Cinta Beda Kasta

Cinta Beda Kasta
Villa


Di tempat yang jauh di sana namun masih satu pulau terlihat seorang lelaki tampan Tengah dilanda kecemasan setelah mendapat kabar jika sang papa diberhentikan dari pekerjaannya sebagai tangan kanan bos besar.


.


Rizky Tengah berbincang lewat sambungan telepon oleh seseorang di seberang sana.


" Lalu bagaimana dengan Yudha saat ini pa, apa Yudha baik-baik saja? Terus sekarang Apa rencana papa."


" Kamu tenang saja Nak, Papa baik-baik saja, mungkin sudah rezeki papa sampai disini untuk bekerja dengan papa Yudha, namun ada hikmahnya juga Papa Berhenti bekerja dengan papa Yudha, papa jadi bisa lebih fokus sama usaha yang kita bangun sendiri kan? dan untuk Yudha Papa belum bertemu dengannya lagi setelah pemberhentian papa."


" Lalu bagaimana dengan Mama Pah, begini saja Rizky akan pulang dan memastikan keadaan di sana baik-baik saja."


" Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di sana Riz, siapa yang akan menghandle pekerjaan kamu sebagai pengganti Yudha sementara Yudha disini."


" Papa tenang saja di sini ada orang kepercayaan aku dan Yudha, dia bisa menghandle semua pekerjaan yang ada disini kok jadi Papa tenang saja."


" Ya sudah kalau begitu Kamu hati-hati pulangnya, Oh iya kalau bisa ajaklah calon menantu ke sini karena mama sudah sangat ingin bertemu dan melihat calon menantunya yang hebat itu."


" Baiklah Pah Rizky akan usahakan mengajak Dian untuk ikut pulang ke Bandung."


" Ya sudah kalau begitu papa tutup dulu teleponnya masih ada yang harus papa kerjakan Assalamualaikum nak."


" Waalaikumsalam papa ."


Setelah panggilan di akhiri Rizky bergegas menyimpan kembali ponselnya di saku celana nya dan bergegas pergi meninggalkan kantor.


Rizky melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman kekasih nya Dhian untuk mengejar waktu keberangkatan menuju Bandung.


Dhian yang juga baru saja pulang dari kerja terheran melihat Rizky yang sepertinya tengah terburu buru datang.


" Sampean ki nopo grusah grusuh koyo di oyak setan wae."seru Dhian jutek seperti biasa.


" Aduh beib gawat ini gawat." Ucap Rizky tergesa gesa tanpa menghiraukan kejutekan Dhian.


" Opo sih?! Ngomong yang jelas ada apa.?! Gawat gawat apane sek gawat.?!"


" Kamu ikut Aku pulang ke Bandung ya beib....."belum Rizky selesai bicara sudah di potong dulu oleh Dhian.


" Ogah.!!"


" Ihh Beib dengerin dulu napa aku ngomong, ini tuh urgent soal Safa."


Mendengar nama Safa disebut Dhian pun langsung tanggap dan mendadak cemas.


" Kenapa sama Safa Ky?! " tanya Dhian cepat seraya mencengkram kemeja Rizky.


" Nanti aku jelasin di jalan sekarang enggak ada waktu buat ngejelasinnya yang terpenting sekarang kita harus izin sama bapak ibu kamu buat pergi ke Bandung sama aku tapi tolong jangan beritahu keluarga Safa dulu takutnya nanti malah jadi kepikiran semua "


" oke Ya udah ayo cepat kita izin sama bapak ibu aku."


.


Yudha membawa Safa ke suatu tempat semacam Villa yang berada di kawasan Puncak. Dan Villa itu tak ada seorangpun yang tahu selain Yudha dan Rizky, tempat itu khusus Yudha bangun untuk tempat pelarian nya lebih tepatnya tempat untuk menyendiri mencari ketenangan.


.


Kini Safa Tengah menikmati pemandangan yang memanjakan kedua matanya. Ditambah Udara yang sejuk sangat membuat ketenangan tersendiri.


.


" Permisi Non, ini susu coklat hangatnya silahkan." Ucap wanita paruh baya yang sepertinya orang yang selama ini mengurus dan menjaga Villa ini.


" Terimakasih Bu, (mengambil gelas yang berisi minuman kesukaannya.) Ibu kok tahu saya suka minum ini,?"tanya Safa ramah dan sopan.


" Ohh gitu, terus Ibu ini...???"


" Ohh saya teh Lastri Non, orang suruhan aden untuk membersihkan villa ini. Dan suami saya juga yang menjaga villa ini. Tapi saya tidak tinggal di sini, saya tinggal di rumah belakang villa ini."


.


Safa pun mengajak Bu Lastri untuk menemaninya berbincang bincang seraya menunggu Yudha yang tengah membersihkan diri di dalam.


.


" Dek..." panggil Yudha setengah teriak.


Safa yang mendengar Yudha memanggilnya pun menyaut.


" Di samping sini Mas." Jawab Safa yang juga setengah teriak.


" Ya sudah Non, saya permisi dulu itu aden sudah selesai bebersih nya. Mangga atuh." Pamit Bu Lastri.


" Iya Bu Lastri mangga dan terimakasih susu coklatnya."


" Sama sama Non itu sudah tugas saya. Permisi aden." Pamit Bu Lastri pada Yudha yang sudah berada di dekatnya.


Yudha hanya menganggukan kepala dan tersenyum, senyum yang pasti nya sangat langka Lastri lihat selama ia bekerja di villa itu.


Karna setiap Yudha datang dan tinggal beberapa waktu di villa hanya ada muka dingin dan acuh terkadang juga raut wajah penuh kesedihan.


.


Ehhh.... aden teh tersenyum begitu. Mana manis pisan senyum nya. Baru kali ini aku lihat aden senyum. Batin Lastri.


.


Yudha mendudukkan tubuhnya di samping Safa sembari merangkul bahu Safa dan Safa merebahkan kepalanya ke bahu Yudha.


" pemandangannya indah Mas udaranya juga sangat sejuk menuju dingin, hehe."


" kamu suka tempat ini Dek ,?"


" Banget Mas."


" Kalau gitu gimana kalau kita tinggal disini saja."


" Hah nggak usah becanda deh Mas."


" Aku serius sayang."


" Terus kerjaan Mas Yudha gimana, tempat ini jauh banget dari kantor juga kampusku lhoh Mas. Udah mana jalan nya naik turun gunung lagi, aku takut Mas kalau musti tiap hari naik turun gunung. Aku juga udah nyaman tinggal di rumah yang kita tempati saat ini Mas.


" Ya udah kalau gitu. Senyaman kamu aja sayang, karna dimana ada kamu Mas akan selalu nyaman dan bahagia." Seraya mengeratkan rangkulan nya di pundak Safa dan menghujani kepala Safa dengan ciuman penuh kasih sayang.


" Uhhhh so sweet. Beneran ? Seperti itu ?"goda Safa.


" Benar, bahkan Aku bisa mati jika kamu pergi dari sisiku Dek."


" Sssst...( menutup mulut Yudha dengan telapak tangan nya ). jangan bilang seperti itu Mas, aku akan slalu disisi Mas Yudha."


Mereka pun saling berpelukan erat menyalurkan kehangatan serta cinta dan kasih yang begitu besar.


.


.