
Hari sabtu di pagi buta terlihat seorang lelaki tampan dengan tas di lengannya tengah memasuki rumah Safa.
" Assalammu'allaikum, " ucapnya ketika di depan pintu.
Bapak Safa yang tengah ketiduran di ruang tamu pun mendengar suara itu pun segera terbangun. Senyum Bapak mengembang ketika melihat siapa yang datang.
" Wa'allaikumsallam Yono.. kamu baru sampai Le ? Lha istrimu mana ? " Bapak merangkul Yono dan mengajaknya duduk.
" Injeh Pak Lek, sebenarnya udah dari kemarin cuma kebetulan Yono ada kunjungan dinas di magelang tempat Yono dulu sekolah kemiliteran. Lalu sebelum subuh tadi berangkat dari magelang terus mampir ke masjid dulu didekat sini. Istri itu sedang menemui Ibu di belakang. "
" Oh begitu.. Safa kemarin juga udah nanyain kamu kesini kapan. " Ucap sendu Bapak teringat keadaan Safa kemarin. Yono pun dapat menangkap ekspresi lain dari Pak Lek nya itu.
" Ada apa Pak Lek? apa terjadi sesuatu.? " selidik Yono yang sangat peka dan pandai membaca raut wajah.
" Tidak apa apa Le. "
" Jangan bohong Pak Lek, setidaknya tidak dengan Yono.Ada apa ?."
Bapak menghela napas panjang lalu menceritakan tentang musibah yang menimpa adik tersayangnya itu. Yono pun terkejut bercampur marah mendengar cerita Pak Leknya.
" Sekarang gimana keadaan Safa Pak Lek. Terus manusia b***** itu sekarang ada di sel mana. " geram Yono.
" Kemarin sudah diurus sama nak Yudha untuk pelakunya, untuk adekmu itu dia sempat mengalami traumatis dan psikisnya hampir... " Bapak sangat berat untuk meneruskan ucapannya. Yono mengepalkan kedua tangannya geram dan marah namun ia coba untuk mengontrol dirinya.
" Sekarang Safa dimana Pak Lek. "tanya Yono cepat.
" Safa tidur dikamarnya, itu pintu kedua dari sini. " tunjuknya mengarahkan letak kamar Safa.
.
Yono melangkahkan kakinya mendekat ke kamar adik kesayangannya dan tangannya terulur untuk membuka pintu kamar, dan ternyata pintu tidak terkunci. Yono melangkah masuk perlahan, kedua matanya menangkap sosok gadis manis tengah terlelap dengan damainya namun mata yang tertutup itu nampak seperti sehabis menangis semalaman karna kantung mata Safa terlihat bengkak.
.
Yono membelai lembut kepala Safa yang tidak tertutupi kerudung.
.
Nduk.. adek bayiku yang malang, siapa yang sudah berani berbuat jahat padamu nduk, tidurmu terlihat lelap namun lelapmu pasti karena kelelahan menangis semalaman. Harusnya hari bahagia seperti ini bisa dirasakan semua orang, namun karena apa yang telah menimpamu menjadikan semuanya bersedih. Yono menatap sendu adiknya itu.
.
Safa yang merasakan usapan lembut di kepalanya pun dengan berat membuka matanya yang terasa bengkak.
.
Samar samar ia bisa melihat sosok tampan yang tengah tersenyum manis didepan wajahnya. Wajah yang sangat ia rindukan kedatangannya sejak kemarin. Senyum Safa mengembang ketika kedua matanya terbuka sempurna.
.
Safa segera bangkit dari tidurnya dan langsung menghambur memeluk erat kakak sepupunya itu. Walau keduanya tidak selalu bisa bersama bahkan bertemu namun ikatan antara keduanya sangat dalam bahkan sejak Safa masih ada dalam kandungan Ibunya.
.
" Mas Yon.. "
Yono membalas pelukan sang adik tak kalah erat.
" Sudah bangun, kangen ya sama Mas. Baru juga berapa bulan nggak ketemu udah kangen aja. " seloroh Yono.
Sesaat mereka melepas pelukan, Yono menatap mata Safa lalu mengusapnya lembut.
