
.
Malam menjelang Yudha, Safa dan Mama masih berada di dapur setelah mereka selesai membersihkan diri sesaat tadi.
" Permisi Nyonya, ada tamu yang datang sudah saya persilahkan untuk masuk ke ruang tamu."
" Oh ya Pak terimakasih Pak Kadir, bibi bantu di dapur dulu ya saya mau ke depan dulu. Sayang Ibu tinggal ke depan dulu ya."
" Safa aja nih yang di pamitin, Yudha enggak."
Safa dan Mama Yudha tersenyum melihat tingkah Yudha, Safa seperti sudah terbiasa dengan tingkah Yudha yang suka manja dengan nya, namun berbeda dengan sang Mama yang merasa Yudha yang sekarang sudah mau lebih hangat lagi dengan dirinya.
Apa aku tidak salah mendengar Ya Tuhan, anakku berkata manja denganku, mama nya yang sudah lama tidak mendapat perlakuan hangat dari anakku sendiri. Terima kasih Safa, kehadiran kamu membawa perubahan di diri Yudha. Batin Mama Yudha.
" Ya udah Yudha anak mama sayang, mama ke depan dulu ya."
" Nah gitu dong,"
Mama pun berlalu meninggalkan Yudha yang tengah asik merecoki Safa sedari tadi.
" Mas Yudha ihh ini tangan dari tadi usil mulu deh heran aku, nggak ada kerjaan lain apa. Sana ke depan ada tamu itu di sambut, jangan ganggu mulu ini biar cepet kelar."
" Itu kan tamu Mama bukan tamu aku, jadi ralat ya ."
.
Keusilan Yudha yang selalu membuat Safa gerah itu tak luput dari pandangan para bibi yang ada di dapur saat ini. Mereka hanya ikut tersenyum kadang tertawa pelan melihat tingkah anak majikan nya yang sangat jauh berbeda saat dulu.
.
" Ayo bik ini semua udah selesai tinggal di sajikan di ruang makan saja."
" Baik non."
" Aku bantuin nggak Dek,?"
" Nggak usah, Mas Yudha ke depan aja sana."
" Nggak mau."
" Ihh kok gitu."
" Kamu aja disini ngapain aku ke depan."
" Terserah deh, tapi jangan usil lagi."
" Hem, ya udah aku ke kamar dulu aja ( tengok kanan kiri sekira aman tak ada orang ) cup ." Dengan cepat Yudha mencium bibir Safa sekilas dan segera berlari ke lantai atas pergi ke kamar nya.
Safa terpaku dengan mata melotot dan selanjutnya ia panik celingukan kesana kemari takut ada yang melihat, Safa bernafas lega saat mata nya tak menatap ada seorang pun disana yang melihat nya.
Namun Safa salah, ada seseorang yang sedikit terkejut melihat Yudha yang mencium Safa, ia berdiri di balik pilar rumah yang lumayan besar sehingga menutupi tubuhnya. Ia hanya bisa menutup mulutnya dan setelah nya ia tersenyum. Berharap dan berdoa dalam hatinya untuk kebahagian sang Putra yang sudah lama ia tak merasakan kehangatan dari anak nya sendiri.
" Safa sayang sudah semua nya nak.?"
" Sudah Bu, yang lain juga sudah Bibi tata di meja makan. Tinggal ini Safa angetin kuah nya aja biar nanti pas di makan enggak dingin."
" Ya sudah kalau begitu Ibu ke depan lagi ya buat suruh tamu nya ke ruang makan, nanti setelah itu kamu nyusul ya biar Bibi yang terusin."
" Baik Bu, tapi biar Safa aja yang terusin ini nya, Ibu silahkan bersantap dengan keluarga dan tamu Ibu."
" Ehhh mana bisa begitu, kamu itu tamu Ibu, juga orang terdekat anak saya, saya nggak mau nanti buat Yudha sedih. Oke."
" Baiklah."
Mama Yudha pun pergi untuk mempersilahkan tiga tamu nya untuk makan malam bersama. Safa yang sudah selesai langsung membawanya menuju ruang makan, karna ia terfokus pada apa yang ia pegang hingga tak menyadari siapa saja yang ada di ruang makan itu.
.
" Safa." Ucap dua tamu yang mengenali Safa.
Safa yang di panggil pun segera menoleh ke arah suara yang ia kenali.
" Mbak Sherly, Boy.???" Seru Safa.
" Kamu kok ada di sini.?"tanya antusias Sherly.
" Kalian saling kenal,?" Tanya Mama Yudha.
" Iya tante, Safa ini temen aku yang udah aku anggep adek aku sendiri kaya Boy, juga dia malaikat penolong aku,"
" Ohh begitu, baguslah kalau kalian udah saling kenal."
" Iya tante, ohh ya Safa kamu kok bisa ada disini.?"
