Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Angkringan


Di perjalanan pulang yudha nampak bersin bersin terus menerus namun ia masih tetap fokus mengemudikan mobilnya melewati jalan yang naik turun gunung dan jalanan pun cukup curam jadi butuh konsentrasi penuh karenanya.


Sebenarnya ia juga merasakan kedinginan namun ia masih menahannya karna tak ingin membuat safa tambah khawatir. Namun sepertinya yudha salah, safa tahu yudha menahan rasa dingin tapi ia juga tak bisa berbuat apa apa sebelum keluar dari jalur pegunungan.


Safa melihat ada selimut kecil di jok belakang yang mungkin memang disiapkan untuk keadaan seperti ini. Di raihnya selimut itu dan ia pakaikan untuk menyelimuti tubuh yudha yang tengah menahan dingin itu. Yudha tersentak saat safa melingkarkan selimut ke badannya. Ia sendiri sampai tidak ingat kalau selalu menaruh selimut di mobilnya.


" Di pakai selimutnya mas biar gak kedinginan. "


Yudha tersenyum senang mendapat perhatian gadis manis di sebelahnya ini.


" Makasih ya. "


Setelah melewati jalan pegunungan kini mobil yang dikendarai yudha telah sampai di dataran rendah dan sudah memasuki jalanan yang ramai rumah penduduk. Mata safa melihat sepanjang pinggiran jalanan seperti mencari cari sesuatu.


Mata safa berbinar saat melihat apa yang dari tadi di pikirannya, dan segera ia meminta yudha untuk menepi di sebuah tenda kecil di pinggir jalan.


" Mas yudha bisa minggir berhenti dulu gak di angkringan itu. "


" Hah ??? apa ?? angkringan apa itu.? "


" Hissss itu lho tenda biru pinggir jalan depan itu. "


Yudha pun akhirnya menuruti juga apa kata safa. Di tepikannya mobil yang ia bawa di dekat sebuah tenda yang ternyata itu seperti sebuah warung makan kecil yang sangat sederhana. Dan saat safa akan membuka pintu mobil yudha mencegahnya.


" Tunggu dek, pakai payung ini masih gerimis. "


" Cuma gerimis rintik rintik gak bakal basahlah. Udah mas yudha tunggu sini aja aku cuma sebentar kok. "


Belum yudha menimpali ucapannya safa sudah keburu membuka pintu mobil dengan cepat dan berlari kecil menuju tenda kecil itu.


" Monggo ngersake nopo mbak e? "( mari mau apa mbak nya?) ucap ramah ibu paruh baya yang merupakan pemilik kedai itu.


" Nyuwun jahe susu kaleh nggeh bu di plastik. " ( minta jahe susu dua ya bu di plastik.)


" Tunggu nggeh. "


Safa pun dengan sabar menunggu sang penjual meracik pesanan safa. Tidak ada 5 menit pesanan safa jadi dan segera ia bayar lalu kembali berlari kecil kembali menuju mobil yudha.


...


Wahhh wong sugeh ternyata yo gelem tuku neng angkringan, lagi iki ono mobil apek mamper angkringanku lho. ( wahh orang kaya ternyata ya mau beli di angkringan, baru ini ada mobil bagus mampir angkringanku.)


Ora kabeh wong sugeh iku sombong mbakyu. contone yo mau kui. ( tidak semua orang kaya itu sombong kakak(perempuan). contohnya ya tadi itu.)


....


Safa masuk mobil dan sudah mendapat tatapan tidak enak dari yudha. Yudha diam dan menatap garang pada safa. Safa pun hanya cuek karna merasa sudah biasa dengan sikap bosnya itu.


" Napa mas yudha mukanya gitu,. udah gak usah marah dulu nih diminum dulu biar anget tuh badan. " ucap safa seraya menyodorkan minuman yang di belinya tadi yang masih mengepulkan asap karna panas. Dan baunya menjadi menyebar luas di dalam mobil.


Yudha yang tadinya ingin marah jadi sedikit melunak karna melihat safa rela ke grimisan hanya untuk membelikannya minuman hangat. Dan melihat minuman yang di kemas dalam plastik itu masih mengepulkan asap ia menatap tajam safa.


" Kenapa gak di taruh di gelas sih. Ini minuman udah kecampur sama plastik safaaa.... apa lagi ini minuman panas banget di masukin plastik jadi gak sehat minumannya. "


" Ehhh mas yudha gak usah mengada ya. Kita Lagi di mobil kalau pake gelas yang ada bisa tumpah kemana mana. Praktis juga di plastik bisa sambil jalan., ini juga gak sering kan minum panas di plastik gini. "


" Tetep aja ini gak sehat dedek,,,, kamu di bilangin susah banget sih. .udah jangan di minum, buang aja,, kita beli yang lebih sehat. "


Safa pun hanya diam sambil tangannya masih memegang 2 plastik minuman yang ia beli dan menatap yudha sekilas dengan mata yang sedikit berkaca kaca karna kesal. Safa tidak menuruti ucapan yudha untuk membuang minuman itu. Enak aja main buang minuman yang sudah di belinya, mubadzir banget dan itu juga buat kebaikan dirinya agar badan bisa sedikit hangat karna minuman jahe itu pikirnya.


