
Hari demi hari telah terlewati dan kini tiba saatnya hari dimana Safa harus pergi ke Bandung. Ibu Safa terlihat sangat berat hati untuk melepas kepergian anak perempuannya, walau disana Safa dengan Yudha namun entah kenapa hati seorang ibu merasakan perasaan yang sangat tidak enak, ingin rasanya hati Ibu Safa melarangnya pergi namun ia juga tidak bisa mencegah untuk kemajuan dan kesuksesan sang anak.
.
Ibu hanya bisa berdoa untuk Safa anaknya agar baik baik saja disana dan selalu dalam lindungan yang maha kuasa.
" Ibu, Bapak, Mas, Mbak, Adekku gembulllll,,, "ucap Safa sambil memeluk erat adiknya Dona yang sudah berurai air mata.
" Safa pamit dulu ya, sehat sehat dirumah, jangan lupain Safa yang ada disana, doakan Safa sukses, dan diberi kelancaran selama urusan disana. Safa akan selalu kirim kabar sama keluarga disini., hiks hiks.."
Ibu dan Bapak memeluk erat Safa seraya memberi petuah petuah untuk Safa selama ada ditempat orang, apa yang seharusnya dilakukan dan yang tidak harus dilakukan Safa, apa yang tidak boleh dan di haruskan.
" Ingat nduk, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kamu harus bisa menyesuaikan tempat dengan keadaan yang ada disana. Jangan sampai kamu berlaku atau sampai menyinggung perasan orang orang yang ada disana. Kamu paham nduk maksud Bapak.,"
Dengan isak tangisnya Safa menganggukkan kepalanya dalam pelukan orang tuanya.
Yudha yang melihat adegan haru biru keluarga barunya itu, ikut menitikkan air matanya. Ia teringat akan keadaan keluarganya yang berbanding terbalik dengan keluarga istrinya itu.
" Mbakkkkk... jangan tinggalin aku mbakk, huhuhu.... nanti kalau aku sedih nggak ada yang hibur aku lagi, kalau ada yang bully aku nggak ada yang...hiks hiks.."
" Aaaahhhh adekku gembulll, kan ada yang belain kamu nanti, bahkan selama ini pangeranmu itu selalu jadi pahlawanmu kannn.. jadi tenang saja..," goda Safa.
" Aaaaaaa Mbakk, aku pasti kangen banget sama mbakkkk, hiks hiks.."
" Dekkk...."
" Mas Her..." Safa dan Heru saling berpelukan.
" Seng ati ati neng kono ya dek.. awakmu wes duwe bojo kudu manut marang bojomu, jangan bantah apa kata suami,."
" Iya Mas, aku bakal kangen banget sama semuanya, Mbak In titip Mas ku, adekku sama Bapak Ibu ya mbak,." Safa beralih memeluk kakak iparnya.
" Iya Fa, mbak janji sama kamu buat jaga keluarga disini, kamu disana yang tenang, jangan pikirkan yang disini ada mbak sama mas mu.,"
Kini giliran Yudha yang maju berpamitan pada keluarga Safa, Yudha memeluk Bapak Safa dan sebaliknya.
" Titip dan jaga Safa ya nak, jika dirinya keliru atau salah tolong diarahkan, jangan memarahinya. Safa masih perlu arahan, dan bimbingan dan juga kamu sebagai suami gantikan bapak buat menjaga, melindungi, menyayangi, dan mengayomi Safa."
" Baik pak, semua sudah menjadi tanggung jawab Yudha sebagai suami dedek. Bapak ibu dan semua jaga kesehatan ya, bila ada kesempatan waktu luang Yudha sama Dedek pasti akan menengok keluarga disini."
" Kami pamit semuanya, jaga diri baik baik, setelah tiba di bandung kami akan langsung mengabari kalian."
" Hati hati nduk, nak Yud.."
.
Safa dan Yudha pergi ke bandara diantar oleh Rizky, Dhian, dan juga sahabat sahabat Safa. Safa berpelukan dengan semua sahabatnya.
" Safaaa, hiks hiks, kita bakal kangen banget sama kamu." ucap para sahabat Safa.
" Iya, Fa ,segera cepat pulang ya setelah selesai urusan disana. Jangan lupa sering kirim kabar sama kita disini, jangan pernah lupain kita." ucap Dhian.
" Makasih semua sudah mau mengantar kami sampai disini, aku juga pasti akan kangen banget sama kalian semua, aku nggak bakal bisa lupain kalian semua sahabat baikku. Aku pasti akan segera kembali. Mas Rizky, aku titip semuanya ya, tolong jagain mereka semua."
