
Di rumah Safa kini suasana sedang sedikit ramai, ada Pak Rt, Rw, juga tetangga dekat rumah Safa yang sedang berkumpul untuk bersiap siap pergi ke rumah seseorang sesuai rencana untuk lamaran.
Disana juga terlihat Yudha yang turut membantu acara tersebut, karna Yudha mengemban tugas untuk akomodasi. Yudha menyiapkan tiga mobil untuk membawa rombongan itu. Satu mobil hotel milik Yudha untuk membawa tetangga dekat juga Rt Rw dan sopir hotel, sedangkan satu mobil lagi milik Rizky yang membawa Heru, kedua orang tuanya yaitu Pak Endro dan istri juga beserta seserahannya dan tentunya Rizky sendiri yang jadi sopirnya. Dan satu lagi mobil pribadi Yudha yang akan membawa tentu saja sang pujaan hati Safa, juga Dhian untuk menemani.
Semua rombongan sudah sampai di kediaman Indah yang juga disambut oleh kerabat dekat Indah yang nanti akan menjadi walinya.
Acara lamaran juga seserahan pun selesai kini di isi dengan acara makan bersama juga obrolan obrolan kecil.
" Dekk kalau habis ini lamaran kamu gimana.? " Tanya Yudha yang membuat Safa langsung tersedak minumannya.
" Pelan pelan dong minumnya. "Lanjutnya.
" Mas Yudha ngomongnya gitu sih, aku jadi keselek kan. "
" Aku serius dekk,"
" Udah ahh jangan becanda, ini bukan waktunya becanda Mas. "
" Nanti sepulang dari sini aku akan ngomong langsung sama Bapak. "
" Mas jangan becanda deh, "
Yudha hanya tersenyum namun senyumnya penuh dengan arti dan hanya Yudha yang tahu.
___________
Acara pun selesai dan kini waktunya untuk kembali pulang ke rumah Pak Endro. Semua tamu tetangga sudah pulang kini tinggal keluarga Safa juga Yudha, Rizky dan Dhian tengah duduk bersama di ruang tamu.
" Ekhemm, Pak boleh Yudha bicara sebentar. " Yudha berdehem sebelum memulai berbicara serius pada orang tua Safa untuk mengurangi sedikit kegugupannya.
" Sejak kapan Bapak melarang bicara nak Yudha, bicara saja ada apa. "Seloroh Pak Endro.
" Begini Pak, Buk, sebenarnya Yudha juga ingin mengikat Safa dengan... "
" Apa??? Kamu mau ngikat Safa, di ikat pakai apa? Bapak nggak punya tali lho." Belum ucapan Yudha selesai sudah di potong oleh candaan Pak Endro.
Semua yang ada disitu mendengar candaan Pak Endro pun tertawa kecuali Ibu Safa yang merasa was was.
" Hahaha maaf maaf, sekarang serius apa maksud nak Yudha ini. " Yudha pun juga ikut di buat gugup menghela nafas berkali kali untuk menetralkan kegugupan yang melanda dirinya.
" Jadi begini Pak, Yudha ingin menjalin hubungan yang serius dengan dedek pak. Yudha ingin menjadikan dedek istri Yudha. "
Hening ...
semua yang ada hanya diam menyimak dan mendengarkan percakapan antara Yudha juga Pak Endro yang terlihat serius. Dan setelah beberapa detik Pak Endro pun menjawab.
" Uhm, begini nak Yudha, bukanya Bapak menolak atau gimana gimana, Bapak bahkan sangat senang sekali jika kamu bisa jadi menantu Bapak, tapi apa kamu sudah berbicara dengan orang tua kamu,? Dan apa mereka bisa menerima kehadiran Safa nanti. Karna Bapak juga tahu kalau kamu dari keluarga kalangan atas, sedangkan kami keluarga Safa hanya kalangan bawah. Sangat Jelas sekali perbedaan antara nak Yudha dan Safa. "
" Yudha tidak pernah mempermasalahkan perbedaan itu Pak. Yudha tulus sama dedek, dan Untuk masalah orang tua Yudha belum bisa membicarakan sama Papa Mama Yudha, karna mereka pun tidak pernah mau mendukung atau mendengarkan yang Yudha mau, Papa Yudha tidak pernah mau tahu sama apa yang jadi keinginan Yudha Pak. Sejak kecil orang tua Yudha tidak pernah peduli dengan kebahagiaan Yudha. Jadi untuk apa Yudha memberi tahu semua ini pada mereka. Yudha tidak akan pernah menyerah walau nanti orang tua Yudha tidak akan menyetujui keputusan Yudha ini, Yudha mohon Pak. "
Mendengar keluh kesah Yudha Ibu Safa menunduk sedih, menjadi sedikit iba dengan anak kecil yang dulu pernah dirawatnya, sangat jelas sekali di mata juga setiap katanya mengandung kesedihan yang mendalam.
