
Yudha melihat arloji yang melingkar sempurna di tangan kanannya, dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Hujan masih setia membasahi bumi walau tidak sederas tadi, akan tetapi melihat ke atas langit tidak ada tanda tanda langit akan berubah cerah tetapi malah semakin gelap dan pekat seolah pertanda akan datang hujan badai yang lebih dari tadi.
Yudha berpikir tidak mungkin untuk bertahan di tempat saat ini ia pijak. Kondisi tanah yang dataran tinggi juga berada di atas laut, akan sangat berbahaya jika tidak segera pergi dari situ melihat cuaca alam yang tak bersahabat.
Yudha memutuskan mengajak safa untuk segera turun walau masih keadaan hujan, tak apalah basah nanti bisa beli baju dibawah pikirnya dari pada membahayakan diri di tempat ini.
" Dek kita turun sekarang ya,. ini cuaca tambah ektrim gini ntar malah bahaya buat kita kalau tetap ada disini.. basah sebentar gak apa kan.? " ucap yudha sambil menunduk untuk menatap safa.
Safa pun mendongakkan kepalanya untuk melihat keadaan sekitar dan memang benar apa kata yudha, bisa bahaya kalau terus bertahan di atas sini.
" Iya mas, ini malah tambah gelap gini aku takut ada petir nanti., gak apa lah basah,, dibawah kan ada yang jualan baju juga. " Ucap safa seraya melepaskan diri dari dekapan yudha yang sudah mulai melonggar tidak se erat tadi.
" Ya udah yuk cepetan,. sini pakai jaket biar kamu gak terlalu basah nanti. "
Yudha melepas jaketnya dan akan memakaikannya pada safa tapi segera safa tolak.
" Buat tutup kepala mas yudha aja. nanti mas yudha bisa sakit., "
" Ya udah sini buat berdua ayo ntar keburu makin deras hujannya. "
Yudha segera menarik tangan safa dan merangkulkan tangannya ke pundak safa seraya membentangkan jaket untuk menutupi kepala mereka berdua dari hujan.
Mereka berdua berjalan sedikit tergesa dan karena hujan jalan untuk turun jadi sedikit licin membuat safa terpeleset dan jatuh. Yudha yang tengah mengamati ombak yang datang menerpa jalan yang akan mereka lewati jadi tidak sigap untuk menahan tubuh safa yang ambruk sehingga safa jatuh terduduk.
*Srutttthh
aaahhh*
" Aduhhh pantatku,, " Safa meringis merasakan pantatnya yang sakit terantuk bebatuan kecil.
" Dedek kamu gak pa pa kan., maaf aku tadi gak perhatiin kamu. " ucap yudha dengan rasa bersalah karna tak bisa menahan tubuh safa saat akan terjatuh tadi karna fokus pada hal lain.
" Aduhh nyut nyutan mas, tapi gak apalah ayok. " ajak safa seraya mencoba berdiri yang di bantu oleh yudha pelan pelan karna merasakan nyeri di pantatnya.
Safa pov
Aku dan mas yudha melanjutkan jalan kami yang sempat terhenti karna adegan aku terpeleset tadi, huhhh cukup sakit karna batu batu kerikil yang terhantam oleh badanku sedikit runcing jadi begitu menusuk rasanya.
Saat kami jalan, kami harus melewati jalan yang saat ini terus dihantam ombak yang cukup besar karna cuaca juga sedang ektrim, mungkin jika tidak cuaca seperti ini ombak tidak akan sampai menghantam jalan yang kami lewati.
Mas yudha merengkuhku begitu erat mungkin takut aku terpeleset lagi, juga kami berbagi jaket untuk melindungi kepala kami dari hujan. Wahhhh ombaknya cukup menakutkan saat ini. Saat kami mendekati jalan yang dihantam ombak mas yudha menanyaiku apakah aku bisa lari. Haaah buat jalan aja rasanya masih nyeri apalagi buat lari. Tapi mas yudha seaakan tahu isi pikiranku tiba tiba langsung jongkok di depanku.
" Hahh, ehh aku berat mas yudha. aku gak pa pa kok., ayo jalan aja. "
" Udah ayo biar cepet., "
Tiba tiba kilatan petir muncul seperti lampu flash di camera,. Aku tak pikir panjang langsung jongkok dibelakang tubuh mas yudha yang membelakangi aku dan jaket mas yudha yang cukup besar aku bentang untuk membungkus diriku.
Aaaa aku takut sekali. Inginku menangis saking takutnya. Aku jadi teringat waktu kecil, aku duduk sendirian di teras rumah, ibu sudah memanggilku untuk masuk karna mau hujan, yang namanya anak kecil pasti ngeyel. Hingga dengan tiba tiba kilatan cahaya yang sangat terang di ikutin suara petir yang sangat keras sekali menghentak diriku. Aku begitu syok langsung menjerit menangis meraung raung dan sejak saat itu aku sangat takut dengan petir atau suara gemuruh langit. Tapi aku juga sangat suka hujan saat hatiku sedih aku selalu bermain hujan untuk menghilangkan rasa sedih itu sendiri.
Saat aku asik merenung mas yudha menarik tanganku dan dikalungkan ke lehernya, aku pun hanya bisa pasrah dan mengikuti mas yudha.
" Ayo pegangan yang kuat.. Kita akan sedikit berlari saat melewati jalan itu agar tidak ikut terhantam ombak. "
Aku pun hanya mengangguk. Satu tanganku melingkar di leher mas yudha dan satu lagi buat aku memegangi jaket untuk menutupi kepala kami berdua.
Mas yudha berdiri tegak dan berjalan cepat sedikit berlari saat melewati jalan yang di maksud. Mas yudha tidak merasa keberatan sedikit pun saat menggendongku dipunggungnya. Aku merasa seakan pernah mengalami hal seperti ini. Aku seperti kembali ke masa kecilku saat aku bermain hujan dengan di gendong seperti ini oleh seseorang waktu dulu.
Yaaa aku ingat aku bermain hujan bersama kedua kakakku dan satu lagi yang saat itu tengah menggendong diriku sambil berputar putar di bawah guyuran hujan. Seseorang yang datang di kehidupanku saat kecil. Seseorang yang selama ini ku rindukan.
Dan ini,,, kenapa ini seperti yang ku rasakan saat kecil. Punggung ini,, seperti punggung yang dulu pernah aku rasakan.. Ahhhh tidak mungkin. Ini hanya kebetulan saja. Iya hanya mungkin sama saja. Kenapa jantungku selalu seperti ini saat bersama mas yudha.
Lamunanku buyar saat mas yudha menyentak tubuhku untuk membenahi posisi tubuhku yang sedikit melorot karna berlari tadi.
" Kita berteduh sambil cari baju ya dek. "
Deg
Aku baru sadar dan ngeh kalau dari tadi mas yudha memanggilku dengan sebutan dek, dedek., yaa dedek. Kenapa ?? Kenapa dia memanggilku seperti itu.? Hanya keluargaku yang memanggilku dedek.
" Mas yudha aku turun saja ini udah di bawah jadi aku bisa jalan sendiri. " pintaku.
" Udah kamu diem aja, turun ntar kalau udah nyampe tempat teduh. "
Ya sudah kalau gitu, mendebatnya pun percuma, orang keras kepala tetep aja keras kepala tak terbantahkan. Saat sampai di dekat dengan lapak para penjual baju ada suara suara yang memanggil manggil kami. Dan saat aku menoleh mencari asal suara terlihat dua makhluk yang berbeda aura. Mereka seperti tengah habis bertengkar. Dan aku pastikan jika mereka memang tengah bertengkar..
.
.