
Malam dini hari pukul satu lewat sepuluh Yudha baru saja sampai di rumahnya setelah menempuh perjalanan panjang yang cukup memakan waktu berjam jam lama nya.
.
Yudha turun dari mobil tanpa menunggu Jo membukakan pintu mobil untuknya keluar.
" Terimakasih Jo untuk hari ini, kamu langsung pulang istirahat saja."
" Sama sama Pak Yudha itu memang sudah tugas saya, kalau begitu saya pamit undur diri." Setelah menjawab Jo masuk ke dalam mobil milik nya sendiri setelah memarkirkan mobil milik Yudha ke dalam garasi.
Yudha masuk ke dalam rumah tanpa suara dan langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Ceklek
Yudha membuka pintu kamar perlahan takut membangunkan istri tercintanya. Yudha langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah meletakkan tas dan jas yang tadi ia tenteng, juga melepas sepatu yang terpasang di kedua kakinya.
.
Safa yang mendengar suara gemericik air di kamar mandi pun terbangun. Kedua matanya mencoba mengedarkan pandangannya dan terhenti pada tas yang tergeletak di atas sofa.
" Itu kan tas kerja Mas Yudha, apa dia udah pulang? jam berapa ini." Safa melirik jam digital yang ada di atas nakas menunjukkan waktu dini hari.
.
Ia bergegas bangun dan menyiapkan baju tidur untuk Yudha sebelum ia keluar kamar dan turun ke dapur untuk membuatkan minuman teh manis hangat untuk sang suami.
.
Yudha yang selesai mandi langsung menuju ruang ganti yang ternyata sudah tersedia baju tidur miliknya. Senyum mengembang tercipta di wajah Yudha, ia tahu pasti siapa yang telah menyiapkan baju untuknya siapa lagi jika bukan Safa istri tercinta nya.
.
Keluar dari ruang ganti pandangan Yudha mengedar ke seluruh sudut kamar namun tidak menemukan keberadaan sosok istrinya. Yudha pun melangkahkan kakinya menuju dapur dimana bisa ia pastikan jika istrinya itu pasti ada disana.
.
Dengan langkah pelan dan tanpa suara Yudha mendekat ke Safa yang tengah membelakanginya.
Greb
Safa terjingkat ketika tiba tiba ada yang memeluknya dari belakang. Dan Safa hafal itu ulah suaminya yang tak lain Yudha.
" GUSTI!!!! hihhh Mas Yudha kebiasaan banget to ngagetin aku. Untung ini air panas nggak tumpah,."sungut Safa.
" Hehe Maaf Dek... habis Mas kangen banget sama kamu udah seharian nggak lihat kamu." pelukan Yudha semakin erat.
" Hiilihh baru juga sehari Mas."
" Sehari buat aku udah seperti setahun sayang."
" Aku akan mati."
Plakkk
Satu pukulan mendarat di lengan kokoh Yudha dari Safa.
" Ihhh kalau ngomong suka ngawur aja lhoh., udah ini di minum dulu teh nya."kesal Safa seraya memberikan secangkir teh manis hangat pada Yudha.
" Tapi itu kenyataan nya Dek!" ucap Yudha seraya menerima cangkir teh itu lalu menyeruputnya pelan pelan hingga tandas.
" Kalau ngomong jangan asal ngejiplak aja Mas, apa lagi bawa bawa kematian ,. ngeri ahh."
Yudha yang selesai minum langsung menaruh gelas kotor di tempat pencucian dan langsung mencucinya hingga bersih dan meletakkan pada tempat nya.
.
Lalu ia beralih mendekat ke Safa yang berdiri tak jauh darinya. Mendekapnya erat dan menatap dalam mata Safa.
" Aku serius dengan setiap kata yang keluar dari mulutku Dek, Aku benar benar akan gila jika kamu tak ada disisi ku bahkan jika sampai kamu pergi dari sisiku aku bisa mati Dek., Berjanjilah untuk tetap selalu ada di sisiku sayang apa pun yang terjadi."
Safa tersenyum mendengar ucapan yang begitu dalam dari Yudha. Safa pun membalas pelukan Yudha dan juga menatap dalam Yudha.
" Mas Yudha,,, maaf aku tidak bisa menjanjikan untuk selalu ada disisi kamu, " Safa menjeda ucapan nya, Yudha pun tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut Safa, tangan nya yang memeluk erat Safa pelan pelan memgendur dan terlepas, namun Safa tetap memeluk erat Yudha sebelum menyelesaikan ucapan nya.
" Aku tidak bisa menjanjikan untuk selalu bisa atau ada di sisi kamu, karna apa?? karna Jodoh, rezeki dan maut sudah ada yang mengatur, itu semua sudah di takdirkan, dan kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan dan berusaha yang terbaik untuk menjalani takdir itu. Namun satu yang bisa aku janjikan dan bahkan aku pastikan yaitu ini..
( Safa meraih satu tangan Yudha dan meletakkannya di dadanya yang selalu berdetak dengan cepat saat bersama dengan Yudha. Dan Yudha bisa merasakan detak jantung Safa yang berdebar kuat.)
" Di dalam sini hanya ada satu nama, dan hanya ada nama Arya Yudha Pramana di setiap detak dan denyut di jantung dan hati aku ini Mas. Dan itu tak akan terganti, tak akan pernah terganti dengan nama lain sampai jantung dan hati ini tak lagi berdetak dan berdenyut. Hingga hembusan nafas terakhirku akan selalu ada namamu Mas, bahkan nama itu akan selalu ada sampai kita bertemu kembali di akhirat kelak."
Yudha tak terasa meneteskan air matanya, air mata bahagia mendengar ucapan Safa , istri tercintanya. Yudha kembali memeluk Safa erat bahkan sangat erat.
" Terimakasih Sayang. terimakasih atas ketulusan kamu mencintai aku dan menyayangi aku. Terimakasih, aku pun sama , hanya ada satu nama di hidupku yaitu Safa Aulia, Aku sangat mencintaimu sayang, I love you more and love you so much Dedek, "
" Me to Mas Yudha.,"
Yudha melepas pelukan nya dan tanpa berlama lama Yudha mengendong tubuh Safa lalu segera membawanya munuju kamar untuk melepas dan menyalurkan segala rasa yang ada di hati.
Semoga kamu cepat hadir dan tumbu dalam perut Bunda sayang, Ayah sangat berharap banyak padamu...buah cinta yang selalu Ayah tunggu kehadirannya.
.
.
.
.