
Suasana di rumah Kakak dari Bapak Safa terlihat ramai dan suara musik gamelan juga campursari khas di hajatan jawa terdengar mengalun menggema menambah riuh.
Semua keluarga besar Pak Endro menyambut hangat kedatangan keluarga Safa yang memang keluarga paling jauh. Karna Budhe juga Pakdhe Safa yaitu Budhe Har kakak tertua Bapak safa dan Pakdhe Nono kakak nomer dua tinggal di Semarang dan terakhir Bapak safa yang pindah ke jogja ikut Ibu Safa untuk menempati Rumah peninggalan kakek buyut Safa.
Sang calon pengantin pria yang tak lain kakak sepupu Safa, dari kedatangan Safa hingga sekarang tak henti hentinya mengajak ngobrol dan bercanda dengan Safa. Hingga Bapak Safa menegur dan meminta Yono menghentikan candaannya pada Safa karna harus menyambut tamu yang mulai berdatangan. Dan akhirnya Safa bisa istirahat juga setelah sekian lama bercanda ria dengan kakaknya itu.
" Yon, kamu tu di cari dari tadi taunya malah guyonan disini, ayo temui dulu itu tamu tamunya, temenin Ibu mu sana. "
" Hehe iya Pak Lek ( bapak cilik/om ) habis aku kangen banget sama adek bayiku ini. " ucap Yono sambil mengacak kerudung Safa.
" Udah udah, nanti bisa kamu lanjut lagi, biar Safa juga istirahat dulu terus bisa bantu bantu lainnya. "
" Hehe iya Pak Lek, . nduk Mas tinggal dulu ya, nanti di lanjut lagi ngobrolnya. "
" Iya Mas, Safa juga laper mau makan, tadi belum sempet sarapan di rumah. "
" Maem dulu nduk, kamu pasti lelah, adekmu udah makan duluan tadi. " ucap Bapak Safa.
Setelah Yono pergi Safa segera makan makanan yang sudah tersedia di atas meja prasmanan yang ada di dapur itu.
.
.
Sedangkan di tempat lain terlihat seorang lelaki tampan yang tengah kebingungan karna sedari tadi ponselnya terus menerus berdering panggilan masuk. Mungkin sudah lima puluh panggilan tak terjawab karna sejak pagi dirinya tak ingin menjawab panggilan itu, karna ia paham betul apa yang akan ia dengar selain teriakan dan bentakan serta pertanyaan pertanyaan yang membuatnya sulit untuk menjawab.
Saat ponsel sudah tak berdering lagi Rizky bisa sedikit bernafas lega, namun tak berlangsung lama telfon kantor yang ada di mejanya berbunyi. Ia bingung untuk mengangkatnya atau tidak, tapi kalau tak ia angkat dan itu telfon dari klien bisa runyam urusannya nanti.
Rizky menghembuskan kasar nafasnya sebelum akhirnya ia menjawab telfon itu. Namun belum juga ia mengeluarkan suara Rizky buru buru menjauhkan gagang telfon itu dari telinganya sebelum kupingnya berdengung karna teriakan dari sambungan telfon itu.
" LO UDAH BOSEN IDUP.!!! KENAPA DARI TADI NGGAK ANGKAT PANGGILAN DARI GUE HAH...!! "
" So.. sory bro, gue tadi kagak tahu kalau lo telfon, soalnya hp gue silent. "
" Nggak usah banyak alesan lo,!! "
" Beneran boss, emang ada apa sih. "
" Gue juga nggak tahu soal dia nggak ngejawab pesan sama panggilan lo, cuma dia kemarin ijin cuti buat beberapa hari gitu."
" Dia kenapa?? apa Safa sakit ?? kenapa lo nggak kasih tahu gue dari kemarin sih.! "
" Ya sory bro gue lupa, dia ijin cuti karena katanya mau pulang kampung gitu ke semarang. "
" Hah,, seriusan lo, Dia sendiri apa sama siapa perginya.? "
" Sekeluarga bro, katanya nikahan. "
" APAA..!!! SIAPA YANG NIKAH.! , Lo kalau kasih informasi yang lengkap dong ky.!! "
" Gu gue juga nggak tahu bro., kenapa lo enggak nanya kakaknya aja, kan lo punya kontaknya. "
" Itu dia masalahnya, Heru dari kemarin juga nggak bisa di hubungin. Panggilannya Sibuk terus. "
" Ya coba nanti gue cari informasi buat elo oke, sekarang lo tenang dulu. Sampai kapan lo di Bandung. "
" Gue juga belum pasti ini., masih nunggu keputusan bokap. "
" Ya udah, gue tutup dulu ntar kalau udah dapet info tentang Safa gue langsung kabarin elo. "
" Cepet gue tunggu. "
Panggilan pun di akhiri.
Ahhhh slamet slamet, sekarang gue harus gimana coba. Ahh kasian lo bro, lagi pertama kali beneran cinta sama cewek malah kaya gini ceritanya.
.
.
.