
Sore ini terasa ada yang berbeda dengan Yudha dan Safa merasakan itu. Dari sepulang menjemput Safa di cafe hingga sore ini Yudha selalu saja menempel dengan Safa bak perangko, disaat Safa memasak hingga selesai memasak Yudha selalu memeluk Safa dari belakang. Jika Safa meminta untuk melepas pelukannya Yudha malah semakin mengeratkan pelukannya seolah jika sampai terlepas Safa sang istri tercinta akan pergi dari sisinya.
.
Berbagai macam kata memelas pun tak berefek untuk melepas pelukan Yudha. Safa pun pasrah dengan perlakuan suaminya itu yang menurutnya sangatlah aneh. Entah perasaan istri yang begitu kuat hingga seakan merasa jika sang suami sedang membawa beban pikiran yang mungkin sangat berat untuknya tanggung sendiri, namun setiap kali Safa bertanya Yudha hanya akan menjawab " tidak ada apa apa sayang, biarkanlah tetap seperti ini tolong. Aku mohon, Aku hanya ingin memeluk kamu istriku." Itu pun dengan suara berat yang sangat terasa di hati Safa hingga membuatnya tak berkutik.
.
" Mas Yudha....."rengek Safa yang terdengar sangat manja di telinga Yudha.
" Apa sayang."
" Mas ini udah sore lhoh."
" Aku tahu sayang."
" Ihhhh Mas Yudha nggak merasa gerah apa nempel terus kaya gini."
" Enggak."
hufff Safa menghembuskan nafas beratnya, lama kelamaan dirinya merasa enggap juga dan merasa tidak bebas untuk melakukan pekerjaannya jika kedua tangan kekar Yudha tak juga lepas membelit tubuhnya.
" Maaassssss, aku gerah mau mandiiiii.... "
" Mandi ya mandi aja Dek."
" Gimana mau mandi kalau Mas Yudha enggak nglepas aku. Aku ki sumuk Mas pengen adus, awakku wes mambu kecut iki."omel Safa yang tentunya mengundang kegemasan Yudha, namun bukannya melepas Yudha malah menciumi tengkuk Safa yang membuat Safa menggelinjang kegelian.
" Mas Yudha ihh geli ahhh."
" Biar, ini hukuman buat kamu, udah tahu suaminya nggak bisa bahasa jawa malah ngomel pake jawa."
" Hihi iya iya ampun enggak lagi. Habisnya Mas Yudha nggak mau ngelepas sih udah kaya uler keket aja sekali nemplok nggak bisa lepas."
" Berani kamu ngatain suami sendiri uler. Bener bener harus dihukum kamu."
Yudha membanting dengan lembut tubuh Safa di tempat tidur mereka dan memberikan hukuman Safa yang tentunya sangat menyenangkan untuk Yudha.
.
Satu jam lebih Yudha memberi hukuman pada istrinya hingga membuat diri Safa tertidur pulas karena kelelahan. Yudha menatap dalam wajah Safa yang tertidur pulas di dekapan nya, ia usap lembut wajah juga rambut Safa, dan tak lupa pula perut rata Safa.
Maafkan Aku Dek, aku merasa udah menghianati kamu. Tolong maafkan Aku yang nggak bisa bicara jujur sama kamu. Aku takut,.. aku takut kamu akan pergi jauh dari sisiku, meninggalkan Aku sendirian jika Aku bicara jujur sama kamu. Karna yang aku tahu pasti hatimu begitu lembut dan polos. Karna kelembutan dan kepolosan kamu itulah yang membuatku takut. Takut akan kehilanganmu.. batin Yudha sedih.
Yudha menciumi seluruh wajah Safa dan terakhir mencium lama pucuk kepala istrinya itu sebelum ia ikut terlelap.
.
Malam harinya setelah makan malam bersama sang istri Safa, Yudha berpamitan pada Safa untuk keluar sebentar karna urusan. Yahh Yudha memutuskan untuk makan malam bersama sang istri sebelum ia pergi ke pertemuan yang menurutnya sangatlah tidak penting, cuma hanya karna Yudha sudah ada perjanjian dengan Papanya kala itu jadi mau tidak mau ia harus menepatinya untuk sekali ini.
