dari ranjang ke kamar mandi lumayan jauh karna harus melewati sofa ruang tamu dan pantry.
.
Safa bisa bernafas lega karna sudah mencapai pintu kamar mandi, lalu ia masuk dan ingin segera membersihkan diri lalu segera keluar dari rumah sakit ini yang pastinya biayanya sangat mahal karna ruangan yang dipakainya ini bukan ruangan biasa kelas tiga.
.
Safa sudah tidak ingin menambah beban Yudha untuk biaya perawatan dirinya yang ia rasa cukup istirahat dan menenangkan diri dirumah, walau Yudha sendiri tidak akan pernah merasa terbebani hanya karna biaya perawatan Safa dan juga ruangan rawat vip yang ditempati Safa saat ini sangat kecil bagi Yudha.
.
Yudha membuka mata saat merasa tangannya tak lagi menggenggam tangan Safa. Ia pun langsung bangun dan panik saat melihat tempat tidur Safa kosong.
.
Yudha kalang kabut takut terjadi sesuatu lagi pada Safa. Ia langsung meloncat turun dari ranjangnya dan memanggil manggil Safa namun tak ada sahutan sama sekali.
.
*Dedek...
Dedek kamu dimana ???
Sayang jangan buat aku khawatir...
Safaaaa*...
Yudha melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan saat ia mendengar suara gemericik air dari dalam ia sedikit lega.
.
Ahhh syukurlah ada didalam..mungkin lagi mandi makanya aku panggil panggil enggak denger tadi. Gumam Yudha.
.
Tiga puluh menit sudah Safa berada didalam kamar mandi dan tidak ada tanda tanda untuk keluar. Yudha pun menjadi khawatir dan panik takut jika terjadi sesuatu pada Safa didalam.
.
Yudha pun mengetuk ngetuk pintu kamar mandi dengan keras.
*tokk tokk
Dek ...
tokk tokk tokk
Sayang buka pintunya kalau udah selesai mandi*...
Namun Safa yang didalam tidak mendengar karna suara gemericik air yang mengalir deras. Safa sangat menikmati tiap tetes air yang hangat yang mengguyur tubuhnya dari pucuk kepala hingga sampai ke kakinya. Sampai sampai ia tidak sadar sudah berapa lama ia ada di dalam kamar mandi.
.
Berbeda dengan Yudha yang berada diluar menunggunya dengan gusar karna tidak beranjak keluar jua.
.
.
Saat Yudha hendak mengetuk pintu lagi sudah tidak terdengar suara air dari dalam jadi kemungkinan Safa sudah selesai dengan mandinya.
.
Lima menit kemudian pintu terbuka dan Safa keluar dari kamar mandi, namun ada yang berbeda dari Safa pagi ini. Yudha sendiri tak mengerti kenapa sikap Safa bisa berubah dalam semalam, sangat jelas sekali perubahannya namun yang bisa Yudha lihat sekarang hanya tatapan kosong Safa.
.
Yudha yang hendak membrondong Safa dengan pertanyaan pun jadi tidak melakukannya. Safa pun berjalan melewati Yudha dan hanya menatap sekilas pada Yudha tanpa mengeluarkan suara.
.
" Dekk... sini Mas bantu. " Yudha menggendong tubuh Safa itu pun tanpa penolakan dari Safa. Yudha mengawasi raut wajah Safa yang hanya diam tak ada ekspresi malu atau senyum pun tak Yudha dapati.
.
Yudha meletakkan tubuh Safa di ranjang rawatnya. Yudha yang melihat rambut Safa masih basah pun mengambil handuk untuk membantu mengeringkannya dengan penuh kelembutan.
.
" Dek... " panggil Yudha namun tak ada jawaban.
Yudha mencoba memanggil kembali hingga tiga kali namun tetap sama. Yudha memegang dagu Safa lalu mengarahkan pandangan Safa yang kosong agar tertuju padanya.
" Dek... coba lihat Mas,. Kamu kenapa sayang, " ucap lembut Yudha.
.
Safa hanya menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan suara. Yudha dibuat takut dengan kediaman Safa, ia pun segera memanggil dokter agar memeriksa Safa.
.
Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Safa,,
" Bagaimana keadaannya dok. "
" Semuanya baik Pak Yudha, hanya saja sepertinya pasien memerlukan psikiater sekarang. Jika dilihat keadaan pasien sepertinya psikisnya yang sekarang tidak baik. "
" Tapi apakah ini tidak masalah serius dok. "
" Kalau menurut saya ini jika tidak segera di tangani oleh ahlinya akan menjadi masalah yang serius pak yudha. "
.
Yudha begitu sedih dan terpukul mendengar penjelasan dokter. Ia pun segera meminta pada dokter untuk mendatangkan psikiater untuk mengobati Safa.
.
Sekarang Safa tengah bersama psikiater untuk mencoba mengajaknya berinteraksi berbicara dari hati ke hati. Membutuhkan waktu satu jam untuk psikiater itu berbicara dengan Safa.
.
Saat psikiater selesai Yudha segera menghampiri dan bertanya kondisi Safa.
" Bagaimana dok. "
" Ini belum terlalu serius Pak Yudha, coba sering ajak pasien untuk mengobrol atau bisa ajak pasien untuk refresing ke tempat tempat yang mungkin pernah pasien sukai. Coba untuk mengkondisikan hati pasien senang dan bahagia. Atau dengan dikelilingi oleh orang orang terkasih untuk mencoba menghiburnya agar pasien bisa melupakan kenangan buruk yang sudah pasien lalui. Jangan sampai pasien merasa sedih terus menerus dan merasa dirinya sendirian. " jelas dokter wanita paruh baya itu.
" Baiklah dok terimakasih. "
" Sama sama, kalau begitu saya permisi, ingat pesan saya ya Pak. "
Yudha hanya mengangguk sebagai jawaban. Yudha membelai lembut rambut Safa dan mencoba mengajaknya berbicara.
" Dekk.. " ucap lembut Yudha.
" Ya. " walau hanya singkat tapi itu membuat Yudha senang.
" Kamu makan ya, Mas suapi, nanti setelah makan kita pulang oke,. kamu ingin pulang kan. "
Safa hanya mengangguk pelan, Yudha pun segera menyuapi makan Safa dengan penuh ketelatenan dan sabar.
.
.
.