
Setelah mengantar Safa ke kampus Yudha kini sudah berada di rumah yang besar nan mewah milik keluarga Permana. Begitu mobil memasuki gerbang besar, dan mobil berhenti tepat di depan pintu utama rumah itu Yudha sudah disambut oleh para pelayan rumah besar itu, Yudha melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah itu dengan wajah datar nan dingin, berbeda sekali jika saat bersama Safa istrinya juga keluarga Safa.
" Papa dimana Pak Kadir."tanya Yudha tanpa ekspresi pada kepala pelayan rumah itu.
" Tuan besar, Beliau ada di ruang baca Tuan muda."jawab lelaki paruh baya itu.
Yudha langsung bergegas melangkah menuju tempat yang disebutkan oleh kepala pelayan tadi. Tepat saat sampai di depan pintu ruang baca dan sebelum Yudha menggapai handle pintu suara seseorang menghentikan gerak tangannya.
" Yudha?? kamu pulang nak."ucap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang tak muda lagi.
Yudha membalikkan badannya dan menghampiri wanita paruh baya itu lalu mencium punggung tangannya. wanita paruh baya itu sungguh sangat bahagia saat anak semata wayangnya mau mencium tangannya walau anaknya itu terlihat sangat dingin.
" Mama apa kabar?"
" Kabar mama baik sayang. Kamu sendiri bagaimana? Sudah sarapan belum."
" Yudha baik. Yudha juga sudah makan. Yudha mau nemuin Papa dulu ma."
" Ya sudah sana temuin papa dulu."
Yudha pun permisi dan langsung masuk ke dalam ruang baca menemui papanya.
Yudha mengetuk pintu dahulu sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk.
" Kamu sudah datang Yudha."ucap Papa Yudha saat melihat putranya masuk.
" Langsung ke intinya saja Pa. Yudha harus cepat pergi ke kantor banyak kerjaan."sergah Yudha.
" Hahaha kamu memang tidak sabaran sekali, kenapa harus buru buru, tapi Papa suka kamu yang pekerja keras. Okelah kalau begitu. Nanti malam pukul tujuh di Resto langganan Papa. Jangan sampai telat dan jangan sampai nggak datang, ingat janji kamu dulu."
" Sudah?? Yudha permisi." ucap Yudha tanpa basa basi langsung pergi meninggalkan Papanya yang masih terpaku dengan sikap anak semata wayangnya itu terhadapnya.
Yudha keluar dari ruang baca dan langsung pergi menemui sang Mama yang tengah berada di taman depan rumah sibuk mengurusi tanaman bunga miliknya.
" Ma..."
" Iya sayang, sudah bertemu Papa."
" Sudah, Yudha mau pamit berangkat ke kantor dulu."
" Kenapa buru buru nak. apa kamu tidak mau ngobrol sama mama dulu? sudah lama kamu tidak pulang, sekali pulang hanya sebentar saja. Mama sangat merindukan kamu." keluh Mama Yudha.
" Maaf mama, Yudha masih sibuk, kapan-kapan Yudha akan menginap Tapi tidak untuk sekarang."
" Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan ya sayang."
" Iya Ma, ya sudah Yudha pamit dulu Assalamualaikum." Yudha kembali mencium tangan mamanya sebelum dia beranjak pergi meninggalkan rumah besar.
Mama Yudha menatap kepergian Putra semata wayangnya dengan wajah bahagia karena anaknya itu sikapnya sudah tidak sedingin dulu padanya dan mau banyak berbicara padanya.
Alhamdulillah anakku sudah berubah sikapnya menjadi lebih hangat, tetaplah hangat seperti itu nak, dan jangan pernah berubah lagi. Mama sangat bahagia sekali.
.
Di kampus...
Safa yang baru saja selesai kelas keluar dari kelas dan melangkahkan kakinya bersama dua sahabatnya hendak keluar gedung fakultas, namun langkahnya terhenti saat suara seseorang yang sangat dikenalnya memanggil namanya.
" Safa!!!" teriaknya.
