Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Nana


Tiba kini acara Grand Opening ArFa Hotel and Resort yang Yudha bangun di daerah pesisir selatan jawa dan itu murni usaha Yudha tanpa bantuan atau embel embel dari orang tuanya dan juga tanpa sepengetahuan orang tua Yudha.


Yudha berusaha sendiri bekerja keras mencari investor untuk menanam modal di perusahaannya dan berdirilah hotel and resort kedua Yudha setelah hotel yang kini ia tinggali.


Acara berlangsung meriah dan tak lupa penyanyi lokal atas rekomendasi Heru ikut meramaikan acara tersebut, namun tak ada satu pun awak media yang diundang maupun di ijinkan masuk ke dalam acara karna tak ingin berita ini sampai ke Papa Yudha. Safa tampil cantik sore hari ini, begitu pun Yudha yang terlihat tampan.


Walau hubungan keduanya tengah tidak dekat namun mereka tetap terlihat kompak menyambut para tamu undangan, walau itu kompak sebatas boss dan asisten.


Tak lupa Rizky juga mengajak Dhian untuk mendampinginya di acara tersebut. Dan para tamu undangan pun sudah berdatangan untuk menghadiri acara itu.


Dari sekian banyaknya tamu yang hadir namun hanya satu orang yang menarik perhatian Dhian, dan itu sangat membuat Dhian jengah. Saat mata mereka berpapasan dan beradu, hanya tatapan tajam nan sinis yang terpancar dari keduanya.


Ngapain tuh makhluk jadi jadian satu itu ada disini. Itu juga sama Bapaknya apa dia salah satu tamu undangan ya.?? Assshhh nggak penting juga aku mikir dia, tapi awas aja nanti kalau sampai ganggu Safa., aku jadiin lemper tuh anak. Batin Dhian.


" Ehh bengong aja, lihat apa an sih? " Tanya Rizky yang melihat Dhian diam menatap sesuatu entah apa.


" Lagi lihat makhluk jadi jadian. "


" Hah?? Makhluk jadi jadian apa sih beib. "


" Tuhh cewek yang pake baju merah kurang bahan. "Ucap Dhian seraya menunjuk ke arah salah satu orang yang sedang bercakap cakap.


" Emang itu siapa sih ? "


" Dia cewek yang udah ngegoda terus ngrebut pacar Safa dulu. "


" Ohh gitu, biarinlah beib, untung Safa putus sama pacarnya, dan sekarang tugas kita buat nyatuin Safa sama Yudha. "


" Lhah kan emang mereka berdua udah deket kan. Aku lihat Safa bahagia banget pas waktu tahu ternyata bossnya itu ternyata yang selama ini dia rindukan."


" Mereka lagi nggak baik baik aja beib, "


Rizky pun menceritakan masalah yang sedang melanda hubungan sahabat mereka.


" Susah juga kalau udah begitu, soalnya Safa kalau udah berpegang teguh dengan hatinya itu sangat susah buat di usik. Apa lagi aku tahu banget kalau Safa itu paling nggak bisa buat Ibunya sedih. Bayangin aja kalau kelak mereka udah bersatu terus di pisahkan sama orang tua Yudha, pasti yang paling sedih kan Ibu Safa Mas. "


" Aku tahu beib, tapi kan Yudha enggak permasalahin itu semua, bahkan asal kamu tahu ya, Yudha mendirikan Hotel ini itu buat Safa, untuk masa depan mereka kelak. Itu pun tanpa sepengetahuan siapa pun, cuma aku sama papa aku calon mertua kamu yang tahu soal hotel ini. "


" Serius kamu?? "


" Dua rius malah beib. Makanya itu Yudha sedih dan terpuruk banget waktu Safa buat mutusin untuk menjauh dari Yudha. Tapi walau gitu Yudha masih pantang mundur. Aku tahu banget siapa Yudha, dia bakal mati matian mempertahankan apa yang udah menjadi tujuannya. "


" Terus gimana dong, "


" Aku juga nggak tahu beib, kita cuma bisa doain mereka aja sama dukung mereka. "


______


Acara sore itu sangatlah meriah karna ikut di meriahkan oleh penyanyi lokal, dan ketika sang penyanyi meminta kesediaan Yudha untuk naik ke atas panggung guna menyumbangkan sebuah lagu. Yudha berjalan ke atas panggung dengan gagahnya lalu meraih gitar yang ada di tangan sang penyanyi, Yudha memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Yudha tidak mengatakan apa pun saat akan menyanyikan lagu itu namun tatapan matanya menuju ke arah Safa, tatapan yang sangat dalam seolah itu lagu di tujukan untuknya.


Kapan lagi kita berbincang dan berterus terang?


Kapan, kapankah lagi?


