I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 90


Alyan duduk di bangku kelasnya setelah sekian lama, ia termangu bagai seseorang yang kehilangan akal.


Ekspresinya datar namun auranya mencekam, membuat para siswi yang biasa mengelilinginya tidak berani mendekat dalam radius dua meter.


Beberapa saat berlalu, pria itu masih saja diam bahkan saat mata pelajaran pertama berlangsung, sorot matanya yang tajam kearah guru didepan kelas sangat menyengat juga menggelisahkan.


"Dia pasti kepikiran ayahnya dirumah" pikir Manda iba.


"Sial, bisa-bisanya aktivitas rutin ini membuatku yang seharusnya terbangun dalam pelukan Viona, malah bangun pagi-pagi buta untuk berangkat sekolah. Pada nggak bisa lihat wajah Viona lagi, ugh..." Pikir Alyan kesal.


Kriiing! Bel istirahat berbunyi, dan dengan cepat sang guru yang menanti-nantikan dentuman dewa tersebut, berlari kecil keluar meninggalkan kelas sebelum para murid keluar.


"Ah...masih lama" pikir Alyan lagi sembari menghela nafasnya.


"Alyan" tegur Manda.


"Hm?"


"Nggak kekantin?"


"Oh, nggak"


"Apa nggak lapar? Mau aku belikan sesuatu?"


"Apaan sih, tiba-tiba perhatian begitu"


"... soalnya dari tadi kamu kelihatan cemas"


"Cemas? Aku?" Alyan tercengang mendengar Manda.


"Aku tau kok, sebenarnya kamu itu sayang sama ayah kamu, hanya saja kamu nggak bisa nunjukin kan? Kamu sih, gengsinya selangit"


"Heeeh?"


"Haaah...aku ngerti kok, nggak usah kasih tampang kayak gitu 'buat ngelak, gini-gini aku tuh udah kenal kamu sejak kecil loh"


"Ini anak sarapan apasih tadi pagi?" Pikir Alyan.


"Kamu pasti lagi nunggu jam pulang kan ya?"


"Kok tau?"


"Tuh kan, ya iyalah...kamu orangnya khawatir banget sama ayahmu"


"..." Alyan tak membalas, mendengar Manda yang berbicara semakin keluar jalur dari apa yang sebenarnya ia pikirkan, membuatnya harus mengambil keputusan yang bijak, yaitu duduk, diam, dan dengar.


Waktu berjalan begitu lambat bagi Alyan, hingga ia yang bermaksud untuk tidur sejenak di UKS malah tertidur lama dan sangat lelap.


"Ugh..." Alyan perlahan membuka matanya. Suasana yang hening dan damai, membuat pria itu terasa berat untuk beranjak bangun.


Namun ia segera terlonjak kaget saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore, yang artinya jam pulang sekolah telah berlalu sejam yang lalu.


Dengan cepat Alyan keluar dari ruangan itu, bermaksud menyusul Melviona diperusahaan.


Sesampainya di tujuan, Alyan menyapu ruangan Melviona dibalik dinding kaca transparan itu, namun Melviona yang biasa duduk dikursi yang didalamnya, tidak berada disana.


"Dimana dia?" Tanya Alyan pada salah seorang sekretaris.


"Ah, nona baru saja pergi tuan"


"Kemana?"


"Saya tidak tau, sepertinya pulang"


"Pulang?" Alyan terdiam sejenak, berpikir apa Melviona benar-benar pulang? Tapi kenapa sangat awal? Bukankah biasanya dia lembur.


"Apa benar dia pulang?" Alyan kembali memastikan.


"Sa-saya kurang tau tuan muda" jawab sekertaris itu panik.


"Ck, apa dia ada jadwal temu sore ini?"


"Tidak, tidak ada tuan"


"Tidak ya...baiklah kalau begitu aku pergi dulu"


"Hati-hati dijalan tuan"


"Ah ya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu"


"Sa-saya?"


