
Siang harinya setelah puas mengelilingi kampus barunya serta puas bercerita dengan kedua sahabat barunya Safa pamit pada Rere dan Dodi untuk pulang karena sudah dijemput, Safa tidak mengatakan dijemput oleh siapa karena Safa masih merahasiakan pernikahannya dari siapapun.
" Re, Dod, aku pamit pulang dulu ya soalnya udah dijemput. besok kita jumpa lagi ok."
" Oh oke, hati-hati di jalan ya."
" Kamu dijemput sama siapa Fa ?"
" Umm itu Mas aku, hehe iya Mas aku.( Mas Yudha maafkan istrimu ini ya..batin Safa)"
" Oh oke, kalau gitu hati-hati."
" Daaahh Rere , daaah Dodi."
" Daaahh Safa."
Setelah kepergian Safa Rere dan juga Dody memutuskan untuk juga pulang, Rere pulang ke rumah sedangkan Dodi pergi bekerja paruh waktu di sebuah Cafe. selagi mereka berdua berjalan menuju tempat parkir sepeda mereka berdua berbincang-bincang mengenai Safa.
" aku enggak menyangka Dod, ternyata masih ada orang sebaik Safa, Padahal kita baru aja Kenal tapi dia sudah menganggap kita sebagai sahabatnya."
" Iya Re, Safa emang beda dari yang lainnya. udah cantik, baik hati, mana pemberani lagi jago beladiri. aku jadi ngefans banget sama dia."
" Bener banget tuh, Safa cantiknya luar dalem pokoknya. Beruntung banget bisa kenal dan berteman sama dia. Oh iya lu mau langsung kerja Dod.?"
" Iya Re, lu hati hati di jalan ya, kita pisah disini."ucap Dodi seraya menaiki sepeda bututnya.
" Lu juga hati hati." jawab Rere yang juga menaiki sepedanya.
Mereka pun berpisah di gerbang kampus, dan saat hendak menyebrang jalan Rere seperti melihat seseorang yang ia kenal namun masih sedikit ragu karna seseorang itu terlihat masuk ke dalam mobil yang sepertinya terlihat sangat mahal.
Rere sampai melepas kacamatanya dengan cepat lalu membersihkannya agar bisa melihat dengan jelas orang itu, namun saat Rere kembali memasang kacamatanya mobil itu sudah melaju sangat jauh.
" Yahhh mobilnya kok udah pergi sih??? tapi itu tadi beneran dia bukan ya?? kalau bener dia berarti dia bohong dong sama gue dan Dodi. Ahh mending nanti biar gue tanya langsung ke orangnya kalau nggak gue cari tahu tentang dia." monolog Rere.
.
Sedangkan di dalam mobil.
" Dek Kenapa kamu minta mas jemput di luar kampus. kan kamu jadi jalan jauh."
" maaf Mas, aku cuma nggak mau jadi pusat perhatian kayak tadi pagi."
" kamu nggak usah hiraukan mereka sayang. Oh iya gimana hari ini di kampus baru kamu.?"
" Huffftt, kurang mengenakkan tadi Mas."
" Kenapa sayang?? Ada yang ganggu kamu atau berbuat yang nggak baik sama kamu bilang sama mas.! Biar mas kasih pelajaran mereka." tegas Yudha namun mengandung nada khawatir.
" Enggak kok Mas tenang aja,. cuma tadi waktu aku keliling kampus lihat-lihat nggak sengaja melihat ada salah satu mahasiswa lagi dikeroyok sama 3 orang mahasiswa lainnya. Yaudah aku yang nggak suka lihat ada penindasan kan di depan mataku aku langsung bantu mahasiswa itu. awalnya aku bilang baik-baik sama mereka, eh mereka nggak mau Katanya aku cewek nggak usah ikut campur urusan mereka. ya udah aku ladeni mereka satu lawan satu."
" APA!!! jadi kamu berantem sama mereka Dek.??! tapi kamu enggak papa kan? Kamu itu gimana sih cewek kok berantem sama cowok, kalau sampai kamu kenapa-napa gimana?! jangan diulangi lagi ya, Mas nggak mau sampai kamu kenapa-napa , kalau sampai kamu lecet sedikit pun Mas nggak akan tinggal diam Kamu mengerti.?!"
Safa pun mengangguk mengerti dan dia tidak mengatakan pada suaminya jika dirinya mendapat pukulan di punggungnya yang lumayan menyakitkan. Safa tidak ingin jika Yudha turun tangan memberi pelajaran pada orang-orang itu dan membuat Geger satu kampus.
.
Saat memasuki kawasan perumahan Elite di mana rumah Yudha berada, terdengar dering ponsel dari saku jas Yudha. Yudha mengambil ponselnya dan ia lihat siapa yang menghubunginya saat ini. saat Yudha melihat nama yang tertera di layar ponselnya wajahnya berubah malas dan enggan untuk menjawab panggilan itu.
