Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Masa lalu


Ku lepas semua yang ku inginkan


Tak akan ku ulangi


Maafkan jika kau ku sayangi


Dan bila 'ku menanti


Pernahkah engkau coba mengerti ?


Lihatlah 'ku di sini


Mungkinkah jika aku bermimpi ?


Salahkah 'tuk menanti


Tak kan lelah aku menanti


Tak kan hilang cintaku ini


Hingga saat kau tak kembali


'Kan ku kenang di hati saja


Kau telah tinggalkan hati yang terdalam


Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa


____________________________________


Safa pov


Aku senang sekali bisa mengajak Mas Riz dan Mbak Dhi jalan jalan di kampung kelahiranku. Aku mengajak mereka untuk melihat bekas rumah yang dulu aku tinggali waktu kecil. Dan itu rumah yang penuh dengan kenangan, banyak kenangan yang tersimpan di rumah itu, juga kenangan dimana anak lelaki yang sangat aku rindukan saat ini. Walau tidak lama dia tinggal disini namun anak itu sangat dekat dengan keluargaku. Aku juga sempat sangat dekat dengan nya. Awalnya sih anak itu cuek dan pendiam saat pertama dibawa pulang Bapak , dan aku mencoba menghiburnya dan membuatnya tertawa dan tersenyum dengan segala tingkahku. Dan usahaku tidak sia sia, anak itu berubah menjadi sedikit ceria saat bersamaku, dan akhirnya dia akrab dan dekat juga dengan kakak kakakku.


Kami bermain bersama, makan bersama, dan terkadang juga kami tidur ber empat karna di rumah hanya ada dua kamar tidur. Sungguh lucu kala itu. Dan dulu aku sering menangis karna di tinggal pergi bermain sama Mas Heru dan Mas Sulis dan terkadang juga anak itu di ajak oleh kakak kakakku.


Aku menangis sejadi jadinya hingga anak itu mengurungkan niatnya untuk ikut bermain dan lebih memilih menemaniku bermain di rumah. Dan saat hujan kami semua bermain di bawah guyuran hujan namun anak itu tidak tahan dingin ternyata lalu sakit demamlah dia. Ibu pun merawatnya sepenuh hati layaknya anak sendiri. Sungguh kenanga manis.


Dan setelah sekian lama kesedihan pun datang menerpa. Tak ada satu kata pun terucap dia pergi. Kata Bapak dia sudah di jemput oleh keluarganya. Tapi... kenapa dia tidak bilang dan pamit padaku. Dia pergi saat aku tengah tidur, dan tak ada satu orang pun yang membangunkanku.


Saat aku bangun dari tidur siangku, aku kesana kemari memanggil namanya namun tak ada sahutan dan dia pun tak muncul jua. Hingga Bapak mengatakan dia sudah pergi aku pun menangis pilu. Aku sangat merasa kehilangan dirinya. Seharian aku menangis hingga Mas Yon kakak sepupuku itu datang, setelah ia pulang sekolah ia mendengar jika aku menangis seharian dan Mas Yon pun bergegas ke rumah dan menggendongku untuk berjalan jalan ke pematang sawah bermain air di sungai kecil. Dan saat itulah aku jadi sedikit teralihkan dari anak itu.


.


Aku menceritakan semua kenanganku pada Mas Riz dan Mbak Dhi yang terlihat menyimak ceritaku.


" Mas Rizky sama Mbak Dhi mau pulang hari ini ? "


" Aku sih terserah sopirnya Fa. "


" Beib, kamu kok samain aku sama sopir sih. "


" Lha kan kamu yang nyetir, kalau aku yang nyetir berarti aku sopirnya kan, sama aja. "


" Ya tapi nggak gitu juga dong beib. "


" Hihi kalian nih lucu banget sih. Udah pacaran juga masih aja debat hal kecil. "


" Apa an sih Fa. Lha kamu pulang kapan ? bareng kita aja dari pada naik bis kan. "


" Tenang aja, mobilnya muat kok Fa. Tuh mobil segede gajah nampung delapan orang pun ayo. "