Safa, Rere, dan Dodi pun menoleh ke arah sumber suara, senyumnya terbit kala melihat orang yang memanggilnya, namun ia juga sedikit heran melihat orang itu berada di kampusnya.
" Jadi ini beneran kamu Fa, ya ampun aku nggak nyangka bisa ketemu kamu disini, ihh seneng banget aku."ucapnya sambil cipika cipiki dengan Safa membuat Rere dan Dodi bertanya tanya dalam hati kenapa Safa bisa seakrab itu dengan perempuan cantik anak sulung dari pemilik yayasan kampus itu.
" Hehe iya mbak, ini kampus yang aku bilang waktu itu."
" Oh gitu kebetulan banget. Kamu udah mau pulang?"
" Oh ini aku habis dari ambil berkas di kantor kampus. Kamu buru buru nggak? kalau kita ke cafe dulu gimana? sekalian makan siang kan udah waktunya juga, "
" Uhm boleh tapi aku minta ijin dulu ya mbak takutnya nanti dicariin orang rumah."
" Oke."
Safa pun segera merogoh ponselnya yang ada di tas dan segera menghubungi suaminya. Baru dering pertama sudah di angkat oleh Yudha.
" Halo assalamualaikum Mas,"
" waalaikumsalam sayang, udah pulang? aku jemput sekarang ya."
" aku udah pulang tapi aku mau minta izin buat pergi sama temen aku boleh nggak?"
" Teman kamu?? siapa cewek apa cowok?? terus pergi ke mana?? Sampai jam berapa?? tujuannya apa?"
" panjang banget pertanyaannya hehehe,"
" Jawab aja sayang!!"
" ini teman aku cewek, cuma mau pergi ke cafe buat ngobrol sebentar sama sekalian makan siang boleh? cuma itu kok nggak kemana-mana lagi, nggak lama juga mungkin jam satu apa lebih sedikit udah pulang."
" terus aku makan siang sendiri dong sekarang, tega kamu.?"
" kan cuma sekali ini cuma hari ini aja Mas. boleh nggak?"
" Huffff,,,, Ya udah deh boleh, tapi nanti pulang aku jemput aja."
" emang Mas Yudha nggak sibuk di kantor?"
" Enggak kok, Ya udah sana boleh, have fun sayang."
" Terima kasih Mas ku sayang."
di seberang sana tepatnya di dalam kantor Yuda terlihat tersenyum merekah karena mendengar ucapan sayang dari Safa.
" bagaimana? boleh nggak?"
" Oke Ayo berangkat. Oh iya temen-temen aku pulang duluan ya, Sampai jumpa besok lagi."pamitnya pada Rere dan Dodi.
……………
di cafe Safa dan Sherly terlihat asyik ngobrol sambil menikmati hidangan yang ada di hadapan masing-masing.
" Oh iya Safa, menikah itu enak gak sih?"
" hahaha Mbak Sherly lucu deh pertanyaannya."
" Ih aku serius Safa,"
" ya Itu tergantung yang ngejalanin kali Mbak. juga kita menikah berlandaskan apa dulu, cinta dan kasih sayang kah, atau materi kah, atau mungkin juga karena perjodohan. tapi kalau bagi aku pernikahan tanpa dilandasi cinta dan kasih sayang, pernikahan tidak akan tahan lama juga akan terasa hampa dan sangat menyiksa. kalau masalah materi masih bisa kita cari asal kita berusaha. "
" Tapi kalau menikah karna perjodohan gimana?"
" Yaaa…… tergantung yang ngejalaninnya sih Mbak,hehe "
" Gimana pendapat kamu, kalau seandainya kamu dijodohkan sama orang yang sama sekali enggak kamu kenal, tapi orang tua kamu sangat kenal dekat dengan mereka."
" Hehe aku juga nggak tahu Mbak. Tapi mungkin bisa saling mengenal dulu, saling memahami karakter juga menyelami hati masing masing mungkin. Emang kenapa sih Mbak.?"
" Jadi gini.... sebenarnya aku.."
.
.