" Sayang, Aku keluar dulu ya sebentar. Kamu nggak apa kan aku tinggal sendiri.?"ucap Yudha sedikit ragu karna ia sangat tahu jika istrinya itu orang yang penakut.
" Emang Mas Yudha mau kemana malam malam gini.?"
" Ada urusan sebentar, nggak sampai jam 9 aku udah pulang."
" Uhm ya udah deh nggak apa apa, janji tapi ya jangan lama lama. Lagian kenapa enggak sore tadi sih atau siang gitu."
" Kamu takut ya sendirian dirumah."
" Udah tahu masih nanya."
" Hehe kamu itu lucu Dek, ngelawan adu jotos sama cowok berani sedangkan dirumah sendirian takut."
" Beda cerita kali Mas, Yaudah sana pergi kalau memang bener bener urusan penting, dan nanti cepat selesaikan urusannya dan cepet pulang."
Sungguh berat untuk Yudha pergi sedangkan melihat istri tercintanya itu sedang mencoba melawan ketakutannya.
" Aku nggak jadi pergi deh, Mas nggak tega ninggalin istri Mas ini sendirian dirumah."
"Makanya kan udah dibilang beli rumah tuh yang kecil aja, ini ngeyell. Udah sana cepat pergi dan jangan lupa cepat kembali oke." Yudha memeluk erat Safa dan menciumi pucuk kepala Safa.
Yudha pun dengan berat hati pergi meninggalkan Safa sendirian dirumah, namun ia berjanji akan segera pulang.
Cukup kencang Yudha melajukan mobilnya hingga hanya beberapa menit ia sudah sampai ditempat dimana pertemuan keluarga itu di adakan. Resto mewah yang berada di hotel bintang lima di pusat kota menjadi pilihan diadakannya pertemuan itu.
Yudha melangkahkan kakinya memasuki ruangan VIP di mana keluarganya berada.
" Yudha... nak kamu datang.??." sapa Mama Yudha.
" Malam Mama." itulah Yudha yang hanya menyapa mamanya, tidak mempedulikan orang lain yang ada di meja itu menatapnya dengan berbeda ekspresi.
Yudha mencium tangan Mama nya namun tidak dengan sang Papa nya, sang Papa pun hanya tersenyum masam dengan perilaku anaknya.
" Oh ya Doni, kenalkan ini dia anakku satu satunya Yudha, penerusku. Yudha kenalkan ini sahabat Papa waktu sekolah dulu dan perempuan cantik disebelahnya itu Putri Om Doni."ucap Papa Yudha.
" Selamat malam." ucap singkat Yudha dan menjabat tangan teman Papa nya serta anak perempuannya yang sedari tadi menatapnya dengan mata berbinar.
" Anakmu tampan sekali Permana."
" Jelaslah, anakmu juga sangat cantik, benar kan nak Sherly."
" Om bisa saja."ucap Sherly malu malu.
" Aku tidak ingat."ucap Yudha cuek.
" Apa kalian pernah bertemu sayang.?"tanya Papa Sherly.
" Iya Pah, jadi dulu waktu aku liburan kan pernah mau di jambret. Nah anak Om Permana ini yang menolong Aku. Dia menghajar jambret itu sampai babak belur. Kamu beneran nggak ingat cewek yang kamu tolong itu, waktu di dermaga."jelas Sherly semangat.
" Sory Aku nggak ingat."jawab Yudha yang masih dengan cueknya. Sherly pun terlihat kecewa dan sedih dengan jawaban dan respon lelaki yang pernah menjadi superhero nya itu.
" Oh ya??? walau Yudha tidak mengingatnya tapi saya tetap berterimakasih padamu Yudha karna sudah menolong Sherly putri tercinta saya."ucap tulus Doni Papah Sherly.
.
Yudha hanya merespon dengan anggukan karna ia memang tak pernah mengingat hal yang menurutnya tidak penting apalagi soal wanita, yang ada di ingatannya hanya ada Safa ,Safa dan Safa. Ngomong ngomong soal Safa, ahh Yudha benar benar ingin cepat pulang. Sedari tadi Yudha hanya memandangi jam yang melingkar indah ditangannya. Walau ada orang yang mengajaknya berbicara Yudha hanya akan menjawab sekena nya dan hanya menatapnya sekilas.
.
