
Setelah kepergian keluarga Sherly juga Yudha dan Safa dari rumah mewah itu kini tinggalah dua orang paruh baya yang berteman sepi.
Sang suami menatap istri penuh selidik sesaat setelah kembali masuk ke dalam rumah itu.
" Mama tolong jawab Papa dengan jujur." Ucapnya setelah memasuki kamar.
" Ada apa Pa,? Apa yang mau Papa tanyakan sama Mama."
" Apa Mama tahu sesuatu tentang Yudha,? Juga tentang gadis yang menjadi asisten Yudha."
" Soal Safa,? Yang Mama tahu dia gadis baik dan juga dari keluarga yang baik."
" Kenapa Mama bisa bilang kalau dia dari keluarga baik baik.? Memang Mama tahu keluarga nya.?"
" Mama memang belum pernah bertemu dengan keluarganya, namun Mama tahu kalau keluarga itu baik karna keluarga Safa lah yang telah menyelamatkan Yudha anak kita Pa, keluarga gadis itu dengan baik hati merawat Yudha tanpa melihat latar belakang Yudha."
" Ohh jadi dia anak keluarga itu. Cihh."
" Iya kenapa Pa, kenapa Papa seperti nya tidak menyukai gadis itu. Dia gadis yang baik, dan yang terpenting Safa juga yang bisa mengembalikan hati Yudha yang dingin kembali hangat Pa, mengembalikan senyum Yudha yang hilang setelah bertahun tahun."
" Hanya itu saja, ? Mama, di jaman sekarang semua butuh materi, Papa yakin gadis itu hanya ingin materi Yudha saja. Berbeda dengan Sherly yang sudah jelas asal usulnya. Bahkan Sherly lebih dari segalanya di banding gadis itu. Papa yakin Yudha akan menyukai Sherly jika mereka berdua terus bersama."
" Tapi Pa... Yudha sepertinya tidak suka dengan Sherly. Biarkan Yudha memilih pasangan hidup nya sendiri. Biar Yudha cari kebahagiaan nya sendiri Pa. Dan Mama lihat Safa juga tidak memandang materi yang dimiliki Yudha, Mama hanya melihat ketulusan di mata Safa Pa."
" Tahu apa Mama tentang kebahagiaan., bahagia itu akan datang sendiri saat kesuksesan ada di tangan kita."
" Mama tahu Pa, Mama sangat tahu. Tapi tidak semua kebahagiaan itu di hitung dari seberapa banyak materi yang kita dapat. Yudha bahagia dengan apa yang dia jalani dan apa yang ia dapat. "
" Tetap saja. Yudha akan lebih bahagia lagi jika Sherly nnti menjadi pasangan hidup nya. Sherly tidak ada kekurangan sedikit pun. Dia lebih berkelas. Sekelas dengan Yudha."
" Tapi Pa...."
" Sudahlah, keputusan Papa sudah bulat. Sudah Papa mau ke ruang kerja. Lelah Papa jika terus berdebat dengan Mama."
Papa Yudha pun pergi meningglkan Mama Yudha sendiri di kamar dengan segala kesedihan nya akan nasib kebahagiaan anak semata wayang nya. Mama Yudha mengerti betul akan kedekatan Yudha dan Safa sudah melebihi dari sekedar bos dan asisten nya.
Dan Mama Yudha bisa melihat kebahagiaan anak nya terletak pada diri Safa. Tapi ia juga tidak kuasa untuk menentang suami nya yang sangat keras kepala itu. Namun jauh di lubuk hati nya ia berjanji, janji dari seorang ibu utuk anak nya jika ia akan selalu mendukung apapun keinginan anak nya yang selama ini ia tak bisa memenuhi keinginan Yudha.
Di lain tempat tepatnya masih di jalanan dan di dalam mobil yang di kendarai Yudha dan tentu saja Safa juga ada di sampingnya.
Tak ada satu kata pun terucap dari mulut Yudha, hanya keheningan yang tercipta. Safa pun juga bingung dan takut karna saat ini Yudha melajukan mobil nya dengan kecepatan di atas rata rata.