"Benar, jangan menjawabku gugup seperti itu, apa aku menakutkan?"


"Eh, ti-tidak tuan"


"Lalu kenapa?"


"Itu..."


"Haissh, jangan terlalu formal begitu, cukup bersikap sopan dan seadanya saja"


"Ya?"


"Tentu saja itu hanya sampai aku jadi ayahku" Tanpa menunggu ucapan sekretaris itu, Alyan pun pergi dari sana.


Alyan bermaksud untuk melihat keadaan ayahnya dirumah utama, yah bagaimanapun ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang ia punya saat ini, dan itu yang utama.


Sesampainya disana, ia disambut oleh kehadiran Farrel diruang tamu.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Alyan.


"Hanya sedikit urusan bisnis, aku baru saja akan pergi"


"Oh"


"Ngomong-ngomong, kau lebih pengecut dari yang kubayangkan"


"Apa maksudmu?"


"Heh, aku masih ingat ada seorang pria bodoh yang mempercayakan seorang gadis padaku setelah menyatakan kekalahannya"


"... benarkah?" Tanya Alyan balik, sok berpikir keras.


"Yang benar saja, apa mau kuingat kan siapa orang itu?"


"Tidak, tidak perlu. Karna aku tidak ingin mengingat hal yang tidak perlu"


Farrel tersenyum, dan tentu saja, itu bukanlah senyum yang tulus.


Senyum paksa yang penuh kekesalan.


"Ternyata tuan muda orang yang pelupa ya"


"Tidak, kalau kau bertanya pertemuan pertamaku dengan Viona pun masih kuingat"


"Lalu kenapa hal ini tidak kau ingat?"


"Bukan tidak ingat, tapi memang tidak pernah terjadi" Alyan melenggang pergi dari sana.


Tok tok tok


"Masuklah"


"Ayah... bagaimana keadaanmu?"


"Kau kesekolah?" tanyanya saat melihat seragam sekolah Alyan.


"Ya. Terpaksa"


"Terpaksa?"


"Yah, bagaimana kalau kita membeli sekolah itu saja?"


"Kau sudah gila?"


"Huh" Alyan mendengus "kalau sekolah itu jadi milik kita, aku bisa mengatur libur sekolah kapan pun aku mau"


"Putraku sudah gila" pikir Alfian.


"Haissh...entah kenapa aku merasa kesal setiap kali membahas tentang sekolah" keluh Alyan.


"Jangan bicara begitu, kau tau? Banyak anak diluar sana yang ingin sekali sekolah"


"Ya, dan tidak termasuk aku"


"Kakekmu adalah orang pekerja keras, dia tegas dan sangat rajin, tapi tetap saja, bagaimana pun ia bekerja, kehidupan kami tidak pernah meningkat. Karna pendidikan kakekmu yang hanya sebatas SD, membuat dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, oleh karena itu ayah bertekad untuk tidak seperti kakekmu"


"Ayah pasti sangat membenci kakek"


"Apa?! Tentu saja tidak! Bagaimanapun kakekmu, dia bukanlah seorang peminum atau perokok!"


"Wah, kakekku ternyata seorang biksu ya..."


"Dasar anak nakal, dengar saja orang tua bercerita"


"Baik-baik"


"Jadi...ayah belajar disekolah dengan giat demi menghargai usaha kakekmu yang mati-matian bekerja untuk menyekolahkan ayah, bahkan ayah kerja sambilan tanpa sepengetahuan kakekmu"


"Wah~ benar-benar anak nakal"


"Diam"


"Baik"


"..."


"..."


"...akh! Jangan menyela pembicaraan!"


"aku diam kok dari tadi"


"... sudahlah, padahal ayah mencoba membuat suasana begitu dramatis"


"Untuk apa?"


"Dimana Melviona?"


"Eh iya! Dimana Melviona? Dia nggak ada diperusahaan tadi"


"kau sudah mengeceknya dirumah sakit?"