" Hehe aku kira pakai mobil Mas Yudha. "


" Pakai mobil Yudha mana berani aku, itu mobil kesayangan dia. Dia beli dari hasil keringat sendiri dan itu mobil pertama Yudha. Nggak ada yang boleh pakai tanpa ijin Yudha. "


" Oh gitu, hehe ya udah yuk kita masuk ke dalam, tamu tamu juga sudah sepi, udah nggak ada tamu lagi, ayo foto sama pengantin. "


" Ahh kamu aja lah Fa aku malu, aku tunggu sini aja sama Mas Rizky. Ntar kalau udah bener bener selesai baru deh kita masuk. "


" Oke kalau gitu aku masuk bentar yahhh. "


Aku pun meninggalkan mereka berdua duduk di kursi luar tenda yang katanya lebih nyaman. Aku bergegas masuk karena aku baru ingat kalau saat ini pasti sedang sesi foto bersama keluarga. Aku sampai lupa jika Mas Yudha masih di dalam bersama Mas Heru. Aku melangkah mendekat ke pelaminan karna melihat keluargaku sudah ada disana memberi selamat juga akan berfoto.


Namun langkahku terhenti saat mendengar percakapan Mas Yon, Mas Heru dan Mas Yudha.


" Kenalin ini Mas Yono dan Mas ini kenalin Yudha, yang dulu pernah bapak bawa pulang dari tugasnya. "


" Bentar bentar, Yudha ??? ohh bocah cilik lanang yang dulu di selamatkan Bapakmu itu to. "


" Iya betul Mas itu saya, Selamat menempuh hidup baru ya Mas maaf saya lupa lupa ingat sama Mas. soalnya sudah lama sekali. "


" Ohh iya iya trimakasih., Oh jadi ini toh orang yang udah buat adek bayiku nangis seharian gara gara di tinggal pergi nggak pamitan. "


" Iya Mas Yon, dan yang bisa buat dedek diam menangis cuma Mas Yono ini Mas bro. "


" Dedek nangis ?? "


" IYAA, makanya kalau pergi tu pamit, bilang jangan asal pergi aja. Awas kamu kalau buat adek bayiku nangis lagi!!! " seru Yono seraya menepuk pundak Yudha kuat hingga membuat Yudha sedikit meringis.


APA ?? JADI SELAMA INI SEMUA SUDAH TAHU YANG SEBENARNYA SIAPA MAS YUDHA DAN SEMUANYA NGGAK NGASIH TAHU AKU ??!!! TEGA KALIAN SEMUA UDAH MENYEMBUNYIKAN INI SEMUA....


Dadaku sesak mendengar percakapan mereka, ternyata orang yang selama ini aku nanti sejak kecil adalah Boss aku sendiri. Dan Mas heru pun sudah tahu kalau Mas Yudha ini anak lelaki yang dibawa pulang Bapak dulu. Sekian lama aku menanti tapi mereka malah menyembunyikan identitasnya. Maksudnya apa coba.


Aku tak mengerti kenapa kakiku mengajakku untuk pergi dari tempat itu. Aku hanya ingin menangis saat ini. Menangis untuk meluapkan emosi di hatiku. Aku berlari ke area persawahan dimana biasanya aku menyendiri saat kecil.



Di tempat ini begitu tenang jadi aku bisa menangis sepuasnya di sini tanpa ada orang yang melihatku menangis.


Ya Allah,, aku sangat bahagia karna aku bisa berjumpa lagi dengan seseorang yang amat sangat aku rindukan. Orang yang selama ini ku nanti ternyata ada di dekatku. Orang yang akhir akhir ini mengisi hariku juga hatiku. Apa perhatiannya selama ini padaku karna dia tahu siapa aku.?


Tapi aku juga kecewa kenapa tidak ada yang bilang padaku yang sebenarnya... Aku duduk menikmati senja juga untuk sekedar menetralkan emosi hatiku.



Hingga lamunanku buyar saat seseorang memanggilku dari belakang dengan lembut namun nafasnya terengah engah. Dan aku sangat mengenal suara itu.


Safa....


.


__________