Tiba saat berhenti di lampu merah Safa melihat penjual minuman ronde. Entah mengapa Safa ingin sekali turun dan membelinya. Namun kembali ia melihat raut wajah Yudha yang suram ia tidak berani untuk berucap.
Safa hanya bisa membelai kaca jendela mobil di sampingnya dimana ia melihat penjual ronde itu. Tiba tiba ia merasa ingin menangis saat lampu sudah menunjukkan warna hijau.
Mobil melaju perlahan dan terdengar suara senggukan lirih keluar dari mulut Safa. Yudha pun mendengar lalu dengan gerakan yang sangat lincah ia memutar arah laju mobilnya padahal ia sempat menaikkan kecepatan nya mobilnya tadi, untung saja jalanan sedikit sepi jadi tidak sampai menimbulkan kecelakaan.
Yudha menghentikan mobilnya tak jauh dari lampu merah yang ia lewati tadi. Tanpa mengucapkan sesuatu dan tanpa suara Yudha turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah yang tadi Safa lihat.
Bagaimana dengan Safa.??? Ia masih terkejut dan ketakutan dengan manuver yang Yudha lakukan hingga menutup matanya erat erat sampai tidak tahu jika Yudha turun dari mobil.
Sampai Yudha sudah kembali lagi masuk ke dalam mobil dengan membawa satu mangkok berisi satu porsi ronde. Saat masuk ke dalam mobil Yudha melihat istrinya itu menangis sambil menutup matanya dengan kedua tangan nya.
Di raihnya satu tangan Safa lalu menurunkan nya perlahan dan satu tangan nya lagi menyodorkan mangkuk berisi ronde.
" Ini, buka mata kamu." Ucap Yudha pelan, ia ikut merasa sedih saat melihat Safa meneteskan air mata karena nya. Apa lagi itu air mata ketakutan yang ia akibatkan.
Safa membuka matanya dan detik berikutnya senyuman terpancar indah di wajah nya.
" Mas ini..." ucap Safa tak percaya.
" Makanlah, pelan pelan masih panas." Yudha menyuapi Safa dengan pelan seraya meniup niup sebelum masuk ke dalam mulut Safa.
Safa yang tadinya menangis kini berubah berseri kembali, apa lagi mendapat perhatian Yudha kembali yang tadinya sempat hilang karna amarah kecemburuan.
Sungguh Safa sangat bersyukur mendapat suami seperti Yudha, yang walau pun keadaan marah namun ia tetap perhatian terhadapnya.
Yudha pun begitu, walau ia dalam keadaan marah namun melihat kesedihan di wajah istrinya itu membuatnya tidak tega apa lagi jika sampai meneteskan air mata. Sungguh sakit hatinya melihat istri tercinta nya itu meneteskan air mata kesedihan.
Tak butuh waktu lama semangkuk ronde itu tandas tak bersisa di lahap Safa dengan disuapi oleh sang suami. Yudha kembali keluar dari mobil untuk mengembalikan mangkok yang telah kosong isi nya itu yang kemudian melajukan kembali mobil nya ke arah menuju jalan pulang ke rumahnya. Namun kini Yudha tidak lagi memacu kecepatan mobilnya di atas rata rata seperti tadi, sekarang lebih santai namun tetap cepat.( nah lhoh gimana jelasin nya.)
Sesampai nya di rumah Yudha turun dari mobil dan tak lupa membukakan pintu mobil untuk Safa turun. Namun bedanya tidak ada senyuman di wajah Yudha, wajah nya benar benar masih di tekuk namun tak melupakan perhatian nya pada Safa.
Safa juga mengerti suaminya masih dalam mode ngambek. Safa mengikuti langkah suaminya yang masuk ke dalam kamar namun ia sempatkan untuk menyapa Bu asih yang terlihat masih menemani Cici belajar di ruang makan.
" Selamat malam Bu Asih, Cici,. Wahh lagi belajar ya. Yang semangat ya cantik belajar nya biar pintar dan jadi juara kelas. Maaf Tante nggak bisa ngajarin Cici belajar dulu ya, nggak apa kan."