Tapi Ibu Safa kembali menatap Safa dan Yudha, dan yang ia lihat memang mereka saling mencintai, ingatannya kembali ketika Safa dan Yudha saat masih kecil, Yudha kecil terlihat sangat menyayangi Safa yang ia panggil dedek, dan Safa pun juga terlihat sangat manja dan dekat sekali dengan anak lelaki yang ia panggil Mas Yud, walau mereka hanya sebentar bersama namun kedekatannya tak perlu diragukan juga seolah mereka telah terikat batinnya. Terbukti saat Yudha di jemput keluarganya Yudha terlihat sangat berat sekali meninggalkan Safa, dan Safa pun juga begitu saat tahu Yudha sudah pergi meninggalkannya Safa begitu sedih dan seharian menangisi Yudha. Baiklah semua keputusan ia berikan pada Safa anaknya, apa yang akan dipilih Safa itu lah yang jadi keputusannya, dan sebagai ibu ia hanya bisa berdoa untuk kebaikan juga kebahagiaan
Ibu Safa menarik nafas dalam dalam sebelum ia hembuskan pelan untuk memantapkan keputusannya.
" Apa nak Yudha serius dan yakin dengan Safa. "
" Iya Bu, Yudha sangat yakin sekali dengan kata kata Yudha, Yudha tahu Ibu khawatir dengan Safa nanti, tapi Yudha berjanji apa pun yang terjadi dan apa pun keadaannya Yudha akan melindungi, dan mempertahankan dedek di sisi Yudha. Yudha sangat menyayangi dedek dan juga mencintai dedek Bu, Pak. Yudha tidak bisa jauh dari dedek. Tolong restui Yudha Bu, Pak. Yudha mohon. "
" Menikah itu butuh wali, jika orang tua kamu tidak tahu lalu siapa yang akan menjadi walimu. "
" Soal wali ada Om Darmawan Papa Rizky yang akan menjadi wali Yudha Pak. "
" Ya sudah mau gimana lagi. Kalau Bapak sama Ibu tidak merestui nanti malah kamunya nekat bikin dosa, orang tua juga yang nanggung kan. "
" Jadi Bapak sama Ibu merestui Yudha menikahi dedek.?? "
" Ya mau bagaimana lagi. Kepepet. . Bagaimana nduk ? "
Safa yang di tanya oleh Bapaknya masih bimbang keputusan yang akan ia ambil. Safa tidak mau salah dalam mengambil keputusan, ia tidak mau jika orang tua yang sangat ia sayangi dan kasihi sampai bersedih hati jika suatu nanti yang mereka khawatirkan terjadi. Sungguh Safa tidak sampai hati membuat orang tuanya apa lagi Ibunya yang sudah mengandungnya selama berbulan bulan sampai meneteskan air mata kesedihan nanti.
Dengan mantap Safa menjawab...
" Maaf Mas Yudha, beri Safa waktu untuk berfikir. "
" Tapi dekk, kenapa? Kamu juga mencintai Mas kan.? "
" Mas Yudha tolong, beri Safa waktu. " Selesai ucapannya Safa beranjak pergi masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Semua yang ada di ruang tamu saling menatap bingung namun tidak dengan Ibu Safa, ia sangat tahu karakter anaknya, walau Safa jarang bercerita, berkeluh kesah padanya namun Ibu Safa sangat paham apa yang anaknya rasakan.
" Maaf nak Yudha, beri Safa waktu untuk memikirkan semuanya, biarkan Safa memantapkan hatinya lebih dulu. "
" Tapi pak, "
" Bro, sudahlah, biarkan Safa berfikir dulu, berikan dia waktu, sekarang kita pulang dulu. " Ucap Rizky seraya menepuk pundak Yudha untuk memberikan pengertian.
Ibu Safa yang melihat kesedihan di mata Yudha dan Safa hanya menghela nafas panjang. Bagaimana pun ia juga tidak tega melihat anak anaknya bersedih.
" Nak Yudha, "
" Iya Bu, " Yudha mendekat ke Ibu Safa yang memanggilnya.
" Selamat berjuang, menangkanlah hati dedekmu itu. Yakinlah pada cinta kalian. " Ucap Ibu memberikan dukungan.
" Terimakasih Bu, Yudha akan terus berjuang tanpa henti untuk cinta kami. Mohon doa restu Ibu. " Ucap Yudha penuh semangat seraya memeluk Ibu Safa yang sudah ia anggap Ibunya sendiri. Yudha sangat senang mendapat dukungan dari Ibu Safa.
.