Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Penghuni baru


Setelah kejadian tadi Boy memutuskan untuk pulang ke rumah karna percuma jika ingin kembali membuntuti Safa tidak bakal ketemu karna Boy sedari tadi sibuk dengan perasaan nya hingga tidak menyadari Safa sudah pergi jauh.


.


mobil yang dikendarai Boy telah memasuki gerbang rumah yang terlihat megah dan mewah. Boy memberhentikan mobil nya serampangan dan berlalu masuk begitu saja, dan penjaga rumah pun dengan sigap memarkirkan mobil majikan nya itu pada tempat nya karna memang sudah terbiasa seperti itu kelakuan anak lelaki dari tuan besar.


.


Boy memasuki rumah dengan senyum yang masih terpatri di wajah tampan nya seraya terus memandangi tangan nya yang tak henti hentinya mengusap plester yang membalut lukanya, hingga membuat sang Papa dan juga Kakak Boy yang tengah bercengkrama di ruang keluarga pun terheran heran melihat diri Boy yang tidak seperti biasa nya itu.


" Pah, tuh anak lelaki papah kenapa."


" Entahlah Papa sendiri tidak tahu. Tapi ini sedikit aneh sih."


" Bener banget tuh., .Heii Boy..." panggil wanita cantik yang tak lain kakak Boy.


Boy mendengar ada yang memanggil namanya pun mengedarkan pandangan nya hingga terhenti di sofa ruang keluarga. Boy pun menghampiri keluarga tercinta nya.


" Ada apa Kak.?"


" Kamu kenapa,? kesambet atau gimana.?"


" Enak aja kesambet, "


" Lhah terus kalau enggak kesambet terus kenapa tuh muka senyum senyum sendiri begitu, dan senyuman kamu tu beda dari biasa nya gitu."


" Apa an sih, aku biasa aja kali. Kakak salah lihat mungkin."


" Heii Boy... Papa juga melihatnya nak."timpal sang papa.


" Apa an sih kalian, udah ahh aku mau ke atas dulu mau ke kamar mandi gerah."


" Boy tangan kamu kenapa di plester gitu.? kamu terluka.?"tanya sang kakak saat melihat Boy memegang tangannya yang terbalut plester.


" Luka kecil kak, biasalah."


" Kamu ini kebiasaan banget deh suka berantem. Kapan sih kamu bisa berubah ."


" Ini berantemnya beda kak, karna aku nolong seseorang tadi."


" Tumben kamu peduli sama orang lain Boy."


" Udah ah Pa Boy mau mandi dulu."


Boy pergi ke kamar meninggalkan dua orang yang penuh dengan tanda tanya akan perubahan yang terjadi pada putra keluarga itu.


" Dasar aneh tuh anak. Biasa nya mukanya lurus lurus aja bahkan dingin nggak ada senyumnya ehh ini malah senyum senyum sendiri."


" Biarkan lah adikmu itu, sepertinya dia sedang senang. Ohh ya tadi apa yang mau kamu ceritakan sama Papa Sher.?"


" Ohh iya, Sherly punya kenalan temen baru Pa, Dia......." Sherly menceritakan segalanya tentang Safa sahabat baru yang sudah ia anggap seperti adiknya pada sang Papa.


" Papa jadi penasaran seperti apa sih gadis itu yang bisa membuat anak Papa tersayang ini begitu antusias menceritakannya."


" Kalau Sherly ajak dia pulang boleh kan Pa, aku udah anggap dia layaknya adik aku Pa. Dia anak nya baik banget.... "


" Boleh sayang, apapun yang buat kamu bahagia lakukanlah."


" Terimakasih Papa."ucap Sherly seraya memeluk sang Papa.


.


Sesampainya dirumah Safa menyambut kedatangan dua orang baru penghuni rumahnya. Tak berselang lama dari sesampainya Safa dirumah taksi online yang ia pesan tadi pun sampai.


.


Cici si bocah perempuan sangat antusias dan senang sekali saat sampai di depan rumah Safa, san Safa pun senang melihatnya.


" Selamat datang di rumah kami Ibu, adek kecil. hehe mari masuk."


Safa menuntun Cici masuk ke dalam rumah dan di ikuti oleh Ibu itu. Kedua Ibu anak itu sangat takjub saat memasuki rumah Safa yang menurutnya sangat mewah dan besar.


" Silahkan duduk dulu Ibu, Safa tinggal ke belakang sebentar."


Ibu dan Cici pun menganggukkan kepala mereka.


" Ibu,, ibu rumah kakak cantik besar sekali ya, sangat bagus juga." ucap Cici dengan mata penuh kekaguman.


" Iya nak, tapi kita ingat, kalau dirumah orang kita harus sopan, apalagi kita cuma sebentar disini."


Cici yang tadinya gembira pun berubah menjadi sedih saat mendengar penuturan sang Ibu. Tak lama Safa kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman dingin.


" Adek kecil haus kan.??? ini tante bawain kamu minuman dingin, uhhh seger bener ini."


Tak ada sautan dari anak kecil yang ceria tadi, hanya terdengar suara Ibunya yang mengucapkan terimakasih.


