Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Cewek pemberani


Pagi hari buta menjelang Safa sudah berkutat di dapur memasak sarapan pagi untuk dirinya dan juga suami nya Yudha. karena belum ada asisten rumah tangga yang membantu maka segala sesuatunya Safa sendirilah yang mengerjakan segala pekerjaan rumah dari mulai memasak, membersihkan rumah dan lain sebagainya.


Seperti pagi ini setelah Safa terbangun dari tidurnya. Safa mengerjapkan kedua matanya mencoba untuk tersadar mengumpulkan semua kesadarannya.


Saat hendak bangun Safa merasa ada yang memeluknya dari belakang tubuhnya, Safa melihat tangan kekar yang ia tahu betul itu tangan milik siapa kalau bukan Yudha suaminya. Safa tersenyum sebelum dengan sangat pelan memindahkan tangan yang melilit tubuhnya itu agar tidak terganggu tidurnya, Safa yakin jika Yudha Pasti sangat lelah saat ini jadi Safa sengaja tidak membangunkannya.


Ia bergegas melaksanakan tugasnya sebagai seorang umat muslim pada ada umum nya, dan setelah itu Safa hendak melangkahkan kakinya keluar kamar ia baru tersadar jika dirinya ternyata tidur di atas ranjang di dalam kamar utama, padahal seingat dia tertidur di sofa ruang tamu setelah selesai membereskan pekerjaan rumah. Mungkin suaminya lah yang sudah memindahkan dirinya ke dalam kamar pikirnya.


setelah selesai memasak Safa segera naik ke atas menuju kamar dan segera membersihkan dirinya sebelum membangunkan suaminya. selesai membersihkan diri Safa masuk ke dalam walk-in closet untuk memakai baju dan tak lupa menyiapkan baju untuk Yudha suaminya bekerja.


Safa selesai memakai baju dan langsung membangunkan Yudha suaminya tercinta agar suaminya itu tidak kesiangan berangkat ke kantor.


Safa mengusap lembut bahu Yudha mencoba untuk tidak membuatnya terkejut karena itu akan membuatnya pening kepala.


" Mas Yudha bangun mas, udah siang." bisik Safa di telinga Yudha.


Yudha melenguh dan tersenyum mendengar bisikan lembut Safa istrinya yang terdengar indah di telinganya.


" Umhh, udah jam berapa Dek emang?" ucapnya dengan mata yang masih tertutup rapat.


" jam 6 mas, Ayo cepet bangun mandi terus sarapan, aku udah siapin semuanya."


" ya lima menit lagi ya Dek, masih ngantuk banget." ucap Yudha dengan suara parau.


Safa pun memaklumi suaminya yang memang terlihat sangat berat untuk bangun, sehingga Safa memutuskan untuk membiarkan Yudha tidur lebih lama. Safa membiarkan Yudha meneruskan tidurnya sedangkan ia beranjak berdiri dan berjalan menuju meja rias untuk mematut dirinya merias wajah dengan make up senatural mungkin. Safa hanya memakai moisturizer untuk wajahnya dan bedak bayi dan memoleskan sedikit lip balm untuk bibirnya. Setelah merias wajah kini Safa memakai kerudung yang terlihat simple namun tetap modis gaya anak muda.


Setelah selesai Safa beranjak keluar untuk sarapan terlebih dahulu sebelum kembali membangunkan Yudha dan berpamitan untuk segera pergi ke kampus yang belum pernah sama sekali ia datangi.


Safa mencoba kembali membangunkan Yudha.


" Mas Yudha udah lebih dari lima menit mau bangun apa enggak ini humm??"


Tak ada respon Safa kembali membangunkan dengan menggoncangkan bahu dan membelai pipi Yudha.


" Mas bangun dong..."


Yudha merespon dengan membuka matanya pelan pelan menyesuaikan cahaya yang ada diruangan. Dan pandangannya pun terpaku pada wajah yang ada dihadapannya, wajah cantik milik sang istri tercinta Safa.


" Cantik." gumam pelan Yudha.


Safa tersenyum mendengar gumaman suaminya.


" Mau bangun apa enggak Mas?? ini udah siang loh. Apa enggak kerja hari ini ??"


" Kamu kok udah cantik banget pagi ini? udah rapi juga?" ucap Yudha tanpa menjawab ucapan Safa.


" Mas Yudha lupa ya kalau pagi ini aku harus ke kampus yang di tunjuk kampus Jogja."


