
" gimana tangan kamu ? apa masih sakit ?" tanya yudha khawatir.
" masih mas kaya nya terkilir ini, aduhh nyeri banget."ucap safa merintih kesakitan.
" kita ke dokter aja ayo "ajak yudha sambil memapah safa menuju parkiran motornya setelah keluar dari hotel.
" nggak usah mas ntar pulang biar di urut ibu aja."
" ya udah gue anter lo pulang aja."
" ehh nggak usah aku pulang bareng mas heru kok ."
" lo di jemput cowok lo."ucap yudha lirih, hatinya sesak.
" cihh cowok apa an sih, ngawur aja kalau ngomong."ucap safa seraya tersenyum tipis mendengar kata yudha yang mengiranya ia berpacaran dengan kakaknya sendiri.
" lhoh heru kan cowok kamu ."
" sembarangan mas heru. . ."
thin thin
Belum safa selesai bicara suara klakson motor menghentikan ucapannya. Safa bergegas berpamitan pada yudha meninggalkan yudha yang mematung dengan penuh tanya karna ucapan safa yang tidak selesai.
" itu mas heru, ya udah mas yudha saya pamit ya .maaf sudah membuat malu mas yudha di hadapan klien nya mas yudha."
" udah gak usah lo pikirin udah sana balik."
Safa pun bergegas menghampiri kkak nya dan melaju pulang ke rumahnya. Sesampai dirumah safa segera menghampiri ibunya karena sedari tadi ia sudah menahan sakit.
" assalammu'allaikum bu," salam safa ketika masuk ke dalam rumah.
" wa'allaikumsallam nduk dah pulang ?" tanya ibu safa yang mendengar sura safa, akan tetapi seketika raut muka ibu safa mendadak berubah cemas karna melihat safa yang kesakitan.
" ono opo kok muka mu kaya kesakitan gitu.?" tanya ibu safa lagi.
" ini bu aku jatuh tadi terus tanganku kekilir kaya nya. " jelas safa dengan wajah yang masih kesakitan.
" sini ibu urut, kok bisa sampe jatuh tu gimana ceritanya to nduk , wong udah gede kok yo ora ati ati."
" enggeh bu , " jawab safa singkat karna ia tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi padanya.
Ke esokan harinya safa tengah bersiap untuk berangkat kerja. Tangan kanan yang biasa bergerak untuk aktifitas kini tak bisa ia gerakkan karena masih sakit dan kini tangan kanannya pun harus ditopang karena biar tidak sakit apabila terus digerakkan.
" bu safa kerja dulu nggeh, udah mau telat." ucap safa pada ibunya.
" lhohh ora libur dulu to nduk. mas mu uwes mangkat ki." terang ibu.
" mboten nopo kok, safa naik bis mawon."
" yowes ati ati yo."
Setelah safa berpamitan dengan ibunya ia berjalan keluar dari dusun nya dan menuju jalan raya guna menunggu bis yang biasa melintas. Jarak dari rumah safa hingga ke jalan raya cukup lumayan jauh tapi tidak menyurutkan niat safa berangkat kerja.
Saat sudah berada dalam bis ponsel safa berdering dan satu panggilan masuk dari yudha bosnya.
" hallo assalammu'allaikum mas yudha,"
" wa'allaikum sallam fa, lo hari ini gue kasih cuti aja kalau masih sakit."
" aku udah perjalanan menuju hotel ini mas. tangan ku nggak apa apa kok udah agak mendingan." terang safa.
" lo berangkat dianter cowok lo lagi."
" cowok apa an sih ngawur deh. aku naek bis ini bentar lagi juga nyampe."
tutt tutt tutt
panggilan terputus.
" issshhh nyebelin dasar aneh, tapi kenpa perasaan aku nyaman banget ya sama mas yudha. apa lagi saat dia bilang kalau aku pacarnya. berasa mimpi aku." gumam safa sambil senyum senyum sendiri.
Sesaat safa turun dari bis dan hendak menyebrang jalan raya ia di kaget kan tangan kirinya yang tengah digandeng dengan sosok lelaki tinggi dan body nan kekar juga wajah yang tampan serta aroma parfum yang sangat maskulin yang sudah berdiri di sampingnya.