" Kamu nangis semaleman ya nduk. "
" Enggak kok, aku cuma begadang aja semalam ngerjain tugas kuliah jadi bengkak gini. " bohong Safa ia pun juga tak berani menatap sang kakak. Yono tahu Safa tak berani menatapnya ia pun memegang kedua pipi Safa dan menghadapkan wajahnya agar menatap dirinya.
" Kalau memang bener apa yang kamu bilang.. kenapa nggak berani menatap Mas hum?? Mas nggak maksa kamu buat bicara nduk. Tapi kalau kamu mau cerita sama Mas, Mas akan dengan senang hati mendengarkan sayang. " Safa sekuat tenaga agar tidak menangis, Yono kembali memeluk adiknya erat seraya mengusap kepala Safa penuh kasih sayang.
" Menangislah nduk, menangislah sepuas kamu hingga hatimu merasa lega. Tapi setelah itu kamu tidak Mas ijinkan untuk kembali menangis seperti ini. Menangislah, luapkan semua kepedihanmu sama Mas. " Safa yang mendengar ucapan kakaknya yang sangat lembut tak bisa lagi membendung air matanya.
hiks hiks ... huhuhu... haaaaa.. hiks hiks... Safa pun menangis dipelukan sang kakak. Menumpahkan segala kepedihannya, luka yang ia rasakan, bukan luka fisik yang ia rasa, namun luka batin yang sangat menyiksa hati Safa.
.
Yono dengan sabar menunggu adiknya puas menumpahkan tangis kepedihannya dipelukannya. Setelah Safa merasa cukup untuk menangisnya ia segera melepas pelukkan Yono.
.
" Udah puas kan nangisnya?? "
Safa hanya mengangguk saja, Yono menyeka air mata yang membasahi wajah manis Safa.
" Nahh kalau udah puasss, mulai sekarang, detik ini, menit ini, jam ini, hari ini dan saat ini juga, kamu tidak boleh menangis lagi paham. Kamu harus kuat, adik Mas ini harus bisa jadi perempuan tangguh. "
" Iya, Safa janji akan jadi perempuan yang tangguh dan kuat. Safa juga ingin belajar beladiri lagi biar Safa bisa menjaga diri sendiri. Agar jika kejadian itu tidak terulang lagi. "
" Lhoh kan dulu kamu udah Mas ajarin kan dari kecil. "
" Aku udah sedikit lupa Mas, karna semenjak pindah ke jogja aku udah nggak pernah belajar lagi. "
" Ya udah, besok kalau selesai acara Mas akan latih kamu lagi sebelum Mas pulang ke jakarta. Kebetulan Mas juga masih harus dinas di magelang beberapa hari kedepan. "
Mereka berdua berbincang bincang tak jarang Safa terlihat senyum dan tertawa yang kemarin sempat hilang dari wajah ayu nya, kini setelah kedatangan Yono Safa bisa kembali bersemangat lagi.
.
Tanpa mereka sadari di luar pintu kamar Safa ada banyak orang yang ikut bahagia atas kembalinya diri Safa yang sempat hilang karna musibah yang menimpanya. Ada orang tua Safa, Budhe Ibu dari Yono, istri Yono yang sudah tahu tentang musibah yang dialami adik suaminya itu, lalu Heru, dan juga Dona yang tak ingin ketinggalan. Mereka semua mendengar percakapan dua saudara itu dari luar sejak Yono masuk ke dalam kamar Safa.
.
Alhamdulillah ya Allah anak kami telah kembali lagi. Orang tua Safa
Matur nuwun gusti, ponakanku udah seperti sedia kala. Aku bangga sama anakku yang bisa membuat adiknya seperti dulu lagi. Budhe
Suamiku memang hebat, aku bangga padamu Mas, I love you Mas Yono. Istri Yono
Syukur alhamdulillah, adikku sudah tidak bersedih lagi dan bisa melupakan kejadian pahit yang di alaminya. Heru
Terimakasih ya allah Mbak Safa sudah tidak bersedih lagi dan terus terusan menangis, aku nggak tega melihatnya. Dona
Mereka semua tersenyum haru, Ibu dan Budhe pun sampai meneteskan air mata mereka dan saling berpelukan.
.
.
.
Habis pulang kampung jadi maaf telat up nya🙏🙏🙏🙏