" Oh iya maaf sayang aku lupa, bentar aku mandi dulu ya." Yudha langsung terduduk mendengar ucapan Safa, kenapa ia bisa lupa dengan schedule pagi ini, mungkin karna kelelahan ia jadi lupa pikirnya.


" Kalau Mas Yudha capek istirahat aja di rumah, biar aku berangkat sendiri nggak apa kok." ucap Safa mencoba memberi pengertian pada suaminya.


Yudha yang sedang berjalan melangkah ke kamar mandi langsung terhenti kala mendengar ucapan Safa. Yudha langsung berhenti dan menatap Safa.


" Tunggu Mas! Mas antar kamu." tegas Yudha mutlak dan langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tak berselang lama, 15 menit kemudian Yudha keluar dari walk-in closet yang sudah berpakaian rapi dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh Safa tadi. Yudha mematut dirinya di depan cermin meja rias milik istrinya, lalu Yudha mengoleskan sedikit Pomade di rambutnya lalu menyisirnya dengan rapi, setelah selesai ia berlalu keluar dari kamarnya dan menghampiri Safa yang sedang menyiapkan makanan untuk dirinya di meja makan lantai bawah.


Cup... Yudha mengecup pipi Safa mesra sebelum dirinya duduk di meja makan dan memakan sarapannya.


Selesai sarapan Yudha dan Safa bersiap untuk pergi ke kampus yang ditunjuk oleh pihak kampus Safa yang di Jogja. Yudha jalan duluan ke garasi Di mana mobilnya terparkir rapi, sedangkan Safa menutup pintu rumah dan tak lupa menguncinya.



.


.


Sesampainya di kampus Yudha memarkirkan mobilnya di halaman kampus dan itu membuat menarik perhatian seluruh mahasiswa yang ada di sana. namun Yudha tak peduli akan semua mata yang memandang takjub ke arahnya.


Berbeda dengan Safa yang menjadi grogi, dan tak percaya diri untuk turun dari dalam mobil.


" Mas Yudha, aku grogi banget ini, semua mata mahasiswa pada ngeliat ke arah kita."


" Ya sudah Mas temenin kamu sampai ke dalam ayo." ucap Yudha Seraya melepas seat belt dan hendak membuka pintu mobil namun segera Safa cegah karena tak ingin menambah Geger seluruh kampus karena melihat sosok suaminya yang terlihat bak pangeran tampan dan gagah.


" eeehh nggak usah Mas, aku sendiri aja, Kalau Mas Yudha ikut turun masuk ngantar aku sampai ke dalam yang ada tambah gempar seluruh kampus ini."


" loh Emang kenapa?" tanya Yudha heran.


" lihat mobil Mas Yudha saja mereka sudah kayak gitu apalagi kalau lihat Mas Yudha keluar dari mobil ini, yang ada mereka tambah gempar melihat penampilan Mas Yudha saat ini."gerutu Safa dengan cemberut.


Yudha terkekeh lucu bercampur gemas mendengar ucapan Safa istrinya yang sepertinya tengah cemburu seperti tidak rela jika dirinya menjadi di pusat perhatian di kampus baru Safa. Yudha mendekat ke arah Safa lalu menangkup wajah dan mencium lembut mesra kening Safa.


" Terus maunya gimana? Mau ditemenin atau enggak." ucap lembut Yudha penuh perhatian.


" aku sendirian aja Mas nggak papa."


" Beneran nggak perlu di temani?"


" Iya, ya udah salim dulu sini" Safa meraih tangan kanan Yudha lalu mencium punggung tangan suaminya sebelum ia turun dari mobil, Yudha kembali mencium kening Safa.


" Nanti kalau udah selesai kabari Mas biar Mas jemput kamu."


" Iya, ya udah aku masuk dulu ya Mas, Assalamualaikum. Hati hati di jalan."


" Waalaikumsalam, iya sayang, kamu juga baik baik di kampus."


Setelah berpamitan Safa segera turun dan masuk ke dalam kampus untuk perkenalan dirinya. sedangkan Yudha langsung memacu mobilnya meninggalkan halaman kampus. Safa menemui pihak yang bersangkutan setelah selesai dengan urusannya Safa memilih untuk berjalan jalan keliling kampus untuk melihat suasana baru di kampus ini.


