
.
📖📖📖📖📖
🎬🎬🎬🎬🎬
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
.
Bandung......
Setelah pesawat terbang menempuh perjalanan dari Jogja kini sampailah mereka bertiga di Bandung. Safa, Dhian, dan juga Rizky keluar dari Bandara langsung memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing, namun saat Rizky ingin mengantar Safa terlebih dahulu ke rumahnya Safa menolak karna ingin langsung pergi ke kantor Yudha.
.
" Aku antar kamu dulu Fa, setelah itu baru aku pulang."
" Enggak Mas makasih, Aku sendiri aja nggak apa kok, aku juga mau langsung ke kantor Mas Yudha. Lagian kasian Mbak Dhi tuh udah lemes banget kayaknya pucet lagi tuh muka,. Lagian Mbak Dhi juga ngeyel suruh makan dulu biar nggak kosong tuh perut malah nggak mau, sekarang baru ngrasa kan."
" Opo sih Fa, lagian pas tadi mau berangkat aku tuh masih kenyang banget. Mana tahu jadinya kayak gini."
" Ya udah kalau gitu kita tunggu Kamu sampai masuk ke taksi baru kita juga jalan pulang, tapi kamu harus janji untuk menjaga diri karna itu perintah Ibu kamu."
Tak berselang lama taksi yang di pesan Safa pun datang dan segera melaju meninggalkan Rizky dan Dhian yang masih menunggu mobil jemputannya datang.
.
Di dalam perjalanan Safa sudah tidak sabar ingin segera memberi kejutan untuk Yudha suami tercinta tentang kehamilan nya. Tak henti hentinya tangan nya mengusap lembut perutnya yang masih sangat rata. Juga senyum yang masih terus mengembang membayangkan reaksi Yudha saat mendengar kabar yang selalu ia nanti, pasti betapa bahagian nya suaminya itu karna setiap selesai menjalankan kegiatan ranjangnya Yudha selalu mengusap usap penuh kelembutan serta berdoa berharap segera tumbuh benih yang ia tanam.
.
.
Sepanjang jalan menuju ruangan Yudha Safa tak henti hentinya mengembangkan senyum manisnya juga tak lupa menyapa dengan sangat ramah seluruh karyawan yang berpapasan dengannya.
.
Hingga tiba di depan pintu ruangan Yudha yang terbuka sedikit senyum Safa yang sedari tadi mengembang sirna seketika dan berganti tetesan air mata yang membasahi kedua pipinya.
Rasa sesak yang teramat sakit merasuk dan seolah menghimpit paru parunya hingga untuk bernapas pun terasa sangat berat dan sakit, juga tenggorokkan pun rasanya tercekat.
Safa memalingkan pandangan karna merasa tak kuat melihat apa yang terjadi di depan kedua matanya. Dengan perlahan Safa memutar langkahnya dan dengan berderai air mata Safa cepat berlari pergi meninggalkan pemandangan yang menyesakkan hatinya.
Saat sampai di pintu lift yang terbuka Safa segera menghambur masuk ke dalam sampai ia tidak sengaja menabrak bahu seseorang, namun Safa tak melihat siapa orang itu karna ia terus menundukkan pandangan nya dan menutup mulut nya rapat rapat dengan tangan nya agar tak mengeluarkan suara isakan.
Seolah tak peduli Safa pun tidak mengucapkan kata maaf, bukan enggan namun lebih ke mulutnya sangat susah mengeluarkan sepatah kata pun.
Jo yang tak sengaja tertabrak Safa pun ingin menegur Safa namun saat melihat air mata yang mengalir deras ia menjadi heran, dan saat ingin bertanya pintu lift terburu tertutup rapat.
" Mbak Safa.??? Ehh bukan nya lagi di Jogja ya,? apa udah pulang,? tapi itu kok nangis gitu,? ada apa sebenarnya,? ? ahh sudahlah bukan urusan saya juga."
Jo pun melangkah memasuki ruangan nya. Namun dalam hati dan pikiran nya ia masih penasaran dengan apa yang terjadi. Tak dapat di pungkiri bahwa hatinya merasa seperti ada yang berbeda saat berdekatan dengan Safa. Namun ia takut jika berdekatan dengan Safa Bos nya yang ia kira itu benar kakak sepupu Safa marah.
Dan dengan kemantapan Hati Jo pun akhirnya memilih keluar ruangan nya untuk mengejar Safa yang bisa ia pastikan telah terjadi sesuatu padanya.
.
.
.