Dasar gak tau terimakasih, diperhatiin malah gak ngerti. Kalau karna aku gak kasian liat dia kedinginan pucet gitu mana mau aku sampai grimis grimisan buat beliin jahe susu ini. Aku Juga tau kali minuman panas di plastik itu gak sehat, tapi yang namanya kepepet gak mikir lah sehat apa enggaknya yang pentingkan keadaan saat ini gimana dulu. Tak henti hentinya safa menggerutu dalam hatinya, sampai sampai mulutnya manyun karna saking betenya pada yudha.


yudha yang melihat safa masih erat memegang plastik minuman itu kembali menepikan mobilnya yang sempat ia lajukan setelah safa masuk tadi.


" Cepat buang itu. Kenapa masih di pegang aja. "


" Gak mau,, kalau mas yudha gak mau ya udah gak perlu di buang,. biar aku minum aja sendiri. " ucap safa seraya kedua tangannya membuka plastik minuman itu agar cepat dingin dan meminumnya dikit dikit agar tidak kepanasan.


Dasar batu, dari kecil emang susah banget kamu ya dek kalau di bilangin, dan cuma nurut sama omongan bapak aja. Tapi bau apa ini, kenapa baunya enak sekali. Perasaan parfum mobil bukan ini deh wanginya. Tapi ini baunya enak banget. batin yudha.


" Nih coba dulu dikit, baru protes lagi kalau gak suka. Gak baik buang buang minuman apa makanan, ini tuh rejeki orang tau. " ucap safa kembali menyodorkan minuman yang sudah ia dinginkan ke depan mulut yudha karna takut jika yudha yang pegang nanti bisa langsung di buangnya.


Yudha pun dengan ragu meraih ujung pipet yang di pegang safa dengan mulutnya.


sruppp


manis


sruppp


agak pedas dimulut


sruppp


enakk


Dan terus ia meminumnya sampai tak melihat perubahan wajah safa yang menjadi sedikit kesal.


" Kamu kenapa mukanya kesal gitu. " tanya yudha tanpa dosa.


" Enak ya mas, , ini tangan aku juga pegel kali megang terus. "


" Ohhh maaf, "


" Ya udah ini pegang sendiri. Aku juga mau minum kali mas. "


Yudha pun baru tersadar kalau dari tadi ia minum dari tangan safa. Yudha menahan tawa melihat muka kesal safa. Dan kembali melajukan mobilnya sambil sesekali meminum minumannya. Benar yang di katakan safa, tubuhnya menjadi lebih hangat karna minuman yang di belikan safa, Hingga tak terasa habis tandas tak bersisa.


Tadi gak mau, sekarang apa?? habiss gak bersisa gitu. dasarrr


Mobil terus melaju hingga tak terasa kini sudah sampai di jalan kota. Yudha merasa tubuhnya sedikit tidak enak, panas dingin dan sedikit pusing. Yudha kembali menepikan mobilnya di pinggir jalan.


" Lhoh kenapa berhenti mas ?? "


" Kepalaku sedikit pusing ini. "


" Aku oles kepalanya pake fress**** aja ya jangan minum obat dulu kalau masih bisa di tahan. "


Yudha pun hanya mengangguk menurut saat tangan safa dengan lembut mengoleskan minyak di pelipis serta leher hingga ke pundak yudha, seperti kebiasaan safa jika merasakan pusing kepala ia tidak mau sedikit dikit minum obat.


" Kamu gantiin yang nyetir bisa kan dek. "


Safa yang mendengar ucapan yudha tergelak.


" Hahh mas yudha gak usah aneh aneh deh. Aku gak bisa nyetir mobil. "


" Aku ajarin pelan pelan aja, pleaseee, aku gak kuat melek ini matanya pedes banget. "


" Ntar kalau nabrak gimana.? "


" Udah kamu tenang aja. "


" Enggak ahh gak mau. kita telfon mas rizky aja biar kesini. "


" Jangan ganggu rizky yang lagi ngejar cintanya. Udah kamu pindah duduk sini. Ini juga mobil matic jadi lebih gampang. "


Akhirnya safa mau tidak mau pindah posisi duduk di balik kemudi dan yudha pindah di kursi yang di tempati safa tadi. Safa merasakan tubuhnya tegang, ia takut karna ini baru pertama kali ia duduk di balik kemudi. Yudha memandu safa agar menurunkan rem tangan memasukkan gigi dan menginjak gas pelan pelan tapi safa masih diam mematung gugup. Yudha yang melihatnya menjadi gemas dengan gerak cepat yudha berpindah tempat dengan sedikit mengangkat tubuh safa hingga kini safa duduk di depan tubuh yudha dan tubuh yudha melekat di punggung safa.


Safa yang sudah gugup menjadi tambah tegang karna kini yudha menyetir mobilnya sambil memangku safa yang masih diam karna tegang.


.


.


.