Safa berkeliling hingga ke belakang kampus yang terlihat sepi, dan saat Safa akan berbalik beranjak meninggalkan belakang kampus samar samar Safa seperti mendengar suara orang sedang bertengkar. dan benar ada seseorang lelaki yang tengah dikeroyok oleh 3 orang laki-laki. terlihat 1 laki-laki berkacamata minus dipegang oleh 2 orang yang sepertinya teman dari 1 orang yang memukuli orang yang dipegang oleh kedua temannya.


Safa yang merasa kasihan dengan cowok berkacamata itu pun langsung menolong orang yang dikeroyok itu.


" Hai kalian banci apa beraninya main keroyokan, kalau berani satu lawan satu dong.! cowok kok kayak cewek main keroyokan. lagian nggak baik tahu mahasiswa berantem kayak gitu apalagi masih di kawasan kampus, apa nggak takut kalau dosen sampai lihat mahasiswanya berantem kayak gitu." ucap Safa tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun.


" siapa lo ikut campur urusan gue! lu cewek nggak usah ikut campur, mending lo pergi dari sini sebelum gue bertindak kasar sama lo.!" bentak lelaki yang mengeroyok.


" nggak perlu tahu aku siapa, aku nggak takut sama kamu dan teman-temanmu yang banci itu. sekarang cepat lepasin cowok itu sebelum aku kasih tahu dosen atau perlu dekan sekalian.!" ancam Safa.


wahhhh nggak cuma cantik tapi cewek itu sangat pemberani sekali ngelawan si Boy preman kampus ini.. aku salut sama cewek pemberani ini. Batin cowok yang sudah berwajah lebam akibat pukulan dari cowok yang bernama Boy.


" Lo ngancem gue ?? "


" Kalau iya kenapa?! kamu takut? cihh" tantang Safa.


" Coba aja kalau lo bisa pergi dari tempat ini." Dengan cepat Boy mencekal lengan Safa namun dengan sigap Safa melepas cekalan tangan kekar Boy. Safa dengan mudah melepas dan berontak karna iya sudah dibekali ilmu beladiri oleh sang kakak sepupu siapa lagi kalau bukan Yono.


" Wahhh hebat juga lo bisa lepas dari cengkraman gue. Oke kalau gitu." Boy menyeringai lalu mencoba kembali meraih lengan Safa dan menguncinya namun lagi lagi Safa bisa terlepas dengan mudah,.


" Lo emang suka dikasar cewek!!"


Dan perkelahian antara Safa dan Boy pun tak terelakan lagi, mereka berdua yang memang jago beladiri pun seimbang, tak ada yang tumbang dari pihak Safa maupun Boy. Namun ada kalanya seseorang itu sedikit lengah jadi memudahkan lawan untuk menumbangkan lawannya. Seperti Safa karna sedikit lengah ia terkena pukulan dipunggungnya dengan keras.


Bugh Akhhh....


Namun dengan cepat Safa membalas pukulan itu dan telak, Boy tersungkur terkena tendangan Safa tepat diwajahnya. Untung Safa memakai celana jeans panjang jadi memudahkan ia untuk melakukan serangan menendang.


Dua orang teman Boy dan cowok berkacamata itu hanya bisa melongo melihat perkelahian antara Safa dan Boy yang berakhir Boy tumbang kalah dengan Safa yang hanya seorang perempuan berkerudung.


" Aku harap ini pertama dan terakhir kalinya aku lihat kamu berkelahi dan main keroyok di kampus ini, menindas orang yang bahkan bukan lawan kamu! paham!!!" tegas Safa sebelum merapikan kembali penampilannya dan mengajak cowok berkacamata itu pergi dari tempat itu.


Boy memegang wajahnya yang terasa sedikit ngilu akibat tendangan Safa dan mengusap sedikit darah yang keluar disudut bibirnya karna robek.


Menarik... bener bener cewek ini berani sekali ngelawan gue, bahkan ngalahin gue tanpa ada rasa takut sedikit pun.. tunggu aja kalau kita sampai bertemu kembali gadis manis... Batin Boy dengan senyuman yang tak bisa diartikan oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.


Kedua orang teman Boy langsung berlari menghampiri Boy yang masih duduk sambil menatap kepergian Safa.


" Boss nggak pa pa kan Boss.??"


" Iya Boss, siapa cewek tadi?! berani sekali ngelawan Boss kita penguasa kampus ini."


" Gue nggak apa, ayo cabut. Kita buat perhitungan sama si culun itu lain kali aja."


.


.


**Boy





.


.


Sherly**



.


.


.