Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Kampus


Siang harinya Safa sedang menikmati makanan di kantin kampus bersama kedua sahabat barunya, bersenda gurau dan saling berceloteh tentang pelajaran. Sebelum kegaduhan terjadi membuat para mahasiswa berhambur keluar untuk melihat apa yang terjadi.


" Ada apa sih rame rame pada keluar?"ucap Rere penasaran.


" Biarin ajalah Re, bukan urusan kita juga kan, bener nggak Fa."timpal Dodi.


" Bener tuh, mending kita bahas soal pelajaran yang lebih manfaat kan."ucap Safa.


Namun niat mereka bertiga yang hendak acuh akan kegaduhan yang terjadi menjadi hilang saat mendengar omongan mahasiswa yang sudah melihat kegaduhan yang terjadi.


" Gila tuh si Boy kejem banget sumpah."


" Iya, tapi ya biarin ajalah bukan urusan kita juga."


" Udah deh mending kita diem aja dari pada ntar kena juga. Dia mah bebas mau buat apa aja, secara anak pemilik yayasan kampus ini."


" Tapi kasihan tau nggak sih pemilik dua sepeda butut itu pasti sekarang lagi nangis meraung."


Rere yang mendengar pun bertambah penasaran.


" Ehh maaf, emang didepan ada apa sih.?"tanya Rere pada beberapa mahasiswa yang melintas didekatnya.


" Kamu lihat sendiri aja ke depan, biasalah si Boy lagi ngerjain orang kayanya."


" Ngerjain? emang siapa lagi yang kena sekarang?"


" Pemilik sepeda butut di kampus ini."


" Sepeda??? butut??? ( Rere berpikir seperti tidak asing. dan setelah sadar.) APA!!!!! Dodi!!! Dod gawat sepeda kita.!!!!"teriak Rere.


Dodi yang baru sadar sepeda yang dimaksudkan mereka adalah sepeda miliknya juga Rere. Rere Dodi dan juga Safa mereka bertiga langsung bergegas menuju area depan kampus yang dimaksud oleh para mahasiswa. dan ketika mereka bertiga sampai di depan kampus, mata mereka bertiga terbelalak terlebih lagi Dodi dan juga Rere yang melihat dan menatap nanar sepedanya yang sudah tidak utuh lagi tergantung di atas pohon.


" Dodi sepeda kita....." ucap Rere disela Isak tangisnya yang tertahan melihat nasib sepedanya.


" kurang ajar!! Siapa yang udah tega berbuat seperti ini.?!"geram Safa.


" siapa lagi kalau bukan ulah Si Boy."


" ini nggak bisa dibiarin!! udah kalian tenang aja biar si boy urusan aku sekarang kita turunin sepeda kalian dulu ayo."ucap Safa yang ikut prihatin dengan apa yang sudah menimpa sahabatnya.


akhirnya Safa Dodi dan juga Rere saling bahu-membahu untuk menurunkan sepeda mereka yang tergantung di atas pohon. Setelah semua body sepeda diturunkan Safa merasa sangat marah karena melihat sepeda milik sahabatnya sudah tidak terbentuk, badan sepeda terlepas dari roda dan juga kabel rem sudah terputus di mana-mana.


" Ayo sekarang bawa sepeda kalian ke bengkel dulu biar diperbaiki."ucap Safa pada Dodi dan Rere.


mereka berdua mengangguk ragu dan itu tak luput dari pandangan Safa.


" Rere, gue bisa pinjam duit lo dulu nggak, ntar gue gajian langsung gue kembaliin."


" yaelah Dodi baru aja gue mau ngomong kalau mau pinjam duit lo, duit bulanan dari mama gue nggak cukup buat benerin nih sepeda. kalau gue minta sama nyokap gue e bakal digorok gue."


Safa yang mendengar ucapan Dodi dan juga Rere pun menjadi Iba.


" udah kalian tenang aja nggak usah khawatir, yang terpenting sekarang kita bawa dulu ini sepeda ke bengkel, untuk masalah biaya biar nanti aku yang tanggung duluan."


" tapi Safa, ini biayanya nggak sedikit buat ngebenerin dua sepeda sekaligus apalagi dengan kondisi seperti. harus di Las di mana-mana, kalau kamu biayain sepeda kita berdua nanti kamu gimana buat keperluan kamu sehari-hari," ucap Rere ragu-ragu.


" bener itu Safa, kita nggak mau ngerepotin kamu dengan biaya ya perbaikan sepeda kita berdua."


" udah kalian tenang aja. kalian masih anggap aku sahabat kan? sesama sahabat harus saling tolong menolong, anggap aja ini hutang dan kalian mengembalikannya lewat traktiran aja oke."


setelah dibujuk dan diyakinkan oleh Safa Dodi dan juga Rere setuju membawa sepeda mereka ke bengkel dan dibiayai oleh Safa.