" Eneng malah repot repot begini, saya jadi enggak enak neng."


" Ehh cuma minum apa nya yang repot Bu., adek kecil kok diem aja,? tidak haus kah. Kenapa cemberut begitu hah?"ucap Safa lembut.


" Kata Ibu, kita tidak bisa lama lama dirumah kakak cantik."ucap nya sedih.


" Siapa bilang Cici tidak lama di rumah tante... Sekarang tante tanya, Cici mau kan tinggal sama tante, nemenin tante dirumah."


Safa pun tersenyum pada anak kecil itu, lalu beralih menatap sang Ibu yang sepertinya menahan kesedihan.


" Ibu,, ibu disini kan tidak punya saudara, .bagaimana kalau Ibu tinggal disini saja, "


" Tapi neng Ibu nggak mau ngerepotin eneng terus menerus."


" Uhmm begini saja, maaf tapi sebelumnya Bu....??"


" Asih neng nama saya."


" Iya Bu Asih kebetulan Saya sedang mencari asisten rumah tangga buat bantu bantu saya dirumah, kalau Bu Asih nggak keberatan gimana kalau Ibu bekerja disini, Bu Asih mau tidak.?"


" Alhamdulillah neng Ibu mau, mau sekali bekerja disini. Terimakasih eneng udah baik sekali mau menolong dan memberi kami tempat berteduh neng, saya tidak digaji pun saya mau neng, yang penting kami ada tempat untuk tinggal dan Cici tidak kelaparan."


" Alhamdulillah jika Ibu mau, saya juga jadi punya teman di rumah. Mari saya antar ke kamar Ibu sama Cici. Cici udah nggak sedih lagi kan.? "


" Tidak kakak cantikk."


Safa pun menuntun Cici di ikuti Bu Asih menuju kamar kosong yang ada di pojok dekat dapur yang memang sudah Yudha siapkan untuk kamar pembantu.


Walau di peruntukkan untuk asisten rumah tangga namun kamar itu sangat layak untuk di huni, kamar yang tidak terlalu luas namun isi di dalam nya sudah komplit.


Ada tempat tidur nyaman, lemari baju ukuran sedang, meja kursi kecil, kipas angin yang tergantung diatap dan kamar mandi dalam yang bersih.


" Ini kamar Bu Asih, kalau Cici mau tidur sendiri atau sama Ibu.?"


" Cici biasanya tidur sendiri Kak, ."


" Cici biar tidur sama Saya neng. ini kamar juga luas untuk ditinggali sendiri."


" Bagaimana Cici.??"


" Cici tidur sama Ibu aja kakak cantik."


" Baiklah kalau begitu. Tante tinggal dulu ya. Safa tinggal dulu Bu Asih."


" Silahkan neng."


.


Safa pergi ke kamarnya untuk membersihkan badan nya lalu tiduran di ranjang besarnya. Ia meraih ponselnya dan mengecek ada beberapa pesan masuk dari sang suami Yudha.


šŸ“„Misuakuā¤: Sayang sudah pulang belum.?


šŸ“„Misuakuā¤: Dek ???


šŸ“„Misuakuā¤: Sedang apa sih,?? kenapa nggak bales pesan Mas.... sibuk apa sampai nggak bisa balas,???


šŸ“„Misuakuā¤: Safa Aulia dimana kamu....,????


Safa tersenyum membaca semua pesan dari Yudha, dan saat hendak membalas pesan ponselnya berdering panggilan masuk dari suami. Safa segera mengangkatnya.


" Halo Mas Yudha suamiku tersayang..... Assalammu'allaikum.."


" Wa'allaikumsallam, dari mana aja sih dari tadi nggak balas pesan juga angkat telpon Aku humm."


" Hehe maaf Mas tadi hp aku tinggal di kamar sedangkan aku ada di bawah ada tamu."


" Tamu ?? tamu siapa.??"


" Jadi gini Mas, tadi aku...." Safa pun menceritakan semua apa yang terjadi tadi tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


" Kamu ini ya Dek, suka banget sih bikin Aku khawatir, Aku nggak mau lagi ya kalau kamu berantem gitu lagi, mau itu nolong orang sekalipun kamu nggak aku ijinin buat berantem!! kamu kan bisa minta pertolongan orang atau telfon polisi. Nggak harus kamu hadapi sendiri. Itu bahaya ngerti!!!"


" Iya Mas iya, aku minta maaf ya, lain kali aku nggak ulangi lagi oke."


" Baiklah, kali ini Aku maafin, sekarang sedang apa kamu."


" Ihhh nadanya kok masih jutek gitu sih... nggak ikhlas ya maafin nya."


" Aku udah ikhlas cuma dadaku masih sesak karna kamu."


" Iya deh iya... Aku lagi tiduran, Mas sendiri udah selesai belum kerjaan nya.?"


" Tinggal sedikit selesai, nanti Mas usahain pulang malamnya."


" Kalau lelah istirahat dulu Mas, nggak usah di paksain buat pulang."


" Iya, ya udah kalau gitu Mas lanjut lagi ya."


" Iya Mas, ,jangan lupa makan "


" Iya sayang. kamu juga.Mas tutup ya."


.


.


.