Kurasakan sunyi mencekam


Hati pun tersiksa


Ada rindu untukmu


Seputih gaunmu, kekasih


Begitu hatiku


Lembutnya sinar di matamu, sayang


Kau begitu seadanya


Namun bergetar sendu hati ini


Kapan lagi kita berbincang dan berterus terang?


Kapan, kapankah lagi?


Kurasakan sunyi mencekam


Hati pun tersiksa


Ada rindu untukmu


Seputih gaunmu, kekasih


Begitu hatiku


Lembutnya sinar di matamu, sayang


Kau begitu seadanya


Namun bergetar sendu hati ini


Seputih gaunmu, kekasih


Begitu hatiku


Lembutnya sinar di matamu, sayang


Kau begitu seadanya


Namun bergetar sendu hati ini


Hati ini


Sayang


Hati ini


Sayang


Hati ini


Safa yang ditatap begitu dalam oleh Yudha pun mencoba menghindarinya, dan saat Safa akan beranjak pergi ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


" Astagfirullah,, maaf maaf saya tidak sengaja. "


" Gimana sih!! kalau jalan tuh pakai mata dong. " Bentak orang itu.


Safa yang mengenal suara itu pun terpaku.


" Kamu!! Dasar cewek kampung nggak punya mata main tabrak aja. "


" Aku kan udah minta maaf dan aku juga nggak sengaja tadi. "


" Halah pake ngeles aja kamu. "


" Terus mau kamu apa. "


" Minta maaf yang bener, bungkukkan badan kamu hormat sama aku. "


" Kamu sadar nggak sih udah narik perhatian banyak orang, nggak malu apa kamu. "


" Ngapain juga malu, biar semua tahu cewek kampung macam kamu yang nggak tahu diri. "


" Nggak ada habisnya ngomong sama kamu, udah ah aku capek. "


Safa hendak pergi namun saat ia melangkah Nana dengan sengaja menjegal kaki Safa dan membuat Safa hampir saja terjerembab jatuh ke depan namun beruntung ada sepasang tangan kekar yang menahan tubuh Safa sebelum Safa benar benar jatuh tersungkur.


" Kamu nggak apa apa dek. "


" Mas Yudha.... nggak apa apa kok,. Awww. "


Safa merasakan nyeri di pergelangan kakinya yang sepertinya terkilir.


" Kenapa,?? "


" Kakiku Mas, " Di lihat dari muka Safa, Yudha tahu jika Safa menahan sakit.


Melihat ada keributan semua mata memandang ke arah dimana Yudha, Safa, dan Nana tak terkecuali Naura kakak Nana. Naura berjalan mendekat ke adiknya.


" Ada apa ini?? Kenapa sih dek ? "


" Lihat tuh kak cewek kampung itu tadi udah nabrak aku terus mau pergi gitu aja. "


" Aku tadi kan sudah minta maaf sama kamu Nana. " seru Safa yang tak terima dengan ucapan Nana yang menyalahkannya.


" Kamu itu cewek kampung dari dulu suka banget sih cari gara gara sama adikku. "


" CUKUP!! " Seru Yudha dengan tegas karna marah melihat Safa di hina di depan matanya.


" Tapi Yudha, dia udah salah sama adikku. "


" Aku bilang cukup!!. Apa kamu melihat sendiri kejadian sebenarnya sampai kamu langsung menyalahkan Safa.? Tidak kan. "


" Adikku tidak mungkin bohong, aku percaya sama dia. "


" Apa perlu aku perlihatkan cctv ruangan ini agar kamu tahu yang sebenarnya terjadi.? "


Datanglah seorang lelaki paruh baya menjadi penengah, lebih tepatnya karna ia tidak mau nanti terlalu malu pada semua yang hadir di situ karna perbuatan anaknya.


" Ada apa ini, Nana kamu jangan bikin malu papa. Sudah tidak perlu di perpanjang lagi., Nak Yudha Safa, tolong maafkan sikap anak anak saya. "


" Tolong nasehati anak anaknya agar bisa lebih sopan lagi. Dan maaf saya pamit sebentar nanti saya kembali lagi. " Tegas Yudha lalu tanpa aba aba ia menggendong Safa dan berjalan keluar meninggalkan ballroom lalu masuk ke dalam lift.


" Mas Yudha turunin aku, malu di lihat banyak orang. ".pekik Safa yang kaget dengan sikap Yudha yang tak peduli dengan semua orang yang melihatnya menggendong dirinya.


" Udah kamu diem aja, aku tahu kakimu sakit. Kamu istirahat di Ruangan aku aja. " Yudha terlihat sangat cuek sekali saat mengatakan itu dan itu membuat Safa menundukkan kepala menahan malu dengan tatapan semua orang yang tertuju padanya.


.


.