" biasa aja kali gak usah pake teriak."ucap yudha santai tapi tetap fokus melihat jalan dengan tangan yang masih menggandeng safa untuk menyebrang jalan raya yang cukup ramai pagi itu.
duhh napa jantungku enggak karuan gini sih, napa jadi sulit nafas gini, duhh lama lama bisa ko' id aku."batin safa yang perasaannya tak karuan karna tangannya di genggam erat oleh yudha.
aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku
beri sedikit waktu biar cinta datang karna telah terbiasa
sudikah dirimu untuk kenali aku dulu
cintaku tanpa sambutmu bagai panas tanpa hujan, aku gak peduli kamu dengan cowok kamu fa, tapi aku pastikan kalau aku tulus suka sama kamu fa. aku janji gak akan buat kamu sedih fa." batin yudha dengan senyum yang terukir di wajahnya.
Saat sudah berada didepan hotel yudha masih tetap menggandeng tangan safa. Safa yang menyadari tangannya masih digenggam pun mencoba melepasnya tapi alangkah percuma karna genggaman yudha yang sangat erat.
" mas ini udah nyebrang dan udah sampai hotel lho."ujar safa mencoba menyadarkan yudha. Tapi safa tidak tahu kalau yudha memang sengaja terus menggandengnya.
" trus napa kalau udah." ucap yudha cuek.
" tanganku bisa dilepasin nggak mas, udah kaya truk aja gandengan terus."ucap safa gugup.
" gak bisa "
" aku bisa pingsan mas kalau gini trus." ucap safa seketika menghentikan langkah yudha dan menoleh ke safa.
" apa hubungannya gandengan tangan sama pingsan ?! mau nglucu kamu."seru yudha dengan seringai diwajahnya.
" ya adalah mas, mas yudha gak bakal ngerti, udah ahh aku bisa jalan sendiri. kerjaan aku udah numpuk di meja." ucap safa beralasan dan cepat cepat ia melepaskan tangannya dan segera berlari kecil meninggalkan yudha.
Yudha tersenyum geli melihat safa yang salah tingkah. Dia segera berjalan mengikuti langkah safa menuju ruangan kantornya.
" fa tunggu jangan lari ntar jatuh,"seru yudha setengah berteriak.
aku mending jatuh dari pada harus pingsan gara gara serangan jantung.gumam safa pelan dan terus berlari kecil dan naas nya kakinya sdikit terpeleset karna lantai licin habis di pel.
***brukhh
" allahu akbar** awww ," rintih safa yang terjatuh menyamping.
" ya allah* sakit banget aduhh, ibuuuuuu,"
" kamu gak pa pa fa ,? kamu sih dibilangin batu banget suruh jangan lari malah tambah kenceng ." omel yudha setengah khawatir.
" sakit mas, hiks hiks," safa terisak merasakan sakit tangan juga badannya yang terbentur keras ke lantai.
Yudha segera menggendong safa dan membawa ke ruangannya dan membaringkannya di sofa. Yudha sangat khawatir karena safa tidak berhenti menangis. Yudha segera menghubungi rizky untuk menelpon dokter untuk segera memeriksa safa.
" hallo riz, tolong cepet hubungi dokter suruh ke kantor hotel sekarang urgent."ucap yudha begitu telfon diangkat.
" oke gue langsung telfon dokter. emang siapa yang sakit bro ?" tanya rizky.
" si safa tadi jatuh kepeleset, udah jangan banyak tanya cepetan." yudha menutup telfonnya.
" udah dong fa jangan nangis terus, bentar lagi dokter dateng." ucap yudha mencoba menenangkan safa dan mengusap air mata safa yang jatuh membasahi pipi.
Tak berapa lama dokter pun datang dan langsung memeriksa safa bersamaan dengan rizky datang. Rizky terkesiap melihat yudha yang begitu perhatian pada safa membuat rizky tersenyum di melihatnya.
" ini tidak apa apa hanya cidera biasa cukup nanti olesi obat buat memarnya dan istirahat jangan banyak gerak dulu. ini saya resepkan obat nanti ditebus di apotek ya."jelas dokter pada semuanya.
" terimakasih dok," ucap safa yudha dan rizky serempak.
" baiklah saya permisi dulu." pamit dokter itu.
" mari saya anter dok sekalian ke apotek." ucap rizky yang akan menebus obat untuk safa.
Sedangkan yudha masih setia duduk di samping safa dan sibuk memperhatikan safa.
" makasih ya mas yudha udah merepotkan." ucap safa.
" iya sama sama, lain kali kalau dibilangi tuh jangan batu bisa ." tegas yudha yang diangguki oleh safa.