" Malam juga neng Safa,"
" Malam tante cantik., iya tante, Cici mau bikin tante bangga sama Cici, juga Om Yudha yang udah mau menyekolahkan Cici. Cici akan berusaha dan belajar dengan rajin biar bisa dapat juara. Tante istirahat saja, Cici sebentar lagi juga selesai kok belajar nya."
" Ya sudah, saya ke atas dulu ya."
" Iya neng.,"
" Iya tantik."
Safa kembali melanjutkan langkah nya menaiki amak tangga dan masuk ke dalam kamar.
Pintu terbuka mata Safa mengedar ke seluruh ruang kamar namun tak menemukan keberadan Yudha.
Safa melangkah ke dalam kamar mandi melewati pintu ruang ganti yang terbuka, dan ternyata suami nya itu sedang berganti baju. Safa melanjutkan kembali langkahnya masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Yudha yang selesai berganti baju langsung merebahkan tubuh nya di ranjang seraya memainkan ponselnya untuk melihat email pekerjaan yang tadi di kirim oleh skretarisnya.
Safa muncul dan juga sudah berganti baju lalu ikut merebahkan tubuhnya di ranjang samping Yudha. Kehadiran Safa pun tak mengalihkan perhatian Yudha dari ponselnya. Padahal biasa nya jika Safa berada di samping nya Yudha akan selalu tersenyum dan tak lupa kecupan demi kecupan akan Yudha layangkan, namun ini tidak, senyum tak ada kecupan pun tak di dapat.
" Mas..."
" Hem."
" Mas Yudha masih marah.?"
" Mas ngomong dong jangan diemin aku, ngomong aku salah apa, terus aku harus gimana supaya Mas Yudha nggak marah lagi."
" Kamu renungin aja sendiri apa kesalahan kamu."
" Kalau menurut aku sendiri aku merasa nggak ada salah."
" Heh, apa? nggak punya salah.? terus yang waktu kamu cuekin aku tadi dan sibuk haha hihi sama cowok tadi apa. Kamu nggak nganggep aku ada juga di situ, kamu lebih seneng ngobrol sama cowok lain dari pada suami kamu sendiri. Apa itu yang nama nya istri.?"
" Lhah aku tadi kan juga ngobrol sama Mas Yudha, Mas Yudha aja yang nggak mau di ajak ngobrol, malah sibuk sama ponselnya."
" Ya kan kamu tahu sendiri kalau aku males ada disana pengen cepet pulang malah kamu asik ngobrol ngalor ngidul sama cowok itu."
" Mas Yudha kan juga tahu disana nggak cuma ada Boy. Ada mbak Sherly dan yang lain nya juga yang ngobrol sama aku."
" Iya kamu sibuk ngobrol sama mereka sampai kamu lupa sama suami kamu ini juga ada disitu."
" Ya masak aku suruh diem aja kalau mereka ngajak ngomong aku, itu kan nggak sopan Mas."
" Terserahlah capek ngomong sama kamu."
" Apa,? jadi Mas udah bosen sama aku. Oke kalau begitu aku mending aku lungo sisan ben sampean ora kesel ngomong."
Safa beranjak pergi keluar kamar meninggalkan Yudha yang cuek saja dengan kepergian nya, tidak akan mungkin istri tercinta nya itu pergi meninggalkan rumah malam malam seperti ini karna ia tahu betul jika Safa istrinya itu penakut pikir Yudha.
Safa meninggalkan kamar dan masuk ke dalam kamar tamu yang berada di bawah tangga sambil terus menggerutu kesal dengan suaminya itu, Safa memutuskan untuk tidur sendiri karna ingin keluar rumah juga tidak mungkin karna ia takut.
Tengah malamnya Bu Asih yang hendak pergi ke dapur untuk minum tiba tiba di buat merinding saat mendengar suara tangisan seorang wanita.
Bu Asih mencoba memberanikan diri mengikuti arah asal suara tangisan itu. Bu Asih melihat pintu menuju kolam renang terbuka itu artinya pasti ada seseorang yang keluar namun siapa.?