" Tadi Safa yang tante suruh kesini untuk bantu tante memasak Sher."
" Jadi ini masakan Safa tan.? Wahh pasti ini nanti ada yang banyak makan tante,"
" Bagus dong, tante senang kalau ada yang makan banyak, toh ini semua memang untuk dihabiskan."
" Nggak cuma itu tan, masakan Safa ini uhhh mantap banget rasanya, orang yang nggak berselera begitu merasakan masakan Safa uhh langsung doyan tante."
" Kakak.!!!" Seru Boy yang merasa di sindir oleh Sherly.
" Apa Boy,? Memang benar kan apa yang kakak kamu bilang," timpal Papa Doni yang sedari tadi hanya diam menyimak duduk bersama Papa Yudha yang terlihat acuh.
" Safa apa kabar kamu nak, lama tidak main ke rumah lagi." lanjut Papa Doni.
" Safa baik Om, iya Safa akhir akhir ini sibuk sama kuliah juga kerja."
" Kamu kuliah sambil kerja,? hebat dong. Kerja di mana kamu nak."
" Safa kerja jadi asisten Om."
" Sudah dulu dong ngobrolnya lanjut nanti, sekarang kita langsung makan aja nanti keburu dingin kan kurang nikmat, Safa, nak tolong panggilkan Yudha ya suruh turun untuk makan bersama."
" Baik Bu."
Safa berlalu naik ke lantai atas untuk memanggil sang suami agar ikut bergabung bersama sesuai perintah Mama Yudha. Setelah Safa berlalu Papa Yudha yang sedari diam buka suara.
" Tadi harus nya Mama minta Sherly yang suruh panggil Yudha, dia kan calon tunangan Yudha. Bukan malah orang lain."
" Maaf Pa, Mama kelupaan,."
" Tante Om nggak apa apa, sudah. Siapa yang panggil kan sama saja." ucap bijak Sherly, walau dalam hatinya ia bertanya tanya ada hubungan apa Safa dengan keluarga calon tunangan nya itu, namun ia putuskan untuk tak banyak tanya dan berfikir.
.
Sedangkan di dalam kamar Yudha Tengah sibuk memandang laptopnya mengerjakan pekerjaan yang belum sempat terselesaikan.
Safa di luar kamar mengetuk pintu dengan pelan.
" Masuk."
Ceklek
" Mas Yudha... dipanggil ibu untuk turun makan bersama." ucap Safa di ambang pintu kamar yang terbuka.
" Masuk dulu Dek, tutup pintu nya juga."
" Tapi Mas...."
Safa ragu untuk menuruti ucapan Yudha hingga Yudha berdiri melangkahkan kaki mendekat lalu menutup pintu itu rapat rapat. Kemudian langsung memeluk erat Safa.
" Mas..."
" Biar seperti ini sebentar Dek... Aku lelah, ingin pulang."
Safa membalas pelukan Yudha,
" Ini kan juga udah pulang Mas, ini rumah Mas Yudha juga kan."
" Bukan, ini bukan rumahku, Aku ingin pulang ke rumah kita Sayang."
" Ya tapi kan Mas Yudha harus ikut makan malam dulu sama Orang tua Mas Yudha. Setelah itu baru Mas Yudha pamit, kan nggak enak juga Mas kalau mau pulang gitu aja."
" Baiklah Sayang, tapi kamu juga ikut makan bersama, kalau enggak aku nggak mau makan."
" Ya kan nggak enak Mas, ada tamu orang tua Mas Yudha di bawah. Sedangkan aku."
" Kamu istri aku Sayang. Bukan orang lain."
" Ya sudah ayo turun nggak enak udah di tunggu in."
Yudha mengangguk dan menggandeng tangan Safa, namun dengan halus Safa melepas genggaman tangan Suaminya.
" Lepas Mas, Mas Yudha jalan lebih dulu. Nanti ada yang lihat."
" Ya udah nggak gandengan tapi jalan bareng, di sebelah aku. Titik."
Safa pasrah sudah jika sang suami bilang titik itu berarti tidak bisa di gugat lagi. Kedatangan Yudha dan Safa menarik perhatian seluruh orang yang ada di meja makan. Berbagai pandangan tertuju pada dua insan yang tengah berjalan mendekat.
Ada yang memandang Yudha penuh damba, ada juga yang memandang cemburu pada mereka, juga ada yang tidak suka dan biasa saja.
" Hai Yudha," sapa Sherly namun hanya di jawab anggukan oleh Yudha, tapi tak menyurutkan senyum di wajah cantik Sherly.
Yudha duduk disebelah kanan Papa nya, sedangkan di sebelah kiri Papanya ada sang Mama, dan ujung meja yang lain nya ada Papa Doni dan sebelah kanan nya ada Boy dan sebelah kiri ada Sherly. Lalu Safa,.???