Papa Yudha dan Papa Sherly terlihat asik berbincang soal bisnis mereka masing masing, sedangkan Mama Yudha berbincang dengan Sherly dan sesekali mengajak Yudha untuk ngobrol namun Yudha hanya cuek dan irit bicara.
.
Makan malam sekaligus pertemuan dua keluarga itu belum juga berakhir. Yudha sudah sangat jengah dengan keadaan ini. Waktu menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit Yudha sudah tidak tahan untuk segera pulang.
.
Akhirnya Yudha pun pamit undur dengan segala macam alasan agar bisa cepat pulang. Walau sang Papa menghalanginya namun Yudha tetap kekeh untuk pergi dari sana. Mama Yudha pun mengerti anaknya yang sebenarnya tidak menginginkan dan sangat terpaksa untuk hadir di acara keluarga itu namun ia juga tak bisa apa apa.
.
Yudha kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar lekas sampai dirumahnya. Tak butuh waktu lama Yudha sampai di rumah, memarkirkan mobilnya dengan serampangan dan segera turun dari mobil lalu berlari untuk membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa.
.
Begitu pintu terbuka Yudha mendengar suara televisi yang sangat keras terdengar di telinganya, seluruh lampu di rumah itu juga menyala semua. pandangan Yudha menyapu seluruh ruangan itu dan menemukan Safa yang meringkuk di atas sofa dengan selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Yudha sangat tahu Safa pasti ketakutan tadi Saat ia tinggal. Yudha pun sangat menyesal karena sudah meninggalkan Safa sendirian di rumah..
.
Yudha berjongkok di samping sofa mematikan televisi lalu menyibakkan selimut itu dan terlihat wajah Safa yang seperti ketakutan dan yang paling menyakitkan untuk Yudha yaitu nampak bekas seperti air mata yang sudah mengering. Yudha mencium lama kening Safa pertanda ia sangat menyesal sudah membuat Safa ketakutan. terlihat juga di kuping Safa yang terpasang headset yang volume suaranya juga sangat keras hingga Yudha bisa mendengar apa yang sedang Safa dengarkan, lantunan ayat ayat suci Al-Qur'an adalah pilihan Safa saat tengah dilanda ketakutan.
.
Yudha menggendong Safa tanpa membangunkannya, membawanya naik ke lantai dua menuju kamar. Sepanjang jalan menuju kamar Yudha mencium kening Safa tanpa melepasnya. Hingga saat Safa ia baringkan baru Yudha melepas ciumannya.
.
Yudha pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri juga berganti pakaian sebelum merebahkan diri di samping sang istri. Safa terbangun saat ia merasa tempat yang ia tiduri seperti ada gerakan ketika Yudha merangkak naik ke atas tempat tidur.
.
Mata Safa terbuka lebar saat melihat pencahayaan keadaan disekelilingnya temaram karna Yudha hanya menyalakan lampu tidur. Ia merasa takut karna setahu dia tadi pencahayaan begitu terang karna semua lampu ia nyalakan.
Safa terperanjat saat ada yang memanggilnya.
" Sayang."
" Hah!!! Astagfirullah Mas Yudha!!!" Safa langsung memeluk Yudha ketika ia menyadari kehadiran suaminya.
Yudha membalas pelukan Safa yang tak kalah erat untuk menenangkan Safa yang tengah ketakutan.
" Maaf ya Dek udah buat kamu ketakutan begini."
" Enggak apa kok Mas, aku baik saja, cuma tadi kaget aja. Mas Yudha pulang jam berapa tadi?"
" Belum lama ini. Sudah ayo tidur lagi."
" Iya. " jawab Safa tanpa melepas pelukannya, jujur saja sejak Yudha melajukan mobilnya meninggalkan rumah Safa mulai dilanda ketakutan. Dan pelukan inilah yang membuatnya tenang dan ketakutan yang ia rasakan mulai hilang.
" Sekali lagi maaf ya Sayang."
" Iya Mas nggak apa kok, Aku baik baik saja."
Aku tahu kamu bohong Dek, kamu hanya mau biar aku lega dan nggak merasa bersalah. Maaf Sayang, aku janji nggak akan meninggalkan kamu sendirian dimalam hari dirumah sendiri dan buat kamu ketakutan lagi . Batin Yudha.
.
.
Papa Yudha
Mama Yudha
Papa Sherly
.
.