^^^^^^^^


Di tempat lain....


terlihat tiga lelaki Tengah tertawa puas setelah apa yang sudah mereka lakukan.


" gue nggak bisa bayangin Bos, reaksi mereka saat melihat sepeda mereka tergantung di atas pohon dengan kondisi yang mengenaskan, hahaha"


" bener banget tuh, mereka Pasti sangat syok dan menangis."


" itu pelajaran buat orang yang udah berani nentang perintah gue, tapi bukan cuma itu aja, gue mau lihat reaksi cewek itu gimana nanti melihat nasib teman temannya itu jika udah berani berurusan sama gue."ucap Boy menyeringai.


……………


" Rere, lo disini sendiri nggak apa kan, gue mau nyusul si Safa, gue khawatir kalau Safa bakal nemuin si Boy sendirian."


" Serius lo Dod???! gue ikut, gue juga khawatir sama Safa."


" Ya udah ayo, . bang gue nitip sepedanya ya, gue mau balik kampus dulu ntar kesini lagi."


" oke."


Setelah mendengar jawaban tukang bengkelnya mereka berdua menyusul Safa yang sudah pergi duluan.


Dan benar saja, kini Safa menuju tempat basecamp Boy dan teman temannya setelah bertanya pada salah satu mahasiswa disana,dimana Boy biasa berada.


Brakkk


Safa membuka pintu dengan kasar.


" Keluar kalian semua, dasar banci!!!"teriak Safa.


Teman teman Boy terbelalak dan terkejut melihat kedatangan Safa yang tiba tiba dan membanting pintu ruangan mereka. Namun berbeda dengan Boy yang terlihat tenang dan santai karna inilah yang diharapkannya.


" Bos cewek itu lagi."


" Kalian mundur, biar gue sambut tamu kita ini."


Teman teman Boy pun mengangguk patuh dan memberi jalan Boy untuk mendekat ke arah Safa.


" Hai cewek, kita jumpa lagi. Ada angin apa yang membuat lo datang ke kandang singa hah??"


" Nggak usah basa basi kamu.!! aku peringatkan kamu sekali lagi jangan ganggu sahabat aku! ngerti!!"ucap lantang Safa.


" Hahaha sahabat?? waow.. ternyata dua cecunguk itu punya teman juga ya di kampus ini?? hebat hebat." Boy bertepuk tangan mengejek.


" Dan gue juga nggak takut sama lo. .. tapi gue bakal turuti apa kata lo, gue nggak akan ganggu teman teman lo asal lo jadi pengganti mereka buat jadi kacung gue gimana.,?"


hahahaha tawa teman Boy menggelegar didalam ruangan itu.


" Hhh, jangan mimpi!!! kalau mau kalahkan aku di atas ring. satu lawan satu itupun kalau kamu bukan seorang banci!"


Boy mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan cewek di hadapannya itu.


" Oke, gue terima tantangan lo cewek. Tapi kalau lo kalah, lo harus siap siap buat nurutin semua kata kata gue!" ucap dingin Boy.


" Oke. kita jumpa besok di arena. dan juga..." Safa berjalan mendekat ke Boy bahkan sangat dekat hingga Boy bisa merasakan wangi aroma shampo Safa yang terbalut jilbab itu ,dan dengan kecepatan gerakan tangannya Safa meraih dompet Boy yang terlihat menyembul keluar dari saku celananya.


Sreettt


Boy dan teman temannya pun terperangah saat melihat dompet sudah berada ditangan Safa, dan dengan santainya Safa mengambil beberapa uang seratusan ribu yang ada di dompet milik Boy.


" Aku ambil buat ganti rugi atas apa yang sudah kalian lakuin tadi." Setelah itu Safa berlalu dengan santainya tanpa ada rasa takut atau apa, meninggalkan ketiga lelaki yang masih menatap kepergian Safa dengan tatapan yang berbeda. Dua teman Boy menatap dengan heran kepergian Safa, berbeda dengan Boy sendiri yang terlihat memegangi dadanya.


.


Safa berjalan dengan santainya hingga tiba tiba ada yang menarik tangannya membuat dirinya sangat terkejut.


" hah kalian buat kaget aja sih."


" Safa kamu nggak apa kan, kamu berani banget sih nyamperin tuh preman kampus."


" Aku nggak kenapa napa kok, hehe ngapain juga yang nggak berani kan sama sama manusia juga. Ehh iya ini uang ganti rugi dari si preman kampus itu buat kalian."


Ucapan Safa membuat dua orang itu ternganga tak percaya dengan apa yang dikatakan Safa. Seorang Boy preman kampus mau mengganti rugi atas perbuatannya, itu sangat mustahil sekali.


" Safa kamu yakin dengan ucapan kamu?"


" Yakinlah... itu uang dari dompet si Boy langsung., sudah ahh ayo kita ke kantin aja laper aku." Safa pun segera menyeret tangan kedua temannya agar tidak banyak bertanya.


.


.


.