Ia sendiri bingung harus ikut duduk atau tidak, namun melihat tatapan mata Papa Yudha yang sangat dingin pada nya juga tatapan penuh ketidaksukaan nya Safa pun memilih untuk pergi ke dapur, namun suara seseorang menghentikan langkah nya.
" Mau kemana kamu.?!"
" Aa...ku mau ke dapur Pak."
" Duduk.!! Kamu disini bukan pembantu, tapi asisten Aku.!!" ucap tegas Yudha. Ya karna Yudha tadi melihat raut wajah Safa yang kebingungan serta takut takut itu membuat hati Yudha merasakan sakit seperti di remas, apalagi ditambah panggilan Safa pada diri nya tadi.
" Tapi Pak,."
" Nak, kamu duduk saja disini, ikut makan bersama kami, benar apa kata Yudha kamu bukan pembantu di sini, kamu tamu Ibu."
" Mama tolong hargai tamu penting kita, disini ada calon besan kita.!"
Deg..
Tiba tiba pikiran Safa blank,. kedua matanya mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan pendengaran nya tidaklah salah. Hingga tangan seseorang menariknya dan mendudukan diri Safa di kursi sebelahnya yang sudah ia tarik untuk Safa duduk. Safa hendak beranjak namun lengan kirinya di cekal oleh orang yang ada disebelahnya.
" Sudah kamu duduk disini saja, kamu temanku kita satu kampus, jadi kamu berhak untuk duduk disini. Papa tidak keberatan kan kalau Safa ikut duduk makan bersama kita. Kakak.?"
" Papa sama sekali tidak keberatan, Papa malah senang Safa ikut makan bersama dengan kita semua."
" Iya Pa, Boy bener banget itu, Safa kamu jangan sungkan, kamu kan udah kita anggap keluarga sendiri. Kamu lupa kalau kita udah berjanji untuk jadi kakak adik." ucap Sherly pura pura merajuk.
" Iii...iya Mbak, terimakasih Boy, Om."
Semua yang terjadi didepan mata membuat dua orang menahan amarah dan kesal. Kedua tangan Yudha sudah mengepal erat menahan amarah yang akan meluap luap saat tangan istrinya digenggam dan ditarik oleh lelaki lain di depan matanya. Ingin rasanya ia berdiri dan langsung memberi pelajaran untuk orang yang sudah berani menggenggam tangan istri tercinta nya.
Berbeda dengan Papa Yudha yang merasa kesal karna seperti nya ucapan yang ia keluarkan tidak ada yang mempedulikan.
Acara makan malam itu pun berjalan dengan semestinya, banyak obrolan yang terjadi di meja makan itu, hanya saja Yudha dan Papanya yang tidak banyak bicara. Safa sudah seperti keluarga sendiri dengan keluarga Sherly, banyak canda tawa yang tercipta.
Yudha yang melihat Safa akrab dan dekat dengan Boy pun bertambah emosi apalagi Safa seperti nya telah melupakan keberadaan Yudha disitu.
Makan malam selesai dan saatnya keluarga Sherly berpamitan setelah mereka duduk bersantai selepas makan. Dan saat berpamitan Boy bertanya pada Safa yang terlihat diam saja tak menandakan ia juga akan pulang.
" Safa kamu pulang bareng kita saja. Boleh kan Pa."
" Boleh saja jika Safa mau kita antar sekalian."
" Safa urusan Saya. "
Bukan Safa yang menjawab melainkan Yudha yang juga sudah bersiap untuk pulang ke rumah miliknya sendiri.
" Nak kamu mau juga langsung pergi,? tidak menginap di sini sayang."
" Maaf Ma, Yudha masih punya urusan, dan juga Yudha punya rumah sendiri."
" Tapi kamu harus sering pulang kemari ya. Juga sesekali menginaplah, ini juga kan rumah kamu."
" Lain kali Ma, Yudha tidak janji." Mama Yudha merasakan ucapan yang keluar dari mulut Yudha kembali dingin seperti dulu lagi sudah tidak sehangat tadi sebelum acara makan malam ini. Mama Yudha yakin dan tahu pasti apa yang membuat anaknya itu berubah secara cepat.
" Ya sudah kalau begitu kalian hati hati di jalan."
" Safa biar ikut dengan mobil kami saja, saya janji akan mengantar Safa dengan selamat."
" Tidak perlu, karna Safa tanggung jawab Saya." ucap Yudha penuh penekanan dan berlalu menghampiri mobilnya yang terparkir rapi.
" Tap..."
" Maaf Boy, Mbak, Om Safa pamit dulu., Ibu dan Tuu..an saya juga pamit."
" Safa cepat.!!"
Safa yang mendengar suara Yudha seperti tengah menahan amarah pun segera berlalu menghampiri mobil Yudha sebelum suaminya itu bertindak diluar kendali sperti sebelum sebelumnya.
.
.
.