Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Ikut pulang ke rumah


Mobil yang di kemudikan safa tak terasa hampir sampai di hotel milik yudha. Safa bisa sedikit bernafas lega karna mobil yang ia lajukan selamat sampai tujuan. Dilihatnya yudha yang ada di sampingnya tengah tertidur pulas, membuat safa sedikit tidak tega untuk membangunkannya, karna melihat wajah pucat yudha.


Ya sudahlah biar mas yudha tidur dulu, kasian juga kalau mau ngebangunin nanti bisa tambah pusing lagi dianya. Mending aku dengerin musik aja sambil nunggu mas yudha bangun. Gumam pelan safa.


Safa mendengarkan musik sambil asik berselancar di ponsel miliknya. Ia bermain ponsel dengan kepala, tangan, dan kaki yang tak bisa diam karna mengikuti alunan lagu yang terdengar.


Ahhh iya kabar mbak dhi sama mas rizky gimana ya, hihi aku penasaran sama mereka, coba aku wa mbak dhi aja.gumam safa sambil cekikikan membayangkan bagaimana rizky dan dhian yang tak bisa akur itu.


Safa mengetik kata demi kata di ponselnya dan segera dikirim ke nomor ponsel dhian.


Mbak uwes tekan ngendi? ( mbak udah sampai mana) @ Safa


Tak lama ada pesan balasan masuk segera safa membacanya.


Aaaaaaaaaaaaaaaa oleh gak tak cekek iki bosmu fa. ( aaaaaaaa boleh gak di cekik ini bosmu fa ) @ Dhian


Hehehe slow mbak,, kepiye to? cobo crito mbe aku. ( hehehe slow mbak,, gimana sih? coba crita sama aku). @ Safa


Aku tunggu neng omahmu, @ Dhian


Oke nanti tak wa kalau sudah sampai rumah, oke beib😚. @ Safa


Safa membaca pesan dari sahabatnya itu sampai tertawa geli. Dia bisa menebak jika nanti di rumah sahabatnya itu bakal heboh marah kesal karna ulah sahabat bosnya itu. Safa berfikir gimana kalau mereka berdua di dekatkan, pasti bakal seru.


Safa masih asik dengan ponsel dan sesekali ia ikut bersenandung mengikuti lagu, Hingga suara yudha mengalihkan perhatian safa dari ponsel ke arah yudha.


" Sampai mana ini ? maaf ya aku ketiduran. " ucap yudha dengan suara serak entah karna baru bangun tidur atau karna ia sedang dilanda flu.


" Udah sampai hotel mas, aku tadi mau bangunin enggak enak, mas yudha pules banget tidurnya. "


" Iya ini aku kayanya mau flu deh., Ya udah langsung pulang ke rumah kamu aja ayo ntar keburu malem lagi. "


Hahh ??? ini orang ngelindur apa ya??


Tangan safa tergerak untuk memeriksa kening yudha, dan ya memang sedikit panas demam sepertinya.


" Aku antar ke dokter aja apa mas. "


" Gak usah ntar beli obat di apotik aja. "


" Ya udah ayo aku antar mas yudha ke atas istirahat dulu terus aku beliin obat. "


Yudha menggelengkan kepala, ia tidak mau pulang ke hotel karna jujur ia ingin ikut pulang safa, merasakan kehangatan keluarga saat ia sedang sakit seperti yang tak pernah ia rasakan di keluarganya sendiri.


" Aku mau ikut kamu pulang aja, "


" Ehhhh jangan mas yudha,, " safa menggeleng cepat ia terkejut dengan permintaan yudha yang menurutnya aneh itu.


" Kenapa ? aku kan lagi sakit, disini juga aku sendirian, apa kamu tega dek ??? Aku,, " ucap yudha maksud hati ingin menghiba di depan safa namun ia tak bisa mengendalikan air mata yang tak tahu malu itu keluar dengan sendirinya karna mengingat jika saat ia sedang berada dengan keluarganya sendiri.


Safa tertegun saat melihat bosnya itu menitikan air mata, bukan air mata buaya yang di buat buat, seolah itu memang air mata dari perasaan yang di rasakannya. Baru Kali ini safa melihat kesedihan yang mendalam dari bosnya itu. Safa menjadi tidak tega jika menolaknya untuk tidak ikut pulang dengannya. Tapi jika ikut safa takut menghadapi bapaknya yang garang dan over protektif jika safa dekat dengan seorang cowok.


Duhhh gimana ini,, aku nggak tega kalau gini, tapi ntar gimana sama bapak, aduhhh aku dilema banget ini. Aaah aku minta bantuan mas heru aja,. Batin safa.


