Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Pulang


Siang harinya Safa sudah diperbolehkan pulang oleh dokter dan dokter juga berpesan agar menjaga suasana hati Safa untuk tetap dalam suasana senang, agar kesedihan akan kenangan buruk yang menjadi traumanya bisa hilang dalam ingatan terdalam Safa.


.


Dirumah Safa disambut hangat oleh semua keluarga juga orang orang yang tahu akan musibah yang menimpa Safa waktu lalu. Namun sebelum pulang Yudha sudah memberi tahu dan menceritakan semua yang dialami Safa saat ini, juga berpesan agar tidak ada yang menanyakan atau mengungkit kejadian yang Safa alami takutnya akan membuat kesedihan Safa bertambah dan itu akan berpengaruh buruk pada diri Safa.


.


Mobil Rizky yang ditumpangi Yudha, Safa, dan juga Dhian telah memasuki halaman rumah Safa yang sedang didirikan tenda untuk hajatan Heru. Ya tadi Rizky mengajak Dhian untuk menjemput Safa, dan dengan senang hati dan penuh semangat ia ikut, namun saat melihat kondisi sahabatnya itu dan juga mendengar penjelasan Yudha, Dhian sangat sedih dengan apa yang sahabatnya alami kini.


.


Sepanjang perjalanan pulang Dhian selalu mengajak Safa mengobrol dan bercerita yang lucu lucu dan juga kenangan indah yang pernah mereka alami. Dan Safa hanya menanggapi obrolan Dhian dengan senyuman, tak ada kata kata yang terucap dari mulut Safa.


.


Dhian hanya bisa tersenyum getir melihat sahabatnya yang tidak seperti dulu sebelum musibah itu.


.


Saat mobil sudah berhenti mereka semua turun, Yudha membukakan pintu mobil untuk Safa turun lalu merangkulnya masuk. Langkah Safa terhenti saat melihat orang orang yang tengah sibuk memasang tiang tiang penyangga tenda.


.


" Ada apa dek? " tanya Yudha pelan.


Safa hanya diam dan mengamati sekelilingnya, Yudha yang mengerti arti tatapan mata Safa pun menjelaskannya secara pelan dan penuh kelembutan.


" Mereka sedang memasang tenda untuk hajatan Heru, kakak kamu sayang, apa kamu lupa? "


" Mas Heru? " gumam Safa pelan.


" Iya sayang, besok minggu pernikahan Heru, bahkan kamu yang menyiapkan konsep untuk pernikahan mereka. "


" Aku? " Safa sudah mau menjawab ucapan Yudha walau hanya seperti sebuah gumaman.


" Iya, ya udah ayo masuk, semua sudah menunggu kamu di dalam. "Yudha menuntun Safa masuk ke dalam, walau didalam sangat ramai karna keluarga Safa yang berkumpul namun Safa tidak menunjukkan ekspresi yang seperti biasanya ia akan sangat senang dan gembira, tapi ini?? ia hanya tersenyum tipis dan mengangguk saja.


.


Semua yang melihat Safa hanya bisa menahan kesedihan mereka agar Safa tak melihatnya. Ibu Safa langsung memeluk anaknya erat erat seolah menyalurkan kekuatan untuk Safa menghadapi cobaan ini.


.


Saat memeluk Safa Ibu meneteskan air matanya, namun segera ia hapus agar Safa tak melihatnya, semua yang ada disitu pun memalingkan pandangan mereka dan menyeka air mata masing masing yang menetes tak terbendung, Dona adik Safa tidak bisa menahan tangisnya lagi, hingga ia memeluk sang kakak Heru dan menyusupkan wajahnya didada Heru untuk meredam suara tangisnya.


" Masss hiks hiks Mbak Safa hiks hiks. "


" sssttt kita nggak boleh nangis di depan mbakmu ngerti, jangan sampai mbakmu sedih lihat keluarganya menangis. " Heru berkata dengan bibir bergetar menahan tangisnya, namun air matanya sudah berderai deras melihat adiknya.


" Kamu sudah sehat nak? " ucap lembut Ibu sambil membelai wajah Safa.


" Iya. " jawab singkat Safa dengan senyuman dibibirnya yang bergetar dan air matanya pun menetes di wajah cantik Safa.


Akhirnya tangis Safa pecah kembali saat menatap wajah Ibunya.


hiks hiks... Ibuuu... hiks hiks,,, huhuhu ibuuu... isak tangis Safa di pelukkan Ibunya.


.


Kuat ya ndukk, kamu kuat, hiks hiks jangan menangis.. ibu juga ikut nangis kalau melihat kamu seperti ini.. lupakan semua yang sudah terjadi.. hiks hiks semua akan baik baik saja.. ada ibu, bapak, mas mas mu, adekmu juga, .. ibu mengusap punggung Safa yang ada dipelukannya.


.


Semua yang melihat pun akhirnya ikut pecah tangis mereka yang sempat tertahan tadi. Safa memeluk erat Ibunya begitupun Ibu, Bapak langsung ikut memeluk kedua orang yang ia sayang dan cintai, Heru dan Dona pun ikut bergabung dalam pelukan keluarga itu, mereka berpelukan saling menguatkan terutama menguatkan Safa.


.


Yudha meneteskan air matanya, begitu juga Rizky dan semua sahabat Safa yang ikut menyambut kepulangan Safa dari rumah sakit.


.


Diruang tamu kini hanya terdengar suara isak tangis seluruh orang yang menyaksikan adegan itu.


Mereka pun melepas pelukan itu, Budhe Safa Ibu Yono pun menghampiri Safa lalu memeluknya erat.