" Kamu tenang aja Fa, kamu baik baik saja disana, jangan pikirkan yang disini ada aku kok."
" Bro, kita pamit ya, gue serahin semua urusan dan tanggung jawab disini sama elo. Jagain keluarga gue disini."
" Iya bro lo tenang aja, gue pastiin disini semua baik baik aja, gue juga nggak lama lagi pulang ke bandung buat ngejenguk mamah sama Dhian."
Mereka pun berpelukan setelah itu Yudha dan Safa melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Tak menunggu lama panggilan keberangkatan pun terdengar.
" Kamu kenapa dek ? Ada apa? Kamu sakit." tanya Yudha lembut namun dengan namun penuh kekhawatiran.
Safa menjawab dengan suara gemetar. " Aaku takut Mass... ini pertama kali Aku naik pesawat."
Yudha pun meraih tubuh Safa dan membawanya kedalam dekapannya yang hangat untuk menenangkannya.
" Nggak usah takut sayang, sekarang kamu pejamkan mata kamu aja, ada Mas disini."
Safa pun menuruti kata Yudha, Ia memejamkan matanya dan kedua tangannya juga memeluk erat tubuh Yudha. Yudha mengusap-usap punggung Safa hingga Safa merasa nyaman dan tertidur dalam dekapan Yudha.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya Safa dan Yudha sampai di Bandung. saat menunggu jemputan datang Safa meminta izin untuk ke toilet sebentar, Yudha pun menawarkan diri untuk mengantar Safa sampai di depan toilet namun Safa menolaknya. Yudha pun menunggu Safa di ruang tunggu dekat toilet.
Safa yang sudah selesai urusannya di toilet pun segera keluar, namun saat berjalan Safa yang sedang mencari sesuatu di dalam tasnya tidak melihat di depannya nya ada seseorang yang juga sedang berjalan ke arahnya yang sama-sama tidak memperhatikan jalan. hingga tabrakan pun tak terhindari.
Brugh
" Aduhhh Ya Allah b***** ku asssssh." Safa jatuh terduduk setelah menabrak tubuh orang itu.
" Makanya kalau jalan lihat ke depan nona." ucap datar orang itu.
" Iya maaf saya salah." Safa melirik orang yang tadi menabraknya ternyata sudah pergi menjauh dan hanya terlihat punggungnya saja.
Safa segera bangkit dan menyusul Yudha yang sudah menunggunya dan siapa orang yang sedang bicara dengan Yudha pikir Safa.
" Mas maaf menunggu lama." ucap Safa.
Orang yang sedang berbicara dengan Yudha pun membalikkan tubuhnya yang membelakangi Safa.
Dia,??? bukannya cewek yang tadi tabrakan sama aku ya, siapa cewek ini.? Batin orang itu.
" Enggak apa apa Dek, ya sudah ayo kita pulang.,"
" Mas Yudha ini siapa?"
" Oh iya sampai lupa, kenalkan ini Jonathan sekretaris Mas selama disini. Jo kenalkan ini Safa dia is..." belum Yudha selesai mengenalkan Safa pada Jonathan sudah dipotong cepat oleh Safa.
" Adik, ya aaku adik Mas Yudha,." ucap cepat Safa dan itu membuat Yudha mendelik karna ucapan Safa.
" Dek..." ucap Yudha namun sudah dipotong oleh Safa lagi, dan segera menarik tangan Yudha untuk berjalan mendahului Jonathan.
" Udah ayo Mas aku udah lelah banget ini."
Yudha pun hanya bisa mengikuti Safa dan akan menanyakan tentang ucapannya tadi jika sudah sampai dirumah. Setelah menempuh waktu kurang lebih satu jam akhirnya mereka sampai dirumah yang sudah dipersiapkan Yudha. Rumah minimalis modern namun tak meninggalkan kesan mewah seperti keinginan Safa yang tidak suka rumah yang terlalu besar, dan untuk kesan mewahnya karna Yudha ingin memberikan Safa yang terbaik.
" Selamat datang dirumah kita Sa... emmph." mulut Yudha di bekap oleh tangan Safa hingga ia tak bisa bersuara.
" Mas tolong jangan panggil begitu kecuali saat kita berdua. Ya tolong.." bisik Safa dengan muka memelas.
Yudha pun lagi lagi hanya diam dan menghembuskan nafas beratnya. Jonathan yang masih mengambil koper milik tuannya pun tak menghiraukan bisik bisik itu.
Jonathan
........
Maaf telat dan lama up nya🙏🙏🙏