Dan saat Bu Asih mengintip dengan sedikit rasa takut ia melihat seorang wanita dengan rambut panjang sepunggung dengan bahu bergetar karna menangis yang tak lain Safa.
" Neng Safa.???"
" Hiks hiks iya Bu.."
" Ya allah neng teh naon.? Kok nangis malam malam gini sendirian,.? ayo neng masuk dingin disini."
" Masak mau nangis ngajak ngajak Bu Asih tu gimana ,. Udah Bu Asih masuk aja, aku nggak apa apa kok. Tinggalin Safa sendiri Bu."
" Baiklah kalau begitu neng. Saya masuk dulu, neng Safa jangan nangis terus apalagi di luar nanti sakit neng."
Namun Safa tak menanggapi ucapan Bu Asih. Entahlah ia merasa aneh dengan hati nya saat ini. Juga soal ucapan Papa Yudha di rumah tadi membuat hati nya tambah tidak enak.
Bu Asih masuk ke dalam namun ia tidak kembali masuk ke dalam kamar nya melainkan melangkah naik ke lantai atas menuju kamar Yudha.
*tok tok tokk
Tuannn
tok tok tokk
Tuannn*
Yudha yang tengah tidur pun terbangun mendengar suara ketukan pintu kamar nya. Yudha meraba sebelahnya kosong, ia baru tersadar jika semalam Safa keluar kamar dan sampai sekarang tidak kembali.
Yudha segera bangun dan membuka pintu nya dan terpampanglah wajah Bu Asih yang seperti kebingungan.
" Bu Asih, kenapa malam malam membangunkan saya.?"
" Iitu Tuan, Neng Safa Tuan."
" Safa kenapa Bu.!!!"
" Neng Safa nangis terus di dekat kolam renang, entah sudah berapa lama disana Bu Asih takut nanti neng Safa sakit Tuan."
" Astaga.!!!" Yudha segera berlari menuruni tangga dan menghampiri Safa istri tercinta nya.
Yudha sampai di pintu menuju kolam dan bisa melihat istrinya itu tengah menangis tersedu sedu. Yudha melangkah mendekat dan berjongkok di depan Safa duduk.
" Dedek.., Sayang kamu kenapa menangis."
" Hiks hiks Mas Yudha ngapain disini., sana tidur lagi. nggak usah ngurusin aku yang cuma buat kesel Mas Yudha."
Yudha terdiam, ia merasa bersalah karna ucapan nya ternyata yang membuat istri nya sampai menangis seperti ini. Ia tidak bermaksud seperti itu, namun karna kecemburuan membuat Yudha sampai tidak bisa mengontrol emosinya.
Yudha sendiri juga heran kenapa akhir akhir ini ia tidak bisa mengontrol emosi nya dengan baik.
" Sayang, Aku minta maaf ya karna ucapanku membuat kamu jadi terluka dan sedih, aku benar benar minta maaf sayang, maafin aku."
" Aku tambah sedih saat Mas Yudha enggak cegah aku keluar kamar dan malah cuekin aku.. huhuhu... bahkan sampai sekarang Mas Yudha enggak cari aku buat masuk tidur dikamar., hiks hiks Mas Yudha malah asik tidur sendiri.."
Asik tidur sendiri gimana,,.?? aku aja susah tidur gegara nggak ada guling hidupku yang menemani., .batin Yudha.
" Ya udah sekarang kita masuk ya., di luar dingin, kamu jangan nangis lagi dong, udah nangisnya.."
" Huhuhu Aku laper Mas..."
" Laper.??? kan tadi udah makan sayang. Ini juga udah malem, nggak baik kalau makan malem malem gini."
" Huuaaaaaa aku nggak boleh makan.... Mas Yudha jahat., huaaa Ibuuuuu Safa pengen pulang aja., huhuhu."
" Ehh sayang sayang sayang,... nggak gitu., Aku cuma....."
" Huaaaa Ibuuuu......"
.
.
.