" Bentar ya mas duh aku bingung, mas yudha jangan sedih gitu dong, iya iya mas yudha boleh ikut tapi aku takut sama bapak. "


" Soal bapak kamu jangan kuatir nanti biar aku yang ngomong. "


" Ehhh mas yudha kan gak kenal bapak aku. "


" Ehh uhmm itu anu.. aku.. aku kenal sama heru.,, ya heru .. heru itu temen aku. " ucap yudha terbata bata gugup.


" Mas yudha kenal sama mas heru ??? " tanya safa dengan tatapan penuh selidik.


" Udah ayo kita langsung pulang aja, ntar aku jelasin sambil jalan. "


" Ya bentar aku mau kasih tau mas heru dulu. " ucap safa seraya ingin menelpon kakaknya menanyakan kebenarannya. Tapi segera di cegah yudha karna tak ingin ketahuan dulu siapa dia sebenarnya.


" Biar aku yang telfon aja kalau kamu gak percaya." Yudha segera menelpon heru karna ia juga sudah mempunyai nomer heru.


Di dering pertama sudah di jawab oleh seseorang dari sebrang.


" Uhm ini bro aku mau maen ke rumah bolehkan? aku pulang sama SAFA adek kamu yang kebetulan kerja sama aku. "


Heru yang mengerti maksud yudha tertawa kecil di sebrang telfon.


" Oke oke mas bro aku ngerti, nanti biar aku kasih tau bapak sama ibu. Soalnya safa kan belum tau mas bro ini sebenernya siapa,, dan paling takut kalau pulang sama cowok yang bapak gak kenal. "


" Iya ini sampai safa gak ngebolehin aku ikut dia. " yudha dan heru terkekeh sedangkan safa hanya menatap heran.


" Ya udah mas bro langsung sini aja, bapak sama ibuk pasti seneng kalau mas bro main sini. "


" Ya udah ini aku otw kesana . "


Panggilan di akhiri.


" See ,, kamu percaya kan ? "


" Ehm ,, tapi kita pulang jangan pake mobil. Dirumah gak ada garasi, ntar kehujanan mobilnya. "


" Ya udah ini mobilnya masukin ke tempatnya lagi terus kita pake motor aja. "


" Mending kita naik mobil on line aja mas, mas yudha lagi sakit gitu mau naik motor yang ada tambah sakit. "


" Aku gak suka naik online , Udah Kita pake motor aja. "


Huhh dasar keras kepala, ngatain orang kepala dia sendiri juga sama. Gerutu safa.


" Udah gak ngomel gitu. "


Mobil terparkir sempurna safa pergi ke atas apartemen yudha untuk mengambil jaket yang baru serta membawa pakaian kotor yudha ke laundry hotel. Setelah itu safa turun menghampiri yudha yang entah sedang bertelfon ria dengan siapa tapi terlihat sangat serius.


" Kamu yang depan ya dek, aku masih lemes gini. "


" Huhh ya sudah ayo. Ini jaketnya di pake dulu." Safa tiba tiba terdiam seperti ada yang kurang.


" Ehh mas yudha nggak mau ganti celana panjang dulu.? Ini udaranya cukup dingin lho mas. "


" Udah nggak usah kelamaan, ini udah mau jam 7 malem mau pulang jam berapa entar. "


Terserahlah, nggak guna juga debat.


" Kamu bisa kan pakai motor sport ? "


" Coba aja dulu., Nek ra iso geletake wae ngopo repot."


" Awwwww sakit mas,,, " ucap safa seraya mengelus hidungnya yang sakit karna di tarik yudha.


" Ayo ngomong lagi... Ngomong apa kamu tadi. "


" Iya iya, makanya belajar jawa biar pinter. " gerutu safa seraya menjauh kan diri dari yudha.


Awas kamu nanti dek.


Safa naik ke motor dan mengambil alih untuk membonceng yudha. Tubunya yang pendek membuat kakinya sedikit jinjit, dan itu membuat yudha terkekeh geli.


" Makanya tumbuh tuh ke atas nggak ke samping. "


" Ngeledek lagi aku tinggal. " ancam safa karna selalu saja diledek oleh yudha.


Yudha pun hanya tertawa mendengar ancaman yang tak berarti dari safa. Ia lekas naik membonceng di belakang safa dan memeluk safa dari belakang. Safa yang tiba tiba di peluk jadi tegang lagi tubuhnya. Jantungnya berpacu cepat dan nafasnya jadi tersendat.


" Mas lepas. " gumam safa.


" Aku lemes dek ntar takut kalau jatuh. " alasan yudha.


Safa menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar. Setelah itu safa melajukan motor sport yudha pelan pelan karna jujur ia takut jika tiba tiba yudha pingsan di jalan. Sepanjang jalan yudha memeluk erat safa dari belakang, dan meletakkan kepalanya di bahu safa. Sungguh pemandangan yang romantis bagi yang melihat.


.


.