" Budhe yakin kamu pasti kuat nduk, adine kesayangan Mas Yono iki pasti kuat. Kamu jangan sedih dan terpuruk seperti ini, kalau sampai Mas mu itu kesini terus lihat kamu seperti ini pasti dia nggak akan tinggal diam. Kamu nggak mau kan kalau sampai Mas mu itu ngamuk kalau tahu apa yang sudah menimpa kamu. Budhe yakin Mas mu bakal ngeluarin itu taringnya yang tajam. Beuhhh bisa matek itu orang orang yang udah jahat sama kamu. Nggak peduli dia mau anak pejabat atau pejabatnya sekalipun, mau kaya atau miskin. Mas mu bakal libas habis nduk. Kamu nggak mau kan kalau sampai Mas mu yang serem itu sampai menghilangkan nyawa orang, apalagi orang itu sudah menyakiti dan membuat adik kesayangannya ini sedih dan hancur seperti ini.. " Budhe menjeda ucapannya dan menghapus air mata Safa yang terus mengalir..


" Sekarang kamu harus tersenyum, biar nanti kalau Mas mu sampai sini enggak lihat kamu yang terpuruk seperti ini. Budhe nggak bisa bayangin kalau Mas mu datang terus lihat adek bayinya ini seperti ini, huhhh kamu bisa bayangin sendirilah gimana sifatnya yang kejam dan sadis sama orang jahat.. ayo sekarang tersenyum, hapus air mata kamu. " Ibu Yono mencoba menghibur Safa dan ternyata itu berhasil membuat Safa berhenti menangis.


" Nahh kalau nggak nangiskan kamu cantik tenan lho nduk., itu lihat calon suamimu sampai mewek lihat kamu nangis,, hih cah lanang kok gembeng banget... " Canda Budhe yang melihat Yudha menitikan air mata, Yudha yang disindir pun segera mengusap air matanya dan mencoba tersenyum walau sangat kaku, semua pun ikut tersenyum dan tertawa kecil mendengar candaan budhe yang mengatai Yudha cengeng, suasana yang semula melow menjadi ceria kembali setelah Budhe berhasil membuat Safa tersenyum lagi.


" Budhe... hiks hiks. " ucap Safa yang masih terisak menatap wajah Ibu Yono.


" Iya gendukku sayang,. apa. " Budhe mengusap air mata Safa yang masih menetes.


" Terimakasih hiks hiks.. "


" Terimakasih untuk apa?? Budhe gak ngasih kamu apa apa kok. hihihi . " canda Budhe.


" Budhe kapan Mas Yon kesini. ? "


" Kalau jadi sih besok sabtu Mas mu baru bisa kesini, "


.


Safa hanya mengangguk, Ibu pun mengajak Safa masuk ke kamarnya agar ia bisa istirahat. Budhe dan yang lainnya kembali mengerjakan tugas masing masing, sahabat sahabat Safa ikut mengantar Safa ke kamarnya, sedangkan Yudha dan Rizky pun diajak Bapak untuk duduk terlebih dahulu karna Bapak tahu Yudha pasti lelah menjaga Safa dirumah sakit sendirian.


.


" Duduk dulu nak Yudha, Rizky .,Don tolong ambilin Mas Yudha sama Mas Rizky minum. "titah Bapak.


" Injeh Pak, "


Yudha duduk bersebelahan dengan Bapak Safa sambil menundukkan kepalanya, Ia masih belum sepenuhnya menata hati yang sejak di rumah sakit di penuhi kekhawatiran akan kondisi Safa, namun sekarang ia juga sedikit lega karna apa yang ia khawatirkan tidak terjadi.


" Terimakasih nak Yudha untuk semuanya. "


" Itu sudah kewajiban Yudha Pak. " huffff Yudha berulang kali menarik nafas dan menghembuskannya pelan, dan itu menarik perhatian Bapak.


" Ada apa nak Yudha ? dari tadi narik nafas terus. "


" Yudha masih khawatir akan keadaan Dedek Pak, Yudha takut jika keadaan Dedek akan memburuk tadi. " lirih Yudha.


" Kita berdoa saja semoga itu tidak terjadi. Bapak tahu betul anak Bapak yang satu itu pasti kuat menghadapi cobaan ini. Dedekmu itu sedari kecil udah ditempa untuk menjadi sosok perempuan yang kuat dalam segala hal, mau itu fisik atau pun hati. Safa yang dulu kamu kenal memang sangat cengeng dan manja, namun seiring berjalannya waktu ia beranjak dewasa semua berubah, yah walaupun terkadang ia menjadi cengeng dan terlihat lemah itu tak berlangsung lama. Jadi bapak yakin sekarang juga pasti dia bisa melewati ini. Kita hanya perlu selalu ada disisinya untuk memberi dukungan dan semangat untuk menjalani ini semua. "


" Aamiin Pak semoga saja. "


" Maaf Pak, saya mohon pamit tidak bisa berlama lama disini karna banyak kerjaan yang harus saya kerjakan dikantor. "ucap Rizky.


" Oh ya gak apa apa Riz, hati hati dijalan, apa gak sebaiknya kamu makan dulu baru pergi, ini udah waktunya rolasan lho. "


" Uhm... "Rizky nampak berpikir, ada benarnya juga, perutnya juga sudah merasa lapar juga.


" Udah gak usah kebanyakan mikir, ayo bapak anter ke belakang, ada Dhian lho disana, yakin masih mau mikir??? " goda Bapak.


" Ahahaha monggo pak langsung kesana saja. " semangat Rizky.


Yudha hanya menggeleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.


" Nak Yudha ayo sekalian, "


" Yudha nanti saja pak belum laper kok. " Yudha ingin makan bersama Safa pikirnya.


" Ya sudah, kalau makan di belakang ya. "


Yudha hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi. Bapak dan Rizky berlalu ke belakang kini Yudha ingin melihat kondisi Safa di kamarnya.


.


.


.