
Safa yang mendengar namanya di sebut pun hanya diam terpaku. Ia enggan untuk menemui Yudha pria yang selama ini ia rindukan kehadirannya. Safa terus berdiri di tengah kerumunan tamu yang sedang ramai ramainya itu.
Dengan perlahan Safa mundur untuk pergi meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya terhenti saat Heru memegang tangannya erat.
" Jangan menghindar lagi dek, hadapi semuanya optimislah. "
" Nggak bisa Mas, aku nggak bisa. "
" Apa kamu tahu dekk, Yudha datang kesini seperti orang gila yang kesetanan, main terobos masuk dan jalan kesana kemari cuma cari kamu. Dia mengira kalau kamu yang nikah saat ini dan dia hendak menghentikannya. "
" Apa ?? "
" Kamu temuilah Rizky juga Dhian di rumah samping. "
" Mereka juga disini. "
" Ya, sekarang pergi temui mereka, biar Mas yang alihkan Yudha, Tapi setelah kamu memantapkan hatimu temuilah Yudha. kasihan sudah jauh jauh dari Bandung cuma untuk kamu. "
" Iya, " Safa lekas pergi ke rumah samping untuk menemui sahabatnya. Saat Safa melihat penampilan Dhian ia memekik kaget karna melihat perubahan penampilan Dhian yang biasanya terlihat tomboi ini terlihat feminim.
" Mbak Dhi.!! "
" Safa..!! "
Mereka berpelukan mengabaikan Rizky yang menatap kagum Safa.
" Kapan sampai ? "
" Sebenernya udah dari semalam kita sampai di Semarang, itu pun gara gara boss gila kamu itu. "
" Hah ?? maksudnya?? "
" Iya, Yudha menggila saat melihat postingan kamu, lha aku mengira kalau kamu cuti buat nikah beneran, ehh ternyata salah paham. " timpal Rizky.
" Lhoh itu muka Mas Rizky kenapa memar gitu. "
" Ya ini hasil karya Yudha. Dia mengira aku sengaja menutupi alasan cuti kamu. Tapi kan aku juga bingung Fa mau ngejelasin nya gimana ke dia, waktu semalam tiba di bandara dia langsung bogem aku gini. "
" Ya Allah Mas Rizky maaf aku nggak sengaja untuk itu. aku nggak tahu kalau kediamanku buat Mas Rizky yang jadi kena imbasnya. Maaf ya Mas. "
" Sudahlah nggak apa kali Fa, Aku cuma mau kasih tahu kamu aja, tolong jangan buat Yudha gila lagi, kasihan dia Fa, sejak kecil hidupnya dipenuhi kesedihan, dia juga kurang kasih sayang dari keluarganya. "
" Apa?!, bagaimana bisa Mas, aku lihat Mas Yudha happy happy aja selama ini. Ya memang walau awal ketemu nyebelin banget sih, datar aja tuh muka sama cuek minta ampun. "
" Ya itu juga karna kamu Fa yang bisa buat Yudha berubah, dia menjadi lebih baik sekarang. Beda jauh dari Yudha yang dulu. Jadi tolong jangan jauhin Yudha, jangan tinggalin Yudha Fa. Kamu sumber kebahagiaan Yudha. "
Mereka bertiga masih asik berbincang bincang tanpa menghiraukan Yudha yang masih terus mencari keberadaan Safa.
.
.
.
Di tempat lain....
" Yudha kemana Ma ? Dari tadi belum kelihatan."
" Yudha pergi sejak semalam Pa, ada urusan penting yang harus diselesaikan katanya."
" Urusan apa penting apa.? Cabang di Jogja kan udah ke handle sama Darmawan. "
" Ya mungkin urusan yang lainnya Pah, sudahlah biarkan saja, Papah mau sarapan apa.? " mengalihkan pembicaraan.
" Mau Nasi sama soup ayam itu kayanya seger. "
Mama Yudha pun segera melayani Papa Yudha agar tidak terlalu banyak bertanya tentang putranya. Namun kata yang terucap kemudian menghentikan tangan Mama Yudha .
" Besok teman Papa sama anak istrinya mau main kesini Ma. "
" Oh ya? Mau apa ? "
" Rencananya mau Papa kenalkan sama Yudha, tapi Yudha nya pergi ya udah mau gimana lagi. Semoga aja Yudha cepat kembali. "
" Pa,, tapi kata Yudha sudah punya tambatan hati sendiri Pa. Gimana kalau kita ikuti mau Yudha dulu. "
" Ma.. Papa tahu yang terbaik buat Yudha. "
" Tapi Pa.... "
" Ma,, Papa mau sarapan. "
Mama Yudha hanya bisa menghela nafas berat, sangat susah untuk melawan kemauan suaminya yang keras kepala itu.
.
.