Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Ketakutan dan kebahagiaan


Di dalam pesawat.....


Safa celingukan mencari tempat duduknya, dan entah apakah memang berjodoh atau bukan namun nyatanya kursi Safa bersebelahan dengan seseorang yang sangat dikenalnya.


.


Saat Safa hendak duduk di kursinya pojok dekat dengan jendela namun terhalang oleh kaki panjang yang berada di kursi sebelahnya. Orang itu memakai topi yang menutup hampir seluruh wajahnya ditambah kupluk hoodie yang di pakainya.


.


" Maaf permisi, saya mau lewat tolong kakinya."


Tak ada jawaban dari orang itu, Safa pun yang sudah geram karna memanggil orang itu berulang kali namun tak di respon langsung menendang pelan kaki orang itu hingga membuat sang empu kaki dengan enggan menggeser kakinya namun tak ada niat melihat siapa orang yang sudah menendang kakinya.


.


Safa juga tak ambil pusing ia berlalu saja dan duduk dengan tenang. Dan saat pesawat akan lepas landas ketakutan kembali menyerang Safa. Safa melafalkan doa dan dzikir untuk mengurangi ketakutannya.


.


Tanpa Safa sadari tangan kanan nya meraih sesuatu yang entah apa namun itu benda sangat lembut di tangannya namun juga kekar. Namun Safa tak peduli itu yang penting ada sesuatu yang bisa meringankan ketakutan nya.


.


Seseorang yang duduk tepat disebelah Safa merasakan tangan nya di remat kuat pun merasa terusik. Siapa yang sudah berani menganggu kenyamanan nya juga dengan berani nya menyentuh tangan nya apalagi sampai merematnya.


.


Ingin rasanya orang itu menghempaskan tangan kecil yang sedang meremas tangan nya. Namun tangan kecil itu sangat kuat mencengkram tangannya, juga dia bisa merasakan jika tangan kecil itu gemetaran.


.


Orang itu menegakkan topinya hingga wajah tampan nya terlihat jelas, ia melihat tangan kecil itu lalu merambat naik hingga wajah sang pemilik tangan. Awalnya ia terkejut juga heran namun detik berikutnya ia tersenyum senang bercampur geli melihat ekspresi wajah si pemilik tangan.


.


Ia mencoba mengusap pelan penuh perhatian punggung tangan Safa yang masih gemetaran. Mencoba memberikan ketenangan dan terbukti lambat laun tangan kecil itu tidak lagi gemetaran.


.


Safa merasa sedikit tenang saat tangan nya ada yang mengusap usap, ehh tunggu,..di usap,?? Siapa yang mengusap tangan nya pikir Safa. Safa segera membuka kedua matanya lebar lebar yang tadi memejam erat.


.


Kedua matanya membulat sempurna saat melihat sebuah tangan kekar lalu beralih melihat wajah pemilik tangan kekar itu yang tersenyum senang melihat wajah terkejutnya.


" Boy..??!!!" Seru Safa.


Ya orang itu adalah Boy.


" Kamu ngapain di sini.? "


" Pertanyaan bodoh, udah jelas ini di pesawat dengan tujuan yang sama denganmu dan kamu tanya ngapain aku disini.?? Kamu sehat kan.?"


" Aku sehat, sangat sehat. Disini kamu yang bodoh, udah jelas lihat aku sehat wal afiat gini kamu tanya apa aku sehat,.?? Ckckck kenapa Mbak Sherly bisa punya adik sebodoh ini.?"


" Apa kamu bilang.?!!"


" Sudahlah diam, berisik tahu ganggu penumpang lain nya. Udah lepas tangan aku, jangan cari kesempatan kamu ya.,"


" Apa,?? Kesempatan.?? Heii..!!! Di...."


Boy pun diam dengan sejuta kekesalan nya yang hanya bisa ia pendam namun juga senang Safa ada disisinya saat ini. Boy terus saja memandangi Safa yang tengah terpejam entah memang karna ngantuk atau hanya ingin menghindarinya. Tak henti hentinya Boy tersenyum memandang wajah teduh Safa yang terpejam, sungguh kebahagiaan yang tak terduga.


.


Di kantor Yudha terlihat seperti tak bertenaga setelah melepas kepergian istri tercinta nya. Sesaat Yudha teringat akan sesuatu lalu segera meraih ponsel yang ia letakkan di meja dan menelfon seseorang di seberang sana.


" Halo bro."


" Halo Ky, lu lagi dimana sekarang.?"


" Gue lagi di kantorlah, emang mau kemana lagi. Apalagi gue harus nyelesaiin tugas gue yang ada disini sebelum gue tinggal kan., Ada apa sih.?"


" Gue minta tolong buat lu jemput istri gue...."


" Ke Bandung,??? Gila aja lu bro."


" Heh dengerin gue dulu bege., orang belom selesai ngomong main sela aja."


" Hehe iya iya sorry,. Terus gue jemput dimana."


" Lu jemput di Bandara, pesawat udah take off setengah jam yang lalu."


" Oke, biar gue minta tolong Dhian buat ngejemput sahabatnya pasti seneng banget tuh., gue lagi bener bener nggak bisa ninggal kerjaan nih."


" Ya udah makasih sebelumnya,. Lu kapan berangkat kesini."


" Paling enggak empat harian lagilah."


" Ya udah kalau begitu. Gue tutup dulu."


" Oke."


Panggilan selesai Rizky segera menghubungi Dhian yang sekarang sudah menjadi asistennya.


" Ya Hallo."


" Beib ke ruanganku sebentar bisa."


" Ya."


Selang beberapa detik pintu terbuka.


" Ada apa,?"


" Beib minta tolong jemputin Safa di bandara sekarang bisa,? Biar di antar supir kantor. Soalnya Aku lagi banyak banget kerjaan."


" Safa pulang ke sini sekarang,?????!!! Oke baik siap."


Belum Rizky bicara lagi Dhian sudah main pergi saking semangatnya karna kepulangan sahabatnya.


" Dasar pacar bar bar.. tapi aku cinta."


.


.


📖📖📖📖🎬🎬🎬🎬🎬