Safa yang merasa heran dengan perubahan mimik wajah suaminya dan juga tidak lekas menjawab panggilan di handphone nya pun bertanya.
" Ada apa mas, Kenapa nggak diangkat teleponnya?"
Safa yang sudah mendengar jawaban dari Yudha pun hanya ber oh Ria. namun lagi lagi ponsel Yudha kembali berdering hingga beberapa kali. Safa pun menyuruh Yudha untuk segera mengangkatnya yang mungkin itu telepon penting. Yudha pun dengan malas menjawab panggilan itu.
" coba diangkat Mas siapa tahu itu penting."
" baiklah." ucap Yudha Seraya memasukkan mobilnya ke dalam garasi karena sudah sampai di rumahnya.
Safa pun pamit pada Yudha untuk masuk ke dalam rumah duluan meninggalkan Yudha yang tengah menerima panggilan.
" Halo" ucap Yudha singkat.
" Kapan kamu pulang ke rumah." ucap to the point dari sambungan telepon.
" besok"
" baiklah Papa tunggu kamu di rumah. dan papa harap kamu tidak lupa dengan janjimu."
" Hem." setelah berkata Yudha langsung mematikan teleponnya tanpa mendengar jawaban dari seberang.
Yudha segera masuk ke dalam rumah menyusul Safa yang sudah masuk lebih dulu setelah mematikan ponselnya. Yudha memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dahulu dan berganti pakaian santai sebelum menyusul Safa Yang sepertinya sudah berkutat di dapur.
saat Yudha keluar kamar setelah membersihkan diri dan berganti pakaian santai tercium aroma masakan yang selalu menggugah seleranya. Yudha buru-buru turun untuk menyusul Safa yang masih menyiapkan makan siang beruang makan.
Safa yang melihat Yudha sudah berada di dekatnya bersegera mengambilkan makan untuk suaminya.
" Terima kasih sayang." ucap Yudha sambil menerima piring yang berisi makanan dari tangan Safa istrinya tercinta.
" sama-sama suamiku." ucap Safa dengan senyum manisnya.
" eh eh, Coba ulangi lagi Mas belum denger Kamu ngomong apa."
" apaan sih Mas udah deh buruan makan nanti keburu dingin." ucap Safa malu.
" bilang dulu seperti tadi Kalau enggak mas nggak mau makan."
" Beneran enggak mau makan???"
Yudha pun hanya menjawabnya dengan anggukan kepala sedikit jual mahal pada istrinya. Safa pun hanya mengedikkan bahunya pura-pura cuek lihat tingkah suaminya.
" Okelah kalau begitu aku jadi nggak perlu lagi repot-repot masak buat nanti sampai besok besoknya lagi besoknya lagi dan seterusnya. karena percuma aku masak tapi yang dimasakin nggak mau makan. gimana Deal.???" ucap Safa Santai dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
Yudha yang mendengar ucapan Safa pun dibuat panik karena jika sampai itu terjadi ia akan kelaparan karena tidak ada yang mau memasakkan nya lagi dan Yudha hanya makan masakan dari tangan istrinya Safa. tidak boleh, itu tidak boleh terjadi. Yudha segera meraih kedua tangan Safa yang masih berdiri di sampingnya.
" Sayang jangan gitu dong. Kalau kamu enggak masak terus nanti suami kamu ini makan apa? kamu kan tahu sendiri jika suamimu ini tidak bisa makan makanan lain selain masakan kamu." ucap Yudha dengan sangat manja bergelayut di lengan kecil istrinya.
Safa yang melihat dan mendengar tingkah suaminya pun hanya bisa menahan tawa agar tidak pecah.
" makanya sekarang buruan makan sebelum Dedek merealisasikan ucapan Dedek" ucap Shafa dengan menyebut dirinya dengan sebutan Dedek seperti biasa Yudha memanggilnya.
Yudha pun buru-buru menyantap makanannya sebelum istrinya kembali merajuk dan dirinya lah yang akan merugi. Safa pun juga ikut menemani Yudha makan siang dan duduk bersama menyantap makan siangnya dengan diiringi senyuman dari keduanya.
setelah makan siang selesai Yudha dan Safa memutuskan untuk bersantai di taman belakang rumah sambil menikmati camilan ditemani dua cangkir teh. Safa terlihat sangat senang saat memberi makan ikan-ikan di kolam.
Yudha sangat bahagia melihat Safa istrinya tersenyum bahagia hanya karna hal kecil. Ia tidak ingin senyuman diwajah Safa hilang dengan sebab apapun yang bisa menghilangkannya. Walau nanti kedepannya akan sangat berat untuk dilalui namun Yudha sudah bertekad akan mempertahankan Safa dan pernikahannya ini apapun caranya. Ngomong ngomong soal pernikahan Yudha baru tersadar jika Safa belum menjadi miliknya seutuhnya meski mereka sudah menikah secara agama. Yudha terdiam berfikir keras, namun entah apa yang saat ini Yudha pikirkan hanya dirinya yang tahu.
.
.