"Benar juga, aku akan kesana" Alyan berdiri dari duduknya.


"E-eh, tunggu dulu, kau akan pergi begitu saja?"


"Memangnya kenapa?"


"Ayah pikir kau kemari untuk menemani ayah"


"Ayahkan bukan anak kecil"


"Mau jadi batu ya"


"Hehehe, kalau 'gitu aku pergi dulu oh ya, apa ayah sudah dengar? Adik Viona siuman"


"Ayah sudah dengar. Pergilah, melihatmu hanya akan memperburuk kesehatan ku"


Baru saja Alyan membuka pintu, ia dikejutkan oleh kehadiran Melviona didepan pintu.


"Viona?"


"Alyan? Kupikir sekarang kamu sedang berada di villa"


"Ah... tidak, ngomong-ngomong kamu dari mana saja?"


"Rumah sakit"


"Oh, aku baru saja mau kesana"


"Untuk apa?"


"Untuk apa lagi? Ketemu kamu dong tentunya" Alyan tersenyum manis kearah Melviona.


"Hahaha, sepertinya kamu nggak serius belajar ya, tadi disekolah"


"Eh, kok tau?"


"Itu karna tampang mu saat ini seolah mengatakan ingin menghancurkan sekolah" duga Melviona sambil tersenyum.


"Ah.." Alyan mengelus tengkuknya.


"Apa Presdir didalam?" Tanya Melviona.


"Eh, i-iya" Alyan menyingkir dari pintu, membiarkan Melviona masuk.


"Melvi?"


"Selamat malam Presdir" sapa Melviona.


"Ya, senang bertemu denganmu lagi"


"Bagaimana keadaan anda?"


"Aku ba_ tidak, aku tidak baik-baik saja"


"Ng?"


.


.


.


.


.


๐‘บ๐’–๐’…๐’‚๐’‰ ๐’”๐’‚๐’Ž๐’‘๐’‚๐’Š ๐’”๐’†๐’‹๐’‚๐’–๐’‰ ๐’Š๐’๐’Š, ๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’‚๐’Š๐’Ž๐’‚๐’๐’‚ ๐’Œ๐’‚๐’ƒ๐’‚๐’“ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’~?


๐™ท๐™ด๐™ท๐™ด๐™ท๐™ด, ๐š ๐šŠ๐š•๐šŠ๐šž ๐š—๐š๐š๐šŠ๐š” ๐š™๐šŽ๐š›๐š•๐šž ๐š—๐šŠ๐š— ๐š‹๐šŽ๐š•๐šž๐š– ๐š๐š’๐š๐šŠ๐š—๐šข๐šŠ, ๐šŠ๐š”๐šž ๐šœ๐šŽ๐š‘๐šŠ๐š ๐šœ๐šŽ๐š•๐šŠ๐š•๐šž ๐š”๐š˜๐š”(โ€ขฬ€แด—โ€ขฬ)ูˆ.


๐—ธ๐—ผ๐—ธ ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐˜? ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ป๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ๐—ธ๐˜‚ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ป,


TอŽAอŽPอŽ JอŽEอŽMอŽPอŽOอŽLอŽNอŽYอŽAอŽ, KอŽOอŽMอŽEอŽNอŽ, DอŽAอŽNอŽ VอŽOอŽTอŽEอŽ.


โ˜บ๏ธŽ๏ธŽ๐Ÿ‡นโ€Š๐Ÿ‡ชโ€Š๐Ÿ‡ทโ€Š๐Ÿ‡ฎโ€Š๐Ÿ‡ฒโ€Š๐Ÿ‡ฆโ€Š๐Ÿ‡ฐโ€Š๐Ÿ‡ฆโ€Š๐Ÿ‡ธโ€Š๐Ÿ‡ฎโ€Š๐Ÿ‡ญโ€Šโ˜บ๏ธŽ๏ธŽ