
Bugh bugh...bugh bugh
Di pagi buta terdengar Suara samsak yang tengah di pukul dan ditendang dengan sangat keras dari dalam ruang gym yang ada di dalam rumah itu. Dan pelaku pemukulan itu yang tak lain seorang wanita cantik dengan tubuh mungil berpakaian seragam silat. Siapa lagi jika bukan Safa yang tengah berlatih untuk bertanding siang nanti melawan sang preman kampus Boy.
.
Di tengah fokus latihannya Safa di kagetkan oleh sebuah suara derap langkah kaki tanpa suara yang berasal dari belakang nya. Dengan sigap Safa membalikkan badan lalu menyerang seseorang itu tanpa melihat siapa yang ia serang karna Safa berlatih sambil menutup kedua matanya dengan kain. Karna itulah yang diajarkan Yono dahulu untuk melatih kepekaan Safa terhadap pergerakan yang ada disekitarnya.
.
Dan terjadilah pertarungan antara Safa dengan orang itu. Lawan Safa pun terlihat santai menerima setiap serangan yang Safa berikan. Orang itu hanya mengelak dan menangkis serangan bertubi tubi Safa tanpa menyerang balik Safa. Hingga puncaknya tanpa melawan orang itu menjatuhkan tubuh Safa serta mengunci pergerakannya.
nafas Safa terengah-engah mulutnya pun sedikit terbuka untuk menghirup nafas banyak-banyak melalui mulutnya dan juga hidungnya. orang yang melihat itu pun dengan cepat melesatkan bibirnya pada bibir Safa. Safa terkesiap, dan hendak berontak namun saat menghirup aroma khas seseorang yang sangat ia kenal pun mengurungkan niatnya dan mulai menikmati aktivitas itu.
Setelah sekian lama Yudha membuka penutup mata Safa. Keduanya bertatapan hangat tak lupa dengan senyuman.
" Mas Yudha sudah bangun?"
" Kalau Mas belum bangun mana mungkin bisa ada disini hem? Dan lagi, dimana mana suami bangun itu disambut dengan senyuman manis, kata kata manis, kecupan kecupan manis, . lhah ini malah diajak bertarung sama istri."ucap Yudha pura pura merajuk.
" Hehe, maaf Mas, kan aku juga nggak tahu kalau tadi Mas Yudha yang dateng, aku kira orang lain, habis Mas Yudha datang nggak pake suara sih."
" Ya kali ada orang lain masuk ke dalam rumah yang masih terkunci rapat Dek, kamu ini."
" Hehe iya ya, Mas...."
" Iya sayang."
" Badan Mas Yudha berat lhoh."
" Hah.? terus.?"
" Ihhhhh bangun dong, aku keberatan Mas, gerah juga, badanku bau keringat mau mandi."
" Nggak mau, masih betah gini. Aku juga belum mandi kok."
" Aaaaaa Ma....mmmpphh." Yudha kembali membungkam mulut Safa yang terus bicara dengan caranya.
" Mau ngomong lagi hem.???"
Safa dengan cepat menggelengkan kepalanya sebelum Yudha kembali beraksi. Yudha menyeringai dan tanpa aba aba ia bangkit langsung menggendong Safa membawanya keluar dari ruang gym.
" Lhoh lhoh lhoh, turunin aku Mas Yudha mau ngapain.??"
" Katanya mau mandi.? Ya sudah ayo mandi."
" Eee ehhh, turunin aku dulu Mas ,." Safa panik melihat gelagat suaminya yang seperti itu. Dan benar saja, Yudha membawa Safa masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.
" Mas Yudha mau ngapain. Mas aku ada kuliah pagi nanti aku telat."
" Mau mandilah. "
" Ya sudah aku keluar dulu kalau begitu."ucap cepat Safa.
" Mandi bareng."
" Tap..." Dan lagi lagi Safa terbungkam paksa.
.
Kini keduanya tengah menikmati sarapannya dengan hening. Namun mereka menampilkan wajah yang berbeda. Jika Safa menampilkan wajah cemberut kesal, berbeda dengan Yudha yang tersenyum sumringah.
" Dek.." lembut
" Hem." cuek
" Sayang." lebih lembut
" Hem." tambah cuek
" Nduk..." kikuk
" Dalem..." lugas
" Dek Safa Nduk Sayang,"tegas Yudha.
" Iya iya.. Ada apa Mas Yudha."ucapnya yang masih dengan mood kesal.
Yudha menghembuskan nafasnya berat. Ia tahu sebab merajuk dan kesalnya Safa istrinya karena ulahnya sendiri.
" Sayang udah dong merajuknya,."
" Salah siapa."
" Iya deh iya aku minta maaf walaupun nggak salah."
" Ehh apa maksudnya itu."
" Ya emang bener kan Mas nggak salah. Posisi Mas kan suami yang memang harus di layani sama istri, nah kan istri Mas kamu, berarti tugas istri apa hayo, kalau nggak nurut suami kan dosa."
" Iya iya Mas bener dan aku yang salah.," kok jadi gini sih, Mas Yudha memang bener bener pinter sekali membalik keadaan sehingga disini aku yang jadinya salah. Tapi memang bener sih dimana mana istri yang dosa kalau nggak nurut suami. batin Safa menggerutu.
" Kalau udah tahu salah harusnya ??"
" Iya aku minta maaf Mas "
" Minta maaf yang bener dong."
Safa pun dengan segera bangkit dari kursinya dan berdiri disamping Yudha, meraih tangan kanan Yudha lalu mencium punggung tangannya tiga kali.
" Nah itu yang bener.," senyum menang Yudha. Namun tidak dengan Safa yang masih berdiri mematung seraya menundukkan kepalanya dengan wajah yang bersedih.Yudha yang melihatnya pun bertanya dengan cepat takut ia yang tidak sengaja membuatnya bersedih.
" Kenapa hem.? Aku ada salah? kalau iya Aku minta maaf ya." ucap Yudha lembut penuh kasih.
" Mas Yudha nggak salah kok. Aku cuma teringat sama Dona aja, setiap aku marah sama Dona, dia selalu meminta maaf seperti yang aku lakukan tadi, nggak cuma Dona sama Aku, semua yang dirumah pun selalu melakukan hal yang sama seperti itu. hiks aku kangen rumah Mas. hiks.."
Yudha memeluk erat Safa, memberi ketenangan untuk iatrimya itu.
" Sayang, kalau kamu kangen kan bisa lewat vcall. Mas minta maaf karna belum bisa mengajak kamu untuk menengok rumah jogja."
" Iya Mas aku tahu kok. Enggak apa apa."
" Udah dong nangisnya, Mas jadi ikut sedih kalau kamu sedih begini."
cup.
cup cup cup cup
Yudha menghujani Safa dengan kecupan ringan meluapkan rasa cinta dan kasih sayangnya yang membludak. Safa yang tadinya bersedih karna teringat dengan keluarganya kini pun menjadi tersenyum kembali karna ulah sang suami.
.
.
Siang harinya dikampus tengah di gemparkan dengan berita hot terbaru dan terkini, dan baru kali ini ada seorang yang berani menantang duel seorang Boy William sang penguasa kampus.
*Gila ini berita hot banget.
Ada apa sih ?!
Kalian pada tahu nggak, ada yang berani nantangin Boy ganteng kita.
Iya kah,? berani banget tuh orang.
Bener banget tuh, cari mati tuh orang. nggak tahu apa kalau Boy jago Muay Thai.
Emang siapa sih yang berani nantangin duel si Boy.
Nggak tahu juga, cuma denger denger itu anak baru di fakultas Ekonomi.
Hah?! anak fakultas ekonomi setahu gue itu anak yang ikut pertukaran mahasiswa dan itu pun cewek, mana anaknya berhijab lagi. mana mungkinlah nantangin duel si Boy*.
Terdengar kasak kusuk di seluruh penjuru kampus yang membicarakan tentang duel siang ini antara Boy dengan anak baru di kampus itu. Hingga membuat salah seorang mahasiswi tercantik dikampus itu mengklaim seorang Boy Williem adalah miliknya.
*Hei kalian sedang bicarain apa sih. Kenapa ini rame rame gini.
Eh Cecil, ii..ini si Boy.
Napa sama cowok gue. Berani kalian bicarain cowok gue*. ucapnya angkuh.
*Kamu nggak denger kabar hari ini cill ?? Boy kan mau tanding duel sama anak baru fakultas ekonomi.
Siapa yang berani nantangin cowok gue duel. anak baru yang mana.?
Itu mahasiswi pertukaran, temennya si duo cupu.
Cari mati itu anak., Boy tanding dimana,?
Di lapangan basket dalam gedung*.
Dengan angkuhnya Cecil pergi bersama dua teman yang sudah seperti pengikut, meninggalkan mahasiswa yang mengatai Cellin di belakangnya.
.
Diruang ganti kini Safa tengah bersiap siap berganti baju dengan seragam silatnya dengan ditemani dua sahabatnya.
" Safa kamu yakin mau duel sama Boy,"
" Sangat yakin Re."
" Tapi Fa, Boy itu bukan lawan yang seimbang sama kamu. Dia tuh jago Muay Thai. Kita nggak mau sampai terjadi apa apa sama kamu nanti."
" Udah kalian tenang aja Re, Do. Menang kalah kita serahin pada yang diatas, kita manusia hanya bisa berusaha yang terbaik. Jadi...Doakan sahabat kalian ini oke."
" Fa kita minta maaf ya, .karena kita udah nyusahin kamu disini . padahal niatnya kamu mau nuntut ilmu tapi malah begini jadinya. Kita sahabat yang nggak baik buat kamu Fa."
" Hei Re...!! kamu ngomong apa sih. Jangan ngomong kayak gitu ahh ,. aku ikhlas ngelakuin ini untuk sahabatku. Juga mungkin orang orang yang di luar sana yang bernasib sama seperti kalian yang udah ditindas sama Boy tapi nggak berani buat apa apa. Udah kalian tenang aja dan doakan aku ya."
" Iya Fa, makasih ya Fa untuk semuanya. Boleh nggak aku peluk kamu."ucap Rere ragu.
Safa pun dengan senang hati merentangkan kedua tangannya agar Rere memeluknya. Setelah berbincang cukup lama kini tiba saat Safa memasuki lapangan yang mana membuat semua mata yang awalnya menatap Boy kini tertuju menatap dirinya karena pakaian yang dikenakannya. Banyak asumsi yang keluar dari mulut para mahasiswa.
" Datang juga lo cewek. "
" Kenapa aku harus nggak datang.? Aku akan selalu nepati janjiku. Dan sebaliknya kamu juga harus tepati janji kamu untuk tidak semena mena lagi. Gimana,? sanggup nggak."
" Wahh Boss dia ngeremehin lo Boss."
" Oke, kita lihat aja nanti. Juga sebaliknya lo jangan lupa dengan perjanjian kemarin."ucap Boy dengan seringainya.
Suara sorak sorai bergemuruh menggema di dalam ruang gedung itu ketika Safa dan Boy mulai berhadapan saling memberi hormat sebelum memulai.
.
.
.